logo text

File 40 : Mengatur Strategi

Sebenarnya Oxa menolak jika Irana ikut terlibat disini. Tapi kekuatannya sangat dibutuhkan, terlebih penduduk desa itu juga menggunakan basis listrik sebagai senjatanya.
"Juragan Wan yang memberi mereka senjata itu. Ada yang berupa tongkat pendek beraliran listrik, tapi yang berbahaya justru cemeti listriknya."
"Seharusnya tak berefek apapun jika elemen listrik bertemu dengan listrik juga. Tapi...."
"Apa kau bisa membalikkan listriknya sehingga menjadi senjata makan tuan buat mereka, Irana?"
"Membalikkan listriknya? Ah, belum pernah kulakukan itu. Tapi mengacaukan senjata mereka kurasa bisa."
Nah, itu dia maksudku! Jelas orang-orang di desa itu tak akan mampu berbuat apapun jika senjata mereka saja rusak. Kurasa mereka sudah memakai senjata berteknologi modern. Bukan sesuatu hal yang sering disebut supranatural disini.
"Untuk menuju kesana pun susah, mereka sengaja memasang pagar bertenaga setrum tinggi. Bagaimana kalian bisa membebaskan anggota keluarga kami?"
"Atla berelemen tanah, dia tak akan mempan dengan listrik. Masalahnya anak itu sudah bisa belum membuat perisai dari tanah?"
"Perisai dari tanah? Lalu itu diaktifkan untuk mematikan fungsi listriknya sementara waktu saat kita menembus pagarnya. Hei, masalahnya pagar listrik ini modelnya masih pakai kawat penghantar listrik atau yang bagaimana?"
"Kurasa sudah tidak pakai kawat sebagai penghantar listriknya."
"Ah, ya soal listrik aku baru teringat butuh mengisi daya batrei armor dan mata siberkinetik ini. Disini tidak ada listrik sama sekali."
"Apa kau mau kembali ke rumahku dulu, Dova?"
Baru kuingat di rumah Marino saja yang ada listriknya. Tapi jelas jauh dan gelap! Sebentar lagi batrei mata siberkinetikku juga mau habis. Hanya listrik dari Irana saja yang bisa membantuku saat ini.
"Ehm! Sedikit saja, Irana. Jangan berlebihan, aku takut kalau rusak lagi."
"Seberapa, Dova? Segini cukup kan?"
"Heergh! Sudah, ini mulai mengisi. Pertahankan segini saja."
Sebenarnya masih terasa sakit. Namun ini sudah kucoba bertahan. Kalau tidak segera diisi pasti tubuhku akan terjatuh tak berdaya lagi. Marino melihatku dan Irana sambil melongo. Kilatan listrik Irana memang nampak jelas. Kalau saat seperti ini, sama seperti memakai Sleep Capsule. Aku hanya bisa diam bahkan setengahnya tertidur.
"Oh, anak perempuan itu ternyata susah tidur juga ya! Maaf aku baru bisa ikut berkumpul disini."
"Tidak apa, Ketua Oxa! Kami juga belum selesai membicarakan langkah apa yang harus diambil."
"Lalu kenapa dengan laki-laki setengah mesin itu? Juga perempuan berenergi listrik ini."
"Mereka sedang...lebih tepatnya mengisi tenaga laki-laki itu."
"Hm...aku baru tahu!"
Aku masih bisa mendengar perkataan Ketua Oxa. Tapi belum mempu menjawab. Sampai indikator batreinya menunjukkan penuh, baru kuminta Irana untuk berhenti.
"Maaf, kalau dalam posisi seperti itu aku juga tidak bisa berbuat apapun."
"Oh, sudah selesai ya!"
Hadirnya Ketua Oxa membuat perencanaan strategi jadi lebih baik. Dia sudah tahu seluk beluk desa dan tempat dimana anggota keluarganya ditawan. Anggota keluarganya yang tersisa disini pernah menjadi manusia biasa dan memasuki desa itu.
"Pada dasarnya Juragan Wan sendiri ditipu oleh paranormal yang berkata ada harta disana."
Aku, Marino dan Irana kaget mendengar hal ini. Sebagai ketua keluarga Sheepero, dia jelas tahu bahwa tak ada harta yang dimaksud. Melainkan tempat yang ditemukan oleh Juragan Wan itu hanyalah gerbang dimensi menuju ke alam lain.
"Nenek moyang kami bukan berasal dari sini. Kami menjadi seperti ini karena terlahir dari pernikahan manusia biasa dengan makhluk setengah hewan seperti wujud kami sekarang."
"Lalu tempat ini pun...."
"Nenek moyang kami juga yang membuatnya dengan segel khusus. Efeknya kami bisa kembali ke wujud ini. Tapi saat keluar dari sini kami bisa menjadi manusia biasa atau seperti ini juga."
"Baiklah, aku paham sekarang! Jadi, apa yang mau diincar oleh Juragan Wan dan paranormal itu?"
"Juragan Wan hanya percaya pada paranormal itu kalau ada harta gaib disana. Padahal jika pintunya dibuka, itu bisa menyedot siapapun yang ada disini masuk ke dalam."
"Kata Marino, hanya kau yang bisa membukanya."
"Itu benar, nona! Hanya tanduk dari ketua keluarga yang bisa digunakan untuk membuka pintu gerbang antar dimensi ini."
"Kalau Juragan Wan saja hanya dimanfaatkan oleh paranormal itu, lalu apa yang sebenarnya dicari?"
"Kristal bening yang ada di alam sana. Jika dibawa kemari, maka akan membuat pemegangnya menjadi sama seperti kami dengan kekuatan yang teramat besar. Tapi, aku sendiri tidak yakin! Apakah manusia biasa sanggup menahan dahsyatnya kekuatan itu."
Menurut Ketua Oxa, tubuh manusia punya batasan tertentu. Itulah sebabnya tidak semua orang kuat menahan kekuatan tambahan yang diberikan. Sama sepertiku, aku mampu menahan mata siberkinetik ini. Tapi bisa jadi jika dipasangkan pada orang lain belum tentu cocok.
"Aku tidak akan ikut, sebab tanduk inilah yang diincar oleh mereka. Bagaimana denganmu Marino?"
"Bukannya sudah lama aku meminta pada ketua agar diperbolehkan membebaskan anggota keluarga kita?"
"Kau sanggup menghadapi mereka, Marino?"
"Dengan tandukku ini dan bantuan dari mereka. Itu sudah lebih dari cukup, Ketua Oxa."
***
"Tapi paman, aku juga mau ikut dengan Atla!"
"Cetya, kalau dia adalah EARTHSEED sedangkan kau...."
"Aku juga EARTHSEED Anima. Dimana letak perbedaannya?"
"Kurasa apa kata pamanmu itu benar, Cetya."
"Tidak! Aku juga mau membantu kalian! Ayah butuh bantuanku untuk lepas dari sana."
"Tandukmu masih terlalu kecil untuk melawan mereka."
"Aku punya tombak ini, paman! Meski tandukku kecil, masih bisa melawan mereka."
"Pinjami aku tombakmu itu dulu, Cetya!"
"Eh, paman mata satu mau diapakan tombakku itu?"
Apa katanya? Paman mata satu? Kutatap tajam anak itu sampai ia terjatuh sendiri. Aku paling benci panggilan yang dipakai Eleanor itu. Anak domba ini ikutan memanggilku seperti itu.
"I-iya, maafkan aku paman."
"Namaku Dova dan jangan memanggilku paman mata satu lagi, titik!"
"Kau ini mudah sekali tersulut amarah, Dova!"
"Memangnya kau sendiri suka disebut tukang setrum, Irana?"
"Bzzzt!"
"Eeeee aaaa jangan disetrum sungguhaaan! Batreiku sudah...aaah penuh!"
"Bruuk!"
"Bibi dan paman sama saja rupanya!"
Aku tidak sanggup lagi dengan Irana. Andai ada yang bisa menyingkirkannya, aku lebih suka! Atla yang membantuku berdiri. Sementara Irana masih kesal denganku. Huh! Biarkan saja dia disini! Akhirnya kuajak Atla dan Cetya ke SKYLAR II.
"Paman pasti mau memodifikasi tombak milik Cetya ini."
"Anak cerdas! Memang itu yang mau kulakukan untuknya."
"Wah, aku nanti bisa melawan dengan tombakku ini."
"Tentu saja bisa, Cetya! Paman hanya butuh membuat tombak ini menjadi senjata yang lebih baik."
Dua anak ini antusias sekali. Marino tak bisa melarang, ia mempercayakan keponakannya itu padaku. Aku akan menambahkan sesuatu agar tombak ini bisa berfungsi lebih baik. Bahkan bisa digunakan untuk menyerang jarak jauh tanpa perlu dilemparkan ke arah musuh. Tunggu saja nanti! Kalau kalian mau tahu, ikutlah denganku ke SKYLAR II.

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru