Beranda/Villa Bougenville/
Bab 36 36
Joe meringis kesakitan sembari memegangi kakinya. Tangan itu merayap di lantai lalu menghilang. Joe masih syok. Nafasnya ngos- ngosan.
" Gila, apaan tuh. Kenapa gue di teror" Grutu nya. Joe duduk menetralkan kembali nafasnya yang hampir habis.
" Adreas apa kabar yah, tiba- tiba keinget dia" Joe mengeluarkan ponselnya. Ia menekan kontak Adreas. Namun jempolnya terhenti saat hendak memanggil.
" Tarr, mending gue telpon Bella aja dulu. Takutnya Adreas jadiii.. Hihhh" Joe bergidik ngeri. Ia lalu memutuskan untuk menelpon Bella. Telpon berdering beberapa saat, lalu setelah itu di angkat.
( Hallo.. Apa Joe.?) tanya Bella dari sebrang telpon. Joe hendak menjawab, namun ia terdiam saat indra pendengarannya menangkap suara aneh. Suara mirip hentakan kaki kuda tepat di belakangnya.
( Hallo..!! Joe ada apa sih?) tanya Bella lagi dari sebrang telpon. Namun Joe masih terpaku. Joe mematikan sambungan telpon nya secara sepihak. Lalu perlahan memutar kepalanya ke belakang. Begitu kepalanya berbalik, nafasnya di buat naik- turun kala melihat sosok kuntilanak berbadan setengah kuda sedang berjalan pelan di belakangnya.
" Huaaaaa..." Pekik Joe lalu seketika tubuhnya lunglay sebelum setelah itu tubuh sintalnya terkapar di lantai. Kuntilanak itu hanya berlalu menembus tembok.
sementara di seberang sana Bella menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.
" Joe apaan sih.? gak jelas banget" grutunya. Bella kembali melanjutkan aktivitas nya. Ia yang hobby menulis itu kini sudah menerbitkan buku ke 3 miliknya. Dan kali ini, Bella akan menulis kisah yang ia alami sendiri ini.
Saat jemarinya sedang mengetik di atas papan keyboard. Tiba- tiba Adreas sudah berada di belakangnya. Bella tersentak kaget, hingga mouse yang ada di tangannya terpental ke lantai.
" A- Adreas... Kamu ngapain disini?" tanyanya gugup. Bella sebenarnya takut, ia tau jika Adreas mungkin saja berpindah tempat semaunya.
" Jangan publikasikan. Cukup kita yang tau.!" pungkasnya dengan wajah dingin. Bella hanya mengangguk patuh. Adreas membelai rambut Bella, lalu setelah itu tubuhnya hilang seiring tiupan angin.
Bella menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Ia merasa sangat kaget dengan kedatangan Adreas barusan. Ia bukan lagi kekasih yang ia sayangi dulu. Adreas tak bisa lagi menjadi tempat ternyaman untuk nya.
Bella semakin kikuk. Ia menghapus semua naskah yang telah ia tulis. Tak ada yang boleh tau, termasuk ibunya. Bella menutup layar laptopnya dengan sedikit kasar. Kebiasaannya menggigit kuku itu melekat ketika ia sedang panik.
" Adreas, dia bukan lagi Adreas kekasihku dulu. Dia berubah menjadi mengerikan" Bella dengan cepat meraih kotak musik di dalam tasnya. Lalu membuka kotak itu.
Alunan musik klasik membuat suasana hatinya sedikit tenang. Bella meresapi setiap alunan musik itu hingga ia terlarut dalam suasana.
" Zana, Zeni.. Aku harap kalian tidak keberatan jika kotak musik ini tetap ada padaku" ucapnya sendiri. Bella kini seperti orang yang punya kepribadian ganda. Terkadang ia tenang, terkadang ia keras. Entah apa yang terjadi padanya.
Entah mungkin ini adalah sebuah dampak dari ketertekanannya. Bella memegangi dadanya yang terasa sesak. Dengan gelagapan ia mencari obat miliknya, hingga tangannya tak sengaja menyenggol gelas hingga terjatuh berserakan di lantai.
" Bella, yaampun.." pekik ibunya saat mendengar suara bising di kamar Bella. Dengan nafas yang hampir habis, ia meminta ibunya mengambilkan obat miliknya. Dengan cepat sang ibu mengambil obat itu lalu di berikan pada Bella.
" Sudah mendingan.?" tanya ibunya. Bella mengangguk pelan. Tubuhnya bersandar pada ranjang miliknya.
" Kamu kenapa nak.? cerita sama mama kalau ada masalah" Bella masih termenung.
" Bella gak apa- apa ma. Bella gak tau kenapa Bella jadi gini" jawabnya lemas.
" Kamu jangan terlalu banyak fikira sayang. Jaga kondisi kamu, tubuh kamu sangat rentan. Mama takut kamu kenapa- napa" Ibunya nampak sangat khawatir. Ia mengelus rambut Bella.
" Bella gak mikirin apa- apa kok ma. Bella gak papa"
" Yaudah, kamu sekarang tidur gih, udah malem" titah ibunya lembut.
" Iya ma.."
Setelah kepergian ibunya, Bella masih termenung di tempatnya. Fikirannya masih terasa kalut. Biasanya, Adreas selalu ada saat ia seperti ini. Bella terkadang merindukan sosok Adreas, namun Adreas tak lagi sama.
-
-
Olive duduk di lantai kamarnya. Ia sibuk membuka album kenangan semasa ia sekolah dulu. Tawa ceria ia dan teman- temannya seakan membuat dunia lebih hidup. Ia terus membuka lembar demi lembaran album itu. Ada banyak kenangan yang akan selalu ia rindukan sampai kapan pun.
Wajah polos mereka tergambar jelas tanpa beban. Tawa hangat, kekonyolan mereka, semuanya kini seakan lenyap bak dintelan bumi.
" Gue rindu banget sama kalian guys. Gue bener- bener gak nyangka kalau kita bakalan terpecah belah kayak gini. Gue gak pernah berharap kalau kita bakalan kayak gini" Olive meraba foto ia bersama teman- temannya. Tak terasa air matanya meleleh jatuh ke atas foto itu.
" Maya, gue kangen banget sama loe. Kenapa sih loe gegabah banget jadi orang.." Olive menyeka air matanya kasar.
" Kalau aja kita gak liburan kesana, mungkin semuanya gak akan jadi begini.. Kita bakalan tetep sama- sama.." Olive terus membuka kenangan- kenangan itu seraya menggrutu.
" Apanya yang harus di sesali.?" suara itu sontak membuat mata Olive membulat sempurna.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (300)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
cerita holor nya aku sih suka kalau yang ini merinding dan bikin lari maraton pas baca ini cerita yang paling menyeramkan dari cerita holor yang lain punya oh yah bikin lgi dong cerita nya yang holor holor kan seru tuh sama cerita yg lain juga yang happy ending.cocok untuk di jadikan film
10/08/2022
0sangat berguna
19/05/2022
0I love novelah app this app so nice
28/04/2022
0Lihat Semua