logo text

Bab 16 Foto di masa lalu

" Joee.!!" Suara teriakan itu terdengar jelas di telinga Joe. Suara mirip Devin memanggilnya dari arah ruangan yg gelap gulita. Joe terkecoh. Ia hendak menghampiri sumber suara itu, namun tangannya di cekal oleh Ghani.
" Itu jebakan!" ujar Ghani memberi peringatan. Batin Joe masih tergerak untuk mencari tau. Namun ia juga takut jika itu benar jebakan seperti yg di katakan Ghani barusan. Suara itu terus memanggil Joe. Suaranya sangat memilukan. Seperti menahan sakit yg teramat dalam.
Joe tak tahan, ia lalu berlari mencari sumber suara itu. Ghani kecolongan, ia mengejar Joe namun ia kehilangan jejak. Sosok Joe begitu cepat hilang di kegelapan. Ghani kini sendirian.
Joe masuk ke dalam sebuah ruangan kosong. Gelap gulita. Tercium aroma amis darah yg menyeruak menusuk hidungnya. Joe menutup hidungnya. Ia memandang sekelilingnya.
" Devin!!" Joe berlari menghampiri sosok yg di duga adalah Devin itu. Tubuhnya terkulai lemas di sudut lantai. Tubuhnya penuh luka cambukan dan cakaran. Darah mengalir di setiap lukanya.
" Loe kenapa Dev? kenapa bisa jadi gini?" tanya Joe panik. Ia mencoba menolong Devin untuk bangkit. Namun tubuh Devin terlalu lemah. Ia tak punya lagi tenaga. Tiba- tiba raut wajah Devin berubah drastis. Wajahnya menegang. Ia melihat ke satu arah.
" Joe, tolongin gue Joe..!!" rintih Devin dengan suara parau. Ia mencengkram tangan Joe erat. Devin ketakutan setengah mati. Bajunya yg sudah compang camping, dan luka di sekujur tubuhnya membuat kondisi Devin terlihat sangat mengenaskan.
" Apa? ada apa dev?" Tanya Joe yg juga panik. Joe lalu menoleh ke belakang. Betapa kagetnya ia melihat sosok wanita merangkak dari dalam lemari kayu. Rambutnya panjang nan kusut itu menutupi wajahnya. Kulitnya putih keriput, tulang belulangnya terlihat sangat jelas. Sosok itu mendongak seraya merangkak aneh menghampiri mereka. Lidahnya menjulur ke lantai.
" Dev itu apa dev?" tanya Joe kelu. Tubuhnya bahkan susah untuk di gerakan. Kaku, tak bisa berbuat apa- apa. Mereka pasrah dengan apapun yg akan terjadi. Sosok itu merangkak ke arah Devin. Mengelus luka di wajah Devin yg mengeluarkan darah dengan kuku panjangnya.Tubuh Devin bergetar hebat, pun dengan Joe.
Nafas keduanya memburu. Jantungnya berpacu hebat. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Sosok itu menggeram, lalu menyeret tubuh Devin ke dalam lemari.
" Aaahhhhh.. Joee tolonggg.!!!" Pekik Devin.
" Devinnn....!!" Joe berlari mencoba meraih tangan Devin, namun sosok itu menyeret tubuh Devin ke dalam lemari. Lalu pintunya terkuci. Suara teriakan Devin masih terdengar menyayat hati. Joe beraung memukul lantai dingin. Merutuki kecerobohannya. Andai ia memegang Devin dengan erat, mungkin kini ia masih bersamanya. Joe terus mencoba membuka lemari itu, namun nihil.
" Joe!!" panggil Adreas yg menemukan Joe di dalam ruangan itu. Adreas dan Bella bergegas menghampiri Joe bersimpuh di lantai seraya menangis.
" Ada apa?" tanya Adreas khawatir.
" Gue tadi nemuin Devin. Tubuhnya penuh luka kayak habis di siksa. Tapi tiba- tiba ada kuntilanak datang dam nyeret tubuh Devin ke dalam lemari itu. Gue gagal nyelamatin dia Dre" Jelas Joe merasa bersalah.
Adreas menenangkan Joe. Bella melihat sekelilingnya. " Gue juga denger suara Maya, tapi belum juga nemuin dia" ujar Bella. Bella lalu teringat sesuatu. Ia membuka tasnya, lalu membuka buku yg ia temukan di kamar terlarang itu.
" Itu apa Bell?" tanya Adreas bingung. Sedangkan Bella terus membolak- balik tiap lembar buku usang itu.
" Maafin aku dre, aku masuk ke dalam kamar itu, karna aku denger suara Maya dari sana. Dan ternyata gak ada, aku nemuin buku ini di meja, terus aku ambil siapa tau bisa jadi petunjuk" jelas Bella hati- hati.
" Yaampun Bell. Kamar itu gak boleh di masukin siapapun selain Mbok Sumi dan yg berhak. Gak ada yg boleh masuk ke sana" timpal Adreas.
" Maafin aku Dre. Tapi aku dapet petunjuk, aku nemuin gambar ini. Joe, apa ini yg tadi narik Devin?" Bella menunjukan gambar sosok kuntilanak yg ada di buku itu pada Joe.
" Iya, sama persis" timpal Joe cepat.
" Sudah aku duga. Aku fikir ini ada kaitanya dengan buku ini. Aku juga nemuin foto lama. Dua perempuan, dan dua laki- laki. Wajah kedua perempuan ini sama, apa mungkin ini adiknya Ghani yg hilang? dan kedua laki- laki ini??"
" Itu aku" tunjuk Adreas ke arah gambar pria kecil yg berdiri berdampingan dengan sosok pria satunya.
" Berarti kamu ada kaitannya dengan adiknya Ghani? jadi ini Ghani? Dre, apa kamu ingat sesuatu?"
" Aku gak inget apapun Bell"
" Hmm, coba kamu ingat- ingat. Apa Ghani adalah teman kamu? tapi kenapa Ghani seakan gak kenal kamu? tapi ia terlihat sangat tau seluk beluk tempat ini" Sambung Bella.
" Dari awal gue udah curiga sama si Ghani, pasti dia tau sesuatu. Gue yakin dia tau betul apa yg terjadi di tempat ini" duga Joe yakin.
" Gue masik gak bisa inget apapun sorry" ucap Adreas merasa bersalah.
" Sudahlah, semoga nanti kamu ingat. Sekarang kita cari jalan keluarnya!" Timpal Bella.
°°°°
Sebuah mobil sedan putih melanju di membelah deras hujan di kegelapan malam. Menyusuri jalan sepi yg di semua sisinya terdapat pohon pinus yg tinggi.
" Cepetan pah..!!" titah Hana panik.
" Iya ma sabar.." Ferry semakin mempercepat laju mobilnya. Hingga akhirnya mereka sampai di Villa. Mereka bergegas turun dari mobil, dan berlari menuju Villa itu.
" Gelap pah, benar dugan mama, pasti terjadi sesuatu"

Komentar Buku (300)

  • avatar
    DITAPUSPAADYTIA

    cerita holor nya aku sih suka kalau yang ini merinding dan bikin lari maraton pas baca ini cerita yang paling menyeramkan dari cerita holor yang lain punya oh yah bikin lgi dong cerita nya yang holor holor kan seru tuh sama cerita yg lain juga yang happy ending.cocok untuk di jadikan film

    10/08/2022

      0
  • avatar
    Muhammad Malin Yusup

    sangat berguna

    19/05/2022

      0
  • avatar
    BellaNabitabo

    I love novelah app this app so nice

    28/04/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru