logo text

Bab 67 Andai Aku Bisa memilih

“Ya ampun Dwi, aku lupa ngambil dompet di meja kasir. Aku baru ingat sekarang lagi. Padahal pas tadi sore habis ketemu klien, aku sempat ingat mau ngambil dompet yang ketinggalan di coffe shopnya Jun tadi siang.”
Ann menepuk jidat saat ia baru saja ingat dompetnya masih di tempat Jun. Pas makan siang tadi, Ann memang hanya delivery makanan saja dan menyantap makanannya di coffe shop Jun sambil menyempatkan diri untuk ngopi.
Setelah tiba di kantonya, Jun baru menghubunginya. Namun karena situasi kantor yang cukup sibuk dengan beragam pekerjaan, Ann menyuruh Jun menyimpannya lebih dulu dan akan mengambilnya nanti saja.
Hari ini memang sedang akhir bulan. Seluruh staff kantor benar-benar dibuat sibuk mulai pagi bahkan hingga malam tiba. Hal-hal seperti ini memang sering terjadi di saat-saat akhir bulan tiba. Biasanya kebanyakan dari mereka kadang harus lembur untuk menyelesaikan laporan bulanan sebelum pulang ke rumah.
Dan syukurnya keesokan harinya adalah hari weekend, jadi tak masalah jika harus pulang larut malam seperti ini.
“Biar aku yang bayarin aja dulu, Ann. Masa kurirnya disuruh nunggu dulu, kan kasian. Habis kerjaan kelar, baru kamu ngambil dompet di tempatnya Jun.”
“Nggak ngerepotin nih?”
“Sekali-kali nggak papa deh. Asal jangan keseringan aja. Soalnya aku nggak se-sultan kamu Ann yang bisa traktir makan tiap hari.”
Ann tersenyum mendengar cibiran temannya itu. “Dasar.”
“Ya udah sekalian bayarin punyaku juga kalau gitu.”
Dwi pun mengangguk dan segera mengeluarkan uang di dalam dompetnya untuk kemudian ia berikan kepada kurir yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu di loby kantor.
Karena hari sudah gelap lagi dan mereka belum juga ada tanda-tanda bisa pulang, jadilah Dwi dan Ann memutuskan untuk pesan makanan online saja. Selain karena tidak ingin ribet keluar masuk kantor, juga karena di depan matanya saat ini pekerjaan masih sangat menumpuk.
Jika delivery seperti ini kan, mereka bisa makan sambil kerja. Meski agak kerepotan juga sih, namun untuk sekali-kali boleh, boleh sajalah untuk mereka lakukan.
“Malam minggu besok jadi kan Ann?” tanya Dwi disela makannya.
Ann melirik temannya yang duduk berdampingan dengannya itu. Tawanya pun sempat mengembang di wajahnya sebelum menjawab.
“Jadi dong. Masa iya nggak jadi. Udah dirancang sedemikian rupa juga. Ini kan buat kebahagiaan kamu juga, Dwi. Dan semoga kali ini berhasil.”
“Ahhh baik banget sih temannya aku ini.”
“Iya dong, harus. Ann gitu loh.”
Keduanya kembali melanjutkan makanannya. Seusai menyantap makanan, mereka lanjut bekerja lagi. Dan sebelum hari makin larut, Ann dan Dwi buru-buru mengerjakan tugas kantornya agar segera selesai.
“Beneran nggak mau ditemenin ke tempat Jun, Ann?” tanya Dwi saat mereka sudah tiba di loby kantor.
Sekarang mereka sudah hendak pulang. Sebenarnya Ann mau-mau saja diantar Dwi ke tempat Jun untuk mengambil dompetnya. Namun karena sejak tadi Dwi menguap tanpa henti saking ngantuknya, Ann jadi tidak tega juga dengan temannya itu.
“Iya nggak usah Dwi. Lagian aku cuman mau nganbil dompet doang kok terus balik ke rumah. Jun juga pasti udah tutup sekarang. Paling nunggu aku ngambil dompet aja.”
“Ya udah deh, aku duluan kalau gitu. Udah ngantuk banget nih,” jawab Dwi sambil menguap lagi.
“Iya, hati-hati di jalan. Bilangin sama supir taksinya, jangan ngebut-ngebut di jalan. Sampai ketemu besok malam.”
Dwi hanya bisa mengangguk mendengar ocehan sahabatnya itu. Setelahnya ia menuju taksi dan menghilang di tengah sunyinya jalanan Ibukota malam ini.
Hanya Ann yang tersisa di depan kantor. Selepas menyaksikan Dwi pergi, ia berjalan beberapa langkah untuk menuju coffe shop Jun yang hanya berjarak beberapa meter saja dari kantornya.
Alis Ann sempat mengerut saat ia melihat ada mobil Leo terparkir di sana. “Apa hari ini Leo jemput aku. Tapi tadi bukannya aku udah ngomong kalau lagi ada urusan dulu dan nggak usah pake acara dijemput segala. Atau dia emang sengaja pengen ketemu Jun saja?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Ann tetap melangkah masuk ke dalam coffe shop milik Jun. Awalnya Ann ingin berteriak memanggil keduanya saat tiba di dalam. Namun karena samar-samar ia mampu mendengar nada bicara yang sedikit serius di depan sana, akhirnya ia memilih untuk tetap diam. Hanya langkahnya saja yang perlahan bergerak maju, meski terkesan pelan dan lambat.
“Kenapa? Kamu takut ucapanku akan melukaimu. Leo, matamu tidak bisa berbohong. Aku tahu kau masih mencintaiku kan. Aku tahu itu Leo. Apa susahnya mengakui semua itu padaku. Apakah dunia membuatmu terlalu takut untuk berbicara. Apa kau tidak kasian dengan Ann yang mencintaimu sepenuh hati tapi ternyata ia sama sekali tidak tahu bahwa suaminya ini hanya seorang lelaki yang mencintai lelaki lain.”
Kalimat-kalimat itu mampu Ann dengar dengan cukup jelas di telinganya sendiri. Apalagi ruangan kali ini benar-benar sunyi karena hanya diisi oleh mereka bertiga saja.
Antara kaget, tidak percaya dan kecewa, segalanya mendadak tercampur rata. Ann tidak tahu lagi harus berbuat apa. Yang jelas sekarang adalah, tubuhnya yang rasanya sudah hendak tumbang karena kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui sekarang.
Dengan tubuhnya yang lemah itu, tanpa terencana sebelumnya, Ann menjatuhkan ponselnya di lantai. Bahkan tasnya pun sempat jatuh karena shock.
Dan karena suara yang ia timbulkan terlalu nyaring dan nyata, jadinya kedua lelaki yang sedang bersitegang itu menoleh dan melihatnya dengan tatapan yang entahlah, Ann sendiri tidak tahu lagi mendeskripsikannya.
Mereka juga cukup kaget mungkin, tapi Ann jauh lebih kaget lagi sekarang.
Dengan cepat Ann meraih tasnya yang jatuh, lantas berlari meninggalkan tempat itu sebelum Leo berhasil menghampirinya.
Sejauh mungkin Ann berlari dengan wajah yang sudah bermandi air mata. Barulah saat ia merasakan sedikit rasa perih di tumitnya ia akhirnya segera menghentikan langkahnya dan sadar bahwa sudah terlalu jauh ia berlari.
Ann lupa jika ia sedang mengenakan high hels. Dan tak seharusnya ia berlari seperti tadi. Sebab hal itu hanya akan melukai kakinya saja, seperti yang terjadi saat ini.
Tangannya yang lemah kini melambai pelan saat ia melihat ada sebuah mobil yang hendak melintas di depannya. Sebuah taksi pun berhenti tepat di sampingnya.
“Ke jalan Fatmawati ya Pak,” jelas Ann setelah duduk di bagian kursi belakang. Kali ini tujuan Ann adalah kembali ke rumah kedua orang tuanya bukannya kembali ke apartemennya bersama Leo.
Pikirannya benar-benar kalut sekarang. Tidak ada lagi yang bisa membuatnya tenang selain terus menangis tanpa henti di tempatnya sedang duduk sekarang.
Bahkan Ann sudah tidak peduli lagi dengan supir taksi yang sejak tadi meliriknya di kaca spion. Ann tidak peduli sekitarnya. Sebab ada yang jauh lebih penting untuk dipedulikan sekarang, ‘hatinya.’
Baru saja Ann hendak menelpon bundanya, ia baru ingat kalau ponselnya juga ikut terjatuh dan ia tidak sempat lagi untuk memungutnya di lantai karena sudah terlalu terburu-buru.
Padahal Ann ingin memastikan apakah bundanya malam ini ada di rumah ataukah tidak. Apalagi sekarang sudah hampir setengah sebelas malam. Pasti bundanya akan kaget jika Ann tiba-tiba saja datang ke sana tanpa berkabar lebih dulu.
“Huhuhhuhuhh hiks hiks hiks...” tangis Ann makin pecah. Ia merasa benar-benar sial hari ini. Dalam hatinya kali ini sungguh ia menyesal telah ke tempat Jun beberapa waktu lagi. Sebab kalau saja ia tidak mendengar semuanya, pasti hidupnya malam ini akan damai-damai saja. Setidaknya untuk sementara waktu, ia bisa bernafas dengan tenang.
“Bundaa...” ucapnya lirih dengan air mata yang mengucur deras di pipinya. Mata Ann kali ini pun sudah benar-benar bengkak karena tangisnya yang tak kunjung usai juga.

Komentar Buku (68)

  • avatar
    Mikaela suryantoCeline

    Bagus banget

    20/06

      0
  • avatar
    Ir Ma

    bagus

    10/08/2025

      0
  • avatar
    PakayaFahril

    bagus

    21/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru