Bab 14 Kejutan

Dua orang beda jenis, dan juga beda alam. Percaya atau tidak, Adrian tidak mempunyai mempunyai sifat indigo sama sekali. Tetapi memang selama ini perangainya sering marah dan emosi yang tidak terkendali. Orang bilang, aura yang seperti inilah yang di sukai para makhluk halus. Aura merah yang menurut orang mempunyai kepercayaan yang tinggi dan mudah marah. Daerah Tawangmangu yang penuh dengan misteri. Dari pohon beringin sampai dengan manusia beristri makhluk halus.
Hesta dan Adrian sudah hilang akal sehat. Mereka memadu kasih tanpa seorangpun tahu. Hasrat Adrian yang masih dibawah umur sedang bergejolak. Sedangkan Hesta, mempunyai maksud tersembunyi dibalik semuanya. Gadis cantik yang menggemaskan di mata Adrian yang masih polos belum mengenal wanita. Kini dia sudah tenoda dengan tubuh seksinya.
Belitan dan sapuan lidah tidak lagi berada di wajah. Mereka sudah benar-benar lupa dengan jati dirinya. Belum lagi hujan gerimis menambah dingin suasana hutan. Gelora hasrat yang panas membakar, menghangatkan masing-masing insan yang memadu kasih. Tidak lagi mendengar teriakan kakek Hesta yang sedang mencari cucunya.
“Hesta ... Hesta ... lu di mana sayang? Hestaa ....!!”
Suara kakek terdengar semakin dekat ke arah dua orang yang sedang memadu kasih di balik rerumputan liar ini. Mereka tidak sadar, jika ada orang yang sudah berdiri berkacak pinggang melihat ke arah tubuh mereka yang sudah setengah telanjang. Mata nanar dari sang kakek melihat pemandangan yang diluar dugaan. Marah, itu yang ada di pikiran kakek saat ini. Bangaimana dia samapi sampai lalai menjaga cucunya. Tidak dapat dibiarkan jika merek sampai melakukan sesuatu yang menyimpang.
“Heh ...! Berhenti kalian! Apa-apa an ini? Sudah pada nggak waras!”
Sontak kedua anak yang sedang bergulat mesra menghentikan aktifitasnya dan merapikan baju yang melekat yang di tubuh mereka. Bangkit dari rumput yang sudah rusak akibat injakan tubuhnya. Binatang melata semua pergi, seakan takut pada kakek yang berdiri dengan memakai kaos dan sarung. Nampak sangar di mata Adrian yang sudah berdiri dengan kepala menunduk.
Pandangan mata Hesta mengurai kebencian kepada kakek yang berdiri tepat di depannya. Tidak perduli dengan sosok tua yang sangar menatap keduanya, Hesta menarik tangan Adrian supaya menjauh dari kakek. Benar-benar membuat kakek marah, sorot mata merah nyalak ke arah keduanya.
“Berhenti ...!! Berhenti nggak ...!!” Teriak kakek Hesta mulai tak sabar menghadapi dua pasang makhluk yang beda alam ini.
“Apa? Kakek mo apa dari Hesta? Ingat janji kakek sama Hesta! Jangan lupa itu!”
“Hesta ... tolong sayang! Dengerin kakek! Jangan gitu ...! Adrian, lu pergi ‘Nak! Pegi dari sini, jangan dengerin cucu kakek.”
Kakek terlihat lesu, dan tidak berdaya di mata Adrian. Dia serba salah, tidak galak seperti awal melihat mereka berdua. Adrian hanya terdiam, di sisi lain dia kasihan melihat kakek. Tetapi juga marah, saat aktifitasnya di ganggu olehnya. Bukan membela kakek dan nurut, Adrian mengikuti Hesta yang membawanya menjauh dari tempat mereka mamadu kasih. Suasana mendadak hening, Adrian dan Hesta hanya duduk di bawah pohon beringin tanpa bicara sepatah katapun. Keduanya duduk berdampingan dan saling mengeratkan tangan. Lalu lalang kendaraan tidak lagi mereka pusingkan. Pikiran bergelut dengan kejadian yang baru saja mereka lakukan. Adrian sejenak menatap Hesta yang terlihat semakin cantik di matanya. Baju yang kusut transparan membuat matanya semakin ternoda. Jakun naik turun menelan ludah yang sudah mulia habis sejak pergulatan tadi.
“Hesta, lu cantik banget hari ini.” Suara serak terdengar dari bibir pria yang masih berada di bwah umur.
“Emm ... masa sih? Eh ... ta- tapi gue ... nggak mau lihat lu menderita.” Lirih Hesta menggenggam erat tangan cowok itu.
“Menderita gimana? Kagak paham gue.” Sahut Adrian manatap serius kepada sang cewek.
“Gue takut kalau gue cerita, entar lu pergi dari sisi gue.” Lirih Hesta dengan tatapan menunduk.
Adrian meraih tangan gadis itu, kemudian memberinya semangat. Dia berjanji tidak akan meninggalkan Hesta, apapun yang terjadi. Seketika, pohon beringin yang ada di belakangnya bergerak pelan tanpa mereka sadari. Daun terlihat melambai, dengan rantingnya yang terjulur ke kiri dan kanan. Jika saja adaorang yang melihat, pasti akan lari dengan keanehan yang terjadi. Adrian tidak menyadari, jika ada yang sudah berubah dari Hesta. Wajahnya mendadak pucat seperti mayat.
“Lu sakit Hesta?” Tanya Adrian ketika melihat gadis itu lama terdiam menunduk.
“Ah, enggak. Lu pulang dulu aja! Gue mo nyamperin kakek dulu, keburu marah besar bisa aduin ke emak nanti.”
“Okee ... besuk kita ketemu lagi. Gue pulang dulu!” Satu kecupan mendarat di pipi gadis itu. Terlihat bersemangat terlihat dari sorot matanya yang berbinar.
Tangan keduanya berpegangan tidak mau berpisah, Hesta tetap menunduk. Tiadak memperlihatkan wajahnya kepada Adrian. Membuat hati pemuda itu mengira jika Hesta saat ini takut menghadapi kakeknya. Jika boleh memilih, pasti Adrian akan menemaninya menghadapi kakek dan keluarganya. Jiwa kesatrianya mulai dipertaruhkan untuk mempertahankan seorang gadis cantik di hadapannya.
Akan tetapi, bukan itu yag diinginkan cewek yang berdiri di depannya. Belum saatnya mereka bicara kenyataan yang sesungguhnya. Adrian sudah di butakan mata dan hati, tidak menerima kenyataan jika mereka sudah berbeda alamnya.
“Gue nggak perduli Hesta. Lu dari mana asalnya, menurut gue, lu yang palin tepat ada jadi pacar gue.” Ucap Adrian percaya diri mengucapkan di hadapan cewek itu. Mendadak kilatan langit terlihat jelas menyambar, seolah jadi saksi ucapan Adrian untuk Hesta. Tangan yang saling menggenggam itupun mulai renggang. Tidak ada kata sambutan dari Hesta buat Adrian. Hening mencekam, hanya suara burung beterbangan di atas pohon beringin. Hesta berjalan menjauh, diikuti oleh Adrian yang berbalik arah. Sesaat keduanya berhenti tanpa menengok ke belakang.
Adrian melangkah ke tepi jalan raya, menuju tempat di mana dia dan Wandi memarkir motornya. Nampak teman dekatnya itu tertidur pulas di atas motor dengan posisi terlentang. Wandi terlihat seperti orang pingsan. Orang yang lewat bahkan tidak memperdulikan, posisi Wandi saat itu, menoleh saja pun tidak. Keadaan yang aneh semenjak mereka bermain ke tempat itu. Semua terlihat berbeda di matanya. Hingga tersadar, saat tangan dingin menyentuh punggung Wandi. Percikan air hujan, membuat keduanya tersadar jika hari sudah beranjak sore.
“Wan ... Wandi ....!! Bangun ....!! Lu molor aja kaya orang mati.”
Adrian sedikit memukul bahu Wandi yang masih malas untuk membuka mata. Perlahan motor itupun bergerak menembus jalan raya yang semakin terlihat sepi. Aura mistis sepeninggal mereka tercium sangat keras. Potongan-potongan adegan romatis masih tertanam di benak Adrian.

Komentar Buku (496)

  • avatar
    Fyoraa Vellvetaa

    keren

    16d

      0
  • avatar
    ANadif

    lumayan bagus

    18d

      1
  • avatar
    Hanania sakhiThalita

    bagusss

    20d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru