logo text

136. Pengantin Baru Turun Ke Pabrik

Bab 136. Pengantin Baru Turun ke Pabrik
****
Sungguh pemandangan yang bertolak belakang dengan dugaannya pun dugaan Bik Warsih. ‘Kelonan’ itu yang mereka duga, ternyata sepasang pengantin itu sedang menunaikan ibadah salat Subuh bersama-sama. Deva bertindak sebagai imam. Raja merasa ditampar. Malu pada dirinya sendiri, malu pada dugaan dan juga prasangka mesumnya. Raja tak tahu, kalau dugaan sebetulnya benar adanya. Bahkan sepasang pengantin itu melakukannya tak hanya di atas ranjang, melainkan juga di bawah curahan air dari shower kamar mandi.
“Maaf, Buk. Pak Raja mau pinjam handuk bersih dan baju kerja Pak Deva,” lapor Warsih.
“Oh, begitu. Masuk, Mas! Pilih sendiri di lemari!” Alisya melebarkan daun pintu.
“Saya permisi, Buk.” Warsih mengundurkan diri.
“Ada apa, Ja? Tumben pagi-pagi banget kamu udah sampai di sini?” Deva menatapnya lekat.
“Aku tadi malam gak pulang, Mas. Ada urusan penting.”
“Urusan penting, sampai gak pulang? Urusan apa?”
“Urusan pabrik, Mas.”
“Pabrik? Kenapa kamu malah ngurusi pabrik? Kamu itu urusannya kantor. Kenapa ikut campur urusan pabrik?”
“Itu, Mas. Aku mendapat laporan kalau ada Sesuatu yang tengah terjadi di pabrik.”
“Sesuatu apa? Kamu mendengar informasi kalau banyak buruh yang sering bolos kerja itu juga? Bahak udah jarang mereka mau kerja lembur. Kau dengar info itu?”
“Aku malah gak tahu kalau soal itu, Mas.”
“Ada laporan tentang itu. Aku sudah menyuruh manager produksi untuk meninjau langsung ke pabrik. Tetapi karena aku sibuk mengurus pernikahanku, aku belum tahu perkembanagn selanjutnya.”
“Kenapa Mas Deva tidak menyerahkannya padaku?”
“Kamu juga sibuk urusan kantor, gak mungkin aku tambahi bebanmu, Ja!”
“Tapi, kalau Mas Raja kerepotan, gak ada salahnya limpahkan padaku, Mas. Jadi gak berlarut-larut begini.”
“Ok, info apa yang kau dapat? Sampai-sampai gak pulang tadi malam ke rumah! Mama pasti bingung kamu gak pulang!”
“Aku udah telpon ke rumah, aku bilang nginap di sini.”
“Begitu?”
“Ya, Mas.”
“Tapi, sebetulnya kamu ke mana?”
“Aku bertemu salah satu karyawan pabrik kita, Mas. Perempuan, dia berkeliaran di jalan untuk mencari tambahan penghasilan. Semua itu karena Alisya.”
“Apa? Aku? Apa hubungannya dengan aku?” Alisya tersentak kaget.
“Ya, semua masalah di pabrik seprtinya berasal dari kamu sumbernya, Sya. Mungkin tanpa kamu sadari.”
“Eh, ini maksudnya apa, ya! Aku gak ngerti.” Alisya membuka telekung salatnya. Rambut basah wanita itu tak luput dari tatapan Raja. Kembali dadanya berdesir.
“Mas, jelasin, kenapa aku jadi terlibat seperti yang Mas Raja tuduhkan?” tuntut Alisya menghenyakkan tubuhnya di tepi ranjang. Ranjang yang masih bertaburan kelopak bunga Mawar. Hanya saja bunga berwarna merah tua itu kini sudah kisut dan layu.
“Karena peraturan yang kamu terapkan sangat memberatkan karyawan, Sya!” Raja menjawab datar. Pikirannya tak fokus lagi.
“Peraturan apa yang kamu terapkan, Sayang? Kenapa tidak membicarakannya dulu dengan kami? Bukankah seharusnya seorang manager itu selalu berkoordinasi dengan atasanya?” Deva mulai tegas.
“Iya. Tapi aku tidak ada membuat peraturan apapun di bidang keuangan, Mas!” Alisya bertahan, mempertahankan nama baiknya.
“Bisa kau jelaskan peraturan seperti apa yang kau tuduhkan telah dilakukan Alisya sehingga membuat kacau pabrik kita!” Deva menatap serius wajah Raja.
“Peraturan tentang bunga pinjaman,” jawab Raja terus terang.
“Bunga pinjaman? Maksudnya apa?” Alisya berteriak.
“Tenang, Sya! Kita dengarkan dulu penjelasan Raja!” Deva mengelus pundak istrinya.
“Sejak Alisya menerapkan system bunga kepada buruh yang casbon gaji, semua jadi kacau. Bunganya tinggi banget, dua puluh persen. Sejak dulu kita memang memberika fasilitas menyediakan pinjaman kepada karyawan yang betul-betul membutuhkan. Itu gunanya kita mengangkat seorang bendahara khusus pabrik. Cara pengembaliannya dengan memotong setiap gajian, tetapi nol bunga. Karena perusahaan kita bukan perusahan rentenir. Seorang karyawan yang terpaksa minjam karena ayahnya sakit, memilih menjadi wanita malam karena tercekik bunga. Hasil kerja lembur sama seklai tak berguna. Itu semua terjadi sejak Alisya memegang manager keuangan.” Raja menjelaskan panjang lebar.
“Itu tidak benar! Aku tidak ada membuat peraturan seperti itu, Mas!” Alisya memucat.
“Dari mana kamu tahu semua itu?” Deva terlihat tegang, wajahnya mengetat.
“Tak perlu dari mana sumbernya, sekarang kita siap-siap turun langsung ke pabrik, untuk menyelsaikan semua maslah ini. Itu sebab aku langsung ke sini, bukan ke rumah mama.” Raja menegaskan.
“Baik, kita berangkat ke pabrik!”
****
Rika berjalan penuh ketakutan menuju kantor pabrik. Mandor grupnya mengiring dari belakang. Mengumpat tiada henti, menakut-nakuti wanita itu akan dipecat, bahkan bisa saja terjerat hukum. Karena telah berani mencemarkan nama baik manager keuangan perusahaan, yang notabene adalah menantu kesayangan sang Big Bos.
“Berani banget kamu mencemarkan nama baik Bu Manger Keuangan! Penjara lima tahun, itu hukuman yang menantimu! Ngomong kok enggak mikir dulu! Kita orang lemah, Rika! Pakai otak kalau berucap!”
Rika menangis penuh penyesalan. Wajahnya basah jejak air mata. Entah siapa pria yang bertemu dengannya tadi malam, sehingga masalah menjadi ruwet begini. Rika sesegukan. Seragam pabrik masih melekat di tubuhnya. Sesekali gadis itu menyeka air mata di pipi dengan ujung seragamnya.
Sementara di dalam kantor pabrik, para petinggi perusahaan sudah menantinya. Alisya yang terlihat begitu elegan duduk di samping Deva. Raja duduk di sebelahnya. Manager produksi duduk di samping kepala pabrik.
Satu hal yang membuat Raja sangat kesal. Kepala Pabrik tetap belum menghadirkan sang bendahara. Padahal bendahara itulah target utama mereka datang ke sini.
Terdengar suara langkah berjalan menuju kantor, dua orang perempuan berseragam pabrik muncul di ambang pintu. Mereka mengetuk sambil mengangguk sopan.
“Masuk!” Manager Produksi yang sangar itu menyambut dengan suara lantang. Kedua putra dan menantu kesayangan Big Bos sudah menunggu di dalam.
Sang mandor dan Rika melangkah dengan wajah tertunduk.
Alisya menatap keduanya dengan serius. Sepertinya Alisya mengenal kedua wanita itu. Seragam pabrik membuat dia kesulitan untuk memperjelas dugaannya. Topi yang membungkus kepala keduanya menutupi sebagian wajah karena menunduk.
Tetapi Alisya sangat hapal dengan perempuan yang satunya. Rika, Alisya yakin itu adalah Rika. Dia mengenal gadis itu sejak di bangku SMA. Mereka bersahabat dalam suka dan duka. Keduanya berasal dari keluarga yang kesulitan ekonomi. Bedanya, kalau orang tua Alisya tinggal dan bertani di desa, sednag keluarga Rika tinggal dan menetap di kota kabupaten itu. Ayah Rika seorang supir angkutan umum, sedang ibunya sudah lama meninggal. Alisya kost di rumah mereka, karena di kampungnya tidak ada sekolah SMA.
Berdua mereka lalui suka dukanya selama berseragam putih abu-abu. Sukanya adalah saat sapat laporan hasil belajar atau raport. Mereka berdua pasti yang menududuki ranking kelas. Bergantian mereka berdua menraih juara satu. Kalau Alisya ranking satu, maka Rika rankng dua. Demikian pula sebaliknya. Bahkan pernah mereka menduduki rangking yang sama. Keduanya ranking satu. Tertawa lepasa keduanya saat pulang sekolah, berpelukan, bahagia tiada terkira.
Tetapi dukanya jauh lebih banyak. Alisya ingat bagaimana menderitanya ketika pulang sekolah kehauasan. Mereka memilih jalan kaki untuk mengirit uang saku. Kalau kebetulan angkot yang disupiri oleh Ayah Rika melintas di depan sekolahan, baru keduanya bebas dari sengatan mentari yang membakar kulit wajah mereka. Tiga tahun itu mereka lalui, jalan kaki pergi dan pulang sekolah yang berjarak satu kilometer dari rumah.
Alisya melanjut kuliah, sedang Rika memilih bekerja di pabrik sarung tangan. Kesulitan ekonomi membuat gadis itu terpaksa berhenti menuntut ilmu. Cita-citanya untuk kerja kantoran dan mendapat jodoh orang kantoran pupus sudah.
Beberapa tahun kemudian, Alisya datang kembali ke rumah Rika, menceritakan kesulitannya mencari pekerjaan meski sudah meraih gelar sarjan. Sedng suaminya baru saja di PHK. Rika kembali menolongnya. Dengan bantuan Rika, Alisya bisa di terima bekerja di pabrik sarung tangan tempatnya bekerja.
Siapa yang menyangka, keputusan dan bantuannya agar Alisya bekerja di pabri itu, adalah merupakan batu loncatan buat Alisya untuk bisa menjadi seseorang yang berkedudukan sekarang.
******
Bersambung, ya.
Cerbung yang sedang on going dan free berjudul “Aku Mundur Kau Hancur, Bang!” Mohon dukungannya. Terima kasih.

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru