"Kalau kamu terpaksa, bilang saja terus terang." Rey alias Estefan mengemudi sembari berkomentar dengan nada datar seperti biasa. Kaluna melirik sebal kepada seseorang yang duduk di sampingnya itu. "Sudah tahu kalau saya terpaksa, kenapa kamu—Pak ...? Argh, saya bingung harus panggil apa!" omel Kaluna yang tidak bisa lagi menahan diri. Ketika berada di sekolah, dia masih mampu untuk bersikap hormat dan sopan kepada Estefan sebagai gurunya. Namun, ketika sadar bahwa Rey yang duduk di sampingnya ini adalah orang yang dijodohkan dengannya, Kaluna serasa ingin mengamuk detik itu juga. "Panggil saja sesuka hati kamu," kata Estefan tanpa memandang Kaluna. "Kamu yang di sekolah atau kamu yang ada di rumah kan sama saja." Kaluna mengembuskan napas keras. "Itulah masalahnya!" Dia menjadi sangat emosional. "Saya jadi sulit untuk menghadapi seseorang yang terbiasa membagi dirinya menjadi dua kepribadian, lagipula kenapa sih harus menyamar?" "Siapa yang menyamar?" "Kamu!" "Menyamar sebagai apa?" "Guru di sekolah!" Estefan masih mengemudi dengan tenang tanpa arah tujuan. "Guru adalah profesi resmi yang aku jalani," katanya kalem. "Kenapa justru kamu yang ribut? Apa perlu aku tunjukkan keanggotaan bersama guru-guru resmi lainnya?" "Lalu kenapa kamu jadi pengusaha juga? Kamu anaknya Tante Vivian kan?" tanya Kaluna tidak mengerti. "Memangnya guru tidak boleh punya pekerjaan lain?" tukas Estefan yang penampilannya jauh berbeda seratus delapan puluh derajat hanya dengan melepas kacamata dan merapikan rambutnya ke pinggir. Bukan itu saja, Kaluna baru sadar setelah Estefan juga merombak total pakaian yang dia kenakan saat di luar jam sekolah seperti ini. "Maksud saya, kenapa kamu harus muncul di sekolah dengan penampilan berbeda?" tanya Kaluna tidak mengerti. "Atau memang begitu selera fashion kamu kalau di sekolah?" Estefan membelokkan setir dengan sesuka hati. "Aku sudah mengajar di SMA Oasis lebih lama sebelum kamu muncul sebagai murid baru yang membawa begitu banyak masalah di sekolah ...." "Enak saja saya dianggap sebagai murid pembawa masalah!" potong Kaluna tidak terima. "Memang kenyataannya seperti itu," ucap Estefan tidak peduli. "Soal kenapa penampilan aku yang berbeda saat di sekolah dan di rumah, itu adalah urusan pribadiku. Kenapa kamu sangat ingin tahu?" Kaluna menggelembungkan pipinya. Dia merasa ingin marah, tapi tidak bisa. Status Estefan tetaplah sebagai gurunya di sekolah, meskipun untuk sekarang ini dia adalah calon suami Kaluna. Tunggu, calon suami? Mendadak Kaluna memukul dahinya keras. "Itu sama saja kamu membohongi semua orang, Pak!" Dia memberanikan diri memandang Estefan dengan tatapan menuduh. "Untuk apa kamu pakai kacamata saat mengajar di sekolah, kalau di luar sekolah kamu bisa melihat tanpa kacamata? Kamu pakai softlens?" Estefan mendengus. "Saya hanya minus ringan, tapi tidak buta." Kaluna memalingkan wajahnya menghadap kaca mobil. "Ini kita mau pergi ke mana?" tanya Kaluna tidak antusias. "Entahlah, terserah kamu." Estefan sama tidak pedulinya dengan Kaluna. "Bagaimana sih, kan kamu yang datang ke rumah saya!" "Itu karena ibuku yang suruh, jangan salah paham!" Kaluna berdecak. Dia tidak peduli lagi dengan status Estefan di sekolah, untuk saat ini kemarahan Kaluna terasa ingin dilampiaskan detik itu juga. "Kalau begitu kita pulang saja," pinta Kaluna ketus. "Aku tidak mau kena tegur ibuku," tolak Estefan. "Paling tidak kita masih bisa berputar-putar di jalan meski hanya satu jam saja ...." "Kamu rela menghabiskan satu jam hanya untuk berputar-putar tidak jelas begini?" potong Kaluna tidak habis pikir. "Saya kira seorang guru matematika akan lebih memperhatikan waktu supaya tidak terbuang sia-sia." "Baik, kalau begitu kita ke taman." Estefan memutuskan. "Setidaknya ibuku dan tantemu harus tahu kalau kita seolah-olah pergi berkencan sungguhan." Kaluna melipat bibirnya dan tidak menjawab. *** "Dewa, apa ada kemungkinan dia kembali?" Dewangga menoleh ketika Fiona melontarkan pertanyaan itu kepadanya. "Dia siapa?" "Estefan ...." "Jangan sebut lagi nama itu," potong Dewangga sambil menatap tajam adiknya. "Dia bukan laki-laki yang baik untuk kamu." Fiona mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman yang ramai dan terpaku selama beberapa detik ketika melihat siluet yang begitu familiar. "Dewa, dia kembali!" tunjuk Fiona, wajahnya yang murung seketika berubah gembira. "Lihat, aku tahu dia akan kembali untuk aku!" Dewangga ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Fiona. "Jangan ngawur, dia tidak ada di sini!" "Coba kamu lihat!" sergah Fiona sambil berdiri dari duduknya. "Estefan, aku di sini!" "Jangan teriak-teriak, Fiona!" tegur Dewangga, dia menyipitkan mata untuk mencari keberadaan Estefan. Namun, dia justru melihat sosok lain yang sangat menarik perhatiannya. "Kaluna?" Dewangga berulang kali menggosok matanya, dan sosok itu tetaplah sama. "Tunggu di sini," kata Dewangga kepada adiknya. "Kamu mau ke mana?" "Mencari Estefan," jawab Dewangga berbohong supaya Fiona tidak gembira berlebihan. Sementara itu Kaluna dan Estefan berjalan dalam diam, pikiran mereka berdua tidak sejalan meskipun dipaksakan. "Kamu tidak mau membeli sesuatu?" tanya Estefan, terpaksa basa-basi. "Tidak," jawab Kaluna pendek. "Makan sesuatu?" "Tidak." Sampai di sini, Estefan menutup mulutnya dan tidak bertanya lagi. Di sisi lain, Dewangga berjalan cepat mendekati target yang sedang dia incar. Dia sangat yakin kalau tadi dia melihat Kaluna yang sedang berjalan-jalan di taman. Dewangga berniat untuk mengajak Kaluna dan Fiona makan sama-sama untuk memperbaiki hubungan mereka. "Luna selalu baik pada adikku," pikir Dewangga ketika dia semakin dekat dengan target. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu ...." Estefan menghentikan langkahnya di depan kios es krim dan membeli dua cup es krim cokelat. "Nih, biar kamu tidak merasa rugi." Estefan menyerahkan satu cup es krim kepada Kaluna. "Terima kasih," sahut Kaluna sambil menerima es krim pemberian Estefan. Begitu Dewangga mendekat, dia langsung mematung saat melihat Kaluna bersama Estefan. "Luna?" panggil Dewangga dengan suara keras. Kaluna dan Estefan menoleh. "Dewa? Kamu ngapain di sini?" tanya Kaluna dengan ekspresi dingin. "Kamu tidak sengaja mengikuti aku, kan?" Dewangga tidak menjawab, dia memandang Estefan yang juga memandangnya. "Kalian berdua ...? Kamu gurunya Fiona kan?" ucap Dewangga dengan tatapan tertuju ke arah Estefan. Kaluna melirik Estefan yang tidak menjawab. "Kamu ada hubungan apa sama dia, Luna?" Dewangga mengalihkan pandangannya kepada Kaluna. "Memangnya kenapa, itu bukan urusan kamu." Kaluna menyahut. "Dia bukan laki-laki baik!" kata Dewangga tegas. "Tidak lebih baik dari kamu yang berkhianat, maksudnya?" sindir Kaluna. "Kita pergi saja, Pak." Estefan justru ingat kalau Dewangga adalah cowok yang pernah membawa Kaluna ke hotel. "Tunggu ...." "Apa lagi sih?" potong Kaluna sengit. "Aku serius, Luna. Dia ini yang sudah membuat Fiona depresi!" ucap Dewangga memberi tahu. "Apa?" Kaluna terperanjat, lalu memandang Estefan yang terdiam tanpa ekspresi. "Serius, Pak?" "Kamu siapanya Fiona?" tanya Estefan sambil menatap Dewangga. "Aku kakaknya," jawab Dewangga dengan nada dendam yang intens. Bersambung—
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kembali lagi
03/12/2024
1kerennn
13/11/2024
0wa bgus
26/10/2024
0Lihat Semua