Hingga larut malam, Adrian dan wandi masih tertidur pulas. Tidak ada hal yang aneh terjadi, meski ada bayangan sosok kucing hitam berada di rumah itu sesaat dan selanjutnya menghilang. Suasana sudah kembali normal, tidak seperti saat kakek itu datang. Jamilah dan Siti tidur di sebelah anak mereka masing-masing, sedangkan Jumari dan Badrun tidur di kamar sebelah. Keesokan harinya dua anak terbangun, dan terkejut melihat ibu mereka memeluk tubuhnya. Sontak membuat Jamilah dan Siti terbangun dan membelai kepala anak mereka masing-masing. Kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. Wandi bersama kedua orang tuanya pulang ke rumah, dan kedua anak itu kembali berangkat ke sekolah. Sepanjang perjalan mereka tidak ada yang membicarakan kejadian kemarin, hingga sekolah usai seperti biasanya. “Wandi, lu nggak ada masalah kan hari ini?” Tnya Adria sebelum naik ke sepeda motornya. “Enggak, kenapa?” Tanya Wandi heran, tidak biasanya Adrian bertanya tentang kondisinya. “Oke kalau gitu, yuk cepetan naik!” Pulang dari sekolah mereka berdua melewati jalan raya tempat mereka main kemarin. Itu memang jalan satu-satunya menuju ke sekolah. Adrian yang menyetir tiba-tiba menghentikan sepeda motornya dan berhenti tepat di depan pohon beringin. Matanya menatap ke arah pohon beringin yang lumayan besar itu, yang daunnya jatuh beterbangan akibat hembusan angin. Wandi kebingungan, melihat tingkah temannya yang mulai aneh. Pikiran tidak waras mulai datang melihat Adrian berbeda sekali, semenjak datang ke tempat itu. Hantu yang merasuk ke dalam tubuh temannya, ataukah ilmu pelet yang mengenai Adrian. Semua serba misteri, bahkan sudah di luar nalar manusia. Adrian berbeda perangainya, lebih kasar dan mudah marah. Apalagi jika sudah menyebut gadis yang mereka temui di warung saat itu. Cantik, tetapi aneh di mata Wandi. “Heh Brow, lu kenapa? Woi ... denger gue nggak!” bentak Wandi di belakang Adrian. “Diem lu! Tunggu di sini dulu, gue mo ke sana sebentar.” “Weh, ini anak nggak kapok-kapoknya ya? Ya udah, pergi sono! Gue kagak nanggung kalo ada apa-apa ame lu!” seringai Wandi tetap duduk di atas jok motor. Adrian berdiri, kemudian berjalan ke arah pohon beringin yang besar itu. Tidak menoleh ke arah belakang sama sekali, meskipun temannya teriak memperingatkan. Seorang gadis cantik muncul dari balik pohon. Hesta, dia muncul dengan baju yang sama yang ia kenakan waktu pertama kali bertemu dengan Adrian. Mata Adrian berbinar, melihat kedatangan gadis cantik ini. dia ulurkan tangan menyambut kedatangan Hesta yang berlajan santai ke arahnya. “Hesta, ini lu? Ya ampun, apa kabar? Gue cariin elu dari kemaren.” Adrian tergesa memeluk Hesta yang sudah berdiri di depannya. Pelukkan erat seperti lama tidak bertemu. “Iya, ini gue. Gue kangen ama lu. Kakek sih, larang gue ketemu. Yuk, main ke taman sebentar!” Ajak Hesta sambil menarik tangan Adrian dibawa ke belakang pohon beringin. Pohon Beringin mulai terlihat bergerak ranting-rantingnya. Daun-daun bergoyang beberapa lembar terjatuh ke tanah. Wandi yang masih duduk di atas sepeda motor, mulai ketakutan. Dia berteriak memanggil nama kawannya. Akan tetapi suaranya seperti hilang bersama angin. Bahkan orang yang lalu lalang di jalan tidak memperdulikannya. Di mata Wandi, ia hanya melihat sosok Adrian yang duduk di bawah pohon sambil tangannya mengorek-ngorek tanah. Kakinya seakan terikat tidak dapat melangkah ke arah Adrian, namun tidak ada sahutan. Dirinya berpikir jika suara teriakan terbawa oleh angin yang sedang berhembus dengan kencang. Tetapi aneh, tidak membuat Adrian bergeming dari tempatnya. Seperti anak kecil yang sedang bermain dengan tanah sikap Adrian di mata Wandi saat ini. “Sudahlah, percuma ngomong ama tembok. Ujung-ujungnya juga kagak mau dengerin gue.”Gumam Wandi dengan nada kesal dan akhirnya tetap duduk di atas jok motor. Sementara, Adrian sudah bersama dengan Hesta masuk ke dalam hutan yang ada di belakang pohon beringin. Mereka berjalan beriringan seperti dua sejoli yang menjalin hubungan asmara. Tiba-tiba angin berhembus dan pohon beringin bergerak dan daun-daun mulai beterbangan. Hesta dan Adrian tidak memperdulikan suasana yang mulai berubah menjadi mendung dengan tiba-tiba. Mereka tetap asyik berbincang sambil berjalan hinnga sampai pada sebuah tempat yang teduh dan rimbun. Jika dilihat secara kata mata, menyerupai semak-semak yang rumputnya sudah setinggi manusia. “Kita duduk di sini saja! Jangan jauh-jauh nanti hujan gak ada tempat berteduh,” ucap Hesta menarik tangan Adrian duduk di batu besar. “Oke, ngomong-ngomong apa kegiatan lu kalo nggak sekolah?” Tanya Adrian setelah mereka duduk berdampingan di atas tanah. “Main aja, sambil bantuin emak di dapur. Suka bikin kue soalnya.” Jawan Hesta sambil tersenyum manis menatap Adrian tanpa kedip. “Bagus tuh, boleh dong sekali-kali gue minta kue bikinan elu?” ucap Adrian semakin merapatkan tubuhnya kepada Hesta yang terlihat sangat seksi di mata Adrian. Baju yang sama yang ia pakai tempo hari, tidak membuat Adrian merasakan hal aneh sama sekali. Hesta hanya terdiam ketika tubuh mereka sudah tidak berjarak lagi. Tangan mulai tidak dapat ia kendalikan menyentuh leher tengkuk gasis itu yang terlihat terbuka. Adrian memejamkan mata, mencoba mengurai apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Namun sayang, ia tidak mendapatkan jawaban dari dalam hatinya. Pelan ia membuka mata, dan melihat Hesta semakin cantik di matanya. Dada Adrian bergemuruh, menahan hasrat yang ada di dalam dirinya. Entah setan apa yang ada di dalam keduanya, mereka sudah saling memeluk tanpa ada suara. Suara-suara aneh yang ada di sekitar mereka tidak diperdulikan. Bahkan jika di lihat kasat mata mereka berada di tengah semak belukar. Ulat, ular dan binatang melata ada di sekitarnya. Namun Adrian tidak pernah melihat hal itu. Hasratnya sudah memuncak, tatkala Hesta menempelkan hidungnya tepat di muka Adrian. “Cantik.” Tidak mengabaikan kesempatan yang di depan mata. Adrian membawa Hesta ke dalam balutan asmara, hingga mereka tersengal. Hasrat itu muncul dengan tiba-tiba, bahkan Adrrian tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Dia tipe cowok yang anti dengan cewek selama ini. “Mulai gerimis, gimana nih?” sela Hesta masih di dalam pelukan Adrian. Tubuh sintalnya terikat erat dengan tangan yang tidak pernah lepas. Bukan menjawab pertanyaan gadis itu, Adrian semakin berani menikmati hidung mancung itu dengan belitan lidahnya. Benturan halus antara lidah dan hidung tidak berhenti sampai di situ saja. Suara kecipak air liur mulai terdengar lirih. Tanpa terasa mereka sudah berbaring di rerumputan liar. Adrian dan Hesta sudah tidak dapat mengendalikan diri. Belitan demi belitan mengurai wajah masing-masing dengan lidahnya. Meskipun masih berpakaian lengkap namun hasrat mereka sudah tidak dapat ditahan lagi. Bergulingan dan saling memeluk erat. Jangankan ulat yang merayap di kaki, ular yang hampir menggigit tidak terlihat di mata Adrian. Dia sudah benar-benar terhipnotis oleh Hesta yang cantik paripurna di matanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mbgmmggvtvtg
8d
0keren
12/09
0lumayan bagus
10/09
1Lihat Semua