logo text

Bab 39 Siapa Bapak Sebenarnya?

Sambil mengendap-endap seperti maling, Kaluna berjalan pelan mendekati mobil wali kelasnya, setelah itu dia melongok ke jendela yang terbuka untuk membuat Estefan terkejut dan ....
"Hayo, Pak Guru ... eh?"
Kaluna menutup mulutnya dengan tangan ketika tatapan matanya tertumbuk kepada cowok paling tampan yang pernah dia lihat seumur hidupnya.
Bahkan lebih tampan daripada Dewangga, mantan terindahnya.
"Kok ...?" Kaluna tergeragap, matanya menyipit memandang Estefan yang balas menatapnya dengan ekspresi malas dan dingin yang bercampur menjadi satu.
Paling tidak, Kaluna pikir cowok itu adalah Estefan.
"Apa?" balas cowok itu menantang.
Kaluna terdiam dengan mulut terkatup rapat, bahkan suaranya pun terdengar persis sama.
"Kamu ... eh ... kamu Rey kan?" tunjuk Kaluna, refleks jarinya terangkat dan nyaris menyentuh wajah rupawan yang ada di hadapannya. "Anaknya Tante Vivian?"
"Jangan tunjuk-tunjuk, yang sopan sedikit." Cowok itu menepis jari Kaluna.
Pikiran Kaluna menjadi semakin berkecamuk. Terlebih lagi di saat cowok yang ada di depannya mengangkat sebuah benda yang langsung dipakainya melewati kepala. Tidak hanya itu, dia juga menyisiri rambutnya dengan jari tangan, baru kemudian dirinya menoleh menatap Kaluna lagi dan sukses membuatnya terkejut.
"Pak Estefan!" pekik Kaluna terkejut, tepat ketika pintu mobil terbuka lebar. "Jadi selama ini ... Argh!"
Kalimat Kaluna harus terputus di tengah jalan karena tiba-tiba tangan kokoh itu menariknya dengan keras ke dalam mobil.
"Tidak usah bilang siapa-siapa," kata cowok yang duduk di samping Kaluna itu dengan nada datar.
"Ta - tapi ...?" Kaluna terbata-bata bicara. "Sebenarnya ... siapa Bapak? Eh, maksudnya ..." Kaluna bingung sendiri karena di satu sisi dia memandang Estefan sang wali kelas, tapi di sisi lain justru wajah Rey yang dia lihat. "Jadi selama ini ... Bapak menyamar jadi anaknya Tante Vivian? Bagaimana bisa saya tidak menyadarinya?"
Kaluna memandang wajah Estefan berkali-kali. Semakin dilihat, wajah wali kelasnya itu semakin mirip dengan putra Vivian yang menurut rencana Ola akan dijodohkan dengannya. Yang menjadi pembeda adalah kacamata yang kini menghiasi wajahnya.
Sulit dipercaya, kata Kaluna dalam hatinya.
"Bisa tidak sih kamu diam?" tanya Estefan datar. "Saya tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya sama kamu."
Ucapan Estefan membuat fokus Kaluna kembali.
"Pak Guru terlambat mengajar, nih?" tanya Kaluna dengan nada menyelidik. "Makanya sengaja sembunyi di sini?'
"Bukan urusan kamu," sahut Estefan ketus. "Justru kamu yang terlambat masuk kelas."
Kaluna seolah tersadarkan dengan ucapan Estefan kepadanya, serta merta dia segera menolehkan wajah ke arah sekolah dan terpaku selama beberapa saat lamanya.
"Terus kenapa Bapak malah tahan saya di sini?" tanya Kaluna seraya menoleh memandang gurunya. "Saya jadi semakin terlambat ini ...."
"Bukannya kamu duluan yang ngintip-ngintip ke mobil saya?" tukas Estefan seraya mengulurkan tangannya untuk membuka pintu mobil. "Sekarang turun, dan masuk kelas seperti biasa."
Kaluna mendengus pelan.
"Sudah jam berapa ini, Pak?" tanya Kaluna sambil menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kalau saya diinterogasi guru yang mengajar, saya harus jawab apa?"
"Kamu kan memang sudah datang terlambat," sahut Estefan dengan pandangan terarah lurus kepada Kaluna. "Jangan bikin jelek nama saya sebagai wali kelas kamu. Sekarang juga kamu turun duluan, setelah itu saya akan susul kamu ...."
"Ke mana, Pak?" tanya Kaluna ingin tahu.
"Ke kantor guru, kamu pikir ke mana lagi?" tukas Estefan, nada suaranya mulai terdengar tidak sabar. "Ayo cepat!"
Kaluna tersentak sebentar, setelah itu dia turun dari mobil Estefan dan buru-buru menyingkir pergi ke kelasnya.
Namun, di pertengahan tangga, dia segera membelokkan arahnya ke kantin sekolah. Percuma, pikirnya. Bel sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu dan dia sedang malas jika harus terusir dari kelas karena keterlambatannya.
***
"Tante, aku mau tanya sesuatu tentang Rey."
Tanpa menunggu waktu lama, Kaluna segera menanyai Ola ketika sang tante mampir ke rumah orangtuanya.
"Rey?" ulang Ola sambil menolehkan wajahnya dengan antusias. "Kamu ... tumben tanya-tanya soal Rey? Atau kamu sudah mulai tertarik sama dia?"
Kaluna menggelengkan kepala.
"Jangan berharap terlalu tinggi deh, Tan." Dia menarik napas panjang. "Aku cuma penasaran aja sama Rey, dia kerjanya apa, di mana, terus punya ...."
"... penghasilan berapa per bulan?" tebak Ola dengan mata menyala-nyala. "Nggak apa-apa, Lun. Itu wajar, kita sebagai perempuan memang harus tahu segala hal tentang calon pendamping kita ...."
"Tante!" sergah Kaluna sambil menjambak rambutnya sendiri. "Siapa juga yang mau menikah sama dia?"
Kaluna mengingat sosok Rey dalam benaknya sebagai sosok yang dingin dan angkuh.
"Nggak usah gengsi, Lun." Ola mengambil ponselnya dan mencari-cari sesuatu dengan gerakan jari yang superlincah. "Nih, profil Rey. Dia lumayan famous kalau menurut tante."
"Famous?" ulang Kaluna seraya memandang layar ponsel yang Ola tunjukkan kepadanya. "Masa iya?"
"Coba kamu baca ulasan di sana," suruh Ola.
Kaluna diam dan menuruti apa yang disuruh oleh tantenya. Meskipun hanya secuil artikel kecil, dia sudah cukup dibuat terkejut oleh nama lengkap Rey yang terpampang di layar ponsel milik Ola.
"Estefan ... Estefan Reyvonda?" gumam Kaluna dengan suara lirih. Dia tidak membutuhkan banyak penjelasan untuk bisa menebak bahwa Rey dan Estefan adalah satu orang yang sama.
"Kenapa, Lun?" tanya Ola dengan kening berkerut. Dia heran sekali dengan perubahan ekspresi wajah keponakannya yang begitu mencolok. "Terpesona? Rey ganteng, kan?"
Kaluna terperanjat dan segera mengulurkan ponsel Ola ke tangannya.
"Biasa aja," komentar Kaluna seraya memejamkan kedua matanya. Dalam hati dia bertekad untuk segera meminta penjelasan secepat mungkin kepada guru sekolahnya itu.
"Siapa Bapak sebenarnya?"
Kaluna memberanikan diri bertanya ketika pelajaran matematika berakhir dan dia mendatangi meja Estefan sebelum guru muda itu pergi meninggalkan ruangan kelas.
Beberapa murid memandang ke arah mereka berdua dengan tatapan ingin tahu, membuat Estefan enggan berlama-lama berada di kelas Kaluna.
"Saya ini wali kelas kamu, kalau kamu amnesia." Estefan menanggapi dengan nada dingin. "Sana kembali ke meja kamu sendiri."
Kaluna mengatupkan bibirnya ketika Estefan berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan ruang kelas Kaluna.
Bisik-bisik beberapa murid menyadarkan kaluna untuk segera kembali ke mejanya sebelum ada guru lain yang masuk ke kelas.
"Hoy, preman pasar! Kapan kita mau berantem lagi?" tegur Yohan sambil menjatuhkan dirinya di samping Kaluna yang sedang duduk di bangku panjang di koridor.
"Kamu murid lama kan di sini?" tanya Kaluna ingin tahu tanpa memandang Yohan yang sedang meneguk sebotol air mineral.
"Sejak kelas satu," jawab Yohan apa adanya. "Kenapa memangnya?"
"Kamu kenal baik sama Pak Estefan kan?" tanya Kaluna ingin tahu.
"Pak Stefan lagi!" celetuk Yohan tak habis pikir. "Kenapa sih kamu tanya-tanya soal dia terus? Kamu naksir sama Pak Stefan? Nggak heran sih, dia perfek begitu ...."
"Sok tahu, aku kan cuma tanya?" elak Kaluna dengan wajah memanas.
Bersambung—

Komentar Buku (31)

  • avatar
    HanafiYulia

    kembali lagi

    03/12/2024

      1
  • avatar
    LESTARIRESTI

    kerennn

    13/11/2024

      0
  • avatar
    YunikeYuni

    wa bgus

    26/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru