Sementara di tempat lain, Adrian dan kedua temannya yang kesal akibat ulah Wandi segera pergi dari stan penjual martabak. Mereka menuju ke arah parkiran yang jaraknya agak jauh dari tempat asal berteduh. Niat mereka bertiga hendak meninggalkan Wandi dan Tina, yang sudah curang dan tidak lagi memikirkan teman. Setelah mendapatkan motor dari tukang parrkir, ketiganya bergegas melajukan kendaraan menuju desa tempat tinggal mereka. Sepanjang jalan, baik Adrian dan kedua temannya memaki Wandi yang tidak setia kawan ucapan kotor. Tidak sadar, jika dari arah belakang ada bayangan hitam mengikutinya. Bayangan perempuan dengan rambut panjang menyeringai menatap Adrian dan kedua teman yang melajukan sepeda motor dengan kencang. Hujan gerimis di tengah malam tidak mereka perdulikan, hingga laju kotor berhenti di perbatasan desa. “Yan, gue kog merasa ada yang membuntuti kita,” kata Ardi sambil bersedekap. “Kagak usah mikir yang aneh-aneh. Gue bingung, entar gimana ngomong sama Emaknya Wandi dan Tina? Kita berangkat bareng berlima, mosok pulang bertiga.” “Iya, juga sih. Mana udah malem, baterai juga lowbad. Apa kita tunggu di sini saja?” kata Ardi. Ketiganya berpikir sejenak, sebelum Adri kemudian berteriak ada hantu yang berada di belakang Adrian. “Ha-ha-hantuuuu!!” Ardi berteriak dan lari tungang langgang tanpa menghiraukan kedua temannya. Sementara Adrian yang masih belum menyadari kehadiran sosok makhluk tak kasat mata, hanya bingung dan menatap temannya yang masih duduk di motor dan menghadap lurus ke depan. Baik Adrian dan temannya, tidak menyadari kehadiran sosok yang disebutkan oleh Ardi. Mereka malah tertawa melihat Ardi yang lari masuk ke kampung. Dengan santai keduanya menghiduplkan kembali motor masing-masing. Sementara makhluk tidak kasat mata yang ternyata adalah Hesta, semakin geram karena Adrian tidak tidak dapat lagi melihat wujudnya. “Sialan, mengapa dia tidak dapat melihat gue. Ini pasti gara-gara kakek yang sudah membuat Adrian tidak bisa melihat makhluk alam gaib. Gue harus bujuk kakek lagi, bisa-bisanya bikin cucu tersiksa,” gumam Hesta sambil mengerucutkan pipi yang tidak terlihat cantik. Sedangkan Adrian sudah tiba di rumah dengan aman. Tidak ada yang mengganggu selama perjalanan pulang. Hanya dia kepikiran soal Wandi dan Tina, yang ditinggal di alun-laun kota. Setelah memasukkan motor, pemuda itu langsung masuk ke kamar setelah membersihkan diri. Merebahkan tubuh di ranjang, sambil mata menatap langit-langit kamar. Ingatan Adrian kembali ke masa lalu, di mana di Hesta terlibat cinta terlarang antara manusia dan mkhluk tak kasat mata. “Adrian! Kamu udah pulang, Nak?” teriak Jumari dari luar kamar sambil mengetuk pintu “Udah, ini mau tidur,” jawab Adrian tanpa membuak pintu kamar. “Tadi ayag Wandi telpon, nanyain dia. Kamu buka pintunya dong! Masak Bapak ngomong pintu nggak di buka.” “Waduh, gawat nih! Gimana gue bilang ama bapaknya Wandi. Oh, gue tahu. Bilang aja dia ke tempat Tina, kan emang ama dia tadi,” gumam Adrian lantas membuka ponsel dan mengirim chat kepada Badrun, bapak Wandi, “Beres.” “Adrian!! Buka pintunya!” teriak Jumari sambil tetap menggetuk pintu kamar. “Udah, Pak, gue udah ngantuk. Udah kirim chat ama Bapaknya Wandi. Bapak tenang saja.” “Ya udah.” “Lega,” gumam Adrian melanjutkan aktifitasnya di atas Kasur. Bibir Adrian sesekali tersenyum mengingat banyak pertentangan dari keluarga dan perbedaan di antara mereka, tetapi rasa cinta dan hasrat tinggi mampu mengalahkan logika. Sudah berbulan-bulan dia melupakan kejadian tersebut. Tetapi mengapa hari ini terbersit lagi akan sosok Hesta yang cantik dan mempesona. Bagi Adrian menjalin hubungan dengan gadis dan baru pertama kali, tetap menjadi kenangan terindah meski semua harus berakhir dengan tidak menyenangkan. Perlahan mata pemuda itu terpejam, diiringi lantunan musik dari ponsel yang terdengar suara nyayian dari penyanyi Hari Parintang dengan judul Buih Permadani. Sampai terlelap terbawa oleh mimpi. Mimpi bersama dengan Hesta bernyanyi bersama di sebuah taman di tengah hutan yang lebat. “Hai, apa kabar?” sapa Hesta melambai tangan melihat kedatangan Adrian dengan memasang wajah penuh senyum. “Hai juga, kabar baik tentu.” Mereka mulai bernyanyi dan tertawa melewati waktu pernah hilang selama berbulan-bulan. Dunia sekan milik berdua, yang lain ngontrak. Buat Adrian bertemu kembali dengan Hesta merupakan rejeki yang tidak disangka. Keluarga mereka bahkan tidak ingin, Adrian kembali bermain di bawah pohon beringin. Dan ingatan pemuda itu tentang Hesta perlahan sudah mulai kabur waktu itu. Tetapi mengapa malam ini terasa begitu nyata akan hadirnya Hesta. “Terasa mimpi yak? Kita dapat ketemu lagi. Ke mana aja Lo?” ucap Adrian mengajak Hesta duduk di tengah taman. “Ada, Lo aja yang kagak mau nengok gue,” ucap Hesta tersipu malu dengan wajah merah jambu. “Yak, mau gimana lagi. Apa rencana Lo sekarang?” Kemudian Hesta membisikkan sesuatu kepada Adrian. Pemuda yang baru menginjak kalas XII SMK itu, tersenyum lebar menatap Hesta dengan sejuta makna. Mereka sama-sama tertawa lepas, seakan beban yang menghimpit tidak ada lagi. Keduanya bercanda, berlarian keliling taman tanpa ada gangguan. Semakin lama, Adrian semakin larut dalam rasa bahagia. Dia sudah lupa dengan peristiwa masa lalu yang menjebaknya dalam dunia tak kasat mata. Hesta terlihat memperlihatkan sentum yang terus mengembang di bibir yang tipis dan merah. Hati Adrian saat ini tidak dapat lagi berpaling dari gadis cantik itu. Semakin lama mereka semakin tenggelam dalam belitan asmara. Tidak dapat dihitung lagi, berapa kali menautkan bibir mereka untuk saling mencicip. Dunia seakan milik berdua, yang lain ngontrak. “Kita lakukan sekarang rencana ini?” “Iya, Lo udah siap menanggung resiko?” “Siap! Asal selalu bersama Elo, Hesta,” kata Adrian dengan tatapan sayu terarah pada gadis cantik di depannya. Tidak menunggu lama, Adrian dan Hesta berjalan ke arah pinggir taman. Cahaya yang semula terang, kini semakin redup. Kedua tangan Hesta dan Adrian semakin erat menggenggam. Hesta berulang kali menatap ke Adrian yang berjalan tegap tanpa menoleh ke arahnya. Seringai jahat dari bibit gadis itu meulai mengembang, sementara Adrian tidak menyadari jika yang ada di sebelahnya sudah berubah menjadi sosok yang menakutkan. Tubuh Hesta melayang mengikuti jalan yang membawa mereka ke dunia gelap. Adrian merasakan tangan Hesta berubah menjadi dingin, tetapi tidak dihiraukan. Dia segera ingin cepat sampai ke tempat yang ditunjukkan oleh Hesta. Tidak ingin kakek Hesta mengetahui keberadaannya saat ini. Melihat cahaya di depan semakin redup, awalnya Adrain ragu. Tetapi setelah Hesta meyakinkan untuk meneruskan langkah, membuatnya kembali bersemangat. Bahu pemuda itu terasa sakit, seakan ada yang memukulnya dengan keras. Sontak Adrian menjerit karena rasa sakit berubah menjadi tarikan yang cukup kuat. Matanya ingin melihat siapa yang sudah menyakitinya, tapi terasa sangat berat. Baru setelah merasakan dingin dan basah di seluruh tubuh, Adrian dapat membuka mata. “Kurang ajar, berani lo ama guee!!” teriak Adrian dengan marah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mbgmmggvtvtg
5d
0keren
12/09
0lumayan bagus
10/09
1Lihat Semua