Beranda/Villa Bougenville/
Bab 35 35
Ghani menggeram. Tangannya terkepal.
" Kembalikan adikku..!" kecamnya dengan suara berat. Adreas hanya tertawa kecil sembari mengangkat sebelah kakinya, lalu di tumpangkan ke kaki yang satunya.
" Kenapa kau tak bilang dari awal hemm.??" sahut Adreas enteng. Adreas mengambil rokoknya, lalu menyalakannya.
" Kembalikann kedua adikku..!!" pekik Ghani kini. Wajah Adreas berubah datar. Ia melempar rokoknya ke dalam asbak. Lalu bangkit dan berjalan mendekati Ghani. Adreas terus melayangkan tatapan tajam pada Ghani.
" Untuk apa kau ambil orang yang sudah pergi.??" tanya Adreas penuh penekanan.
" Dia adikku Adreas, kau tak akan tau rasanya kehilangan 2 adik sekaligus..!!"
" Ya aku tau, aku juga kehilangan kedua orang tuaku sekaligus.." Adreas menjeda ucapannya. Ghani hanya terdiam. Adreas terus menatap mata arwah itu.
" Akan ku kembalikan, tapi hanya jiwanya, aku tak bisa mengembalikan raga nya" Ghani sedikit tenang mendengar kalimat itu. Setidaknya, jiwa kedua adiknya tak selamanya terkunci di sana. Setelah berbicara demikian, arwah Ghani lenyap begitu saja.
Adreas memejamkan matanya, ia melihat kedua adik Ghani di ikat oleh rantai. Adreas menatap mereka sejenak.
" Adre, kita teman. Lepaskan kami" rintih Zana memohon belas kasihan.
" Kita mau ketemu ibu dre kita mohon.. Ibu sudah meninggal, kita hanya ingin bertemu dia" Hati Adreas tersentuh. Adreas melepaskan ikatan itu.
" Jalan lepaskan ikatannya Adreas..!" Sentak Eyang. Adreas menoleh sekilas, lalu melepaskan ikatan keduanya. Zana dan Zeni kini terlepas bebas. Keduanya tersenyum pada Adreas.
" Terimakasih dre.." Adreas tersenyum melihat kedua teman masa Kecilnya kembali ceria. Ia melihat wajah Eyangnya murka, namun ia yang berkuasa sekarang. Ia yang memegang sekte itu setelah kematian ayahnya. Kuntilanak itu tampak patuh pada Adreas, ia merangkak ke hadapan Andreas, Andreas hanya terdiam menatap makhluk itu. Semuanya seakan telah menjadi bagian dari Hidupnya.
" Tak akan ada lagi yang masuk ke dalam sekte ini. Hanya aku yang berkuasa. Tak boleh lagi ada yang menjadi korban.!" kecam Adreas pada Eyang. Sedetik kemudian, Andreas kembali membuka matanya. Dunia kembali seperti semula.
-
-
Malam itu, Bella duduk di pinggir kolam. Ia mengayun- ngayun kan kakinya di air. Sembari menatap bintang yang gemerlapan. Tiba- tiba, Zana dan Zeni datang dengan seraya tersenyum. Bella sontak berdiri melihat kedatangan mereka.
" Ada apa.? Maaf aku belum bisa temuin orang tua kalian" ujar Bella tak tega.
" Tak usah cari lagi. Kami sudah bebas. Adreas membebaskan kami. Semuanya sudah selesai untuk kami. Kami bisa menyusul ibu kami ke surga. Terimakasih Bella.." ujar mereka, lalu sosok nya hilang tertiup angin. Hati Bella kini terasa lega.
Ia tak perlu lagi memikirkan dimana keberadaan orang tua mereka. Setidaknya, Bella sedikit bernafas lega. Sekarang ia tinggal menikmati kembali hidupnya.
" Maya, Devin.. Apa kalian bebas juga.?" gumamnya. Bella membuang nafas gusar. Meskipun Adreas membuat Maya yang palsu, tetap saja, jiwa teman- temannya mungkin masih terkunci.
Bella memejamkan matanya. Merileks kan tubuh dan fikirannya yang terasa sangat lelah. Tiba- tiba, ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Di iringi suara derit pintu yang perlahan terbuka. Bella memutar kepalanya perlahan, tak ada siapapun di belakangnya. Bella bernafas lega, ia lalu kembali membalikan badannya. Dan..
" Akhhhhh...." Bella berteiak histeris ketika melihat hantu pak Joko di jadapannya. Kepalanya patah tergantung miring. Dari mulutnya mengalir darah merah pekat. Ia menyeringai di hadapan Bella. Bella sontak berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
" Bella, ada apa nak.??" Tanya ibunya yang datang tergesa begitu ia mendengar teriakan putrinya. Bella membuka kedua tangannya, nafasnya tak beraturan. Ia menoleh ke arah ibunya yang memasang wajah khawatir.
" E- enggak ma. Gak papa" Bella mencoba menetralkan kembali nafasnya.
" Jangan bohong Bel, kamu teriak histeris gitu kok" Tanya ibunya lagi.
" Nggak, beneran gak papa.." Bella membenahi posisi duduknya yang sempat bergeser. " Euhh, Bella ke kamar mandi dulu" Ujarnya mengalihkan perhatian. Ia lalu melengos pergi ke kamar mandi, meninggalkan ibunya yang masih mematung di samping sofa.
-
-
Joe mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Lalu mengusap wajahnya yang basah sehabis mandi. Ia bersiul melewati ruang tamu. Namun, dudut matanya menangkap sosok berbaju hitam sedang berdiri di dalam kamar tamu yang pintunya sedikit terbuka.
Joe menghentikan siulannya, ia meremas handuknya yang terlingkar di pundak. Berjalan mundur perlahan mengecek ke dalam kamar itu.
" Ciluk ba.." guyonnya sembari membuka pintu tiba- tiba. Namun tak ada siapa- siapa disana. Joe menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menutup kembali pintunya.
" Perasaan gue aja kali ah" Joe kembali melenggangkan kakinya ke luar. Bughh.. Kakinya di tarik oleh benda tak kasat mata hingga membuat ia tersungkur ke lantai.
" Arghh.. Sialan, siapa sih yang narik kaki gua.?" gumammnya seraya mengurut perlahan kakinya yang terasa sakit. Joe menundukan kepalanya perlahan melihat ke kolong meja.
" Huaaaa...." Ia berteriak sekeras- kerasnya saat melihat seonggok tangan sampai siku sedang berjalan menggunakan jari- jarinya. Tangan itu berlumuran darah dan berkuku panjang nan hitam.
Dengan susah payah ia berdiri mengangkat badannya yang sintal lalu berlari dengan tergopoh- gopoh. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (300)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
cerita holor nya aku sih suka kalau yang ini merinding dan bikin lari maraton pas baca ini cerita yang paling menyeramkan dari cerita holor yang lain punya oh yah bikin lgi dong cerita nya yang holor holor kan seru tuh sama cerita yg lain juga yang happy ending.cocok untuk di jadikan film
10/08/2022
0sangat berguna
19/05/2022
0I love novelah app this app so nice
28/04/2022
0Lihat Semua