logo text

Bab 18 Bayangan Hitam

Dua anak berdebat mengenai Hesta dan kakek misterius, tiba-tiba suasana mendadak jadi mendung. Dan pohon beringin bergerak ranting dan daunnya perlahan. Dua anak tidak menyadari ada bahaya yang datang. Bayangan itu kemudian bergerak mendekati Adrian dan Wandi yang masih berdebat . Gerimis mulai datang, tidak mereka rasakan. Bahkan awan hitam sudah berkumpul di atas langit. Suasana mencekam di sekitar pohon beringin.
“Sejak kapan seorang Adrian jatuh cinta? Waduhh ... bukan lu banget kayaknya. Gimana- gimana rasanya Brow? Wwwkkk ... gue ngakak seru nih.”
“Lu ngledek gue? Awas saja! Gue sumpahin jadi bucin lu nanti.” Bentak Adrian dengan tangan mengepal.
“Hahaha ... pengen ngrasain bucin. Makasih Brow, lu udah doain gue hahaha ....”
“Kurang asem lu.”
“Eh ... eh ... i-itu ada apa? Yan ... Yan ... tuh! A-ada di belakang lu!”
“Apa an sih? Lu mulai lagi nih, gue sumpahin beneran lu jadi kodok!”
Wajah Wandi mendadak pucat, melihat sosok makhluk hitam berdiri tepat di belakang Adrian. Sedangkan Adrian yang merasa dikerjain Wandi, menoleh ke belakang. Dia tak melihat apa-apa. Namun bulu kuduknya merinding tangannya bergetar. Seolah ada seseorang yang mengawasinya dari dekat. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat lamanya.
Sosok makhluk hitam bertubuh besar mendekat dan menyentuh Adrian yang ada di depannya. Hingga beberapa saat lamanya kedua anak itu tidak ada yang berbicara, dan suasana sekitar pohon hening dan sunyi. Lutut Wandi bergetar, bibirnya terkunci rapat. Dia tidak tahu harus berbuat apa, melihat temannya berada dalam bahaya. Terlihat dari sorot mata makluk itu cukup memberikan isyarat untuk diam. Kilatan amarah, tersirat dari makhluk itu.
“Ya Tuhan, semoga kita baik- baik saja. Kenapa terus gangguin kita sih? Gue gak mau mati dulu.”
“Heh, lu ngomang apaan? Kagak jelas banget.”
“I-tu ... ada di belakang lu. Ampuuni ... guee ....”
Wandi terlihat ketakutan, dan duduk ditanah. Setelah lima menit berlalu, akhirnya suasana kembali normal. Mendung sudah berganti sinar matahari yang panas dan menyengat. Adrian terlibat bengong, melihat Wandi pucat dan tertunduk lemas di tanah. Biar bagaimanapun dia adalah teman baiknya selama ini. Kemudian dituntun untuk naik ke sepeda motornya. Memastikan temannya baik-baik saja, sebelum memutar kunci motor dan melanjutkan perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara hingga mereka sampai di rumah Wandi. Rumahnya sepi, tidak tega juga Adrian membiarkanny di rumah seorang diri. Sesaat dia menoleh ke belakang melihat temannya masih saja pucat pasi.
“Waduh, ini kalau gue tinggal sendiri bisa gawat. Oke, gue bawa ke rumah saja, nanti hubungi bapak dan emaknya.” Gumamnya sambil menyentuh tangan Wandi yang masih dingin.
Akan tetapi belum sempat Adrian memutar kunci motor, tangan Wandi menarik tubuhnya ke belakang. Membuat Adrian menoleh ke arahnya.
“Ada apa? Lu mau turun? Kagak usah, ke rumah gue aja. Tuh, muka lu pucat. Takutnya lu pingsan di rumah gak ada yang tahu.”
“Gue nggak pa-pa kog. Turun di sini aja. Lu pulang deh!” lirih Wandi terlihat lemah.
Adrian menarik tangan Wandi supaya nurut dan tidak turun dari motornya. Sempat terjadi perdebatan kecil namun akhirnya Wandi mengalah dan ikut dengan Adrian. Selama ini dia juga tidak pernah membantah apa yang dikatakan Adrian. Dia sering kali menolongnya dalam keadaan terdesak.
Sampai di rumah, hari sudah menjelang sore. Suasana rumah Adrian masih sepi seperti biasanya. Kedua orang tuanya belum pulang dari jualan. Sama juga dengan Wandi, mereka anak-anak yang kesepian jika pulang dari sekolah. Makanya sering bersama-sama dan sudah seperti saudara. Adrian membawa Wandi ke dalam kamar, membaringkan tubuh yang lebih itu dengan perlahan. Wandi hanya terdiam melihat perlakuan Adrian kepadanya. Meskipun dia sering berkata kasar, namun hati sangan menyayangi.
Tidak salah jika keduanya di juluki, kepompong dan ulat. Sama -sama membutuhkan untuk berbagi. Kedua orang tua mereka juga sudah seperti saudara. Nasib keduanya sama-sama anak tunggal. Untungnya mereka dapat menyayangi semenjak kecil. Hingga tidak perlu khawatir lagi Jamilah dan Siti khawatir.
Hingga pukul sembilan malam kedua orang Adrian barulah datang dan mendapati keduanya sudah tidur nyenyak di kamarnya. Jamilah ibu yang baik, meskipun kondisi capek dia selalu luangkan waktunya melihat anaknya di kamar sebelum tidur.
“Ini anak-anak tidur kayak orang pingsan saja. Udah selimut gak karuan tingkahnya juga gak karuan. Hedeh ... untung ranjang lu besar, kalo enggak udah pada nimpuk atau jatuh nih.”
“Ada apa to Dik? Dari tadi gue perhatikan kog ngomong sendiri? Gimana anak-anak? Ada masalah?” Ucap Jumari melihat ke arah ranjang. Tidak sengaja matanya mantap sekeliling kamar Adrian ada yang dirasakan aneh dengan suasana kamar itu. Merinding bulu kuduknya, tidak ia ceritakan kepada Jamilah. Sejenak terpaku dengan tas sekolah anaknya yang terpakir sembarangan di kursi. Melihat ada yang bergerak, dan ketika ia fokus gerakan itu menghilang. Sekain bulu kuduknya berdiri, karena takut istrinya pasti marah jika berkata bohong. Jumari yang penakut, tidak bercerita kepada Jamilah. Dilema, anatar cerita dan tidak. Sebagai laki-laki egonya pasti yang di dahulukan. Gaengsi jika dibilang pengecut, namun kenyataan memang seperti itu.
“ Abang kenapa cengar-cengir kayak gitu? Ada yang di sembunyikan dari gue?” Ucap Jamilah menatap tajam ke arah Jumari yang yang terlihat gugup.
“Nggak pa-pa, udah yuk masuk kamar. Gue udah kangen nih, satu minggu nggak nengok.”
“Ish ... apa an sih Bang? Kayak pengantin baru aja. Memang masih palang merah kog, kayak gak pernah aja.” Ucap Jamilah tersipu malu.
“Tapi sekarang dah bisa dipakai kan?” Tangkis Jumari menggoda istrinya yang nampak masih segar dan muda. Meskipun tunggal di desa, Jamilah selalu rutin minum jamu dan perawatan alami.
“Ih ... Abang suka gitu, jadi malu nih.” Jamilah menutup mukanya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Adrian. Seperti biasanya, Jumari selalu memperlakukan istrinya seperti ratu. Selalu melayani ketika mereka ada di atas ranjang tidurnya. Namun ada yang berbeda yang dirasakan Jamilah. Malam ini Jumari lebih perkasa dari biasanya, hingga dia kewalahan. Selama hampir dua puluh tanuh mereka menjalan rumah tangga baru kali ini Jamilah merasakan nikmat yang luar biasa saat memadu kasih. Berbagai posisi malam ini mereka lalukan, Jumari seperti orang yang sedang haus akan belaian asmara. Hingga hampir subuh tubuh mereka berpacu dengan keringat. Setiap kali Jamilah berhenti, Jumari selalu dapat membangkitkan gairahnya lagi, hingga bunyi ayam jantan berkokok pukul 03.00 baru mereka berhenti.

Komentar Buku (497)

  • avatar
    Ramadhan

    mbgmmggvtvtg

    1d

      0
  • avatar
    Fyoraa Vellvetaa

    keren

    26d

      0
  • avatar
    ANadif

    lumayan bagus

    28d

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru