logo text

File 92 : Musuh Masa Lalu

"Irana, segera panggil Nenek Mereditha!"
"Nenek Mereditha! Aku mohon kemarilah! Kyaaa...!"
"Iranaaa...!"
Tepat setelahnya, siluet harimau berwarna biru menyala hadir disini. Sayangnya, Irana terlanjur terkena serangan Vhina. Batu Badar Besi miliknya berhasil direbut oleh perempuan jahat itu.
"Irana! Irana! Sadarlah!"
"Dova, biar aku healing dulu. Tolong, minggir sebentar!"
Nenek Mereditha cukup mengusap tangannya ke muka Irana. Perlahan, mata Irana mulai bisa terbuka.
"Dova, a-apa yang terjadi?"
Tak kupedulikan lagi rasa benci ini padanya. Aku memeluknya erat, khawatir jika dia mati disini.
"Mereditha! Ahaha...tanpa Elluna kau tidak akan bisa berbuat apa-apa!"
"Jangan menghina Madam Elluna! Apa artinya kau mampu dikurung oleh guruku itu!"
"Hah! Memangnya apa kemampuan laki-laki tua yang satu ini? Biar aku lawan saja, Vhina!"
"Ryuzen! Berhati-hatilah! Mereka adalah pasangan Harimau dari Utara. Kekuatan mereka nyaris sama sepertiku. Kemampuan serum milikmu itu tidak akan bisa menandinginya."
Inilah yang aku suka dari Kakek Zayn! Dia tak perlu banyak bicara langsung menyerang Ryuzen. Laki-laki bertubuh kekar itu terkejut. Ia berusaha melawan seorang kakek yang menurutnya lemah.
"Aargh! Harga diriku dipertaruhkan disini!"
"Kau hanya anak muda yang sombong!"
Kembali serangan Kakek Zayn dilancarkan. Bahkan kali ini membuat Ryuzen terpental jauh. Amarah membuat dirinya tak terkontrol, segera ia berlari dan menyerang Kakek Zayn dengan membabi buta.
"Kau bilang manusia terkuat, hanya segini saja?"
"Ryuzen!"
"Sebentar lagi, Vhina! Aku bisa membunuhnya!"
"Tarot Card Activation! Strenght!"
Muncul satu sosok perempuan dengan singa yang mengaum. Perempuan tadi menaiki hewan itu dan mulai menyerang Vhina.
"Hah! Kartu Tarotmu itu tidak akan bisa menghentikanku! Illusion of Dark Creature!"
Ada banyak makhluk-makhluk bayangan yang muncul dihadapan Vhina. Mereka menghadang serangan perempuan dengan singa sebagai tunggangannya. Rasanya seperti menonton sebuah film laga-aksi. Kekuatan dua lansia itu mampu mengimbangi Vhina dan Ryuzen. Mereka nyaris saja kewalahan.
"Tidak, aku tidak boleh kalah disini! Ryuzen, lempar batu yang kau dapatkan kemariii...!"
"Tarot Card Activation! Justice!"
Satu kartu raksasa bergambar seorang perempuan dengan mata tertutup yang membawa pedang dan neraca. Tulisan "Justice" nampak jelas di bagian bawahnya. Sebelum apa yang disebut spirit oleh Madeline itu keluar dari sana.
"Keadilan harus ditegakkan!"
Itu yang dikatakan oleh sosok tadi saat keluar dari kartu Tarot milik Mereditha. Sosok perempuan itu mampu menghunus pedangnya pada Vhina, sekalipun matanya ditutupi oleh kain.
"Aargh! Tangankuuu!"
Tanpa belas kasihan, tangan Vhina terp*sah dari lengannya. Aku harap anak-anak tidak trauma melihat pemandangan menjijikan ini. Namun ada yang aneh, muncul sesuatu berwarna hitam dari tangan itu, membuatnya menyatu kembali pada lengan Vhina. Kekuatan macam apa itu?
"Vhina, tangkap iniiii!"
"Ahahaha...! Aku sudah katakan padamu. Dendamku pada Elluna dan Mereditha, harus terbalaskan saat ini! Aku sudah dapatkan keempat batunya dan sekarang adalah waktunya!"
"Kyaaaa...! Dova ba-badanku!"
"Irana! A-apa yang terjadi? Nenek! Kakek!"
"Dova, anak-anak itu juga kesakitan."
Inazuma menunjuk pada anak-anak. Atla kulihat menggelepar hebat, Crystala berteriak tak karuan, sedangkan Topan berulang kali menabrakkan diri ke pohon. Kenapa dengan mereka semua?
"Kekuatan alam milik kalian akan jadi milikku! Ahahaha...!"
"Nenek Mereditha! Lakukan sesuatu, aku mohon. Jangan biarkan mereka menderita seperti ini. Jangaaaaan...!"
Nenek itu hanya menghampiriku. Memelukku erat dan mengajakku menjauh dari Irana. Para EARTHSEED itu mulai mengeluarkan bias cahaya. Aku tak mau mereka mati. Inikah hasil dari perjalanan kami semua?
"Dova, maafkan aku!"
"Eergh! Kakek, lakukan sesuatu!"
Sama, Kakek Zayn hanya mampu terdiam. Kekuatan yang dimilikinya seolah tak mampu membuatnya bisa mengatasi masalah kali ini.
"Katakan pada Dewa, nenek! Katakan pada Sang Pencipta Alam ini! Kemana mereka saat semuanya harus berakhir seperti ini? Aaargh!"
Inilah titik nadirku saat ini. Aku hanya mampu melihat penderitaan orang-orang yang pernah ada disekitarku. Tanpa mampu lagi melindungi mereka. Kenapa hidupku tak adil seperti ini?
***
Sekilas ingatanku kembali ke masa lalu. Saat Artemis dan Serenada masih baik-baik saja bersamaku. Pertama kalinya aku bertemu Irana, dia begitu menyukai mata siberkinetik ini.
Ya, aku ingat! Saat Atla terlahir di rumah sakit. Kulihat wajah bahagia Artemis menggendong anaknya meski harus bersusah payah karena sempat terbungkus oleh tanah.
Aku yang selalu ribut dengan Irana, untuk masalah kecil. Namun kami tetap ada menghibur Atla dan Eleanor disaat ayah mereka tak ada. Haruskah semuanya berakhir seperti ini? Eleanor kali ini menangis sejadinya melihat kondisi kakaknya.
"Vhina, akhirnya kita menguasai kekuatan keempat batu GEMSTONE itu. Berikan padaku kekuatan itu! Akan aku kuasai dunia ini dan kau...jadilah permaisuriku! Hahaha...!
"Untukmu, lebih cocok ini saja!"
"Heergh! A-apa yang kau lakukan? Kita sudah...aaargh!"
"Bruuk!"
Aku melihat peristiwa itu. Sebuah pengkhianatan besar yang dilakukan oleh perempuan yang memiliki julukan "The Dark Queen". Perut Ryuzen mampu dibuatnya tembus. Serum itu, seolah tak ada artinya bagi kekuatan Vhina yang sekarang.
"Ahahaha...susah payah aku mendapatkannya! Karena akulah penguasa Bumi ini sekarang. Kalian semua harus tunduk pada...."
Hah! Apa yang terjadi? Perlahan tubuh Vhina menjadi transparan. Dia menyadari hal itu. Kini raut wajahnya mulai panik.
"Tidak! Apa yang terjadi denganku? Seharusnya aku semakin kuat!"
"Kau salah, Vhina! Kekuatan kegelapan tak akan menyatu dengan kekuatan cahaya dari alam. Tubuhmu perlahan akan menghilang. Kau akan tetap hidup sampai tiba masanya Bumi ini hancur."
"Tidaaak! Aku tidak mau seperti ini. Tuanku, Iblis yang Agung! Aku sudah setia padamu, kembalikan kekuatanku. Kembalikan tubuh fisikku!"
"Apa yang terjadi padanya, suamiku?"
"Dia akan hidup selamanya sebagai makhluk tak kasat mata, Istriku sayang. Tubuh fisik manusianya tak mampu menampung kekuatan ini. Itulah, kutukan alam bagi yang terlalu serakah.
"Kalian semua akan hancuuur! Aaaaaaargh!"
Vhina akhirnya menghilang begitu saja. Keempat batu GEMSTONE tadi terjatuh. Inazuma hendak mengambilnya, tapi dicegah oleh Kakek Zayn.
"Biarkan para EARTHSEED yang mengambilnya, nona! Panas dari batu itu tak akan sanggup kau tanggung. Sekalipun tubuhmu sudah banyak didominasi oleh mesin."
Saat kulihat kembali para EARTHSEED itu, mereka masih bisa bergerak. Astaga! Mereka masih hidup! Kuhampiri Irana, namun Nenek Mereditha menyuruhku yang lain.
"Biarkan Irana memulihkan tenaganya. Aku yang akan menghealing para EARTHSEED. Dova, panggil sang penjaga perlintasan tadi!"
"Maksud nenek yang itu?"
Aku menunjuk pada Dewa Nazer yang berusaha kemari. Jalannya pelan sekali, mungkin tubuhnya masih terasa sakit.
"Uuh...apa yang terjadi disini? Kenapa ada banyak manusia?"
"Ya, suruh dia kemari!"
Aku berlari padanya dan kugandeng saja tangannya. Dia nampak terkejut, tapi aku tak peduli lagi.
"Dia sudah disini!"
"Apa yang kau inginkan dariku, manusia tua!"
"Menarilah, agar altar itu muncul. Sebentar lagi tengah malam. Keempat batu GEMSTONE itu harus disatukan sekarang. Kau juga, Dova! Bawa tubuh Serenada kemari. Saat cahaya mengenai bukit ini, maka istri Artemis itu bisa sembuh."
Sisa tenaga ini kubuat tubuhku berlari, melintasi Hutan Madadewa yang katanya misterius. Bangunan kandang babi itu masih nampak, entah Nihi-Yo masih ada disana atau tidak. Urusanku kali ini membawa SKYLAR II sekalian ke Bukit Cahaya.
"Ayolah, naik! Ini demi Artemis dan juga Serenada!"
Menaikkan pesawat SKYLAR II tanpa bantuan Irana memanglah tidak mudah. Namun aku sudah tak peduli lagi. Saat sampai di Bukit Cahaya, tabung Kriogenik ku nonaktifkan. Cairan pendingin itu perlahan turun melalui lubang kecil dibawahnya.
Tubuh Serenada masih terasa dingin, tapi aku tak peduli. Kubawa saja keluar dari SKYLAR II.
"I-ibu!"
"Atla, serahkan urusan ibumu pada paman! Nenek Mereditha, ayo apa yang harus kami lakukan?"
"Bersiaplah kalian pada EARTHSEED Stone! Ambil batu milik kalian disana. Suamiku, kau sendiri bagaimana?"
"Aku akan pergi ke dimensi lain untuk menjemput Artemis. Waktunya tidak banyak! Saat gerbangnya terbuka, Artemis dan teman-temannya harus bisa keluar dari sana."

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru