Beranda/Yes, We Are EARTHSEED!/
File 44 : Acaranya pun Kacau
"Aah! Ini diluar ekspektasi kita, Marino!"
"Tenang dulu, Dova! Delia, dimana pengendali listrik ini?"
"Ada orang yang berjaga disana, tapi bagaimana cara menyingkirkannya ya?"
"Ah, itu mudah bagiku."
Kulihat Zetya sudah bertarung dengan orang yang disebut Coro itu. Huh! Namanya aneh sekali ya! Benar kata, Marino! Serudukan Zetya sangatlah kuat sampai Coro berulang kali terpental. Namun ada yang aneh disini. Kalau dia terkena listrik di kurungan ini kenapa tidak tersetrum?
"Ayo, Om Dova! Jangan bengong dong!"
"Huh! Aku sedang melihat Zetya bukannya bengong!"
Tapi entah apa yang dilakukan oleh orang-orang disini. Coro diberi sesuatu yang aku juga tak jelas melihatnya. Tiba-tiba dia menjadi sangat bertenaga. Bahkan mulai bisa memukul mundur Zetya.
"Buaaakk!"
"Aaargh...!"
"Bzzzzzt!"
"Marino, ini gawat! Zetya sudah mulai kewalahan."
"Sst... aku tahu Dova! Diamlah dulu!"
"Hei, apa yang kalian...uugh!"
Mudah sekali Marino memukul tengkuk laki-laki yang menjaga panel listrik hingga pingsan. Dia bingung mana yang harus ditekan tombolnya. Sepertinya dia tak paham bahasa universal yang ada di papan panel penuh tombol ini.
"Matikan listriknya dulu pakai tombol hijau ini!"
"Ah, baiklah!"
Bagus, saat Zetya terpental ke jeruji besinya dia tak lagi tersetrum. Mata siberkinetikku terus mengawasi dari kejauhan. Sepertinya masih aman! Tapi kondisi Zetya yang tak bagus. Dia mulai kehilangan tenaga.
"Turunkan kurungan besinya, tekan tombol kuning itu!"
"Yang ini kan?"
Kurungan besinya turun juga. Tapi Zetya sudah babak belur dihajar oleh petarung bernama Coro itu. Sama saja, dia tidak bisa kabur juga. Aah! Kenapa Kakek Zayn tidak membantu disaat seperti ini? Pada waktu bersamaan, kudengar suara yang tak asing ditelingaku.
"Ayaaah...!"
"Cetya! Aduh, gawat! Kenapa anak itu berteriak?"
"Apa yang terjadi disini?"
Nampak dua orang turun dari kursi yang berada di posisi teratas. Mereka pasti Juragan Wan dan Mbah Warok. Urusan kurungan besi ini sudah selesai. Kini aku harus membantu Zetya.
"Heaaaargh! Terima la-uugh...! Apa yang terjadi?"
Seketika sinar terang memenuhi arena ini. Semua orang berteriak dengan mata tertutup. Saat mulai meredup, muncul siluet harimau merah mengaum dihadapan Zetya. Manusia setengah domba itu sudah ketakutan luar biasa.
"Ha-harimau?"
"Bagaimana bisa ada harimau disini?"
"Kau bingung kan? Hehehe...."
"Aargh! Harimaunya berubah jadi manusia!"
Kebingungan Coro belum juga usai. Namun dia sudah terpental dengan jurus milik Kakek Zayn. Baru kutahu ternyata seperti ini cara bertarung Kakek Zayn. Kuda-kudanya pun berbeda dengan ilmu beladiri lainnya termasuk yang ada dalam database-ku.
"Uugh...! Sudah tua tapi...."
"Coro! Berhentilah dulu, biar aku yang menghadapi dia."
"Mbah Warok, memangnya dia ini siapa?"
"Dia bukan orang biasa, julukannya 'Harimau dari Utara'. Hadapi aku, Zayn Al Abiddin!"
"Warok, akhirnya kita bertemu juga! Sudah banyak yang kau buat kacau di Nuuswantaara ini."
Sementara mereka berdua bertarung, orang-orang disini kebingungan. Mereka bertanya apa yang terjadi? Delia langsung berlari ke arah laki-laki yang ternyata itu ayahnya. Mereka semua telah sadar setelah terkena sinar benderang tadi.
"Hei, kalian semuaa...! Kembalilah! Acaranya belum selesai!"
"Kami tidak akan terpengaruh lagi olehmu, Juragan Wan!"
"A-apa?"
"Ya, kau telah membuat kami menurutimu selama ini!"
"Sekarang kau yang harus pergi!"
Satu orang dikerubungi oleh penduduk desa disini. Bukan lagi kalah ataupun babak belur. Mereka sudah kesal sampai akhirnya juragan itu mati. Hah! Rasakan itu! Sekarang tinggal bagaimana caranya membantu Zetya keluar dari sini?
"HEI! Dia belum selesai bertarung denganku."
"Bukan dia lagi lawanmu, tapi aku! Heaaargh!"
"Oh, manusia domba yang lain rupanya. Dengan senang hati kulayani."
Marino dengan ganasnya mengangkat kapak milik Oxa. Serangannya membabi buta. Namun Coro hanya tertawa saja sambil terus menangkisnya. Aku curiga dia tadi diberi semacam ramuan agar tidak mudah terluka dan menambah kekuatannya.
"Paman Marinoo...!"
"Ugh! Bawa ayahmu Cetya! Pergi dari sini!"
"Anak-anak, ayo kita pergi dari sini! Kau sendiri bagaimana, Dova?"
"Aah! Aku akan tetap disini membantu Marino. Pergilah dulu, Irana!"
Kubiarkan Irana membawa anak-anak pergi. Beberapa penduduk desa juga membantunya. Aku harus membantu Marino! Coro bukanlah lawan tandingan dia.
"Aargh! Kenapa dia bisa sekuat itu?"
"Ahahaha... itu cuma kapak mainan!"
"Bagaimana kalau tembakan mainan laserku ini? Atomic Blast!"
"Bwahaha...! Senjata macam apa ah...tubuhku!"
Coro mulai panik, tubuhnya perlahan menjadi butiran debu yang terbang terbawa angin. Teriakan kesakitannya begitu memekakkan telinga, hingga akhirnya seluruh tubuhnya menghilang.
"Dova, senjata apa itu?"
"Yaah...aku membuat itu bersama temanku. Ayo, kita bantu Kakek Zayn!"
"Tidak usah! Aku masih bisa, Dova!"
"Kau mengganggu urusanku saja, Zayn!"
Kekuatan mereka imbang, kalau begini terus aku khawatir Kakek Zayn bisa kalah. Aku dan Marino merencanakan untuk menganggu paranormal yang satu ini. Menyerangnya dengan laser berkali-kali. Marino juga melemparkan kapaknya, namun dia berhasil menghindar.
"Kalian berdua diamlah!"
"Ugh! Tubuhku kaku semua!"
"Aah! Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan armor ini lagi?"
"Hahaha...Mbah Warok kok dilawan! Uaaarrgh!"
"Ah, katanya sakti! Kena listrikku saja masih kesetrum."
"IRANA!"
"Kakek Zayn! Serang diaaa...!
Disaat seperti inilah Kakek Zayn melancarkan serangan yang dipadukan kekuatan supranaturalnya. Seketika Mbah Warok jatuh tak berdaya. Aku dan Marino kini bisa menggerakkan anggota badan kami.
"Tidak! Aku belum dapatkan kristal uurgh...."
"Kau manusia yang serakah, Warok! Apa belum cukup kekuatan yang kau miliki itu?"
Hanya dibalas tawa oleh Mbah Warok sebelum akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya. Dua orang yang menjadi pengendali desa ini telah mati.
"Marino, panggil Oxa kemari! Kalau perlu berlarilah!"
"Tapi secepat apa aku berlari tetap saja jauh dari sini."
"Baiklah, aku tunggu besok! Ada hal yang harus dia lakukan."
Kakek Zayn kembali menjadi harimau dan berlari keluar. Pasti dia masuk ke dalam kalung yang dipakai oleh Zetya. Semuanya telah berakhir hari ini. Tinggal kami mengecek kondisi Zetya bagaimana?
***
"Tuan, terima kasih sudah membantu kami semua terlepas dari juragan serakah itu."
"Jangan berterima kasih padaku, aku sebenarnya hanya membantu mereka para manusia separuh domba."
"Ah, nenek moyang kami benar! Dulu kami hidup berdampingan dengan mereka. Rasanya malu sekali kami telah menyiksa...."
"Kalian tidak sadar melakukan itu. Nah, dimana letak tempat yang katanya terdapat harta gaib itu?"
"Aku bisa mengantarmu kesana sekarang!"
"Aah! Tidak butuh sekarang. Besok saja, para manusia separuh domba itu mau melakukan sesuatu disana. Tapi, ini sudah malam!"
"Om Dova tidur di rumahku saja, iya kan?"
"Ya, tidurlah di rumah kami dulu."
Ayah Delia yang menawarkan itu. Irana sepertinya tak keberatan. Baiklah, anak-anak juga bisa bermain dengan Delia selama berada di rumahnya. Marino sudah kembali ke tempat Ketua Oxa.
Kondisi Zetya sedang dalam perawatan penduduk desa. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Kalung milikku juga sudah kuambil darinya. Cetya tak mau lepas dari ayahnya. Katanya dia mau menemani ayahnya sampai bisa bergerak lagi.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (234)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn
01/03
0mantap
18/11
0good
14/07/2025
0Lihat Semua