Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
137. Pertemuan Pilu di Pabrik
Bab 137. Pertemuan Pilu Di Pabrik **** Siapa yang menyangka, keputusan dan bantuannya agar Alisya bekerja di pabri itu, adalah merupakan batu loncatan buat Alisya untuk bisa menjadi seseorang yang berkedudukan sekarang. Bahkan itu adalah cikal bakal akhirnya dia menjadi istri calon Direktur Utama. Itu semua tak terlepas dari bantuan Rika. Perempuan yang kini berdiri dihadapannya bagai seorang pesakitan. “Rika!” Sang manager keuangan memanggil namanya. Alisya berdiri, keluar dari mejanya, lalu berjalan menghampiri sahabatnya. “Alisya?” Rika terkejut. Gadis itu sama sekali tak menyangka, manager keuangan yang yang dia hujat selama ini adalah sahabatnya sendiri. Bagaimana bisa seorang Alisya yang begitu baik hati, berubah menjadi lintah yang menghisap darah para buruh pabrik? Status yang disandangnya saat ini kah yang merubah karakter dan sisi baiknya? “Ka!” Alisya membentangkan kedua tangan, bersiapa memeluk sang karib dengan erat, melepas rindu dan kengen di hatinya. Namun, hal tak terduga terjadi setelahnya. Rika menolaknyanya. Gadis itu melangkah mundur, Alisya memeluk angin. “Rika?” panggilnya tak percaya. “Ternyata kamu? Ternyata kamu orangnya, ya?” Rika menatapnya tak percaya. “Apa maksdu kamu, Ka?” lirih suara Alisya kebingungan. “Kamu tahu, Laki-laki yang dulu selalu mewakili orang tuamu untuk datang ke sekolah itu? Karena ayahmu ada di desa sana, maka ayahku yang selalu mewakilinya untuk mengurus segala urusan sekolahmu! Kua ingat, di mana kau bernaung saat hujan dan terik matahari selama menjalani sekolah di SMA kita waktu itu. Di rumah ayahku! Laki-laki yang sering bawain kita mie goreng pedas kesukaanmu, jika kebetulan dia mendapat penumpang banyak. Lelaki yang melarang aku dan adikku makan duluan kalau tidak bareng dengan kamu. Ayahku, Alisya! Ayahku yang begitu menyayangi kamu! Ayahku yang tak pernah membedakan kasih sayangnya kepada kami anak kandung dengan kamu.” Rika berkata dengan ketus penuh tekanan. “Kenapa dengan Om Rustam, Ka?” Alisya melangkah lagi, mendekati Rika. Gadis itu langsung mundur lagi beberapa langkah. “Laki-laki yang begitu menyanyagi kamu itu, sakit parah. Aku tak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit besar. Terpaksa aku meminjam ke bendahara pabrik. Kau mencekikku dengan peraturan kau buat, Alisya! Bunga pinjaman dua puluh persen yang kau tetapkan membuat aku tak bergaji lagi! Ayahku sakit-sakitan, sedang aku tulang punggung keluargaku. Adikku butuh biaya untuk sekolahnya, kami butuh makan untuk menyambung hidup. Bahkan ayah sempat menggadaikan rumah yang pernah kita tinggali dulu, Alisya! Rumah itu sudah dikuasai rentenir. Ya, rentenir seperti kau!” “Ini tidak benar! Rika, kau salah!” “Ya, aku salah Alisya! Aku salah menilaimu! Aku sellau berdoa agar kelak kau menjaid orang sukses. Kukira, bila kau menjadi orang kaya, kau tak akan sama dengan para orang kaya seperti yang kukenal. Ternyata kau lebih parah! Kau mencekik sahabatmu sendiri! Aku terpaksa menjajakan jasa menemani minum para orang kaya yang sedang menghambur-hamburkan uang mereka di sebuah café. Menemani mereka ngobrol sepanjang malam untuk membuang stresnya. Mereka stress karena berlimpah uang dan harta. Mereka tak tahu, kalau kami orang miskin ini, justru sedang berjuang mengaharapkan rezeki dari uang yang mereka hamburkan itu! Terpaksa aku menghinakan harga diriku, mengemis belas kasihan para orang kaya. Belas kasihanmu, Alisya!” Rika mulai sesegukan. Berkali-kali dia menghapus air mata di pipinya, menggunaka punggung tangan dengan kasar. “Tetapi kau salah paham, Rika.” “Ya, aku salah paham! Ok, aku yang salah, Alisya! Kalian para orang kaya akan selalu benar. Kau datang ke sini untuk memecat dan memenjarakan aku, bukan? Lakukan! Lakukanlah, Alisya! Penjarakan aku! Biarkan adikku dan ayahku mati kelaparan di gubuk reot sana! Biarkan! Kau tak perlu kasihan! Aku juga tak butuh kasihanmu!” Tangis Rika kian menjadi. “Rika! Sudah?” Alisya mendekati, betapa ingin dia memeluk gadi situ saat ini. Betapa ingin dia meredakan tangis pilu itu. Atau, kalau memang tak bisa reda, Alisya ingin menangis bersama saja, seperti dulu, saat mereka menangis berdua, dalam melewati kepedihan bersama. Tetapi, lagi-lagi Rika menepis tangannya dengan kasar. “Apanya yang sudah? Apanya yang sudah? Waktu untukku? Waktu untuk mengucapkan segala uneg-uneg di hatiku? Baik, sudah. Sekarang antarkan aku ke penjara! Aku sudah siap.” Rika menghentikan tangis, menghapus kering air mata di pipinya. Membusungkan dada, siap menantang Alisya. “Boleh aku yang berbicara sekarang?” “Itu hakmu! Ini pabrik suamimu bukan? Kau sangat berhak untuk berbicara! Tetapi aku tak mau mendengarkan apapun yang keluar dari mulutmu! Aku mau ke penjara saja sekarang seperti keinginanmu!” Rika semakin menantangnya Hampir saja Alisya putus asa. Wanita itu berbalik, menatap tajam ke arah kepala pabrik. Lelaki itu mengekerut ketakutan. “Siapa bendahara di pabrik ini?” tanyanya dengan suara tetap pelan, dingin, tetapi terdengar begitu tajam. “Bu Roza, Buk.” Kepala pabrik menjawab dengan menunduk. “Bisa Anda hadirkan dia di sini, sekarang juga!” tegas suara Alisya. “Dia- dia, dia, hari ini berhalanagn hadir, Buk. Dia ….” “Saya tunggu paling lama lima menit!” “Tapi, Buk?” “Sudah berkurang lima detik!” “Baik, Buk!” peria itu terpaksa memanggil perempuan yang bernama Roza itu melalui ponselnya. Liam menit yang diberikan Alisya dia gunakan dengan sebaik-baiknya. Seorang wanita berambut jagung berdandan menor keluar dari sebuah ruangan yang sedari tadi tertutup rapat. Ruang bendahara. “Maaf, Pak, Bu, saya telat,” ucapnya berjalan menghampiri mereka. “Telat? Kamu yang bernama Roza?” “Ya, Bu, Saya Roza.” “Kamu tahu di sini sedang ada masalah. Kenapa kamu tidak keluar dari ruangan kamu?” “Maaf, Buk, saya sibuk di dalam.” “Oh, ya? Kebetulan sekali, saya sekalian mau mengecek laptop kamu! Terutama masalah gaji dan pinjaman para buruh di pabrik ini!” “Baik, Bu.” “Oh, iya, kamu kenal mereka?” Alisya menunjuk Rika dan mandor grup gadis itu. “Kurang kenal, Bu. Tapi dari seragam mereka, saya tahu kalau mereka adalah karyawan di pabrik ini.” “Coba lihat wajahnya baik- baik! Kamu tidak bisa mengenalinya?” “Karyawan di pabrik ini sangat banyak, Bu. Mana bisa saya mengenal mereka satu persatu.” “Ok, sekarang ambil laptop kamu, kalau begitu! Bawa ke sini! Di meja ini!” “Buat, apa, Bu?” “Saya perintahkan kamu mengambilnya!” “Ba-baik, Bu.” Wanita itu terpaksa memenuhi perintah Alisya, berjalan lesu menuju ruangannya, lalu datang lagi dengan menenteng sebuah laptop. “Tolong buka file laporan gaji karyawan!” Perintah Alisya kemudian. “Sama sepeti file yang Ibu Alisya kirim dari kantor pusat, Bu. Gak ada yang saya tambahi atau kurangi.” “Kalau begitu, buka file pinjaman karyawan?” “Sama juga seperti file yang saya kirim ke kantor pusat, Bu.” “Iya, gak apa-apa. Saya cuma mau lihat yang di laptop kamu aja!” “Sama kok, Bu dengan yang sudah saya kirim ke Ibu.” “Saya bilang, buka!” Alisya berteriak. Deva langsung bangkit dan mendekatinya. “Sya, sabar, Sayang!” bisiknya menenangkan. “Bilang pada perempuan ini agar mematuhi aku, Mas! Dia mencoba melawanku!” “Iya, Sayang.” Deva hanya menatap. Ya, hanya menatap dengan tajam Roza, tanpa kata-kata meski sepatah. Roza langsung mengkerut. Ketakutan, terpaksa dia menuruti perintah Alisya. “Ini, Bu!” Roza mempersilahkan Alisya memeriksa laptopnya. Alisya menghampiri. Menscrol dan mulai membuka file yang dia curigai. Roza cukup pintar. Semua laporan yang ada di dala file, sama seperti yang dia kirimkan ke kantor pusat. Alsiya membuka tempat pemyimpana dokumen. Meneliti satu persatu nama file. Roza semakin ketakutan. Pun kepala pabrik. Beberapa kali mereka saling tatap. Roza dan kepala pabrik berbicara dari hati-ke hati, tentang ketakutan yang melanda. “Laporan Pinjaman Buruh Gagal.” Alisya menemukan file denga nama yang aneh itu. “Jangan dibuka file itu, Bu. Itu hanya file yang salah.” Roza menghentikan saat Alisya hendak membuka file aneh itu. “File salah? Kenapa tidak di hapus saja kalau salah?” “Lupa, Bu. Nanti saya hapus.” “Baik, saya hanya mau melihat salahnya di mana. Jadi kamu gak akan buang-buang waktu lagi mengerjakan file yang salah!” Alisya berkeras. Kecurigaannya semakin besar. “Jangan, Bu!” ****** Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua