Hati Adrian bergejolak mengintip ke dalam kamar orang tuanya yang tidak terkunci. Matanya panas melihat kedua orang tuanya yang berada di atas ranjang bersama dengan kucing hitam yang ada di bawah kaki mereka. Kucing terlihat menjilat kaki Jumari yang terbuka tidak tertutup selimut, sedangkan pemiliknya tertidur dengan pulas. Mereka tidak menyadari jika ada makhluk asing yang sudah masuk ke kamarnya. “Astaga, bener yang gue lihat sekarang? Itu kucing yang tadi di dapur kayaknya.” Adrian berulangkali mengucek kedua matanya. Memastikan jika yang ia lihat itu adalah nyata. Kucing kitam tetap menjilat dengan penuh semangat. Bahkan tidak menoleh ke arah pintu di mana Adrian berdiri saat ini. Suasana terlihat tegang, saat kucing terlihat menggigit kaki Jumari. Dada Adrian berpacu dengan kencang, melighat kedua orang tuanya terlihat tenang tak terusik sedikitpun. Bergemuruh hati Adrian, melihat pemandangan yang tidak biasa ini. Baru saat ini ada kucing berkeliaran di dalam rumahnya. Berulangkali kucing hitam itu masuk, tidak ada yang dapat mengusirnya, dan tiba-tiba menghilang. Hawa panas di dalam kamar kedua orang tua Adrian sangat terasa. Dia tidak mampu membuka mulutnya untuk berteriak dan memanggil kedua orang tuanya. Tenggorokan terasa tercekat dan kering. Malam yang sudah menjelang subuh membuat mata Adrian, tidak bisa dipejamkan lagi. Dia teringat dengan Wandi yang ditinggalkan di kamarnya. “Astaga, jangan-jangan ada apa-apa dengan si keriting itu, gue nggak tega ninggalin dia.” Gumam Adrian akhirnya kembali ke kamarnya. Melihat Wandi masih dengan posisi yang sama pada waktu ia tinggalkan. Dengan terpaksa Adrian kembali membaringkan tubuhnya di samping Wandi yang sudah mendengkur dengan keras. Pagi hari, kedua orang tua Adrian yang terbiasa bangun terlebih dahulu, sekarang belum nampak. Pintu kamar yang sedikit terbuka dari tadi malam, tetap dengan posisinya. Adrian yang akan berangkat ke sekolah bersama dengan Wandi, akhirnya masuk ke kamar mereka. Dan mendapati keduanya masih tertidur dengan pulas dengan kondisi pakaian berantakan. Kedua anak ini saling berpandangan, pikiran masing- masing mencoba menebak apa yang sudah terjadi dengan keduanya, hingga sampai saat ini belum bangun. “Eh ... ini gue bangunin Emak ama bapak nggak sih? Takut aja kalo nggak gue bangunin, ada apa-apa ama mereka,” tanya Adrian kepada Wandi yang masih bengong melihat Jumari dan Jamilah yang terlihat nyenyak tidurnya. Mereka tidak bergerak sama sekali, meskipun Wandi dan Adrian sudah membuat suasana ribut di dalam kamarnya. “Bangunin aja, gue tajut juga mereka ada apa-apa. Gue kasihan kalo lu ditinggal sendiri nanti,” seloroh Wandi. Sontak Adrian memukul pinggang temamnya itu sangat keras, hingga mengaduh kesakitan. “Aduh ... sakit tau, lu pikir ini barang apa? Main pukul aja,” sungut Wandi kesal, kemudian keluar dari kamar. “Woii ... lu mo kemana? Temenin gue dulu! Main tinggal aja, bantuin gue!” Bentak Adrian kasar. “Iyee ... mana bisa gue nolak,” sungut Wandi balik lagi dan ikut membangunkan kedua orang Adrian. Tidak terasa, hari semakin siang, Jamilah dan Jumari belum bisa dibangunkan hanya menggeliat dan menguap, akhirnya tertidur kembali. Kesal, mereka berdua berangkat ke sekolah tanpa sarapan dan uang saku. Ide Adrian muncul, ke rumah Wandi untuk minta makan pagi di sana. “Kita mampir ke rumah lu dulu yak! Gue laper nih, gak ada uang lagi.” Ucap Adrian dengan santainya. '"Hedehh ... oke, cepetan, mereka keburu berangkat nanti. Kita juga udah telat nih! Ada ulangan harian, jangan lupa!” “Oke ... lets go pren ...! Yess ....!” Dengan kecepatan lima puluh kilometer perjam, Adrian melajukan sepeda motor CB nya meluncur ke rumah Wandi. Dalam perjalang yang hanya menemuh jarak lima ratus meter dari rumahnya, ia teringat dengan peristiwa tadi malam. “Wan, lu tadi malam ngapain pergi dari kamar? Gue nyari elu, gue pikir ilang kesambet setan,” tanyanya sambil memarkir motor tepat di depan pintu rumah Wandi. Rumah yang kecil tipe tiga enam, hanya cukup ditempati tiga orang. Suasana bersih terawat dan sejuk dengan banyak bunga menghiasi teras rumah. “Pergi ke mana? Gue gak ke mana-mana. Lu kali yang udah kebawa setan. Ingat enggak kejadian kemarin?” Sahut Wandi sambil mengetok pitu rumah. Nampak dua orag membuka pintu, kedua orang tua Wandi. “Astaga, lu ingat rumah juga akhirnya? Dasar, anak susah banget dibilangi. Ayo cepet masuk! Pasti ada maunya ini kalian berdua. Nyusahin orang tua saja.” Siti menarik telinga Wandi pelan, sebagai bahan pelajaran jika dia sudah mulai bertingkah membuat kesal kedua orang tuanya. Mereka menurut, tidak ada yang membantah semua yang dilakukan Siti. “Ampun Mak, gue maunya pulang kemarin itu. Tapi ini nih, Adrian minta ditemani. Sebagai sahabat sekaligus teman yang baik, ya gue temani lah,” kilah Wandi. “Busyet, lu gak nyadar dah gue tolong. Udah tersearah elu deh. Mak, gue laper. Ada makanan nggak?” Tanpa basa-basi Adrian menggandeng tangan Siti menuju dapur. Dia memang sering memperlakukan Siti, seperti ibunya sendiri. Demikian juga sebaliknya. Mereka semua berkumpul di ruang makan. “Ada, tuh pada makan dulu sono! Emang kemana Emak lu? Tumben kagak masak?” Ucap Siti sambil menyiapkan minum untuk keduanya. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Siti, keduanya seperti orang kelaparan menyantap mekanan yang ada di meja hingga habis. Siti dan Badrun hanya menggeleng kepala, melihat tingkah kedua anak yang ada di depannya. Setelah selesai mereka berangkat sekolah, tanpa menceritakan apapun kejadian yang ada di rumah Adrian. Dalam benaknya, hanya minta uang saku saja untuk jajan nanti. Sedangkan Badrun dan Siti, kembali melakukan aktifitasnya jualan ke pasar. Tidak lupa mereka selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Adrian untuk sekedar mengantar makanan, jika Wandi menginap di rumah itu. Sementara Adrian dan Wandi tiba di sekolah. Suasana sepi, karena anak-anak seudak masuk ek dalam kelasa masing-masing. Terlamabt, itu kata yang tepat unuk dua anak yang super bandel ini. “Ini gimana? Kita masuk nggak?” Tanya Wandi kepada Adrian yang sedang memerhatikan suasana sekeliling. “Masuk saja, lagian ngapain juga di luar? Pasti juga ketahuan.” “Bentar, tunggu gue! Cepet banget jalannya.” Wandi yang tertinggal merasakan terdesak ingin buang air. Menarik baju Adrian dengan kencang. “Woii ... gue kebelet nih! Gimana dong? Tadi lupa nggak setor dulu.” “Ya udah, gue tinggal. Lu ke kamar mandi sono!” Wandi pergi sendirian ke kamar mandi yang ada di dekat kelasnya. Karena terburu-buru, akhirnya tanpa sadar lansung muntahin apa yang sudah mendesak sejak tadi, di klosed tanpa menutup pintu. “Aaaa ....”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
16d
0lumayan bagus
18d
1bagusss
20d
0Lihat Semua