logo text

Bab 19 Kembalinya Sang Mantan

Kaluna terpaksa menjalani kehidupan sekolahnya seperti biasa, tapi kali ini yang menjadikannya berbeda adalah suasana hatinya yang begitu kesal hanya dengan mengingat ucapan terakhir Estefan dalam benaknya:
“Kalau kamu tidak niat sekolah lagi, usahakan jangan terlalu lama mengulur waktu.”
Jujur, ucapan yang dilontarkan Estefan itu dianggap Kaluna sebagai tantangan tersendiri yang wajib untuk dia tundukkan sekalipun harus merelakan sisa sekolahnya di SMA Oasis.
"Nih."
Kaluna mendongak ketika sebuah suara bernada menghardik terdengar olehnya saat dia sedang duduk di kantin seorang diri.
"Yohan ...?" Kaluna langsung pasang kuda-kuda begitu berdiri dan berhadapan dengan si pangeran sekolah.
"Nggak usah ngegas, aku cuma mau menepati janjiku sebagai cowok jantan." Yohan mengulurkan sebuah kotak yang berisi ponsel baru yang modelnya hampir sama dengan ponsel milik Kaluna. "Biasanya aku nggak sebaik ini sama cewek, tapi ya ... Lain kali aku nggak akan kasih kamu ampun kalau kamu merespons candaanku dengan terlalu berlebihan."
Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Kaluna, Yohan meletakkan kotak ponselnya di atas meja setelah itu dia pergi dengan diiringi tatapan mata kaum hawa yang menyorot penuh kekaguman ke arahnya sampai dia tidak kelihatan lagi.
"Lun, kamu cari masalah lagi sama Yohan?" Kiki muncul sambil membawa dua mangkok sop. "Nggak bosan-bosan ya kamu bikin ulah di sekolah ini?"
Kaluna mendengus ketika Kiki meletakkan satu mangkok sop pesanannya.
"Yohan sendiri yang datang ke sini," bantah Kaluna. "Oh ya, ini buat bayar sopnya."
Dia mengulurkan dua lembar uang kertas kepada Kiki.
"Kebanyakan, Lun."
"Nggak apa-apa," sahut Kaluna sambil menarik mangkoknya sendiri.
Kiki mengantongi uang itu dengan perasaan tidak enak, selama ini karena dia telanjur berpikir bahwa Kaluna senakal seperti yang dikatakan murid-murid yang lain.
Selesai makan, Kaluna dan Kiki meninggalkan kantin sementara sebagian murid yang lain masih bertahan di meja mereka. Saat berjalan melewati koridor, Kaluna melihat Yohan yang sedang duduk sendirian di depan lab bahasa sementara beberapa murid perempuan duduk agak jauh sembari curi-curi pandang.
“Yohan itu punya penggemar juga, ya?” komentar Kaluna sambil terus berjalan.
“Sayangnya dia suka cari ribut,” sahut Kiki memberi tahu. "Kalau santun, dia pasti hampir bisa menyaingi Pak Stefan."
"Memangnya ... Pak Estefan banyak penggemar juga?" tanya Kaluna lambat-lambat.
"Kamu tahu sendirilah," jawab Kiki. "Sayangnya dia guru yang agak menjaga jarak sama murid perempuan."
Kaluna mendadak berbalik arah.
"Mau ke mana?" tanya Kiki heran.
"Ada perlu sama Yohan!" seru Kaluna tanpa menoleh.
Kiki tentu saja tidak mau terlibat dengan urusan kedua murid yang paling sering menimbulkan masalah akhir-akhir ini.
Yohan mendongak dengan wajah yang kurang ramah saat Kaluna tiba di hadapannya.
"Kurang puas sama ponselnya?" tanya Yohan dengan alis terangkat.
"Belum aku cek," jawab Kaluna jujur. "Tapi trims atas tanggung jawab kamu."
Tanpa menunggu balasan, Kaluna berbalik dan meneruskan langkahnya ke arah kelas.
Yohan melirik tubuh semampai Kaluna tanpa berkedip, hingga cewek itu menghilang dari pandangan matanya.
Sisa pelajaran hari itu berlangsung normal sampai tiba saatnya pulang sekolah. Kaluna harus pulang sendiri ke rumah karena sopir pribadinya sedang mengantar Ola bepergian ke supermarket untuk belanja bulanan.
Kaluna berjalan santai tanpa menoleh sedikitpun ke arah ruang guru, dia sudah sepakat dengan dirinya sendiri untuk membalikkan ucapan Estefan kepadanya tenpo hari.
Kaluna baru saja menyeberangi jalan besar depan sekolah ketika seorang cowok berseragam sekolah tiba-tiba muncul mengagetkannya.
“Hai, mantan pacar!” sapa Dewangga sambil tersenyum lebar.
"Dewa ...?" Kaluna seketika mundur teratur.
“Mau langsung pulang atau mau senang-senang dulu?” tanya Dewangga lagi.
“Kamu mau apa ke sekolahku?” tanya Kaluna dengan mimik waspada.
“Aku datang jemput kamu,” jawab Dewangga sambil melambaikan kunci mobilnya. “Aku kangen banget sama kamu dan mau reuni sebentar.”
Sikap Kaluna langsung berubah ketika Dewangga mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Kangen? Kamu ... kangen sama aku?” tanya Kaluna terbata-bata.
“Kenapa, nggak percaya?” tanya Dewangga santai. “Kita sudah lama nggak bertemu kan, Lun?”
"Kamu jangan pernah ganggu aku lagi," cetus Kaluna dengan wajah tidak bersahabat. "Sekarang cepat kamu pergi dari sekolah aku."
Dewangga tidak mempedulikan perkataan Kaluna dan langsung menarik tangannya ke arah mobil yang parkir di seberang jalan depan SMA Oasis.
“Tunggu, kamu nggak bisa bawa aku seenak kamu!” Kaluna melawan dengan segenap kekuatannya.
“Kan bagus kalau kita langsung reuni seperti kawan sekolah yang sudah lama nggak bertemu,” ujar Dewangga sambil membuka pintu mobilnya. “Nah, masuklah.”
Kaluna berdiri dengan ragu-ragu, sampai sekarang pun Dewangga belum mampu memulihkan hatinya sejak pengkhianatan yang dia lakukan bersama Rara dulu.
“Aku nggak bisa pergi sama kamu,” tolak Kaluna tegas sambil memandang Dewangga. “Kamu pikir aku sudah lupa kalau kamu berniat melecehkan aku di apartemen kamu saat itu?”
“Ngapain sih kamu ingat-ingat hal itu terus, Lun?” kata Dewangga berkeras. “Aku khilaf karena ... kamu masih sama cantiknya seperti Luna yang aku kenal dulu.”
Kaluna memandang mobil Dewangga dengan muak, kemudian dia berbalik arah untuk kembali ke sekolah. Namun, Dewangga bertindak lebih cepat dengan menyambar lengannya lebih dulu.
“Masuk,” katanya tajam. “Jangan sampai aku pakai cara kekerasan.”
“Dewa, jangan macam-macam sama aku!” Kaluna menyentak.
“Masuk mobil sekarang,” tegas Dewangga lagi.
Kaluna memandang mantan kekasihnya dengan sedikit ketakutan, dia segera melepas cengkeraman tangan Dewangga dan cepat-cepat menyeberangi jalan untuk kembali ke sekolah.
Kaluna berlari dengan sekuat tenaga saat menyeberangi jalan raya, membuat beberapa kendaraan bermotor terpaksa mengerem mendadak sembari membunyikan klakson.
Kaluna baru berani menoleh ke belakang ketika berhasil masuk ke halaman sekolah, untuk melihat seberapa jauh jarak antara dirinya dengan Dewangga, sampai-sampai dia tidak menyadari kemunculan Estefan yang baru saja muncul di halaman parkir.
“Aduhh!” Kaluna dipaksa mengerem larinya saat tubuhnya menabrak punggung Estefan dengan begitu keras.
“Lihat-lihat kalau jalan, Kaluna!” tegur Estefan ketika mendapati tas kerja dan beberapa bukunya berserakan karena ditabrak salah satu muridnya.
“Saya minta maaf, Pak!” ucap Kaluna buru-buru sambil membungkuk untuk membantu Estefan merapikan barang-barangnya yang terjatuh gara-gara ulahnya.
“Luna!” Terdengar suara seseorang memanggilnya dengan cukup keras dari belakang, membuat Kaluna merangkak buru-buru ke belakang punggung kokoh Estefan.
“Pak Guru, tolong selamatkan nyawa saya!” bisik Kaluna ketakutan.
“Apa maksud kamu?” tanya Estefan dengan nada tajam, matanya menyorot penuh selidik dari balik kacamata perseginya.
"Maksud saya ... tolong sembunyikan saya!” jawab Kaluna dengan wajah memohon. “Cowok yang dulu melecehkan saya ....”
Bersamaan dengan itu Dewangga muncul sambil menolehkan kepalanya, berusaha mencari jejak keberadaan Kaluna. Cowok itu menghentikan beberapa murid dan menanyakan sesuatu kepada mereka.
Menyadari Kaluna yang meringkuk gemetaran di belakang punggungnya, Estefan berdiri sambil menarik Kaluna dan menjebloskannya ke dalam mobil yang berada tepat di sampingnya.
Setelah beberapa saat berlalu, Kaluna masih meringkuk di dalam mobil sementara Estefan tetap berada di luar.
Bersambung—

Komentar Buku (31)

  • avatar
    HanafiYulia

    kembali lagi

    03/12/2024

      1
  • avatar
    LESTARIRESTI

    kerennn

    13/11/2024

      0
  • avatar
    YunikeYuni

    wa bgus

    26/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru