Fiona langsung menangis histeris ketika mendengar ucapan kakaknya. Dewangga memegang keningnya. Sudah hampir beberapa bulan ini Fiona jarang menangis, tapi kemunculan Estefan telah menghancurkan semuanya. "Aku tidak percaya ini, Estefan tidak mau menemuiku!" raung Fiona dengan suara menyayat hati. "Apa salahku? Aku tulus menyukainya, aku tulus!" "Aku tahu!" ucap Dewangga, hatinya tetap ikut tersakiti saat melihat Fiona sakit karena perasaannya terhadap Estefan tidak berbalas. "Aku akan paksa Estefan untuk menemui kamu!" Fiona masih menangis sesenggukan dengan Dewangga terus membelai punggungnya. "Apa Tante masih yakin untuk menjodohkan aku sama Rey?" tanya Kaluna ketika bertemu Ola di meja makan. "Rey ternyata memiliki masa lalu yang rumit dengan adik Dewa." Ola memegang keningnya. Masalah menjadi semakin rumit, tapi dia merasa masih bisa memanfaatkan peluang yang tercipta karena permasalahan yang terjadi antara Kaluna, Dewa, dan juga Estefan. "Kenapa Tante malah jadi terkesan sama Dewa?" komentar Ola hati-hati. "Di luar kesalahannya berkhianat, dia adalah kakak yang baik. Tante tidak heran dia sangat membenci Rey karena telah membuat adiknya kecewa." Kaluna menarik napas. "Terus soal perjodohan itu bagaimana?" "Tante tidak akan memaksa kalau kamu tidak mau," jawab Ola pura-pura sedih. "Nanti kita pikirkan cara untuk menjelaskan kepada orang tua Rey ...." "Tapi, aku kan nggak minta perjodohan itu dibatalkan." Kaluna memotong. "Kamu yakin masih mau melanjutkan perjodohan kalian?" tanya Ola tidak mengerti. "Aku tidak tahu, itu masalah Rey. Biarkan dia menyelesaikannya," jawab Kaluna bimbang. Malam itu diam-diam Ola menelepon Dewangga. "Halo, Tante?" "Dewa, saya rasa kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan Luna!" kata Ola berbisik. "Sebentar, aku harus urus adikku dulu ...." "Pikirkan ini, kamu bisa menyelesaikan masalah adikmu sekaligus mendapatkan Luna. Paham?" "Tante tidak mengerti masalahnya," ujar Dewangga. "Saya sudah tahu semuanya dari Luna," kata Ola. "Kamu harus bisa memanfaatkan situasi ini ... Dengar, saya tidak peduli bagaimana kamu atau adik kamu kenal Rey, yang jelas Rey itu adalah calon suami Luna." "Rey?" ulang Dewangga bingung. "Estefan maksudnya?" "Ya, dia!" kata Ola. "Estefan Reyvonda, dia calon suami Luna ...." "Apa? Aku nggak bisa membiarkan dia menikahi Luna dan membuat Fiona depresi!" geram Dewangga. "Karena itulah kamu harus memanfaatkan situasi ini!" sergah Ola antusias. "Kamu bisa pisahkan mereka berdua, dan membuat Rey kembali kepada Fiona. Sepakat?" Dewa berpikir sebentar. "Sepakat." Ola tersenyum, betapa mudahnya dia menggunakan orang-orang untuk melaksanakan keinginannya. Hari itu Kaluna mendapatkan pesan saat sedang makan di kantin bersama Yohan. [Pak Reyvonda ada sama kami, datang ke lokasi kalau mau dia selamat!] Kaluna mengerutkan keningnya. "Orang iseng," gumamnya. Yohan melihat Kaluna yang tampak gusar. "Kenapa, Lun?" "Ini, tiba-tiba ada yang kirim pesan." Kaluna bercerita. "Katanya Pak Reyvonda sama mereka, bukankah dia sedang mengajar?" Yohan berpikir sebentar. "Hari ini Pak Reyvonda tidak mengajar di kelasku," katanya. "Di kelasku juga tidak," sahut Kaluna sambil menunjukkan pesan itu kepada Yohan. "Apa jangan-jangan Pak Reyvonda disekap betulan?" Yohan menyipitkan mata saat membaca pesan yang ada di ponsel Kaluna. "Ini orang iseng mungkin, Luna!" "Atau kita lapor ke guru saja?" usul Kaluna. "Takutnya ini betulan dan Pak Reyvonda dalam bahaya!" Kaluna dan Yohan saling pandang, lalu tiba-tiba ada pesan baru yang masuk ke ponsel Kaluna. [Berani lapor polisi, Pak Reyvonda akan kami habisi tanpa jejak!] "Aku nggak berani!" seru Kaluna tertahan dengan wajah tegang. "Kita harus ngapain, Yohan?" Ponsel Kaluna berbunyi lagi. [Dalam waktu sepuluh menit kalau kamu tidak datang, Pak Reyvonda akan kami buang ke laut setelah mengambil hartanya!] Kaluna lantas menunjukkan pesan itu. "Gimana?" "Pak Reyvonda disekap di mana?" tanya Yohan berbisik. "Mereka bilang ada di bangunan kosong bekas sekolah," jawab Kaluna khawatir. "Kita harus bagaimana, lapor polisi? Takutnya ancaman mereka nggak main-main!" Yohan memegang bahu Kaluna. "Aku akan menemani kamu ke sana untuk menyelamatkan Pak Reyvonda." *** Ketika melewati ruang guru, Kaluna sempat mendengar obrolan beberapa staf. "Pak Reyvonda tidak izin?" "Tidak, dia tidak mengajar di beberapa kelas tanpa keterangan ...." Kaluna lantas memegang lengan Yohan. "Mereka benar-benar menculik Pak Reyvonda!" "Mereka sebenarnya siapa?" tanya Yohan sambil berjalan tergesa-gesa menuju halaman parkir. "Aku nggak tahu," geleng Kaluna resah. Bersama Yohan, Kaluna mendatangi gudang itu tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Begitu tiba di lokasi, suasana terlihat sepi tanpa ada orang yang mereka temui. "Gudang ini terbengkalai," kata Yohan sambil menatap kaca jendela yang tertutup debu tebal. "Mana Pak Reyvonda?" "Aku akan menghubungi nomor tadi," kata Kaluna sambil mengeluarkan ponselnya. Namun, sebelum itu tiba-tiba ada jemari kokoh yang memegang pergelangan tangan Kaluna. "Halo, Luna?" "Dewa?" Kaluna terbelalak. "Sedang apa kamu di sini?" "Sama seperti kamu, menyelamatkan seseorang." Dewangga menjawab ketika Yohan menoleh kepadanya. "Kamu kenal Pak Reyvonda kan? Kamu dapat kiriman pesan juga?" tanya Kaluna. "Kita harus masuk ke dalam, guru aku disekap!" Dewangga mengangguk. "Tenang saja, aku bisa mendobraknya. Yohan menatap curiga ketika Dewangga membobol pintu itu tanpa kesulitan dan ternyata Estefan tidak ada di sana. "Ikat mereka, teman-teman!" Dewangga menepukkan kedua tangannya dan mendadak muncul beberapa orang laki-laki yang langsung memaksa Kaluna dan Yohan duduk di kursi kayu. "Apa-apaan ini, Dewa?!" tanya Kaluna marah ketika dia dan Yohan diikat kuat menggunakan seutas tali. "Jangan bercanda!" "Aku tidak pernah bercanda soal apa pun," kata Dewangga sambil tersenyum dingin. "Kamu sengaja menipu Luna!" seru Yohan emosi. "Kamu betul," angguk Dewangga yang sengaja menggunakan Kaluna untuk memancing Estefan supaya datang ke bangunan telantar itu. "Sekarang kamu telepon Reyvonda ...." "Tidak!" tolak Kaluna segera. "Aku dan Yohan tidak akan menuruti keinginan kamu." "Kalau begitu kalian berdua akan tinggal di sini sampai dia datang," ancam Dewangga. Kaluna dan Yohan saling pandang. Dibantu teman-teman Dewangga, Kaluna dan Yohan disekap sampai guru muda itu datang setelah berita penculikan mereka berdua tersebar di sekolah. "Kaluna! Yohan!" "Pak Reyvonda!" Dewangga muncul dengan ekspresi dingin. "Aku beri kamu dua pilihan," katanya sambil memandang Estefan. "Kamu tinggalkan Luna atau aku akan mengungkap kembali kasus depresi Fiona akibat penolakan kamu." Estefan bungkam. "Ayo pilih!" suruh Dewangga lagi. "Aku tidak bisa memilih," geleng Estefan. Dewangga menatap Estefan selama beberapa detik, kemudian .... "Hajar dia!" "Tidak!" pekik Kaluna ketika teman Dewangga maju untuk menganiaya Yohan menggunakan tongkat kayu. "Stop!" perintah Estefan dengan mata bengis. "Tinggalkan Luna dan kembali kepada adikku, atau dia akan terus dihajar!" balas Dewangga kejam. Air mata Kaluna menetes saat Yohan tidak mampu melawan dalam kondisi diikat. "Hentikan ini, Dewa!" pinta Kaluna. "Pak Reyvonda, selamatkan Yohan! Kembalilah kepada Fiona demi keselamatan murid kamu!" Bersambung—
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kembali lagi
03/12/2024
1kerennn
13/11/2024
0wa bgus
26/10/2024
0Lihat Semua