Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
143. Mimpi Aneh Deva
Bab 143. Mimpi Aneh Deva ====== “Ok, sekarang Mas Deva sekarat. Dokter bilang tak ada jalan lain lagi. Maka lakukanlah, Dok! Tak ada pilihan lain bukan?” “Iya, Bu Alisya. Ibu setuju?” “Terpaksa, Dok. Karena tak ada cara lain lagi.” “Ibu tanda tangani surat persetujuannya, ya!” “Baik, tapi boleh saya tahu apa resiko yang kemungkinan terjadi dengan tindakan operasi ini, Dok?” “Begini, Bu Alisya. Tindakan ini hanyalah usaha kita untuk menyelamatkan pasien. Kita berusaha, kita berdoa, dan kita memohon pada Tuhan. Sebab hasilnya hanya Tuhan yang menentukan. Jadi, bagaimanapun hasilnya, kita harus pasrahkan pada Tuhan, Bu.” “Jadi, ada kemungkinan Mas Deva sembuh, juga besar kemungkinan Mas Deva akan ….” Alisya tak sanggup melanjutkan kalimatnya. “Kita minta pada Allah, agar kemungkinan sembuh itu saja yang terjadi. Selanjutnya kita pasrahkan atas kehendak-Nya, Bu Alisya.” “Kenapa tidak sembuh saja, Dok? Kenapa ada kemungkinan yang lain?” “Karena kita hanya manusia, Bu Alisya. Kita hanya bisa berusaha, nyawa, kesehatan, keselamtan, itu semua milik Allah! Mari kita memohon, semoga Pak Deva masih diberi kesembuhan, itu saja, Bu Alisya.” “Tapi, Dokter tidak bisa menjamin, bukan?” “Tidak, Bu. Saya tidak berani berkata yang muluk-muluk. Saya harus menjelaskan segala kemungkinan yang terjadi. Dan satu lagi. Karena ini sudah stadium tiga, meskipun kita angkat sekarang, masih ada kemungkinan kanker itu kembali lagi. Saya tidak bisa menjamin sudah sembuh total, Bu Alisya.” “Kenapa begitu, Dok?” “Karena sudah stadium tiga, Bu. Dari awal saya sudah menyarankan untuk melakukan operasi sebelum terlambat. Tetapi Pak Deva selalu menolak. Sekarang keputusan ada di tangan Ibu. Kalau setuju, silahkan tanda tangani surat itu!” “Dok, saya khawatir. Jika terjadi sesuatu, maka keluarga besar Wibawa akan menyalahkan saya. Beri saya waktu untuk merundingkannya dengan keluarga Mas Deva!” “Ibu mau membicarakan hal ini dengan Pak Haga atau Bu Alina? Ibu mau mereka drop?” “Bukan, dengan bukan mertua saya. Tapi Mas Raja atau Niken saja.” “Oh, silahkan alau begitu.” “Terima kasih, Dok!”
Alisya gegas ke luar, ponselnya ada di dalam tas, dia tinggalkan pada Tiara di luar. “Hallo, Mas!” Alisya menelepon Raja. “Ya, Sya! Kebetulan kamu nelpon. Tadi Mas Deva berpesan agar ngurusi rumah Rika dan rumah Fajar yang disita rentenir itu buat Intan. Aku mau bilang, tentang rumah Fajar. Apa kamu enggak tahu kalau sertifikat rumah itu dulunya dibuat Fajar atas nama kamu? Ternyata Fajar sangat mencintai kamu, Sya. Buktinya rumah itu dia buat atas nama kamu. Berarti rumah itu milik kamu, dong!” Fajar langsung nyerocos begitu telepon tersambung. “Mas Deva koma, Mas!” lirih suara Alisya menghentikan celotehan adik iparnya. “Apa?” “Tolong jangan kaget, Mas! Mas Deva ternyata merahasiakan penyakitnya selama ini.” “Aku dan Niken sudah lama curiga. Sakit apa, Sya? Dan bagaimana keadaannya sekarang?”” “Kanker otak stadium tiga, Mas. Kata Dokter yang menangani Mas Deva selama ini, kita harus segera melakukan tindakan operasi. Aku tidak berani menandatangani surat pernyataan ini, Mas. Aku kahawatir dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.” “Astaga! Separah itu?! Tolong cepat tanda tangani, Sya! Agar Dokter segera melakukan tindakan! Aku akan telpon Niken. Kami akan segera ke sana. Kamu tenang, ya! Tolong jangan sampaikan hal ini pada Papa dan Mama!” Itu pesan dari Raja, adik kandung Deva. Alisya merasa ada pendukung sekarang. Wanita itu tak lagi mersa sendirian. Apapun yang akan terjadi nanti, tak lagi mutlak menjadi tanggung jawabnya. Raja akan mendukungnya. “Aku tanda tangani, ya, Mas?” tanya Alisya memastikan. “Ya, Sya! Segera minta Dokter mengambil tindakan! Tolong secepatnya! Jangan sampai telat!” “Baik, Mas.” Alisya menyodorkan ponselnya kepada Tiara, lalu buru-buru masuk kembali menemui Dr. Robert. “Mana kertas itu?” tanyanya sembari memeluk tubuh Deva yang makin dingin. “Suster! Berikan kepada Bu Alisya surat persetujuannya!” perintah sang Dokter. “Ini, Bu! Baca sekali lagi sebelum tanda tangan!” Sang Perawat mengarahkan. “Tidak usah, Sus. Di mana saya harus tanda tangan?” Alisya melepas pelukan pada tubuh Deva, menerima kertas dan alat tulis dari tangan perawat itu. “Di sini, Bu!” Perawat menunjukkan posisi tempat Alisya harus membubuhkan tanda tangannya. “Sudah! Tolong segera lakukan, Dokter! Secepatnya!” pinta Alisya memomohon. “Baik, saya akan cek sekali lagi persiapan di ruang operasi. Sebentar lagi kami akan membawa Pak Deva ke ruang operasi.” “Terima kasih, Dok!!” Alisya mendekati dan memeluk tubuh Deva sekali lagi, berbisik lembut di telinga suaminya. “Maafkan aku, Mas! Mungkin kamu gak akan setuju dengan keputusan ini. Kamu selalu menghindari operasi ini, bukan, Mas? Kamu menolak entah dengan alasan apa, aku tak tahu. Kamu gak pernah bilang ke aku, Mas. Tapi, kali ini aku memutuskan sendiri. Kamu harus ngejalanin ini, Sayang! Gak bisa enggak! Kamu harus ngejalanin ini, ya! Tenang, Sayang! Aku akan berjaga di sini. Menjaga kamu, menjaga hatimu, menjaga cintamu, menjaga cinta kita, Sayang.” Alisya sesegukan di dada suaminya, di antara wayar-wayar yang menempel di sana. “Satu yang perlu kau ingat, Mas. Bahwa aku menunggumu! Aku menunggu kamu, Mas! Ingat janji kamu, ya! Kamu akan memberikan aku malam-malam yang romantis, malam-malam yang indah, jauh lebih indah dari pada tadi malam, malam pertama pernikahan kita, Sayang. Ingat! Aku akan menuntut janji itu! Aku menunggumu, Mas! Kamu harus sembuh, ya, Sayang! Harus!” “Sya ….” Alisya terkejut. Itu suara siapa? Spontan dia melonggarkan pelukan. Menegakkan tubuh dan mencari sumber suara. “Sayang ….” Bibir Deva bergumam pelan. Jemarinya juga bergerak perlahan. “Mas Deva? Mas … kamu udah bangun, Sayang?” Alisya mengecup lembut kening Deva. “Hem.” “Syukurlah, gimana tidurnya? Nyenyak, kan?” Buru-buru Alisya menyeka air mata yang berjejak di kedua pipinya, sebelum Deva berhasi membuka kedua kelopak mata. “Aku bermimpi, Sya,” tutur Deva masih dengan mata terpejam. “Ya, Sayang?” “Aku bermimpi seperti dulu. Mimpi yang sama. Kamu ingat? Aku pernah cerita bukan?” “Maaf, aku lupa, Mas. Mimpi yang mana, ya?” Alisya menggigit bibirnya. Alisya tahu, pasti mimpi itu lagi. Mimpi Deva akan dibawa pergi oleh orang yang tak dikenalnya dan Alisya menangis menjerit menahan kepergiannya, Deva sering menceritakan mimpi itu. Alisya tak suka mendengarnya. Namun, harus dia dengar karena Deva selalu mengulangnya. Apakah kali ini dia akan mendengar mimpi itu lagi? Ya, karean Deva bermimpi lagi, dan Deva menceritakannya lagi. “Aku bermimpi, aku dibawa oleh orang yang tak kukenal.” Benar, kan? Deva mengulang mimpi itu lagi. Alisya mengencangkan gigitan pada bibirnya. Menahan jeritan perih di dalam kalbunya. “Tapi aneh, kali ini kamu tidak menangis, Sya.” “Oh,ya?” Alisya melonjak kaget. “Ya, kali ini kamu tersenyum, bahkan melambaikan tangan. Kamu terlihat begitu ihklas, Sya.” “Begitukah?” “Ya, Sayang! Terima kasih, ya, karena kamu tidak menahanku!” “Maksud kamu apa, Mas?” Jantung Alisya bedegup kian kencang. Bertalu-talu membuat dadanya berdebar hebat. “Aku mau cerita sama kamu sekarang, Sayang, boleh?” “Boleh, Mas. Tapi, kenapa mata kamu masih terpejam, sih? Buka matanya, dong, Sayang!” Alisya membelai lembut kelopak mata suaminya. “Nanti saja, kalau aku sudah selesai cerita.” “Baiklah! Ceritalah! Aku akan mendengarkan.” “Bu, Pak Deva mau kamu bawa sekarang!” Dua orang perawat mendekati Alisya, dan berbisik di telinga wanita itu. “Sssst!” Alisya memberi isyarat agar kedua perawat itu menunggu sebentar. Keduanya mengangguk. “Sya ….” Deva memanggil namanya. “Iya, Mas? Cerita, dong! Katanya mau cerita?” “Iya, Tapi kok ada yang aneh ya. Kita di mana ini, Sya? Masih di mobil, kan?” “Cerita aja, dong, Sayang! Udah gak sabar, nih!” “Iya, Sayang. Begini.” “Hem?” “Aku mau minta maaf sama kamu.” “Tentang apa?” “Aku merahasiakan sesuatu sama kamu, juga seluruh keluarga besar kita.” “Apa itu, Mas?” “Sebenarnya aku … aku, kamu jangan kaget, ya, Sayang!” “Iya, aku gak akan kaget. Bicaralah!” “Sebenarnya, aku sakit, Sya.” “Oh, ya? Sakit apa, Sayang? Kok aku gak tahu, ya?” Alisya menahan pedi. ***** Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua