Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
140. Penyakit Deva Kambuh
Bab 140. Penyakit Deva Kambuh ======== “Kamu ngawur, Sya!” “Aku gak ngawur. Mas Raja itu orang yang sukar jatuh hati. Dia memang baik pada siapa saja, apalagi pada seorang wanita. Dia akan melakuakn apa saja karena merasa iba. Tetapi untuk urusan hati, dia paling sulit membuka diri. Aku melihat ada binary cinta di sorot matanya, setiap menyebut namamu. Ada rasa yang dia pendam untukmu. Lihat cara dia berbicara padamu, aku tahu itu bukan sekedar rasa peduli, tapi ada harap di dalamnya. Percaya padaku!” “Jangan ngaco! Nanti dia denger, gawat! Kamu kalau mau ngayal, ngayal sendiri aja! Jangan ngajak aku!” “Aku gak ngayal!” “Hust!” “Ya, udah, kita liat aja nanti!” Alisya menyerah. Rika hanya tersenyum tipis. Gadis sederhana itu merasa pemikiran Alisya terlalu berlebihan. Mungkin Alisya berpikir, keberuntungan setiap orang itu sama seperti dirinya. Begitu pikir Rika. Sangat berbeda dengan pemikiran Alisya. Alisya memang melihat ada binar cinta di mata Raja. Tetapi, itu masih untuk dirinya. Ya, masih untuk Alisya. Bahkan Alisya mampu menangkap semburat cemburu di wajah sang adik ipar, setiap Deva memberikan bentuk perhatian dan kasih sayang pada Alisya. Hanya saja, Raja begitu pintar membungkusnya. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya tak bisa berdusta. Alisya bekerja keras untuk tidak memperdulikan itu. Raja adalah adiknya sekarang. Sebisa mungkin menjaga sikap agar rasa di hati pemuda itu perlahan mengikis. Mungkin kehadiran Rika mampu menyelesaikan masalah itu. Begitu harapannya. Dulu, dia berharap pada Intan. Tetapi, seiring waktu, Alisya menjadi tahu. Kalau Intan sama sekali tak memenuhi syarat di hati pemuda itu. Intan terlalu kekanakan baginya. Ya, Raja ingin mencari sosok wanita tangguh, pekerja keras, ulet, tidak silau harta, tidak cengeng. Semua keiteria itu ada pada Alisya. Ternyata melekat juga pada diri Rika. Selama sekian tahun bersahabat, hidup seatap masa SMA mereka dulu, membuat Rika terpengaruh dengan watak Alisya. Sedikit banyak watak Alisya menular padanya, ditambah lagi dengan kesulitan hidup yang dihadapi oleh keluarganya. Itu membentuk Rika menjadi wanita pekerja keras, tak gampang menyerah, dan tak mau bersandar pada orang lain. Empat puluh lima menit waktu yang dia tempuh dengan naik motor ojek menuju kota Medan, menjajakan jasa di sebuah café, adalah cikal bakal pertemuannya dengan Raja. Pertemuan tanpa di sengaja. Alisya yakin, Raja telah menemukan wanita yang memenuhi kriteria, yang mirip dengan dirinya. Raja melihat Alisya ada pada diri Rika. Tak mengapa. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Meski awalnya hanya sebagai pelampiasan semata, seiring waktu, Raja akan akan mencintainya juga. Begitu harapan Alisya. . . “Maaf, keluarga Pak Rustam?” Seorang perawat keluar dari pintu ruang UGD. “Saya putrinya,” sahut Rika menghampiri. “Silahkan urus adminstrasi, ya, Mbak. Pasien sudah sadar, tetapi kata dokter, harus menjalani rawat inap beberapa hari sampai pulih benar! Silahkan bicarakan masalah ruangan dan administrasi awalnya, ya!” Perawat itu menjelaskan. “Baik, Suster!” Rika lega. Ayahnya telah tertolong, tetapi wajahnya memucat. Uang lima jutanya masih ada di rumah. Entah bagaimana dia akan membayar administrasi awal. “Sus, boleh bertemu pasien sebentar saja?” Alisya menghampiri mereka. “Boleh, tapi jangan rame-rame, ya, Mbak! Pasien masih lemah.” “Baik, terima kasih, Suster!” “Silahkan, kamu mau ketemu Bapak, kan, Sya! Kamu ditemani Arfan, ya! Aku ke ruang andministrasi dulu!” Rika pasrah. “Kamu temani Alisya menemui ayah kamu! Aministrasinya sudah ada yang urus.” Deva mengejutkannya. “Maksud Bapak?” Mata gadis itu membola. “Kamu temani Alisya ke dalam!” perintah Deva tegas. “Baik, Pak! Tapi …?” “Tenang! Ada Mas Deva, juga ada Mas Raja, yuk, kita masuk!” Bisik Alisya di telinganya. “Sya, aku merasa gak enak.” “Sudah! Ayo!” Alisya menarik tangan Rika masuk. “Lima belas menit, kita harus kembali ke Medan, Sya! Bisa, kan?” Deva mengingatkan istrinya. “Baik, Mas!” Alisya mengagguk patuh. Kedua wanita itu beserta Arfan masuk ke dalam ruangan. Deva kembali menghenyakkan tubuhnya di atas bangku panjang. Tak ada yang tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Tiba-tiba sakit itu mulai menyerang lagi. Kenapa? Bukankah dia tak lupa meminum obatnya tadi pagi? Alisya mengingatkannya sebelum berangkat. “Vitaminya, Mas! Udah jam enam, lho!” Begitu kata Alisya sembari membawakan segelas air putih ke kamar tadi pagi. Ya, kalau bukan karena diingatkan oleh Alisya, Deva memang benar-benar lupa. Kebahagiaanya melewati malam pertama bersama Alisya, membuatnya lupa akan segalanya. Juga lupa akan rasa sakitnya. Lalu kenapa sekarang datang lagi. Bukankah jadwal minum obat masih satu jam lagi? Deva memijit kepalanya, dengan ibu jari. Ringisan halus keluar dari mulutnya. Pelan, tetapi mampu mengalihan perhatian Raja. Pemuda itu tengah berdiri di depan pintu runagan UGD. Berusaha mengintip ke dalam lewat kaca kecil yang tepasang di daun pintu. Namun, ringisan halus seperti desahan dari mulut saudara kandungnya itu, mampu mengalihkan perhatiannya. “Mas! Kenapa?” Gegas dia menghampiri sang Kakak. “Gak apa-apa!” Deva langsung melepas pijitan di kepalanya. Menegakkan duduknya di sandaran bangku, agar Raja tak curiga. Raja duduk di sampingnya. Menatap wajah sang kakak dengan seksama. Jelas dia tadi mendengar Deva meringis. Dia tak mungkin salah dengar. Tetapi melihat sikap Deva, dia jadi ragu dengan pendengarannya. “Sepertinya aku dan Alisya harus pulang duluan ke Medan. Kamu kalau masih mau tinggal, terserah! Tapi, sepertinya kamu memang harus masih tinggal.” “Maksud Mas Deva?” “Tolong kamu lanjutkan urus pembebasan rumah Rika dari tangan rentenir itu! Sekalian tebus juga rumah Intan!” “Rumah Intan?” “Rumah Fajar! Tapi, kita tebus aja!” “Enak banget si Fajar!” “Bukan buat Fajar, tapi buat Intan.” “Itu rumah atas nama Fajar, Mas! Kalau ditebus, buat Fajar, dong!” “Maknya langsung kamu urus! Balik nama atas nama Intan! Fajar tak berhak lagi di rumah itu.” “Buat Intan?” “Ya, bayari hutang Fajar itu, rumahnya serahkan pada Intan!” “Kenapa Mas Deva jadi perhatian ke Intan?” “Jujur, aku kasihan padanya. Tetapi, aku juga tak mau dia ikut Alisya terus menerus. Aku tak mau Alisya ditempeli para benalu lagi.” “Intan bekerja, Mas.” “Bukan Intannya?” “Iya, Mas.” “Kamu urus semua, mumpung kamu masih di sini! Jangan Rika saja yang kau urusin, Intan juga butuh perhatian dari kamu!” “Maksud Mas Deva, apa?” Raja terperangah. “Sudahlah! Kamu sudah sangat paham apa maksudku!” “Tetapi, nyatanya aku gak paham, Mas!” “Raja! Kamu tahu perasaan Intan ke kamu, kan? Gak usah menutupinya. Dan sekarang dengan nyata kamu sudah menolak Intan. Dengan sikapmu yang memberi perhatian seperti ini pada Rika! Perbuatan kamu ini menegaskan bahwa, kau sudah menolak Intan. Tapi, setidaknya, kamu beri perhatian sedikit buat dia! Mengurus tempat tinggalnya. Aku tidak mau dia nempel terus pada Alisya, sedang kau tak mungkin membawanya ke rumah induk kita, bukan? Uuuugh …!” Deva memijit keningnyanya sambil meringis. “Sakit lagi?” Raja ikut panik. “Tidak apa-apa,” sahut Deva tetap menyembunyikan sakitnya. “Mas Deva beneran tidak apa-apa?” Raja masih cemas. “Tidak apa-apa. Kembali ke masalah tadi. Kau tidak menyukai Intan, bukan?” tanya Deva, setelah sakitnya agak reda. Raja tak menjawab. “Karena dia kau tolak, maka besar kemungkinan dia akan terus bertahan di sisi Alisya. Aku tidak mau itu. Kau tentu tahu kenapa.” “Karena Fajar?” Raja menebak. “Ya. Cepat atau lambat, Fajar akan bebas. Jika Intan masih bersama Alisya, besar kemungkinan Fajar juga akan datang. Ibunya kalau udah sembuh juga akan datang. Para benalu itu akan menempel lagi pada Alisya. Fajar juga bisa saja mencari segala cara untuk mengganggu ketenagan Alisya. Aku tak mau hal itu terjadi.” “Ok, aku paham.” “Bagus! Demi Alisya, bayari hutang Fajar itu, lalu aku akan meminta Intan keluar dari kehidupan Alisya. Juga kehidupanmu!” “Tapi, Intan akan tetap kerja magang di kantor, Mas!” “Tentu, itu tak masalah. Sebenarnya Intan gadis yang baik. Hanya saja dibesarkan di keluarga yang kurang baik, itu saja.” “Baik, Mas. Kalian duluanlah pulang. Aku yang urus di sini.” **** Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua