Jika ditanya apakah Ann puas berlibur di Jepang, maka jawabannya adalah iya, Ann sangat sangat puas berada di negeri sakura itu. Walaupun pada awalnya ia sempat mengeluh juga karena seharusnya ia berlibur ke Korea, agar setidaknya ia bisa bertemu Song Kang,sang artis idola. Namun kali ini semua persepsinya itu terpatahkan. Ia senang berada di tempat ini, terlebih di saat musim semi seperti sekarang. Dan kebahagiaan itu ia rasakan di hari keduanya berada di Jepang. Seharian berkeliling di Tokyo membuat Ann tak henti-hentinya berdecak kagum. Terlebih lagi ketika ia menikmati pemandangan di tengah danau yang ada di Chidorigafuci. Ann benar-benar sangat menikmati pemandangan yang ada di sana. Meskipun untuk bisa merasakan pemandangan indah itu, ia harus melalui berbagai drama dulu dengan Leo. “Leo, laper nih. Makan dulu yuk,” ajak Ann kepada Leo. Leo memang memilih untuk beristrahat lebih dulu sebelum kembali ke hotel, sembari melihat-lihat hasil jepretan yang ia ambil di kamera miliknya hari ini. “Leo. Bisa dengar aku bicara nggak sih. Sok sibuk banget dari tadi.” “Hmmm,” jawab Leo pada akhirnya. Hanya sekedar gumaman saja. Bahkan matanya tak sedikit pun berpaling dari kamera yang sedang dipegangnya itu. Ann yang menyadari dirinya sedang diabaikan langsung menyikut lengan lelaki itu, hingga membuat Leo berpaling dan menatapnya dengan tajam. “Apaan sih Ann.” “Lapar, Leo.” “Kamu kayak anak kecil aja. Kalau lapar ya kamu pasti tahulah harus ngapain. Bukannya ngadu sama aku.” Kesal dengan Ann yang mengganggunya, ia langsung memaki Ann tanpa pikir panjang. Setelah Ann terdiam, Leo lanjut lagi mengurus gambar-gambar yang ada di balik kamera miliknya. “Iya aku tahu kok, kalau lapar harusnya itu makan. Tapi mau makan di mana. Di sini kan nggak ada penjual makanan. Balik ke hotel juga masih lumayan jauh. Bisa mati kelaparan aku di tengah jalan, Leo.” Terdengar suara hembusan napas berat dari Leo. Kini lelaki itu meletakkan kameranya di atas kursi. Lantas mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam saku celana. “Kamu bawa ponsel kan?” tanya Leo sembari menggoyang-goyangkan ponselnya di depan Ann. Ann mengangguk cepat. “Bawa kok. Kenapa emangnya? Mau pesan go food aja. Emang di sini juga ada go food, Leo?” Mendengar kepolosan Ann barusan, Leo langsung menjitak pelan kening Ann dengan menggunakan tangannya. “Kamu emang beneran pernah sekolah di Paris kan? Kok goblok gini sih?” “Emang kamu pikir aku bohong pernah sekolah di sana.” “Siapa tahu aja kamu cuma numpang pinjam nama sekolahnya aja. Banyak kan sekarang orang-orang yang cuman beli ijazah doang.” “Enak aja.” “Kalau kamu udah biasa berada di daerah orang lain, harusnya kamu itu bisa nyesuain diri dong Ann. Paris dan Tokyo kan sama aja. Sama-sama nggak di Indonesia.” “Sama gimana. Bahasa aja beda kok.” Leo lagi-lagi menggoyang-goyangkan ponselnya di depan Ann. “Makanya ada yang namanya google translate.” “Kamu laper kan?” Ann mengangguk “Nah, kalau gitu sekarang kamu cari makanan aja. Aku tunggu di sini. Lagian aku masih kenyang banget, Ann. Dan udah nyaman di sini. Jadi, aku tungguin kamu di sini, dan kamu bebas cari makan sesuka hati kamu. Gimana?” Ann langsung menatap Leo dengan penuh selidik. Mendengar keinginan lelaki itu membuat Ann berpikir aneh-aneh. ‘Apa Leo mau ninggalin aku karena aku rewel banget. Makanya dia nyuruh aku pergi sendirian. Pasti dalihnya aja nih yang katanya nungguin di sini. Gimana kalau pas aku pergi dia malah balik hotel duluan. Terus aku gimana dong pulangnya,’ jelas Ann dalam hati. “Malah bengong. Kamu mikir aneh-aneh ya.” Tebak Leo yang kini tersenyum melihat wajah ketakutan Ann. “Ya habisnya malah di suruh jalan sendiri. Kalau aku nyasar gimana.” “Makanya ada handphone Ann. Jangan kayak orang jaman dulu gitu lah. Sekarang kan udah canggih. Mari ponselmu.” Leo menyulurkan tangannya agar Ann segera memberikan ponselnya kepada Leo. “Tunggu ya, aku share tempat makan yang enak di sekitar sini dulu.” Leo mengutak atik ponsel Ann dengan Ann yang hanya bisa mematung melihat aksi lelaki itu. “Nah sekarang kamu jalan sambil ngikutin maps. Nggak jauh kok dari tempat ini. Kalau udah makan, kamu langsung balik ke sini lagi pake maps.” Dengan penuh semangat Leo memberikan kembali ponsel milik Ann kepada sang pemilik. “Tapi,” jawab Ann merasa ragu dengan permintaan Leo. “Aku nunggu kamu di sini. Serius Ann, nggak pake bohong. Lagian masa iya aku ninggalin kamu sendirian di sini. Kamu pikir aku berani pulang sendirian di Indonesia tanpa kamu. Bisa diamuk aku sama Bunda dan Mama.” Ann tampak berpikir sebentar, menimang-nimang penjelasan Leo barusan. Sebenarnya ia agak ragu juga kepada Leo, namun karena ia tidak punya pilihan lain dan perutnya sudah keroncongan karena sejak tadi ia sibuk main sana-sini. Jadilah ia mengiyakan permintaan lelaki itu. “Tapi beneran ya, tungguin aku di sini.” “Astaga Ann. Emang kamu nggak yakin sama wajah-wajah baikku ini.” Ann berceloteh kesal dalam hatinya. ‘Baik apanya. Kalau baik, kamu pasti nemenin aku makan, Leo. Bukannya malah nyuruh pergi sendiri. Dasar suami tiri.’ “Awas ya, kalau sampai ninggalin. Aku aduin Bunda.” “Iya, sayang. Nggak bakal ninggalin.” Leo memasang wajah sok manisnya sembari mendorong Ann agar segera menjauh darinya. “Udah sana pergi.” Melihat Leo yang sepertinya sangat senang sekali karena keinginannya diikuti, membuat Ann memonyongkan bibirnya. Dengan langkah yang sedikt ragu, ia berjalan perlahan. “Kalau ada apa-apa, telepon aku ya sayang,” teriak Leo yang hanya dibalas tatapan tajam oleh Ann. “Sayang, sayang. Sayang apaan yang nyuruh istrinya pergi sendiri. Eh maksudku istri pura-pura.” Berjalan sambil berceloteh ringan dengan dirinya sendiri membuat Ann menepuk keningnya sendiri beberapa kali. Gemas dengan dirinya yang amburadul itu. “Lagian kamu Ann, kenapa pula berharap Leo bakal nemenin nyari makanan. Harusnya aku itu lebih sadar diri sedikit. Kan kita hanya sepasang suami-istri pura-pura belaka. Nggak lebih. Dan pasti juga Leo ngajakin liburan ke Jepang bukan karena dia benar-benar pengen ngajak, tapi karena terpaksa doang.” “Bisa diamuk dia sama Bunda dan Mama kalau pergi bersenang-senang tanpa aku.” “Duh Ann, sungguh malang nasibmu di negeri orang.” Ann mengitari jalan setapak yang ditunjukkan oleh ponsel miliknya. Beruntungnya sekarang sudah ada maps. Jadi untuk ke mana-mana, tidak perlu repot lagi untuk menghafal jalan lebih dulu. Senyum Ann langsung merekah ketika ia sudah tiba di depan tempat makan yang direkomendasikan Leo, atas bantuan maps. Ia menatap tempat itu yang terlihat ramai pengunjung. “Pasti enak. Jadi nggak sabar pengen cepat-cepat makan sushi.” Langkahnya kali ini kian cepat memasuki tempat makan. Perutnya yang sudah keroncongan, ditambah matanya yang kalap melihat makanan kini bersatu teguh hingga membuat Ann memesan sushi untuk porsi lima orang. Pesanan yang ia sendiri tidak yakin apakah bisa menghabiskannya ataukah tidak. “Sekarang waktunya menyantap sushi terenak yang ada di Tokyo. Selamat makan Ann. Lupain dulu perihal Leo yang menyebalkan.” Sebelum sempat menyantap makanan yang sudah tersaji di mejanya, Ann mengeluarkan ponselnya lebih dulu, memotret sushi yang sudah tertata dengan rapi dan cantik. Lalu menguploadnya di insta story miliknya. “Ke Tokyo tanpa manyantap sushi, bagaikan berjalan tanpa kaki.” Caption yang entah nyambung atau tidak, yang pasti ia senang melakukan hal-hal yang diluar dari kebiasaannya itu. Dari Ann yang cuek yang hanya kenal game dan anime, kini bertransformasi menjadi Ann yang eksis bak selegram.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
20/06
0bagus
10/08/2025
0bagus
21/06/2025
0Lihat Semua