138. Kecurangan di Pabrik

Bab 138. Kecurangan Di Pabrik
*****
“Baik, saya hanya mau melihat salahnya di mana. Jadi kamu gak akan buang-buang waktu lagi mengerjakan file yang salah!” Alisya berkeras. Kecurigaannya semakin besar.
“Jangan, Bu!”
File terbuka. Alisya menemukan daftar nama karyawan pabrik yang terpaksa meminjam jarena ada kepentingan mendesak. Nanar mata Alisya saat melihat kolom jumlah bunga pinjaman. Kolom yang snegaja ditambahi sendiri oleh sang bendaraha. Alisya tidak pernah mengirim format daftar pinjaman seperti itu. Format yang dikirim Alsiya dari kantor pusat, tanpa ada kolom bunga pinjaman.
“Bisa kamu jelasin ini maksudnya apa?”
Suara Alisya melemah. Tenaganya seperti terkuras habis, menyaksikan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan ini justru menimpa sahabatnya.
“Maf, Bu, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan. Ini hanya ….”
“Jadi betul kau mengenakan bunga pinjaman dua puluh persen kepada karyawan yang meminjam? Bunga itu kau gunakan untuk dirimu? Atau kepala Pabrik ikut terlibat!”
“Tidak, Buk, saya tidak tahu menahu tentang hal ini. Buk. Saya….” sergah kepala pabrik terbata-bata.
“Iya, Bu. Itu hanya oret-oretan, berandai-andai.” Jika pinjaman dikenakan bunga seperti apa, ya? Begitu, Bu! Tak ada maksud lain.”
“Rika! Bicara! Bicaralah Rika! Bahwa perempuan ini telah mencekik kamu dan peminjam lainya! Bicaralah Rika!” Alisya menatap ke arah Rika berdiri. Gadis itu bergeming..
“Ok, Rika tak mau menjawab, tak apa-apa. Dan kau Roza, juga Anda!” Alisya menoleh ke arah kepala Pabrik.
“Ya, Buk.” Laki-laki itu menjawab.
“Saya beri kalian kesempatan, hari ini juga mengembalikan seluruh bunga pinjaman para karyawan yang telah kalian potong secara keji Selama ini! Atau, kami akan memenjarakan kalian! Kalian pilih mana?”
“Maaf, Bu Alisya! Saya tidak terlibat sama sekali.” Kepala Pabrik memohon.
“Jangan mengelak, dong, Pak! Bukannya ini ide dari Bapak! Uangnya juga enam puluh persen buat Bapak!” celetuk Roza kemudian.
“Roza! Kamu ngomong apa!”
“Cukup! Selesaikan hari ini juga! Panggil semua karyawan yang ada namanya di daftar peminjam itu! Kembalikan uang mereka sekarang juga! Kalian berdua saya pecat” tegas Deva kemudian.
****
“Terima kasih atas kebijaksanaan Bapak dan Ibu. Saya mohon bunga pinjaman yang sudah saya bayarkan masukkan saja ke kas bendahara untuk mengurangi pinjaman saya. Terima kasih karena tidak jadi memecat saya! Mohon izin, saya kembali ke pabrik, melanjutkan pekerjaan saya, permisi!” Rika langsung berjalan pergi.
“Rika, tunggu! Rika!” Alisya mengejar hingga ke pintu ruangan. Rika tak menghiraukan panggilannya. Dengan berlari kecil gadis itu menuju aula pabrik, tempatnya bekerja.
“Biarkan, Sya! Tak usah dikejar!” Deva menghampiri Alisya di ambang pintu.
“Tapi, aku mau tahu keadaan Om Rustam, Mas,” lirih Alisya, wajahnya terlihat murung.
“Nanti kita cari tahu!”
“D mana alamatnya sekarang? Katanya rumah yang dulu udah dikuasai rentenir, kan, Mas?”
“Aku tahu, aku sempat mengantar dia pulang tadi malam,” sela Raja mendekati keduanya.
“Syukurlah!”
*****
Setelah semua urusan pabrik selesai, Alisya di temani Raja dan Deva menuju alamat di mana Raja mengantar Rika pulang malam itu. Raja menunjuk rumah di mana Rika berbelok. Rumah tempat Rika bersembunyi, agar Raja segera pulang malam itu.
Ketiganya kaget, saat si empunya rumah mengatakan tidak mengenal Rika. Alisya tampak sangat terpukul. Berjalan lemas di papah oleh Deva. Keinginannya untuk bertemu Rustam, ayah Rika pupus sudah. Itu membuat Alisya menangis penuh penyesalan.
Sementara Rika mengintip dari ujung gang.
“Maaf, Pak, Buk,! Kalau boleh tahu, rumah yang kalian cari itu, rumah Rika siapa, ya?” Wanita pemilik rumah menghentikan langkah mereka.
“Rika, Rika yang bekerja di pabrik sarung tangan, Bu. Rambutnya agak ikal, panjang sepunggung, di ikat jadi satu ke belakang, begitu.” Raja yang menjawab. Menyesal dia tak memiliki foto karyawan pabriknya itu.
“Setahu saya di gang ini tidak ada seorang gadis yang bekerja di pabrik sarung tangan. Saya sudah lama tinggal di sini, Pak. Saya kenal hampir semua penghuni gang ini. Tapi, entah, ya. Di belakang sana, ada rumah. Rumah kontrakan, sih. Penghuninya baru sebulan atau dua bulan, gitu, tinggal di situ. Mungkin dia yang Bapak dan Ibu cari.”
“Di mana, Bu?” Raja bersemangat.
“Bapak dan Ibu lurus aja, gang ini, kan mentok, tuh! Buntu maksud saya. Nah, kalian belok kiri. Ada jalan tikus, lurus, ada rumah yang maaf, tepatnya gubuklah. Bukan menghina, ya, Buk, Pak. Saya dengar-dengar udah ada yang nempati. Siapa tahu mereka yang kalian cari.”
“Oh, baik, akan kami cari ke sana, Bu. Terima kasih informasinya!”
“Sama-sama Pak!”
Ketiganya berjalan menyusuri gang, mengikuti petunjuk wanita paruh baya itu. Rika yang masih mengintip dari ujung gang, terlihat kecewa. Pemilik rumah itu pasti telah mengatakan di mana rumah kontrakannya. Rumah yang sama sekali tak pantas disebut dengan rumah.
Rika malu kalau sampai pemilik pabrik tempatnya bekerja itu melihat kondisi keluarganya yang sebenarnya. Rika malu mereka melihat gubuk yang dia huni beserta ayah dan adiknya. Rika memutar otak, apa yang harus dia lakukan untuk mencegahnya? Tak ada. Ketiga orang itu sudah sampai di ujung gang, berbelok ke kiri sesuai dengan petunjuk pemilik rumah tadi. Gugup, gelisah, malu, dan berbagai perasaan tak enak lainnya melanda hati Rika. Dengan berjalan terburu, dia menyusul menyusuri gang sempit itu, menuju rumahnya.
*
“Permisi! Assalamualaikum … permisi!” Raja mengetuk pintu rumah.
Tak ada sahutan.
Alisya melangkah mendekati pintu. “Arfan! Om Rustam!” panggilnya berkali-kali.
“Kak Rika! Kakak udah pulang, ya! Sini, Kak! Cepat, Kak! Lihat Bapak, Kak!”
Seseorang berteriak dari dalam. Alisya ingat, itu adalah suara Arfan.
“Arfan! Kamu di mana?” Alisya balas berteriak sambil membuka pintu yang memang tak terkunci.
“Di kamar, Kak, Bapak kenapa ini, Kak! Bapak! Bapak …!”
Alisya langsung berlari menuju kamar satu-satunya di dalam rumah itu. Kamar itu tak berpintu, hanya sebuah kain panjang yang digunakan sebagai tirai untuk menutupi keadaan di dalam. Alisya menyibakkannya.
“Kak Alisya?” Seorang remaja terlihat kaget. Matanya membulat sempurna demi melihat Alisya berdiri di depannya.
“Arfan! Ini Kakak. Ya, Allah, kamu apa kabar? Ini, Om Rustam kenapa?”
“Bapak, Kak … Bapak ….”
“Om Rustam? Kenapa dia? Kenapa dengan Om Rustam, Arfan?” Alisya menatap lekat wajah adik kandung Rika itu. Lalu mendekati tubuh seorang pria yang terbaring lemah di atas laksur tipis, tergeletak di atas lantai. Alisya bersimpuh di sisi kepala.
“Bapak sakit parah, Kak. Penyakitnya kumat lagi. Kak Rika belum pulang kerja. Arfan bingung mau gimana.” Arfan sesegukan.
“Mas Deva! Tolongin!” Alisya menoleh pada suaminya.
Raja yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu kamar, melangkah masuk. Sedang Deva langsung merogoh saku celana panjang, dan menekan intercomnya. Hitungan detik, beberapa motor melaju kencang memasuki gang sempit, langsung menuju rumah kecil itu. Mereka anak buah Deva.
Rika yang bersembunyi di halaman samping rumahnya terkejut melihat kedatangan anak buah Deva. Deva memerintahkan mereka untuk menggendong tubuh Rustam dan langsung bawa ke rumah sakit terdekat. Tubuh kurus dan ringkih Rustam langsung digendong oleh salah seorang yang bertubuh paling tegap. Dengan membonceng salah satu motor, mereka melarikan Rustam ke rumah sakit terdekat, seperti perintah Deva.
“Bapak! Bapak kenapa? Bapak! Kalian mau apakan Bapak saya? Lepasin!” Rika spontan keluar dari persembunyian, mencoba menghalangi anak buah Deva.
“Kak Rika!” Arfan langsung menghambur memeluk kakaknya.
“Kalian mau culik Bapak kami, iya! Kalian bawa ke mana Bapak kami? Alisya! Mau kamu apakan Bapak kami, Alisya!” Rika melepas rangkulan adiknya, lalu mengejar Alisya.
“Tenang Rika! Jangan emosi begitu!” Alisya berusaha tetap tenang.
“Kak Alisya gak salah, Kak! Untung Kak Alisya datang! Bapak pingsan, Kak!” Arfan menjelaskan pada kakaknya.
“Bapak pingsan? Bapak pingsan kenapa?”
“Tiba-tiba, Kak. Aku juga gak ngerti.”
“Terus, kenapa para preman itu menculik Bapak, Fan! Kenapa kau diam aja, saat mereka membawa Bapak!”
“Mereka bukan preman! Tetapi anak buah Pak Deva. Bapak kamu di bawa ke rumah sakit terdekat. Karena gang rumah kamu sangat sempit, mobil gak bisa masuk. Makanya mereka pakai motor. Biar cepat.” Raja mendekati Rika. Berusaha menenangkan gadis itu.
******
Bersambung

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru