logo text

Bab 36 Memilih Penyendiri

Kaluna terasa pegal-pegal selama menunggu pelajaran matematika berakhir. Sesekali Estefan melongok melewati jendela untuk melihat apakah dirinya masih berdiri di tempat semula atau tidak.
"Sudah kapok?" Estefan langsung mendatangi Kaluna saat jam pelajaran matematika itu akhirnya berakhir. "Lain kali kalau kamu telat lagi, saya akan suruh kamu berdiri di tengah-tengah halaman sekolah sana."
Estefan mengangkat tangannya dan menunjuk ke pusat halaman sekolah hingga Kaluna menoleh dan mengikuti arah pandangannya.
"Panas, Pak!" komentar Kaluna.
"Makanya jangan banyak tingkah," sahut Estefan datar. "Kamu sudah kelas tiga, bisa tidak sih kamu jangan bikin saya repot?"
Kaluna hanya meringis saja dan memilih melipir perlahan meninggalkan Estefan yang masih berdiri.
"Kamu hobi banget sih bikin Pak Stefan marah?" komentar Kiki ketika Kaluna muncul di dalam kelas. "Heran."
"Habis gimana," sahut Kaluna sambil mengangkat bahunya. "Aku tadi sih niatnya nggak mau sekolah, tapi ... telanjur masuk ya masuk aja sekalian."
Kiki hanya geleng-geleng kepala melihat Kaluna yang sama sekali tidak memiliki perasaan bersalah sedikitpun seperti tidak terjadi apa-apa.
Tidak berapa lama kemudian, pelajaran berikutnya mampu diikuti Kaluna dengan baik. Meskipun dia tidak menyimak materi yang diberikan dengan serius dan hanya sibuk berselancar ria menggunakan gawainya.
Ketika jam istirahat tiba, Kaluna keluar dan duduk di bangku depan kelas seperti biasanya. Dia tidak berminat untuk jajan ke kantin karena belum ada teman yang akrab dengannya. Kiki sendiri lebih memilih untuk pergi jajan bersama teman sekelas mereka yang lain.
"Nggak makan?" Sebuah suara menegur Kaluna dan dia sudah tahu siapa pemilik suara itu.
"Males," jawab Kaluna tanpa menoleh. "Kamu kan tahu kalau aku nggak suka kalau harus ke sana kemari beli sesuatu ...."
"Itu kamu nya yang males gerak!" sergah Yohan sambil duduk di samping Kaluna. "Kenapa? Nggak punya teman ya, kasihan ...."
Kaluna membanting ponselnya dan menatap Yohan dengan tajam.
"Kamu ngomongin siapa sih, diri sendiri?" tanya Kaluna sambil tersenyum sinis. "Siapa tuh orang yang sekarang sedang mendekati cewek dan bilang nggak ada teman?"
Yohan memalingkan wajahnya dengan malas.
"Nggak usah nyindir," komentarnya. "Kalau begitu gimana kalau kita ... jajan bareng aja?"
"Ogah!" sahut Kaluna dengan bahu terangkat sebelah dan mencibir Yohan. "Sendirinya nggak punya teman, sekarang modus mau ngajak jajan."
Yohan terkekeh geli.
"Aku baik lho mau berteman sama kamu," ucap Yohan jujur. "Eh, anggap aja kita musuhan. Itu lebih enak didengar kayaknya ya?"
Kaluna mendengus.
"Batu kali ini musuh ngajak jajan," cibirnya lagi. "Di mana-mana musuh itu ngajak berantem."
"Banyak omong ya kamu?" sergah Yohan seraya berdiri dan menarik tangan Kaluna agar mengikutinya ke kantin sekolah.
"Wey, apaan sih?" protes Kaluna sambil kesulitan mengimbangi langkah-langkah lebar Yohan. "Malu dilihat banyak orang!"
"Kita kan enggak nyolong, udah ayo!" sahut Yohan yang tidak memedulikan dengungan protes yang dilayangkan Kaluna kepadanya. "Kamu kan murid baru, sudah seharusnya kamu membuka diri!"
Meskipun bingung dengan kelakuan ajaib Yohan, Kaluna tetap mengikuti cowok itu ke kantin.
Murid-murid yang sedang duduk bergerombol di meja, sebagian menolehkan wajahnya ketika Kaluna dan Yohan melangkah memasuki kantin bersama-sama.
Seketika Kaluna merasa risih karena puluhan pasang mata menatap ke arahnya dengan rasa ingin tahu selama beberapa saat.
Lalu Kaluna tersadar bahwa dirinya terlalu percaya diri, karena sebenarnya mereka sedang menatap ke arah Yohan.
"Aku mau kembali ke kelas aja," bisik Kaluna ketika Yohan duduk di salah satu kursi. "Gerombolan fans kamu itu ... Astaga, tatapannya seram."
Yohan menoleh ke seberang kantin dan beberapa kaum hawa nyengir ke arahnya dengan malu-malu. Konyolnya, Yohan melambaikan tangan kepada mereka sambil menebar senyum ranjaunya dengan begitu elegan, membuat Kaluna melongo hingga beberapa saat lamanya.
Lalu kemudian dia pura-pura muntah ke atas meja.
"Jijik lho," komentar Kaluna singkat. "Fans kamu banyak juga ya?"
Yohan tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya kepada Kaluna lagi.
"Mereka sendiri yang kagum sama aku, itu juga karena mereka jelas nggak dapat perhatian sama Pak Stefan." Yohan memberi tahu Kaluna.
"Kok bisa?" tanya Kaluna bingung. "Memangnya ... kamu sama Pak Estefan itu saingan?"
Yohan mengangkat bahu.
"Enggak tahu," gelengnya seraya melambaikan tangannya lagi ke arah pegawai kantin yang masih sibuk melayani pesanan murid.
"Kok bisa nggak tahu sih?" komentar Kaluna heran.
Yohan tidak menjawab dan lebih memilih untuk menyambut kedatangan pegawai kantin yang datang mendekat dengan wajah penuh senyum.
"Ciee, pacar baru lagi?" tanya si pegawai kantin, membuat Kaluna terbengong-bengong.
"Haah ...?"
"Nggak usah dipedulikan," sahut Yohan sembari melirik Kaluna. "Dua bakso, dua es teh, nggak pakai lama."
Pegawai kantin itu mengangguk dan berbalik pergi untuk membuatkan pesanan Yohan.
Kaluna yang terbiasa makan sendiri tanpa teman, kini menyadari suasana berbeda yang dia rasakan. Kehadiran Yohan membuat sisa hari di sekolahnya terasa berbeda dari yang dulu-dulu Kaluna rasakan.
Rasanya sudah begitu lama, batin Kaluna dalam hatinya. Kapan terakhir kalinya dia memiliki teman seperti ini.
***
Ola saling berpandangan dengan Hendra, sudah sejak tadi mereka berdua kasak-kusuk di belakang Kaluna yang sedang asyik membuka-buka bukunya di meja belajar.
"Keponakan kamu sudah kembali normal sepertinya," bisik Hendra. "Dia tidak akan bisa kamu kontrol lagi."
Ola menggeleng sambil menyipitkan matanya.
"Belum tentu, dia memang harus menyelesaikan sekolahnya baru aku bisa menikahkan dia sama seseorang." Ola balas berbisik. "Sama Dewa sudah tidak ada harapan lagi ... pilihan terakhir adalah sama anak sahabatnya kakak aku."
Hendra menarik napas.
"Biarkan saja dulu," usulnya. "Kalau kamu kelihatan bernapsu untuk menikahkan Kaluna, orang-orang akan curiga kalau kamu punya tujuan tertentu."
Kali ini giliran Ola yang menarik napas panjang.
Sementara itu keakraban yang terjalin di antara Kaluna dan Yohan mulai terlihat oleh sebagian murid yang bersekolah di SMA Oasis. Hal itu juga tidak luput dari perhatian Estefan yang menjadi pengajar di sekolah yang sama dengan mereka.
"Materi yang sering keluar saat ujian," kata Estefan sambil mengetuk whiteboard dengan spidol. "Silakan kalian catat dan resapi lagi. Setelah ini saya akan berikan soal yang bisa kalian kerjakan berkelompok."
Kaluna yang mendengar ucapan Estefan seketika mengernyitkan keningnya heran. Baru kali ini dia mendengar kalau tugas matematika bisa dikerjakan secara berkelompok.
Meskipun demikian, beberapa murid tetap antuasias untuk segera mencatat materi yang ada di papan. Kaluna ikut mencatat dan dia tidak ingin ambil pusing tentang tugas kelompok itu.
Sejak di sekolahnya yang lama, Kaluna sudah terbiasa mengerjakan tugas-tugas sekolahnya sendirian. Dia sudah tidak percaya dengan yang namanya teman, dan memilih untuk menyendiri daripada harus berteman dengan risiko dikhianati lagi untuk yang kedua kalinya.
Bersambung—

Komentar Buku (31)

  • avatar
    HanafiYulia

    kembali lagi

    03/12/2024

      1
  • avatar
    LESTARIRESTI

    kerennn

    13/11/2024

      0
  • avatar
    YunikeYuni

    wa bgus

    26/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru