logo text

File 94 : Sudah Saatnya Aku Bicara

Tahun 2064
Kurasa sudah saatnya aku bicara dengan Madeline. Aku tak ingin memberi dia kabar dulu, sengaja datang ke X-Marank City dadakan dengan SKYLAR II. Pesawat sebesar ini ku kendarai sendiri. Aku lebih nyaman sekarang menggunakannya.
"Nenek Mereditha, Madeline ada dirumah?"
"Oh, ada! Biar kupanggil dulu, Dova. Madelineee...!"
"Nenek, aku di halaman!"
"Astaga! Maaf ya nenek tidak melihatmu. Dova mau bertemu denganmu."
"Oh, hai eh kau sudah selesai melakukan itu?"
Kenapa Madeline jadi salah tingkah? Dia meninggalkan remote pengendali untuk mesin penyiram tanaman otomatis diatas meja. Lalu bergegas menemuiku. Nenek Mereditha meminta Jay untuk membuatkan minuman. Namun kutolak dengan halus.
"Maaf, aku tidak lama ada disini. Madeline, aku sudah putuskan!"
Madeline nampak gugup kali ini memandangku. Dia berusaha membuang muka, tapi aku menatapnya terlalu dekat.
"Aku tidak bisa denganmu! Maaf, aku berpegang teguh pada prinsipku untuk tidak menikah."
"Kenapa?"
"Kau akan menyesal! Lagipula sejak awal, aku memang tidak ada perasaan apapun denganmu. Kita hanya teman!"
Aku tersenyum padanya, namun perempuan EARTHSEED Natura itu merasa masih tak terima. Dia ingin tahu alasanku yang sebenarnya. Kupegang kedua lengannya sambil terus menatapnya lekat.
"Dengar, aku ini manusia buatan. Sesempurnanya diriku ini, ada satu kelemahan yang baru kuketahui dari penciptaku dulu."
"A-apa itu, Dova?"
"Aku infertil, Madeline! Perempuan mana yang tak menginginkan anak setelah menikah?"
"Ah, iya aku paham! Itu yang selama ini kau sembunyikan, tapi...."
Tidak ada lagi yang perlu kubicarakan. Janjiku telah lunas padanya. Aku segera pergi meninggalkan rumah ini. Madeline ingin mengejarku, namun kakeknya segera menghalangi langkah kakinya. Masih kudengar pembicaraan mereka.
"Tidak. Dova itu bukan jodohmu! Biarkan saja dia pergi. Kau kan bukannya berkenalan dengan ahli Botani sewaktu sedang mengadakan seminar di kota lain?"
"Oh, itu Marco!"
"Dia akan datang kemari, Madeline!"
Aku terlalu fokus mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Sampai nyaris menabrak seseorang. Ah, dia laki-laki berbadan tegap dan lebih tinggi dariku.
"Oh, maaf tuan aku tidak sengaja!"
"Tidak, kau tidak salah! Apa kau yang bernama Marco?"
"Eh, itu benar! Tapi darimana anda tahu?"
Tak kutanggapi pertanyaan itu. Hanya tersenyum sambil mencoba menepuk pundaknya dengan mantap. Kudekatkan mulut ini pada telinganya.
"Selamat ya, Madeline adalah milikmu!"
"Aah...! Apa maksud tuan?"
Sebuah senyuman misterius kutinggalkan padanya. Laki-laki ini masih heran denganku. Tapi aku tak peduli dan terus berjalan menuju ke SKYLAR II.
***
Inazuma kuantar ke Dwatta Island. Aku ingin beri kejutan pada Dexta. Sengaja tidak mengabarinya terlebih dahulu. Irana pun juga ku ajak karena sebentar lagi, Ericko akan menikah. Jadi, aku dan Irana datang sebagai perwakilan Artemis sekeluarga kemari.
"Dexta, kami boleh menginap juga di rumahmu sampai pesta pernikahan Ericko?"
"Ah, tentu saja boleh!"
"Tapi, aku mau katakan sesuatu padamu. Inazuma, kemarilah!"
Cyborg itu berjalan ke arah kami berdua. Dexta yang melihatnya langsung melepas kacamata Quadron miliknya itu. Mulutnya terus terbuka.
"Kau tidak sedang bercanda, Dova!"
"Apa? Kenapa, Dexta? Aku tidak paham dengan perkataanmu!"
"Perempuan ini, Dova! Si-siapa namamu, nona?"
"Kode namaku adalah Inazuma Eve."
"Aah...Inazuma! Eh, tapi dia adalah...."
"Dia adalah Cyborg Sempurna, Dexta!"
"Tidak, bukan itu Dova! Dia adalah ah sempurna bagiku!"
Apa sih maksud Dexta? Aku masih tidak paham juga. Laki-laki ini terus memperhatikan Inazuma dari atas ke bawah. Bahkan lebih ekstrim lagi, dia mencubit kedua pipi Inazuma.
"Eh, ini masih kulit asli?"
"Bagian wajah tidak banyak yang diubah oleh Heindrik. Kulit asli tetap dipertahankan."
"Si-siapa itu Heindrik, Nona Inazuma?"
"Partnerku dulu, tapi dia sudah mati."
"Ah, begitu rupanya."
"Jadi, bagaimana Dexta?"
"Sejujurnya ini luar biasa, Dova! Aku tak menyangka bisa bertemu dengan dia. N-n-nona Inazuma, maukah kau menikah denganku?"
APA? DIA MALAH SUKA DENGAN MANUSIA SETENGAH MESIN INI? Aduh, maaf aku terlalu emosi. Tapi ini jelas melanggar standar ketentuan hidup manusia normal aah begitulah. Aku harus tahu alasannya dari Dexta sendiri.
"Dia mirip dengan istriku dulu! Lihatlah foto yang kupajang itu, Dova."
Sebanyak apa aku kerumah ini, baru inilah tahu wajah istri Dexta yang dulu. Memang mirip seperti Inazuma, hanya warna rambutnya yang berbeda.
"Bagaimana denganmu, Nona Inazuma?"
"Aku ini mesin."
"Aku tahu itu! Tapi, aku benar-benar mencintaimu. Haruskah aku mengubah diriku sendiri menjadi Cyborg sepertimu?"
"Tidak. Tetaplah menjadi manusia. Aku juga dulu tidak menginginkannya."
Hah! Kalian tahu apa yang terjadi setelah ini? Ya, pernikahan Dexta dibuat bersamaan dengan Ericko dan Alara. Tak ada satupun tamu undangan yang curiga kalau Inazuma adalah Cyborg. Ericko menyarankan ayahnya untuk menutup tangan Inazuma dengan sarung tangan putih.
"Ehem! Padahal jelas mereka berbeda ya! Pada akhirnya bisa menyatu juga."
"Aah! Kau mau begitu juga memangnya?"
"Tidak sih, tapi...hei Dova! Kenapa aku ditinggal?"
Malas aku kalau sudah begini. Irana baper sekali dengan acara pernikahan. Lebih baik mencari tempat untuk santai sambil merokok saja.
***
"Hei, Dova! Kau yakin tidak mau menikah?"
"Aku sudah bilang, Artemis. Tidak mau hidupku dikekang oleh satu orang perempuan. Sepertimu dan Serenada!"
"Dhuaak!"
Kepala ini sudah kena hantaman dari tangan Serenada. Aah! Setelah dia dibekukan kenapa kekuatannya semakin meningkat? Artemis hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Lalu bagaimana denganmu, Irana?"
"Kau bertanya atau mau meledekku, Artemis?"
Irana hanya memanyunkan bibirnya sambil mengambil selai untuk rotinya. Cara makan dia seperti orang kelaparan hari ini. Artemis memelukku dan juga Irana dari samping.
"Ayolah, mau sampai kapan kau hidup sendiri?"
"Aargh! Itu urusanku, Artemis! Apa kau mau ganggu prinsip orang? Lagipula aku tidak mau kalau perempuan itu kecewa karena...."
"Kau pernah bilang punya rahasia. Memangnya apa rahasiamu itu?"
"Huh! Mau tahu saja kau ini, Irana!"
"Dova, aku tak pernah tahu kau punya rahasia. Memangnya apa?"
"Eh, Dova punya rahasia? Memangnya apa sih?"
Astaga! Tatapan mata mereka mengarah padaku semua. Aku merasa sedang dihakimi disini. Artemis sengaja meninggalkan kursinya, lalu menyingkirkannya. Dia menyeret kursiku sampai dekat dengan Irana.
Perempuan berambut putih itu nampak terkejut, dia tersipu malu. Aku juga jadi salah tingkah usai didekatkan oleh Artemis. Kini ia berpindah tempat duduk disebelah Serenada.
"Nah, bicaralah padanya Dova!"
"Dova, a-a-aku bukan eh!"
"Aah! Kursi ini tak nyaman sekali buatku, apa yang salah ya?"
"Hei, kalian berdua ini ya! Dova, katakan saja yang sesungguhnya. Tidak, kami tidak akan menyalahkanmu."
Sedikit menghela napas, lalu mengatakan soal hal itu. Bahwa aku ini laki-laki infertil. Bukan berarti tidak memiliki hasrat pada perempuan. Tapi, soal memiliki anak kemungkinannya kecil sekali. Jelas aku tak mau mengecewakan perempuan manapun. Meski kuakui pada akhirnya ada rasa istimewa dihatiku untuk Madeline.
"Kau pasti tahu dari Max kan?"
"Ya, dia yang memberitahuku! Semua manusia buatan mengalami hal itu, Artemis."
"Irana, kau sendiri bagaimana?"
"Ah, bagaimana ya Serenada! Aku sih kembali pada Dova sendiri. Sejak dulu sudah pernah aku utarakan perasaanku padanya."
"Tapi, semakin kesini aku juga sadar! Dia memang perempuan yang menyebalkan pada awalnya. Hanya saja aku masih tak mengerti. Kenapa waktu itu kau menyelamatkanku saat Vhina memasukkan virus komputer ke Sleep Capsule?"
"Aku hanya tidak mau kehilangan dirimu, Dova! Kau adalah segalanya bagiku! Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri disini."
Irana langsung memelukku erat. Kembali ada rasa hangat dihatiku. Aku hanya tersenyum saja dan mulai berani memegang kepalanya. Kupaksa ia bangkit agar menatapku.
"Aku tetap berpegang pada prinsipku. Tidak akan menikah dengan siapapun. Karena aku tak mau terikat termasuk denganmu."
"Dova, aku tidak peduli mau punya anak atau tidak. Karena resikonya besar bagiku! Jelas aku bisa mati karena anakku akan memiliki kekuatan listrik sepertiku. Itu yang dialami oleh ibuku dulu saat melahirkanku."
"Lalu apa yang kau inginkan dari, Irana?"
"Aku hanya ingin kau selalu ada disisiku, Dova! Hanya itu saja!"
"Baiklah, kau boleh tinggal bersamaku di rumah milikku.Tinggal nanti kita urus rumah milik Kakek Madrosa."
Mata Irana berkaca saat melihatku. Ia benar-benar tak peduli hanya kuajak tinggal satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Meski jelas itu melanggar adat di Nuuswantaara ini. Artemis tiba-tiba menepuk pundakku mantap.
"Sebagai sahabat, aku tetap menghargai apapun prinsipmu itu."
Ah, terima kasih juga untuk kalian yang sudah mau mendengarku bercerita. Eh, apa nantinya akan ada yang mengubah file ini menjadi sebentuk tulisan? Aku tidak tahu!
Satu lagi, Kakek Zayn pernah berkata padaku. Bahwa kita semua adalah EARTHSEED. Bukan Atla, Irana, Crystala dan juga Topan. Semua penghuni Bumi adalah para EARTHSEED, tak peduli mereka memiliki kekuatan atau tidak.
TAMAT
***
Terima kasih, untuk pembaca setia Ditarina. Nantikan seri terakhir dari trilogi cerita ini ya. Artemis akan kembali lagi menceritakan kisahnya selama di dimensi lain. Jangan lupa juga baca cerita Ditarina yang lainnya.
SALAM SEMESTA!

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda