logo text

Bab 23 Taktik Ola (1)

Kaluna mengenakan rok selutut yang pas di kakinya serta tidak terlalu ketat. Untuk atasan dia memilih dress lengan panjang berwarna biru dengan kedua bahu terbuka.
“Kamu seperti anak kecil,” komentar Ola sembari menatap Kaluna dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Besok tante akan belikan baju yang lebih beragam lagi.”
“Aku kan memang masih remaja” sahut Kaluna. “Buat apa juga pakai baju yang bikin aku kelihatan tua?”
“Kamu nggak ngerti fashion,” kata Ola seraya mengambil tasnya. “Kita ke butik, yuk? Tante mau beli beberapa baju yang bikin kamu bisa kelihatan anggun dan dewasa."
“Apa nggak lebih baik uangnya dipakai buat keperluan rumah, Tante?” tanya Kaluna sambil menyambar tasnya juga. "Lagian baju-bajuku kan masih banyak.”
Ola menarik napas, sudah beberapa kali ini dia mendengar Kaluna mendebat pendapatnya dan itu membuatnya mulai terganggu. Dia merasa harus membuat penampilan Kaluna menjadi lebih dewasa dibandingkan usia yang sebenarnya. Setidaknya hal itu membuat Kaluna lebih menarik dilihat oleh seseorang yang sengaja dia siapkan.
“Kita mau ke butik mana?” tanya Kaluna ketika sudah duduk di dalam mobil milik almarhum ayahnya.
“Di butik langganan tante,” jawab Ola sambil tersenyum misterius.
Kaluna hanya mengangkat bahu menanggapinya, sementara mobil yang mereka tumpangi meluncur mulus di jalanan beraspal.
Sementara itu di kediamannya sendiri, Estefan sedang mematut-matut dirinya di depan cermin ditemani seorang pria muda yang berdiri di sampingnya.
“Kamu sudah siapkan berkas-berkas pentingnya?” tanya Estefan seraya menyisiri rambut hitamnya yang cukup lebat.
“Semua sudah saya siapkan sejak tadi,” jawab remaja itu seraya mengulurkan sepotong dasi polos tanpa motif. “Saya jadi ingat, ayah Anda berpesan agar Anda tidak perlu menggunakan kacamata.”
Estefan menarik napas sambil menerima dasi itu dan melingkarkannya ke lehernya sendiri. Dengan menggunakan jari-jari tangannya, dia menyibakkan rambut lebatnya ke samping sampai memperlihatkan kontur wajahnya lebih jelas.
Seraut wajah angkuh terpantul di cermin dan balas memandangnya. Wajah itu nyaris sempurna dan tanpa cela. Dengan alis yang lebat berpola rapi, hidung mancung nan kokoh, dan sepasang mata tajam terukir sejajar di wajah bersihnya.
Estefan tersenyum meremehkan kepada bayangannya sendiri.
“Kembali ke kehidupan nyata,” katanya.
“Anda bilang apa Pak, maaf?” sahut pria muda itu, berpikir Estefan sedang berbicara kepadanya.
“Nggak Dirga, bukan apa-apa.” Estefan cepat-cepat menggeleng.
Pria muda yang dipanggil Dirga hanya menganggukkan kepala dan mengambil jas hitam resmi kemudian memberikannya kepada Estefan.
“Kali ini ayahku mau aku menemaninya meeting dengan siapa?” tanya Estefan seraya mengenakan jasnya.
“Pak Wirya, pebisnis sekaligus pengacara ternama.” Dirga menjawab segera. “Dia memiliki seorang anak perempuan yang masih sangat muda, kemungkinan akan ikut serta.”
“Yang benar saja, untuk apa mengajak cewek semuda itu ikut rapat sepenting ini?” keluh Estefan seraya merapikan pakaiannya.
“Sebaiknya Anda datang saja dulu, Pak. Ayo kita berangkat,” ajak Dirga seraya mempersilakan Estefan untuk berjalan lebih dulu di depannya.
***
Sementara itu Kaluna dan Ola sibuk memilih-milih baju di butik langganan, lebih tepatnya Ola yang sedari tadi sibuk memilih baju sedangkan Kaluna hanya mengekor ke mana saja tantenya pergi.
“Lun, coba deh yang ini.” Ola mengulurkan sepotong gaun warna merah darah. “Ini bagus buat acara malam hari, bikin kamu jadi lebih menonjol pesonanya.”
Kaluna menaikkan sebelah alisnya ketika melihat gaun merah darah itu, yang di matanya justru terlihat norak dan tidak modis sama sekali.
"Tante, itu ... Tolong deh, aku masih sekolah. Apa nggak ada pilihan baju yang lain?" tanya Kaluna sambil bergidik.
“Jadi kamu nggak suka?” sahut Ola seraya mengembalikan baju itu ke gantungannya. "Padahal tante suka model dan warnanya lho."
'Pantas aja, itu kan selera tante-tante!' pekik Kaluna dalam hatinya, meski begitu dia lega karena gaun itu telah dikembalikan tantenya ke tempat semula.
Setelah itu Kaluna kembali mengekor Ola dan bertanya-tanya kapan perburuan baju ini akan selesai karena dia sudah sangat bosan sekali.
Sementara itu Estefan sudah berada di hotel tempat meeting itu dilangsungkan. Demi menjaga nama baik ayahnya, dia mau-mau saja saat putri Wirya beberapa kali menuangkan minuman untuknya.
"Proyek mana lagi yang ingin Anda menangkan, Pak?" tanya Evander, ayah Estefan.
"Masih proyek lama, Anda ingat kan bagaimana susahnya ketika bahan baku dari suplayer mangkrak di tengah jalan?" sahut Wirya antusias. "Untuk itulah saya membutuhkan saran dari pebisnis andal seperti Anda."
"Anda berlebihan ...."
Sementara kedua ayah saling ngobrol dengan akrab, Estefan mengangkat tangannya sebagai isyarat penolakan saat putri Wirya hendak memberinya segelas minuman lagi.
'Cewek ini mau bikin aku kembung?' hujat Estefan dalam hatinya, dia bahkan sudah tidak ingat bagaimana jalannya rapat di hadapannya.
Di waktu yang bersamaan, Kaluna dan Ola sedang menyantap makanan di resto paling hits yang ada di pusat kota, setelah itu Ola meminta Kaluna untuk menemaninya minum sebentar di salah satu kafe dekat hotel sambil menunggu dua temannya datang menemuinya.
“Tante, ini sudah terlalu lama. Aku mau pulang,” ucap Kaluna yang kurang antusias. “Lagian aku sudah kenyang makan minum, buat apa kita pergi ke kafe lagi sih?"
“Santai saja Lun, tante masih mau minum kopi sama teman-teman tante,” sahut Ola seraya menyuruh sopir untuk melajukan mobil ke arah kafe. "Minum kopi sedikit nggak akan bikin kamu insomnia.”
Kaluna mengangkat bahu, suasana hatinya sudah terlalu lelah untuk mendebat. Tangan cewek terulur ke dalam tas dan menarik sebuah smartphone miliknya.
Setibanya di kafe, Kaluna memilih menyibukkan diri dengan ponselnya di saat Ola mengacungkan secangkir minuman ke arah Kaluna sebelum menghabiskannya hanya dengan sekali teguk.
***
Dua jam kemudian, Estefan keluar dari hotel dengan langkah-langkah sempoyongan dan wajah supermerah. Dirga yang selalu mendampinginya terlihat kesulitan saat memapahnya meninggalkan rapat yang belum selesai.
“Cewek tadi menganggapku seperti sapi glonggongan,” oceh Estefan. “Berkali-kali dia memberi aku minum, entah apa maksudnya ….”
“Mungkin nona tadi mau mengakrabkan diri dengan Anda Pak,” bisik Dirga. “Pelan-pelan ....”
Estefan memegangi kepalanya seraya mengernyit keras sampai pembuluhnya terlihat.
“Rasanya ada yang tidak beres dengan tubuhku,” keluh Estefan. “Apa sih yang cewek itu harapkan dengan memberi aku banyak minum seperti ini?"
Estefan baru saja menginjakkan kakinya di halaman parkir ketika seorang cewek keluar dari salah satu mobil dan menabraknya keras sekali sampai mereka bertiga jatuh bersamaan.
Dirga buru-buru bangkit, tapi saat dia menoleh, dia melihat Estefan tertimpa tubuh cewek itu.
“Pak! Anda tidak apa-apa?” seru Dirga sambil membantu cewek itu menegakkan dirinya.
“Maaf, saya sedang dikejar orang jahat!” Cewek berwajah polos itu menyatukan telapak tangannya dengan sangat menyesal kemudian segera berlari pergi meninggalkan mereka berdua.
Bersambung—

Komentar Buku (31)

  • avatar
    HanafiYulia

    kembali lagi

    03/12/2024

      1
  • avatar
    LESTARIRESTI

    kerennn

    13/11/2024

      0
  • avatar
    YunikeYuni

    wa bgus

    26/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru