“Jadi gimana rencana kalian selanjutnya?” tanya Adyana disela sarapan pagi yang sedang berlangsung di ruang makan kediamannya. Baik Ann maupun Leo yang semula asyik menikmati menu sarapan yang ada, sontak meghentikan kunyahannya. Keduanya saling berpandangan, sama-sama melempar pertanyaan lewat ekspresi wajah. “Bunda ini pertanyaannya kok aneh-aneh sekali. Lagipula sekarang masih sangat pagi untuk memikirkan hal-hal yang serius.” “Harus dong, Ayah. Masa udah capek-capek ngambil cuti kerja, mereka malah nggak gunain dengan baik. Emangnya mereka mau ngapain dua minggu ke depan? Diam-diaman di rumah kayak pengangguran yang nggak ada kerjaan.” Aditya memilih meneguk kopinya ketimbang menanggapi Adyana, istrinya. Kapan pula ia bisa menang debat dari wanita satu itu. “Emang kalian nggak kepikiran buat bulan madu gitu. Emm biar Bunda urus tiket liburannya deh. Kalian mau ke mana? Korea, Jepang, Dubai, Turki, Pa-“ “Lusa kita bakal ke Jepang, Bun,” potong Leo dengan cepat hingga membuat Adyana menghentikan kalimatnya. Selepas mengucapkan negara tujuannya tadi, terlihat Adyana tersenyum penuh bahagia. “Oh jadi kalian milih Jepang. Baiklah biar Bunda urus tiket dan juga penginapan kalian nanti di sana.” “Enggak usah Bun. Leo udah ngurus semuanya kok. Aku dan Ann sisa berangkat aja.” ‘Sisa berangkat aja, katanya,’ Ann bertanya dalam hati. Tatapan penuh rasa tidak percaya tepat mengenai wajah Leo yang sedang cengar-cengir di depan bundanya. Tatapan yang seolah menunjukkan bahwa, ‘kenapa kamu nggak minta persetujuanku lebih dulu sebagai seorang istri?’ “Oh iya, aku belum ngomong sama kamu ya, sayang.” Leo yang sudah selesai dengan makanannya kini melirik Ann yang nampak kebingungan di sampingnya. Leo lantas menepuk-nepuk punggung tangan wanita itu. “Tadinya aku mau kasih kejutan, tapi karena Bunda udah keburu bahas duluan jadi kecoplosan gini. Maaf yah,” jelas Leo lagi yang diselingi dengan senyuman. Jika saja Ann bukanlah istri pura-pura bagi Leo, mungkin ia akan guling-guling tujuh keliling di halaman rumah saking senangnya. Bagaimana tidak, sikap Leo kali ini benar-benar sungguh manis dan romantis. ‘Halah, paling juga akting doang. Jangan kemakan rayuan mautnya dia di depan Bunda dan Ayah. Kayak nggak tahu Leo aja. Dia itu kan rubah licik yang bisa berubah kapan saja dia mau. Sekarang memang manis-manis. Tapi lihat saja jika sudah sampai di Jepang nanti. Pasti bakal ngomel-ngomel nggak jelas, persis Bunda. Ya, mereka emang persis sih. Harusnya Leo itu jadi anak Bunda, soalnya banyak miripnya gitu,” ucap Ann dalam hati sembari membalas senyum manis Leo padanya. “Wahhh makasih ya sayang. Nggak nyangka kamu seromantis ini. Emang nggak salah Bunda jodohin kita berdua,” jawab Ann dengan antusias terlebih saat ia mengucapkan kata SAYANG. Sikap Ann itu pun langsung mendapatkan pujian dari kedua orang tuanya. “Ahh kamu Ann, bisa aja muji Bunda.” “Bunda Adyana memang yang paling terbaik di dunia ini.” Baik Adyana maupun Aditya saling melempar senyum satu sama lain. Senang rasanya ia melihat kebahagiaan di wajah anaknya itu. Mereka bersyukur karena yang bisa mendampingi Ann sekarang adalah Leo. Sosok yang memang sudah sejak lama mereka idam-idamkan. Melihat kedua orang tuanya yang sibuk tertawa membuat Ann segera menendang kaki Leo yang berada di bawah meja. Tendangan yang langsug membuat lelaki itu meringis pelan. Amat pelan, hingga tidak ada yang menyadari hal tersebut kecuali Ann yang memang menjadi biang keladi dari rasa sakit yang di rasakan oleh Leo saat ini. “What the fuck!” gumam Leo dengan tatapan mematikan kepada Ann. Ann tidak menjawabnya. Ia hanya mengukir senyum licik kepada lelaki itu. Ketika Leo tak juga berhenti menatapnya, Ann langsung menunjuk tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Leo dengan menggunakan dagunya. Leo yang sadar langsung menjauhkan tangannya dari sana. Terlalu asyik memainkan peran ia sampai lupa melepas genggamannya di tangan Ann. “Dasar perempuan gila,” bisiknya pelan sembari mengelus kakinya yang terasa nyeri karena tendangan Ann yang persis tendangan laki-laki. “Ada apa Leo?” tanya Adyana yang sempat mendengar gumaman Leo barusan. “Ahh enggak kok Bun. Gapapa.” ‘Rasain, emangnya enak,’ jelas Ann dalam hati. ‘Senang rasanya melihat dia kesakitan kayak gitu. Emang harus ngerasain sih, biar nggak banyak tingkah jadi people.’ “Hari ini kamu jadi balik appartemen, Leo?” tanya Aditya setelah mereka berempat meninggalkan meja makan. “Iya, Yah.” *** Sorot mata Ann terus saja menjelajah ke berbagai sudut ruangan yang ada di depan matanya. Melihat dan meneliti segala macam yang ada di dalam apartemen milik Leo. Sementara Leo, lelaki itu sudah melongos pergi entah ke mana. “Kok kamu nggak bilang sih kalau mau ke Jepang. Harusnya itu kamu diskusi dulu dong sama aku. Main atur rencana aja sesuka hati,” ketus Ann saat Leo sudah tiba lagi di ruang tamu tempat Ann sedang duduk. Leo sebenarnya malas membahas soal Jepang. Apalagi ia sudah tahu jika Ann pasti akan mengomel-ngomel lagi kepadanya. “Malah diam aja. Kamu tuh ya emang paling suka berlaku semaunya. Ingat ya Leo, meski kita hanya suami-istri pura-pura tapi kamu juga harus minta persetujuanku juga dong kalau mau melakukan sesuatu. Jangan asal nyemplok aja.” “Apa susahnya sih. Kan tinggal bawa diri aja, ribet benar.” “Ha? ribet benar. Iya ribet lah. Kan aku juga yang bakal direpotin kalau ke Jepang. Lagian ngapain ke Jepang sih. Kenapa nggak ke Korea aja. Ke pulau Jeju gitu. Wahhh pasti seru dan keren. Apalagi kalau bisa ketemu sama Song Kang. Pasti liburannya bakal lebih seru lagi,” jelas Ann dengan wajah yang sudah senyam-senyum sendiri membayangkan artis kesayangannya itu. “Song Kang, Song Kang apaan. Kayak dia mau aja ketemu sama kamu. Yang ada itu, Song Kang bakal jijik duluan pas ngeliat kamu.” “Ihh malah ngeledekin. Kamu belum tahu saja pesona seorang Amira Annelia Pallery itu seperti apa.” Ann menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sangat angkuh. Bersikap seolah dirinya lah yang paling hebat di sini. “Udah syukur diajakin ke Jepang. Gratis pula. Malah ngelunjak. Harusnya itu kamu makasih sama aku. Berkat nikah sama aktris yang sukses seperti aku ini, akhirnya kamu bisa menginjakkan kaki di negeri sakura.” “Jepang doang juga. Kalau aku mau ke sana, tanpa kamu juga aku bisa kok. Nggak usah mendramatisir keadaan kayak gitu.” “Tapi ini beda cerita, Ann. Kan ke sananya gratis. Nggak perlu ribet ngurus visa dan sebagainya. Kamu sisa pasang badan aja, terus cus ke sana deh.” Perkataan Leo memang ada benarnya juga. Apalagi setelah mengetahui bagaimana sikap Ann yang selama ini tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya meski mereka adalah pengusaha kaya raya yang berlimpah uang. Jika tidak menyisihkan gaji bulanannya yang tidak seberapa itu, mungkin sampai mati pun ia tidak akan ke sana, selain di berikan secara gratis. Namun beda cerita jika yang memberinya justru Leo, sebab ia tentu saja tidak akan mensyukurinya. “Beda gimana. Sama aja kok. Udah ah, aku mau bocan alias bobo cantik. Debat sama kamu, nggak ada gunanya. Kamar aku di mana nih?” Ann melirik satu demi satu kamar yang ada di sana. Dan untungnya, di apartemen milik Leo ternyata memilki dua kamar. Mengetahui hal itu, Ann tentu saja langsung tersenyum renyah karenanya. “Tuh kamar aku. kamu tidur di sana saja. Aku bisa tidur di sini.” Leo menunjuk sofa yang sedang ia duduki sekarang. “Emangnya kamar itu nggak bisa digunain?” tunjuk Ann tepat di kamar yang berhadapan dengan kamar Leo. “Itu udah dijadiin studio mini. Tempat kerjaku. Bukan kamar tidur lagi.” Ann langsung mengangguk paham. Bersamaan dengan itu ia masuk ke dalam kamar Leo. Tanpa banyak tanya lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
20/06
0bagus
10/08/2025
0bagus
21/06/2025
0Lihat Semua