Bab 54 Kutukan

Kakek terus berusaha menenangkan Hesta yang gelisah melihat Adrian dan Wandi jatuh dari motor. Hesta terus meronta minta dilepaskan dari cengkeraman belenggu dunia lain dan tidak bisa keluar dari sana. Hingga kakek kewalahan dan memanggil penguasa alam ghaib untuk memberikan peringatan kepada Hesta.
“Hesta, jika kamu tidak menurut apa kata kami. Maka dengan terpaksa kami akan mengeluarkan kamu dari dunia kita dan tidak bisa kembali lagi!” bentak penguasa alam ghaib yang sudah kesal dengan tingkah Hesta akhir-akhir ini.
Hesta mengerutkan alisnya yang tebal dan hitam. Dia melihat ke arah kakek yang menatap tajam kepadanya. Hal yang tidak diinginkan ketika hati tidak sesuai dengan keadaan. Hesta terdiam tidak berani menatap penguasa alam dedemit yang tampak menyeramkan seolah ingin menghukumnya.
Selama hidup di dunia dedemit baru kali ini Hesta membuat ulah dan merepotakan bangsanya sendiri. Dia hanya menuruti egonya untuk bisa bersatu dengan bangsa manusia yang sudah mencuri hatinya.
“Hesta, kamu sudah dengar itu?! Jangan lagi kamu membuat ulah dengan sikapmu yang konyol!” perintah kakek tetap memegangi cucu kesayangan.
Hesta mengangguk, tidak berapa lama penguasa alam ghaib berlalu dari tempatnya. Demikian juga dengan kakek setelah melihat Hesta sudah tenang tidak berontak lagi.
“Aku harus bisa meyusul Adrian. Mereka tidak bisa mengekangku di sini. sebentar saja aku keluar, pasti tidak ada seorangpun tahu,” gumam Hesta mulai mengendap-endap.
Setelah melewati pembatas dunia alama ghaib, Hesta mencari Adrian dan Wandi yang sudah tidak ada di tempat jatuhnya tadi. Hesta memutuskan untuk ke rumah Adrian agar bisa melihat remaja tersebut terakhir kali dan mengucapkan perpisahan.
**
Sementara kakek yang baru kembali dari tempat Hesta terkejut melihat cucunya sudah tidak ada di tempat. Penguasa alam ghaib yang mencium keribbutan di dunianya sangat marah kepada keluarga kakek.
“Aku tidak mau tahu, Hesta harus kembali dalam waktu 5 menit. Jika tidak keluarga kalian haus pergi dari alam ini, MENGERTI …!”  
“M-mengerti … kami akan segera mencari Hesta sebalum 5 menit,” jawab Kakek dengan tubuh gemetar.
Kakek Hesta segera mengajak anaknya. Dia keluar dari dari alam mereka menuju rumah Adrian. Mereka sudah menduga jika Hesta pasti berada di sana untuk melihat kondisi remaja yang membuat hati cucunya merana.
“Sebenarnya aku kasihan kepada Hesta,” kata Ayahnya Hesta kepada Kakek.
“Jangan bikin hatimu lemah! Ingat kita dan mereka tidak sama. Kamu ingat dulu, hampir saja kita dibuang karena tingkahmu yang menyebalkan sama dengan anak kamu itu. Kamu mau kita dikutuk selamanya hanya karena menuruti hawa napsumu?!” bentak Kakek kepada anak satu-satunya.
“Tidak, Kek. Maaf.”
Mereka akhirnya tiba di halaman rumah Andrian yang sudah menyala lampunya. Terlihat sangat ramai dari pintu yang terbuka yang menyorot ke jalanan. Kakek tidak menemukan cucunya Hesat tampak di antara kerumunan orang-orang yang sedang sibuk mengobati luka Adrian dan Wandi. Keduanya saling menatap, dan bergerak dengan cara melayang mendekat ke arah pintu yang terbuka lebar.
“Kalian ceroboh sekali. Tidak tahu jika sekarang banyak berkeliaran bangsa dedemit lagi?” kata Jamilah sambil mengoles obat luka ke lutut Adrian yang berdarah.
Wandi dengan juga ikutan mengulurkan kaki ke hadapan Jamilah. Wanita tersebut mendengus kesal.
“Kamu juga, Wan. Sok-sok an ngebut segala. Udah tahu kalau nggak bisa nyetir kenceng, belagu. Sebenarnya kalian ini mau jadi apa?” kata Jamilah ngomel tidak bisa di stop.
Kedua remaja tersebut bukannya takut mereka malah bercanda. Selesai Adrian dioles dengan obat luar kemudian giliran Wandi yang diobati Jamilah. Dengan tertatih Adrian berjalan masuk ke kamar ganti baju.
“Eh … kamu mandi dulu!” teriak Jamilah melihat anaknya ngeloyor pergi.
“Nggak mau, dingin airya. Nih luka bisa perih,” tolak Adrian.
“Mandi, Emak bilang! Jangan sampai demit jalanan ikutan masuk rumah dan nempel di baju kamu!”
“OGAAAHH!”
Adrian tidak mengindahkan teriakan ibunya. Dia tetap masuk ke kamar yang sudah ada Hesta di dalamnya. Hesta sejak tadi tidak menampakkan wujudnya. Dia tahu jika mantra yang dIpasang kedua orang tua Adrian hawanya masih ada di rumah. Meski tidak sekuat yang dulu saat mereka dipisahkan secara paksa. Mereka tidak tahu jika Hesta mampu menembus mantra tersebut meski dengan perjuangan harus menggunakan seluruh ilmunya hingga tubuhnya lemas di atas ranjang milik Adrian.
Remaja yang tidak menyadari kehadiran Hesta tersebut lantas membaringkan tubuhnya sejajar dengan Hesta. Adrian merasakan ada yang janggal dengan tempat tidurnya tidak jadi memejamkan mata meski sudah sangat berat.
“Aku seperti mencium sesuatu yang tidak asing?” gumam Adrian melongok kanan kiri memastikan siapa yang ada di kamarnya. Tetapi dia tidak menemukan siapapun.
Jantung remaja tersebut kian berdebar tatkala merasakan ada yang bernaapas di sampingnya. Matany melirik dengan dan ketakutan. Teringat apa yang dikatakan ibunya yang menyuruh membersihkan diri.
“Jangan-jangan ada demit yang ngintilin gue. Bahaya, nih. Kalau cakep kayak Hesta tidak masalah, mau-mau aja. Tapi kalau menyeramkan takut juga …” gumam Adrian menutup tubuhnya dengan selimut hingga tertutup seluruh tubuhnya.
Berhubung selimut milik Adrian lebar maka tubuh Hesta secara tidak langsung ikut berada di di dalamnya. Mata Adrian memicing, memastikan jika tidak ada siapa-siapa yang di dalam kamarnya.
Wandi yang sudah selesai dibalur lukanya menyusul sahabatnya masuk ke kamar atas suruhan Jamilah. Dia menunggu jemputan dari Badrun yang masih bekerja.
Tanpa ba bi bu Wandi loncat ke atas ranjang milik Adrian. Tetap tubuhnya yang sdah sakit akibat terjatuh kini bertambah sakit. Remaja tersebut terkejut merasa ada yang memebntur tubuhnya di atas ranjang milik sahabatnya.
“Kamvret … ini kenapa jadi keras begini ranjangnya. Sik … sik … kok ada yang aneh …” pekik Wandi menatap alas tempat tidur yang terlihat beda.
“Yan … bangun … woii …. Banguunn!!”
“Apa, sih. Berisik aja … gangguin gue tidur,” sungut Adrian kesal tidak mengindahkan Wandi yang menarik selimutnya.
“Woii … banguuunn!! Ini kasur lo ada apanya?” teriak Wandi menarik tubuh Adrian.
“Rese banget, si!”
Adrian berusaha membuka mata meski kesal dengan Wandi. Kedua tangan mengucek mata agar melihat yang ditunjukkan oleh sahabatnya. Karena tidak menemukan apapun maka Adrian memukul Wandi dengan kencang.
“Busyet lo! Sakit tahu!” sungut Wandi mendorong tubuh Adrian.
“Lo lihat … kagak ada apa-apa. Udah lo pulang aja, sonoh …! Jangan gangguin gue, berisik aja!” keluh Adrian hendak merebahkan diri lagi, tetapi tubuhnya ditarik oleh Wandi. Wandi tetap menari tangan Adrian agar tidak lagi tidur. Kemudian dengan takut-takut memukul tempat tidur Adrian dengan kemoceng.
Bug bug bug
Tiga kali pukulan yang diarahkan ke ranjang Adrian membuat Hesta terlonjak dan bangun dari tempat tidur. Makhluk yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata itu menatap Wandi dengan geram.
 
 
 
 
 

Komentar Buku (497)

  • avatar
    Ramadhan

    mbgmmggvtvtg

    1d

      0
  • avatar
    Fyoraa Vellvetaa

    keren

    26d

      0
  • avatar
    ANadif

    lumayan bagus

    28d

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru