Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
135. Madu Asmara di Kamar Mandi
Bab 135. Menyecap Madu Asmara di kamar Mandi ***** Rika keluar dari persembunyian, begitu mobil Raja bergerak pergi. Gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju ujung gang, di sana dia berbelok ke arah kiri. Ada jalan tikus yang harus dia lalui sebelum mencapai rumah kontrakannya. Rumah kecil dan jauh dari kategori layak itu dihuninya bersama Ayah dan adik laki-lakinya. Dengan kondisi keuangannya saat ini, Rika hanya mampu menyewa rumah itu. Lima ratus ribu sebulan, itupun sudah nunggak seminggu. Ayahnya baru saja keluar dari rumah sakit, itu yang membuat keadaan mereka makin sulit. Sang bunda telah lama meninggal dunia. Saat Arfan masih berusia sepuluh tahun. Sekarang Arfan berusia lima belas tahun. Bertambah pula beban yang harus ditanggung Rika. Tetapi, gadis itu tak berputus asa. Dengan gigih dia terus berusaha mencari penghasilan tambahan. Uang sebanyak empat juta yang diberikan pria tadi akan dia gunakan untuk membayar tunggakan uang sekolah Arfan, sewa rumah beberapa bulan, dan biaya sehari-hari. Rika sangat bersyukur karena malam ini bisa bertemu dengan pemuda tajir dan royal. ‘Tetapi siapa dia? Kenapa dia berkata akan datang ke pabrik tempat Rika bekerja? Ingin memecat bendara pabrik segala lagi. Seolah-olah dia pemiliknya. Apakah pria itu masih mabuk? Aneh! Orang kaya memang aneh! Saat kubilang aku gak mau permainan ranjang, dia ngamuk! Enak aja! Apakah dia pikir semua perempuan yang dijumpai itu bisa dia ajak tidur? Tapi, meskipun dia gagal meniduriku, dia tetap mau bayar, dia tambahi malah. Syukurlah. Semoga besok malam aku masih bertemu dengan tamu sebaik dia,’ batin Rika berucap syukur. *** Raja langsung menuju rumah Alisya sepulang mengantar Rika. Pukul lima dini hari, azan berkumandang dari Masjid-masjid yang dilintasinya. Satu malaman dia berkeliaran di luar rumah. Lelah seluruh tubuh, tetapi Raja tak hiraukan. Masalah yang terjadi di pabrik jauh lebih penting baginya daripada kesehatannya saat ini. Bagaimana bisa Alisya memberlakukan peraturannya sendiri seperti penuturan gadis yang ditemuinya tadi. Meminjam uang dengan bunga dua puluh persen, itu keterlaluan. Perusahaan Sarung Tangan itu memang sangat peduli pada karyawan pabrik selama ini. Bagi yang sangat butuh diizinkan untuk meminjam, tanpa bunga, dengan catatan dipotong tiap bulan gaji untuk pembayarannya. Itu sangat membantu para buruh pabrik itu. Namun tak pernah ada kewajiaban membayar bunga. Bagaimana Alisya bisa menerapkan system seperti itu melalaui bendahara pabrik? Raja membunyikan klakson mobil dengan kencang begitu tiba di depan rumah Alisya. Bik warsih terlihat tergopoh-gopoh menuju pintu gerbang. Membuka kunci, lalu membukakan pintu gerbang untuk Raja. Raja melajukan mobilnya pelan menuju halaman. Lalu masuk ke dalam rumah besar itu. Memindai seluruh ruangan, sepertinya semua penghuni rumah masih terlelap di kamar masing-masing. Tatapan Raja tertuju ke kamar utama. Kamar pengantin itu kembali menyesakkan dadanya. Dia masih berdiri kaku di depan kamar itu, ketika seseorang menyapanya. “Mas?” Intan baru saja keluar dari kamar mandi belakang untuk mengambil air wudhu. Tidak ada fasilitas kamar mandi di kamar yang ditempatinya. Terpaksa gadis itu memakai kamar mandi bersama di belakang, di samping dapur. Raja tersentak. “Hey, sudah bangun?” “Sudah, Mas, ini mau sholat Subuh. Mas Raja baru datang?” “Ya.” “Ada apa? Kok, pagi-pagi amat?” “Ada yang penting, mau bertemu Alisya.” Intan terkesiap. Gadis ini merasa yakin kalau Raja masih snagat berat melepas Alisya. Kalau tidak untuk apa sudah datang di pagi buta seperti ini? Jelaslah Alisya akan merasa terganggu, secara ini masih hari pertama pernikahannya. Mereka baru saja melewati malam pertamanya, kini Raja sudah berdiri di depan pintu kamarnya. “Kenapa menatapku seperti itu?” protes Raja melihat reaksi Intan “Enggak, Mas. Saya hanya merasa aneh aja. Kak Alisya itu masih ---“ “Aku tahu, Intan! Gak usah kamu bilang juga aku tahu. Alisya dan Mas Deva barua saja menlewati malam pertamanya, bukan? Tapi ini masalah penting! Aku harus bertemu Alisya.” “Baiklah, Mas! Saya mau sholat dulu. Saya tinggal, ya, Mas!” “Hem.” Raaj menjadi ragu untuk mnegetuk pintu kamar Alisya. Benar yang dikatakan Intan, betapa tidak sopan dirinya jika harus mengganggu pengantin baru itu sekarang. Baiklah, akan kutunggu beberapa saat lagi. Begitu keputusan Raja, lalu melangkah ke ruang tamu, membaringkan tubuhnya di sofa panjang di runagan itu. *** Sementara di kamar utama, Alisya juga sudah terbangun. Kebiasaannya bangun pagi bila mendengar suara azan, tetap tak berubah meski kini dia sudah tak tidur sendiri lagi. Deva masih terlelap. Suara dengkurnya terdengar halus dengan ritme yang teratur. Sepertinya dia masih kelelahan setelah melewati malam berdua dengan Alisya. Pria itu kelelahan, tetapi wajahnya memancarkan kepuasan. Semburat bahagia terlihat jelas dari forum wajah tampan itu. Senyum tersungging di bibir Alisya. Bahagia yang begitu sempurna tengah mewarnai hatinya. Sama seperti Deva, wajah wanita itu pun tak kalah berserinya. Pelan dia meraih tangan kekar Deva yang masih memeluk perutnya. Lalu diletakkannya di samping tubuh Deva yang terbaring dengan posisi mengulet. Pelan sekali gerakannya, khawatir pria tampan itu terjaga. Pelan Alisya beringsut turun dari ranjang, lalu berjalan masih agak sempoyongan menuju kamar mandi. Alisya melakukan ritual mandi wajib seperti ajaran yang agama yang dipercayainya. Kewajiban yang telah lama tak pernah lagi dilakukannya. Sejak Fajar tak lagi menyentuhnya, dulu. Kini, Alisya akan menjalani lagi, setiap Deva memintanya. Air yang mengalir dari shower kamar mandi itu mulai mengguyur seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa dingin membuat wanita itu sedikit menggigil. Tetapi, gigilnya segera hilang ketika seseorang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Pelukan yang sudah dikenalnya. Pelukan yang selalu dirindukannya. Hanya saja, dipeluk di bawah curahan air shower seperti ini, baru kali ini dirasakannnya. Alisya merasa melayang lagi. “Boleh mandi bareng, Sayang?” tanya pria itu berbisik di telinganya. Bisikan yang dilanjutkan dengan sentuhan. Sentuhan di seluruh tubuh polosnya. Alisya menggeliat. “Boleh, enggak, nih?” “Ya, tapi cepat, ya! Kita harus sholat Subuh! Kita berjamaah, ya? Mas Deva harus jadi imam buat aku!” jawab Alisya membalas sentuhan suaminya. “Baik, aku usahakan cepat, Sayang. Terima kasih,?” “Hem.” Curahan air dari shower pagi ini menjadi saksi dua insan menyecap tuntas candu asmara. Alisya menyerahkan diri seutuhnya pada Deva. Dia adalah milik suaminya. Tak ada aturan yang melarang, di mana sang suami meminta. Ini kamar mandi pribadi mereka berdua. Tak akan ada yang keberatan mereka melakukan aktivitas apa pun di sana. ** “Bik, pinjam handuk bersih, dong, aku mau mandi! Pinjam baju kerja Mas Deva sekalian!” perintah Raja saat Bik Warsih mengantarkan kopi hangat ke ruang keluarga. Kopi untuk Raja. “Oh, di kamar Buk Alisya, Pak. Di dalam lemari pakaian mereka.” Warsih menjawab ragu. “Ya, ambilin, dong, Bik, tolong!” “Mereka belum bangun, Pak. Segan saya mau bangunin.” “Ya, sudahlah!” Raja mendengus. Bayangan sepasang pengantin di dalam kamar itu kembali mengganggu pikirannya. “Tapi, biar saya coba ketuk, aja, Pak. Siapa tahu udah bangun tapi masih kelonan,” kata Warsih langsung berjalan menuju kamat utama. “Eh, gak usah! Jangan di ganggu orang kelonan!” Raja telat. Wanita itu sudah mengetuk pintu kamar Alisya. “Gak usah, Bik!” Raja menghampirinya. “Eh, Mas Raja? Kapan datang?” Alisya muncul membukakan pintu kamar. Raja terpaku. Alisya muncul masih dibalut dengan pakaian salat. Telkung putih itu membuat wajah Alisya terlihat sangat bersahaja. Sementara Deva baru saja bangkit dari atas sajadahnya. Sungguh pemandangan yang bertolak belakang dengan dugaannya pun dugaan Bik Warsih. ‘Kelonan’ itu yang mereka duga, ternyata sepasang pengantin itu sedang menunaikan ibadah salat Subuh bersama-sama. Deva bertindak sebagai imam. Raja merasa ditampar. Malu pada dirinya sendiri, malu pada dugaan dan juga prasangka mesumnya. Raja tak tahu, kalau dugaan sebetulnya benar adanya. Bahkan sepasang pengantin itu melakukannya tak hanya di atas ranjang, melainkan juga di bawah curahan air dari shower kamar mandi. ***** Bersambung, ya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua