Sementara Tina yang berteduh sendirian di pos kamling duduk bersender di bangku kayu. Hujan deras mengguyur tanah hingga air mengalir sangat deras meluncur dari permukaan tanah yang lebih tinggi. Membuat gadis itu takut jika terjadi banjir atau tanah longsor. Permukaan tanah yang tidak rata dan menurun dapat menyebabkan air meluncur deras. “Ya Tuhan, gue sendirian. Gimana ini? Wandi, Adrian, kalian ingat gue nggak? Hikk hikk ....” Air mata Tina mulai terlihat menggenang di pelupuk matanya. Bercambur dengan air hujan yang sudah menyapu wajahnya terlebih dahulu. Tina melihat lalu lalang kendaraan bermotor berjalan dengan pelan menembus hujan yang masih deras. Tidak ada yang berhenti, meskipun itu sepeda motor. Tina mencoba menghidupkan ponsel, menghubungi Wandi dan Adrian. “Hallo Wandi, lu di mana? Gue sendiri di pos Kamling cat ijo.” Dari seberang terdengar suara Wandi, yang menyuruhnya untuk menunggu hingga hujan berhenti. Tina ragu, karena tempat di sekitar itu nampak sepi tidak ada orang yang berkeliaran selain kendaraan bermotor yang melintas. “Waduh, ini bagaimana? Gue takut sendirian di sini. Kapan berhentinya hujan hikk hikk ....” Air mata mulai menetes kemabali, pikirannya mulai buruk sesuatu menimpa dirinya. Tiba-tiba bahunya terasa ada yang menepuk. Tina menoleh ke belakang, melihat gadis cantik sedang tersenyum ke arahnya. Lega, ada teman sesaat di sini, pikirnya. Tangannya yang basah kedinginan, mengusap air mata yang tadi menetes. Bibirnya menyungging senyum kepada gadis cantik yang ada di hadapannya. Tina menjabat tangan gadis itu yang terasa sangan dingin seperti es. Gadis yang tangan yang terasa lebih dingin itu, menarik dirinya untuk duduk lebih mendekat ke dinding agar tidak terkena cipratan air hujan yang semakin deras. “Baik sekali dia,” gumam Tina. Mereka duduk bersandingan dengan tangan masih mengenggam. Rasa dingin, membuat Tina enggan melepaskan tangan mereka. Sejenak hening, belum ada yang membuka pembicaraan. Hanya pandangan mata mereka menatap air hujan yang turun tidak tahu kapan berhentinya. Suara kodok yang melintas menyadarkan mereka. Sama-sama menyungging senyum dan akhirnya melepaskan tangan menutup bibirnya. “Ya elaahh ... ada aja nih kodok. Sepertinya dia kehilangan rumah ya Mbak?” Tanya Tina mulai membuka pembicaraan. Gadis itu hanya mengangguk, tidak menjawab. Tangannya memberikan isyarat jika dia tidak bisa berbicara. Tina kembali menutup mulutnya, merasa tidak enak. Mereka kembali terdiam, dan kembali menikmati hujan yang mulai reda. Waktu bergulir hampir satu jam lamanya. Karena capek dan lapar, Tina menguap menahan kantuk. Sesekali melirik ke arah gadis yang tidak dapat bicara itu. Dia tengah asyik menatap hujan dengan senyum tersungging di bibirnya. Rasa kantuk tidak tertahankan lagi. Berulang kali kepala Tina terjatuh mengenai bahu gadis itu, dan akhirnya dia tertidur juga. Perlahan gadis yang ada di sebelah Tina menghilang, tinggal dia seorang diri tertidur dengan kepala bersender di dinding pos. Dalam alam bawah sadar, Tina bermimpi bermain dengan gadis cantik yang bernama Hesta. Mereka berjalan menyusuri taman hutan yang ada di belakang pohon beringin. Bercanda dan tertawa, bahkan gadis itu dapat berbicara layaknya manusia biasa. “Lu cantik, mengapa tinggal di sini? Nama lu siapa?” Tanya Tina saat mereka duduk di sebuah batu besar. “Hesta, masa sih? Biasa saja, namanya juga gadis hutan. Sama siapa lu tadi ke sini? Gue liat kagak ada teman?” tanya Hesta sambil mengorek tanah dengan sebuah ranting kayu. “Iya benar, sumpeh samber gledek kalau itu. Pasti banyak cowok yang naksir nih.” “Hahaha ... ada aja deh. Kagak ada perawatan, gue polosan, mana ada itu cowok yang mau ama gue.” “Mau gue ajak kenalan ama cowok? Gue punya temen, dia alergi baget ama cewek. Kalo lu mau, gue bisa kenalin.” “Benar? Terharu gue kalo itu sampe terjadi. Lu sendiri dah punya cowok belum?” Mereka berbincang layaknya teman yang sudah kenal lama. Tidak menghiraukan ada banyak binatang melata yang melintas di depannya. Bahkan terkadang ada yang melilit di kaki Hesta dan Tina. Aneh sekali, keduanya tidak terganggu dengan kehadiran binatang-binatang itu. Sesekali Hesta mengambil ular, dan mencuiumnya. Keduanya tidak jijik ataupun ketakutan. “Wwwk ... lu pernah ngisengin cowok ternyata ya?” Tawa renyah Hesta mengusik hutan yang sunyi itu. “Iya, gue pernah kunci mereka di kamar mandi sekolah. Mereka menyebalkan, kasih aja tikus dan kecoa. Menjerit semua hahaha ....” “Wwkk ... trus gimana mereka bisa keluar? Gak mungkin tidur di kamar mandi? Bisa mati dong hahaha ....” “Gue udah pesen ama satpam, setelah pulang sekolah. Setelah itu mereka jera, kapok hahaha ....” Saat mereka berbincang, terdengar suara kakek memanggil. Hesta berpura-pura tidak mendengar dan lanjut bercanda dengan Tina. Namun suaranya semakin lama semakin dekat dengan tempatnya. Dan Tina yang menyadari ada orang datang, menghentikan bicaranya. “Eh, ada yang nyariin lu tuh!” “Biarin, pasti kakek gue itu.” “Hesta ... lu di mana sayang?” Suara serak semakin mendekat ke arah mereka. Tina memberikan isyarat supaya Hesta menjawab panggilan tersebut. Namun gadis cantik paripurna tiada tara, itu hanya menggeleng kepala dan menaruh satu jari telunjuk di bibir yang merah. “Kenapa?” Tanya Tina lirih. Hanya gelengan kepala jawaban dari Hesta, dan muncullah kakak dengan memakai kaos oblong dan sarung kebesarannya. Melangkah mendekati kedua gadis yang ada di depannya. Sarung yang dipakai kakek terlihat meninggi, dengan ikatan gulungan di pinggang yang tidak rapi alias kendor. Sat dipakai berjalan, tangan kanan memegang supaya tidak jatuh sarungnya. “Kalian ada di sini? Kenapa tidak jawab panggilan kakek?” “Ada apalagi sih kek? Gue main apa-apa gak boleh. Suruh main ama kakek saja? Gitu? Jahat banget sih kek?” Tukas Hesta tidak melihat ke arah kakeknya. “Ada perintah dari emak lu Ta. Lu udah kerjakan belum?” “Belum, ini masih mau cari mangsa. Kakek ganguin aja sih.” Tina yang terkejut mendengar ucapan Hesta. Mangsa? Apa yang di maksud? Merinding bulu kuduk Tina mendengar kata mangsa. Jangan-jangan dirinya yang akan dijadikan tumbal untuk dimakan. Berdiri dan berjalan pelan menjauhi gadis itu dan kakeknya. Perasaan campur aduk hingga mau muntah, saat melihat binatang melata berkeliaran. Dirinya baru tersadar, jika saat dalam bahaya. Bau anyir mulai menyeruak, menyegat hidung Tina. Wajahnya mulai terlihat pucat dan bergetar. Melihat seekor ular besar berada di depannya. Panjang ular sekitar dua meter kepalanya tegak seakan menerkam Tina yang tubuhnya menyender pada pohon. Mulutnya tidak mampu untuk berteriak meminta pertolongan. Tubuh ular yang hitam legam, mengkilat sangat menyeramkan. Tina sudah pasrah, dirinya siap jika saat ini mati dimakan binatang berbisa itu. Air mata Tina mulai merembes dengan deras, memang sifatnya cengeng mudah sekali nangis jika merasa sedih.Tiba-tiba Tina merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuhnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mbgmmggvtvtg
6d
0keren
12/09
0lumayan bagus
10/09
1Lihat Semua