Wandi yang masuk ke dalam kamar mandi di kagetkan dengan kedatangan gadis-gadis cantik temannya. Mereka melotot dan memulul hanu Wandi dengan keras. “Heh! Lu lihat nggak! Itu tulisan apa di atas pintu?” Teriak seoarang gadis yang rambutnya keriting sama dengan Wandi. “Emang dia sengaja kayaknya. Buat ngintip cewek, awas ya! Kalo sampai ketahuan gue aduin ke kantor tau rasa.” Seru gadis yang berambut lurus diblonding tak kalah galaknya. “Nesa, Ela, lu galak banget ama gue. Sorry nggak sengaja tadi, keburu keluar tuh yang di dalam perut.” Ucap Wandi serasa bergegas pergi tanpa memperhatikan kedua temannya yang teri mengawasinya. Wandi melangkah masuk ke dalam kelas, untung guru belum masuk ruangan. Baru saja menaruh bokongnya yang tepos, matanya melihat bangku sebelah. Perasaan berdebar, mulai menyerang. Bulu kuduk berdiri melihat siapa yang duduk di sana. Nesa dan Ela, dua cewek yang tadi ia temui di toilet. Tidak mungkin mereka sudah sampai di kelas begitu cepat. Berulang kali Wandi mencubit pipinya namun terasa sakit. Kembali menoleh ke arah dua cewek yang ada di sebelah yang asyik ngobrol. “Heh, lu ngapain liat-liat! Naksir kita?” Suara khas Nesa membuyarkan pikiran Wandi. “Enggak, eh ta-tapi sory nih mo nanya. Kalian tadi bukannya dari toilet? Cepet banget udah nyampe sini, pakai ilmu apa?” Selidik Wandi. “Lu ngimpi atau gimana? Kita dari tadi di sini, kagak ke toilet. Hantu kali yang ngikutin elu hahaha,” seru Ela tertawa melihat Wandi yang kebingungan. “Serius nih, gue tadi liat kalian. Eh ... Tin ... Tina! Lu tahu mereka dari tdai ada di sini enggak?”Tanya Tina yang sedang asyik membuka ponselnya. Tina mendogak melihat Wandi dan dua teman ceweknya bergantian. “Iya, mereka dari tadi di kelas, lu aja yang bausan masuk. Mana temen lu Adrian? Biasanya juga kalian bareng.” Sontak jawaban Tina membuat Wandi bertambah merinding, lantas siapa yang ia temui di kamar mandi tadi. Jangan-jangan hantu sekolah yang sedang menyamar. Tapi masak pagi-pagi udah ketemu hantu? Mana mau ulangan lagi, gak bisa berpikir Wandi saat ini. Otaknya sudah blank, seja kemarin, apalagi ditambah kejadian pagi ini. Teringat pertanyaan Tia, Wandi menoleh ke arah pojok ruang kelas, di mana Adrian biasanya duduk ngobrol sama sekelasnya. Tidak nampak batang hidung sahabatnya itu. Mulai panik menyerang, karena sebentar lagi pasti guru akan masuk dan memberikan mereka ulangan harian. “Duh, kemana tuh anak? Bisa-bisanya dia tidak masuk kelas. Mana ponsel gue mati. Lupa nggak di cas semalam.” Gumam Wandi sambil jarinya mengetuk bangku yang ada di depannya. “Selamat pagi anak-anak.” Suara khas guru killer yang di takuti semua siswa terdengar keras mengisi seluruh ruang kelas. Semua sontak terdian dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Wandi yang masih gelisah dengan tidak hadirnya Adrian, berulangkali melirik ke arah pintu masuk. Namun tidak ada tanda-tanda anak itu masuk ke dalam kelasnya. Tiba-tiba mata Wandi, di kejutkan dengan sosok kucing hitam yang ada di sebaelah guru killer yang duduk di meja depan. Sorot tajam dari kucing, mengingatkan dia kan peristiwa di rumah temannya beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin kucing itu mengikuti dirinya hingga sampai ke sekolah. Wandi bangkit, dan memberanikan diri mendekati gurunya. “Maaf pak, permisi. Boleh saya bawa kucing itu ke luar, biar nggak ganggu kelsa kita.” Entah keberanian dari mana hingga Wandi bersikap seolah menjadi pahlawan di kelasnya. Namun jawaban yang di terima membuatnya syok. “Kamu bilang apa? Kucing? Kucing apa? Jangan coba mengalihkan pelajaran bapak, dengan omong kosongmu.” Tegas dan keras suara gurunya menatap ke arah Wandi, membuatnya beringsut mundur dan kembali ke bangkunya. “Masak mata gue yang udah rabun? Jelas ada kucing hitam di sebelahnya, masih aja buat alaesan marah sama murid sendiri,” Gumam Wandi agak keras hingga terdengar ke telinga teman di sebelahnya. “Lu ngomong apa an? Nggak usah bercanda, kayak nggak tahu guru kita aja. Udah diem! Atau mo di keluarin dari kelas? Lu mau?” Bentak temannya lirih di dekat telinga Wandi. Anak itu hanya menggeleng ketakutan, pikiran terasa buyar dengan teka-teki sepanjang pagi ini. Hingga pelajar usai, Adrian tidak nampak batang hidungnya. Jangankan nongol, ponsel Wandi saja sunyi nggak ada notif masuk. Bertanya kepada semua teman yang ia jumpai. Wandi mulai panik, karena perut pun minta untuk diisi. Sedangkan uang jajan pemberian orang tuanya tadi pagi, di bawa oleh Adrian. “Busyet, bener-bener paes gue ngikutin anak itu. Gimana ini? Laper, haus.” “Woii ... ngelamun aja. Ada apa? Mana temen lu? Sakit?” Tina yang tiba-tiba muncul dari belakngnya, menepuk bahu Wandi dengan keras. Membuat pemuda ini terkejut seketika menoleh ke belakang. “Tin, bantuin gue dong! Kagak tahu ke mana tuh anak. Udah gue tanya pada semua siswa yang ada di sini, kagak tahu Adrian dari pagi.” Wandi tertunduk lemas. Buka karena sedih tidak bertemu dengan temannya, tapi karena menahan haus dan lapar belum makan siang. “Lu tadi emang berangkat bareng?” “Iya, kalau enggak ngapain juga nyariin dia. Gue laper, duit gue dibawa ama dia. Tolongin gue dong!” Ucap Wandi melas. “Astaga, ternyata lu nyariin dia hanya buat ambil uang. Kiraain solidaritas tinggi sesama teman. Ikut gue aja, kalo lu laper. Gue bawa kue tadi. Yuk duduk di bangku sono!” Tanpa banyak bicara, Tian dengan cepat menggandeng tangan Wandi menuju bawah pohon rindang yang ada bangkunya. Beberapa saat mereka asyik berbincang, hingga muncul Adrian dengan wajah pucat dan nampak lesu. “I-itu itu Adriana Tin. Eh ... busyet napa lagi dia? Waduhh ... pasati masalah lagi nih.” “Iya, kog pucet gitu. Coba gue tanya dulu deh.” Adrian berjalan semakinmendekat ke arah Wandi dan Tina. Dengan wajah menunduk menatap tanah. Tina sehera berdiri dan berteriak memanggil Adrain, namun cowok itu seakan tidak mendengarkannya. Bingung mengambil sikap, akhirnya kedua teman Adrian bersepakat mendekati Adrian terlebih dahulu. Mereka berhenti berhadapan. Namun Adrian tetap saja menundukkan wajahnya, tidak mau menatap kedua temannya. “Yan, lu dari mana? Gue nyariin elu dari pagi.” Ucap Wandi terlihat takut dengan sesekali melirik ke arah Tina yang berada di sampingnya. “Iya nih, mana tadi pagi ada ulangan dari guru kita yang kiler. Lu kagak takut nggak ikut ulangan tadi?” Timpal Tina tidak mau kalah. Tangannya menggenggam erat tangan Wandi secara tidak sengaja karena takut. Sontak membuat hati cowok berambut keriting itu meleleh. Baru kali ini dia dapat sambutan tangan dari gadis secantik Tina. Adrian mengangkat wajahnya, terlihat sorot mata tajam berwarna merah dari matanya. Kedua temannya beringsut mundur, ketakutan melihat Adrian bukan seperti yang biasanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
24d
0lumayan bagus
26d
1bagusss
28d
0Lihat Semua