logo text

File 45 : Harta Gaib

"Sudah saatnya kau mengambil apa yang menjadi hakmu, Oxa!"
"Anda tahu nama saya, apa Marino yang memberitahukannya?"
"Hehe...ya begitulah!"
Tetap saja orang tua ini misterius. Oxa menaikkan satu alis tebalnya itu. Saat ini kami sedang menghadapi batu yang bentuknya melengkung layaknya pintu. Sekilas ini tembus saja tak ada yang istimewa. Nampak ada satu lubang dipinggiran kanan batu itu.
"Tapi aku hanya ingin...."
"Menjaga kedamaian dengan makhluk lainnya itu sudah tepat. Tapi bagaimana jika suatu saat keluargamu terkena hal yang sama seperti saat itu? Beruntunglah alam memberitahuku. Aku bisa segera meminta Dova kemari untuk membantu kalian semua."
"Ketua, orang tua itu benar! Apa yang ada dibalik batu itu, milik keluarga kita. Ambillah...."
Lama Ketua Oxa terdiam, mencoba memahami kata-kata Marino. Zetya yang ikut hadir pun juga membenarkan perkataan adiknya itu.
"Kalian semua menjauh! Aku akan ambil apa yang menjadi hak keluarga kita selama ini."
Teriakan para manusia separuh domba itu terdengar begitu kencangnya. Kami semua menjauh supaya tidak ikut tersedot saat gerbang dimensinya terbuka. Oxa memasukkan ujung tanduknya ke lubang tadi dan seketika angin menyedot ke dalam begitu kencangnya. Badan Oxa yang sebesar itu saja terseret masuk lalu menghilang.
"Paman, Ketua Oxa kemana?"
"Tenanglah dulu, Cetya! Kita akan tahu nanti."
Kami semua menunggu, namun Oxa tak kunjung muncul lagi. Aku mulai khawatir dan berbisik pada Kakek Zayn. Namun orang tua itu hanya menyuruhku bersabar.
"Li-lihat gerbang dimensinya terbuka lagi!"
"Ketua Oxa kembalii...!"
"Hidup Ketua Oxaaa...!"
Oxa mengangkat kristal bening yang teramat besar itu dengan satu tangannya. Padahal kalau aku jelas tak kuat. Seketika ada yang aneh, kristal itu bercahaya. Mataku rasanya tak kuat menahan silaunya pendaran cahaya itu.
"Dova, silau sekali disini!"
"Paman...bibi... disini terang sekali!"
"Paman juga tidak tahu, Atla! Diamlah dulu!"
Saat cahaya itu meredup, aku terkejut karena Kakek Zayn sudah menghilang. Padahal tadi ada disebelahku persis. Para manusia separuh domba itu mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuh mereka.
"Ah, badanku sudah bisa digerakkan lagi!"
"Rasanya aku jadi lebih kuat!"
"Ketua, apa yang terjadi pada kita semua?"
"Kristal itu telah menyatu dengan diri kita. Zetya sekarang juga sudah bisa menggerakkan tubuhnya. Inilah kekuatan yang sesungguhnya dari benda itu."
"Kita tidak lagi lemah, aku akan coba!"
Marino menyeruduk satu pohon yang ada disini dengan tanduknya. Seketika pohon tadi langsung tumbang. Padahal biasanya dia butuh berkali-kali untuk menumbangkan satu pohon.
"Kita harus berterima kasih pada...kemana kakek itu tadi, Dova?"
"Dia sudah kembali ke tempat asalnya."
Zetya dan Marino berjalan ke arahku. Mereka berdua berebut untuk bersalaman denganku. Pada akhirnya harta gaib yang hendak direbut Mbah Warok telah menjadi milik mereka.
***
"Aah! Menyebalkan sekali!"
"Kau ini selalu saja mengeluh, Dova! Seharusnya bersyukur dong!"
"Aku tidak mendesain SKYLAR II untuk mengangkut bahan makanan sebanyak ini! Lalu kau mau taruh buah semangkanya dimana? Juga ini, ikannya pasti bau kalau tidak segera dimasak."
"Iya, aku masak saja! Dasar laki-laki cerewet!"
"Aah! Perempuan menyebalkan! Awas ya aku akaaaaaan aaaargh! Ugh...jangan setrum lagi!"
Irana meninggalkanku begitu saja. Dia bergegas ke dapur entah mau masak apa? Badanku tak bisa digerakkan tiap kali disetrum olehnya. Untung saja SKYLAR II sudah ada kendali otomatis. Dua anak Artemis itu hanya tertawa saja.
"Hei, Eleanor! Ayo, bantu paman! Jangan tertawa saja!"
"Uuh...tak mau!"
"Dasar bocil menyebalkan! Atla, pergilah ke ruang kendali."
"Tapi, aku bisa apa paman?"
"Aah! Pergi kesana sekarang! Awasi kameranya saja."
Butuh beberapa menit sampai akhirnya bisa menggerakkan badan ini. Baru aku kembali ke ruang kendali. Atla masih asik mengamati layar utama komputer. Sebenarnya makanan sebanyak tadi adalah pemberian dari penduduk desa. Belum dari keluarga Sheepero.
"Jadi, kita mau kemana lagi paman?"
"Ah, paman mau ke Andalas Land dulu. Ada kenalan yang tinggal disana. Sudah lama kami tak berkomunikasi."
Aku masih ingat dengan kota Lamp One-G yang menjadi tempat tinggal Alamsyah dulu. Entah bagaimana kabarnya sekarang? Beberapa kali dia masih komunikasi denganku. Tiba-tiba saja tiga tahun terakhir tak ada kabarnya lagi. Semoga saja dia masih sehat.
"Atla, bibi buat ikan goreng pakai sambal kesukaanmu. Kau mau?"
"Tentu saja mau, bibi!"
"Iih...aku juga dong! Eh, paman Dova tidak ikutan makan?"
"Kalian makanlah dulu, paman lagi sibuk disini."
Aku mau mengatur tujuan dan mencari titik koordinat yang pas. Supaya saat berhenti nanti bisa tepat di kota itu. Kebetulan sekali SKYLAR II sudah saatnya diisi dayanya.
"Hei, kau tidak ikutan makan?"
"Aku sedang mencari tempat yang pas untuk parkir di Lamp One-G."
"Jadi, kita mau mengarah ke Andalas Land?"
"Ya, aku mau bertemu dengan seseorang. Sudah lama kami tak berkomunikasi, Irana."
"Setelah Dwatta Island akhirnya aku pernah menapakkan kaki di Andalas Land."
"Huh! Kau belum pernah sama sekali kesana?"
Gelengan Irana yang menjawabnya. Yaah...baiklah kurasa itu akan menjadi pengalaman pertamanya dan juga anak-anak Artemis. Kalau beruntung bisa bertemu dengan Farhein si harimau putih dari keluarga El-Tigre. Sempat kudengar kabarnya ia menikahi Berlian.
"Eh, soal EARTHSEED Stone selanjutnya yang harus kita cari itu ada dimana?"
Pertanyaan Irana yang satu ini nyaris membuatku loncat dari kursi. Aku memutar badanku hingga tepat mengarah padanya. Lama kami saling bertatapan sampai akhirnya Atla berteriak.
"Paman mau tidak ikannya?"
"Habiskan saja, Atla!"
"Baiklah...! Kita bagi dua ya, Eleanor."
Uh, kenapa kami malah saling bertatapan? Irana langsung membuang mukanya.
"Aku tidak tahu! Apa mau bertanya ke Kakek Zayn atau Nenek Mereditha?"
"Tapi, tunggu sebentar! Kau kan mau menemui kenalanmu itu. Siapa tahu nantinya akan ada saja...."
"Bibi tidak mau ikannya?"
"Habiskan saja, Eleanor!"
"Aah! Kalian dari tadi mengganggu saja. Kami berdua sedang berbicara tahu!"
"Paman tidak asik deh!"
"Terserah apa katamu, Eleanor!"
Duh, jadi lupa kan mau bicara apalagi pada Irana. Ah, ya! Bukannya dia pernah bertemu dengan Alamsyah di pernikahan Artemis dan Serenada?
"Aku sibuk sekali waktu itu, Dova! Mana aku tahu kenalanmu itu. Lagipula tamu undangan juga banyak."
"Aku sempat mengenalkan dia padamu. Ah, lagipula bisa jadi dia sudah banyak berubah sekarang."
Iya, sepuluh tahun lebih aku dan Alamsyah tak bertemu. Komunikasi pun hanya lewat email. Dia selalu bilang sibuk terus. Tidak pernah kami bertemu sekalipun lewat hologram. Rasa percuma juga aku membeli mesin penampil hologram itu.
"Bagaimana kalau nanti malam kita rapikan barang pemberian orang tadi?"
"Ya, tidak masalah! Kalau kau mau menguranginya, berikan saja pada kenalanmu itu."
"Iya, juga ya! Baiklah kita pisahkan dulu, mana yang mau diberikan. Setahuku rumahnya ada di pusat area Lamp One-G."

Komentar Buku (234)

  • avatar
    BaniSar

    kerenn

    01/03

      0
  • avatar
    Indra1234

    mantap

    18/11

      0
  • avatar
    Ratih

    good

    14/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru