Di lain sisi, setelah percobaan ratusan kali, akhirnya pada suatu malam Arum mau mengangkat telepon dari Viki. Ternyata memang tidak semudah itu lepas dari si brondong toxic. Pria itu keras kepala luar biasa. Pria itu mengatakan dia ada di depan rumah Arum dan tidak akan pergi sebelum wanita itu menemuinya. Sangat terpaksa karena tidak ingin mamanya tahu, Arum diam-diam menemui Viki di luar rumahnya. "Arum, tolong maafin aku," Viki akhirnya bisa bicara pada Arum. "Hmh, aku udah dari lama maafin kamu Viki… tapi kenapa kamu terus ganggu aku? Kamu harusnya fokus sama Elsa dan bayinya. Aku udah enggak mau ada urusan lagi sama kalian! Apa kamu enggak bisa ngerti juga mau aku, Vik?" Arum mencoba bersabar sebisa mungkin menekan suaranya. "Ya karena aku masih berharap bisa balikan sama kamu, Arum. Aku udah bilang puluhan kali kan," kata Viki lagi berusaha meraih wanita itu. "Aku juga udah bilang puluhan kali kalo aku enggak mau, Vik! Kamu enggak seharusnya kaya gini!" Arum mencoba tenang. "Ya udah, aku enggak akan maksa. Aku juga sebenernya dateng buat bilang kalo aku bakal nikahin Elsa minggu depan, tapi cuman sampe dia ngelahirin bayi itu, setelah itu aku bakal cerai sama dia," Viki menjelaskan. "Maksudnya? Kaya nikah kontrak gitu?" tanya Arum. "Ya semacam itu lah. Enggak ada perjanjian tertulis, tapi ya dia udah setuju sama keputusanku. Termasuk bayi itu juga nantinya bakal tinggal di rumah sama bapak ibu," Viki melanjutkan. "Astaga, Viki! Enggak ngerti lagi aku. Gila kamu, Vik, gila!" hanya itu yang bisa Arum katakan. "Ya mau dipaksa gimanapun juga aku enggak bakal bisa cinta sama dia, Arum. Lagian bapak ibu juga kayanya enggak begitu suka sama Elsa," Viki coba mencari alasan. Sebenarnya bisa saja Arum menyerangnya lagi dengan argumennya, tapi dia sudah tidak ingin mendengar apapun lagi dari mantan pacarnya itu. "Ya terserah kamu, Vik. Aku udah enggak ada urusan sama kalian berdua! Mau kalian nikah ato enggak sama dia aku enggak peduli asal kalian enggak ganggu aku lagi. Aku enggak tahu kenapa kayanya kalian masih suka bawa-bawa aku di kehidupan kalian. Klop banget kalian sama-sama suka ngancem. Satunya ngancem mau datang ke rumah dan laporan ke mama aku. Satunya ngancem mau bunuh diri. Capek banget aku asli!" Arum mulai menyuarakan kekecewaannya. "Dia masih suka hubungin kamu juga? Ya… kemaren dia emang udah coba bunuh diri. Minum obat pel di kosnya," jawab Viki singkat. "Hah! Beneran? Terus gimana?" tanya Arum penasaran juga karena itu menyangkut nyawa seseorang. "Ya beneran… tapi berhasil ketolong kok. Dia sama bayinya baik-baik aja," Viki terlihat santai. "Untung dia sama bayinya masih selamat, Vik! Coba kalo enggak? Berapa banyak dosa yang harus kamu tanggung?" tanya Arum pada Viki yang jelas sekali tak peduli. "Ya udahlah, dosa aku ya urusan aku sama Tuhan. Aku kesini intinya cuman mau bilang, kamu udah tahu kan rencana aku ke depan sama Elsa kaya apa, jadi aku pengen kamu balik sama aku, Arum," ternyata Viki belum berhenti berusaha. "Aku bukan prioritasmu sekarang, Viki! Tolong biarin aku bahagia!" Arum tentu saja emosi mendengar permintaan Viki yang tidak masuk akal. "Ya terserah kamu, tapi kamu enggak bisa mengelak fakta kalo cuman aku yang bisa bikin kamu bahagia dan aku enggak akan berhenti berusaha buat kamu balik sama aku!" Viki terdengar arogan. "Begitu pun juga aku yang enggak akan berhenti untuk bilang aku enggak mau, Viki!" Arum bicara lagi dan memilih untuk masuk ke dalam rumahnya. Arum tentu saja sangat kesal. Bagaimana mungkin Viki terus saja memintanya kembali padahal jelas-jelas dia akan menikah dengan perempuan lain minggu depan. Luar biasa ya jalan hidup bener-bener kasih banyak banget kejutan. Dulu aku khawatir banget kalo orang-orang bakal anggap Viki pebinor. Nah sekarang kalo seandainya Viki nikah terus aku mau balikan sama dia, apa enggak aku yang disebut pelakor sama orang-orang? Arum pikir semuanya akan usai malam itu, tapi ternyata tidak. Viki justru semakin sering menghubunginya semakin dekat dengan hari pernikahannya. Pria itu bahkan semakin gila mengajaknya pergi hari ini. Dia sudah tidak sungkan lagi menunggunya di depan pintu keluar kantor mereka. Viki memastikan bahwa wanita itu tidak akan lari darinya. "Plis kamu temenin aku. Aku bener-bener capek di rumah. Setiap hari ngelihat orang tua kayanya repot banget ngurusin pernikahanku sama Elsa. Bikin aku sadar kalo pernikahan itu makin lama makin deket dan aku makin males. Kadang aku mikir pengen kabur aja dari pada harus nikah sama dia," ucap Viki sore itu di halaman parkir kantor mereka. Jadilah mereka berdua sedang berada di mobil Viki berkendara entah kemana. Kurang dua hari pernikahannya, Viki justru mengajak sang mantan kekasih untuk pergi bersama. Arum memperhatikan begitu banyak mata yang melihat keduanya bersama dan sangat terpaksa Arum menyetujuinya. Dia tidak mau rumor-rumor baru bermunculan dan juga tidak ingin pria ini mulai mengeluarkan ancaman-ancaman terbarunya. "Kamu tuh dua hari lagi nikah loh, Vik! Jangan kaya gini!" Arum coba mengingatkan. "Masih sulit buat aku percaya kalo lusa aku bakal nikah sama perempuan itu," Viki merespon dengan kemudi di tangannya. "Ya mau engggak mau kamu harus hadapin ini, Viki! Dari sini juga aku bisa menilai kamu itu laki-laki kaya apa. Hm, persiapannya udah selesai semua?" tanya Arum hati-hati. "Ya aku enggak ngerti. Aku tahunya akad nikah di rumah dia. Cuman keluarga inti aku sama dia aja paling beberapa saksi. Setelah itu setau aku ya udah enggak ada apa-apa," penjelasan singkat pria itu. "Terus akad kamu udah siap? Ijabnya udah tau kan?" tanya Arum berbaik hati memastikan pernikahan mantan kekasihnya ini bisa berjalan lancar. "Ya gampang, kan baca juga bisa. Boro-boro bacaan akad nikah, baju aja aku enggak nyiapin kok," jawab Viki asal masih membelokkan setir mobilnya. "Lah gimana sih? Kamu enggak nyiapin baju buat akad? Terus kamu mau pake baju apa?" tanya Arum merasa iba juga terutama pada Elsa. "Enggak lah buat apaan? Ngapain repot-repot dandan rapi? Nanti dia malah GR lagi!" jawab Viki arogan. "Mau aku temenin beli baju enggak untuk akad nikah? Ya biar kamu bisa kelihatan lebih rapi gitu," ajak Arum tulus. "Ah, enggak usah enggak perlu!" jawab Viki singkat tentu Arum tak berani membalas ucapannya. Entah kemana tujuan mereka tapi ini jelas sudah kedua kalinya Viki berputar di sini. Area yang dekat dengan rumah Arum sebenarnya. Sudah hampir satu jam mereka berada di atas roda berjalan tanpa tujuan. "Kenapa masih puter-puter terus sih di sini? Anterin aku pulang!" kata Arum. Viki memilih untuk menarik tangan kanan Arum masih sambil menyetir walau cepat wanita itu menghardiknya. "Nanti kalo misal semua urusan aku sama Elsa udah selesai, kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Viki lagi penuh harap menatap Arum. Tentu saja pertanyaan itu membuat Arum tidak habis pikir. Entah apa pria di sisinya ini memang gila atau bodoh, dia tidak mengerti. Walau matanya masih terus melihat lurus ke jalanan di depannya, hati Arum bergemuruh tidak karuan. Entah begitu emosi, namun juga iba, bagaimanapun dia akui dia masih cinta. Dia juga tentu saja masih memikirkan Elsa dan bayinya. "Aku belum tahu mau jawab apa. Kita lihat aja nanti setelah kamu nikah. Ya bukan enggak mungkin kamu bisa cinta beneran sama Elsa. Kan gimanapun dia istri kamu yang sah. Aku enggak mau nanti jadi pelakor di hubungan kalian!" jelas Arum dengan kedua tangan bersilang di depan dadanya. "Iya itu jelas enggak mungkin! Aku enggak akan mau tinggal satu atap sama dia. Bayi itu juga bakalan tinggal sama ibuk kan," Viki begitu yakin dengan tekadnya. "Hm, ya terserah kamu aja, tapi jawaban aku juga enggak akan berubah untuk saat ini.” Akhirnya Arum tiba juga di rumah setelah memaksa minta diantar pulang dan Viki pun mengalah. Tiba di kamar Arum merasa begitu letih baik hati dan pikirannya. Meletakkan tas ransel kesayangannya dan melepas jaket yang membalut tubuhnya. Dia sudah berusaha keras untuk menghindar selama ini dengan mengacuhkan telepon atau pesannya, tapi ternyata mantannya itu jauh lebih keras kepala dari dirinya. Bahkan kini menjebaknya dengan ajakan pernikahan entah yang sudah keberapa kali. Hari H pernikahan. Elsa bersiap di kamarnya. Mengenakan kebaya warna putih sederhana dengan rambut di sanggul. Hanya sang ibu yang menemani dengan raut wajah penuh kesedihan yang tidak bisa ditutupi. Tentu saja orang tua Elsa tahu apa yang terjadi walau hanya di permukaan. Mengetahui fakta bahwa anaknya hamil di luar nikah saja sudah menyesakkan dada, Apalagi kenyataan bahwa hubungan Elsa dan calon suaminya sama sekali tidak baik. Di lain sisi, orang tua Elsa sangat bersyukur karena paling tidak anak mereka akan segera menikah. Menjadi pembicaraan tetangga itu sudah pasti. Aneh tentu saja karena tradisi kampung mereka yang menyelenggarakan pesta pernikahan besar-besaran adalah hal yang sangat wajar. Berbeda dengan pernikahan Elsa yang justru sangat amat sederhana padahal diketahui Elsa juga bekerja jauh ke kota. Elsa sendiri merasa malu juga kasihan pada kedua orangtuanya, tapi toh nasi sudah menjadi bubur. Paling penting baginya adalah bayi juga suami yang sesaat lagi akan menikahinya. Suasana mulai riuh. Mobil keluarga Viki tampak berhenti di depan halaman yang berbatu itu. Bagaimanapun ini membuat hati Elsa berdebar. Dia akan menikah dengan seseorang yang sangat dia cintai. Di lain sisi, Viki rasanya ingin menghilang saja. Benar-benar mewujudkan perkataannya pada Arum dua hari lalu. Hanya mengenakan celana jins dan kaos berkerah di hari yang seharusnya spesial itu. Sang ibu yang berdiri di ambang pintu mobil bahkan berulang kali memintanya turun dari mobil karena pria tak kunjung bergerak. Sang bapak turun tangan bahkan menarik tangannya pelan tapi pasti sehingga Viki tidak bisa berkutik. Tidak bisa lagi menolak atau mengelak, pernikahannya sudah di depan mata. Mungkin wajah Viki adalah wajah calon pengantin paling tidak bahagia di dunia ini. Orangtuanya berusaha tersenyum menggandeng lengan di kanan dan kiri. Tanpa basa-basi langsung masuk dan duduk saja di depan penghulu. Membuat bisik-bisik tetangga semakin terdengar jelas. Seolah-olah membenarkan rumor yang memang sudah beredar tapi toh Viki tidak peduli. Proses ijab pun dimulai, “saya terima nikahnya Elsa Tri Megasari dengan mas kawin tersebut tunai." Semua pihak mengatakan sah. Lantunan doa menjadi penguat suasana. Pengantin wanita yang mendengarnya dari dalam kamar mengucap syukur. Berjalan keluar kamar dituntun oleh sang kakak untuk menemui sang suami sah yang seharusnya menyambutnya dan dia akan mencium punggung tangannya sebagai seorang istri. Siapa sangka Elsa harus menelan pil pahit bahkan di hari akad nikahnya. Viki terlihat bangkit dan berbicara pada sang bapak lalu pergi dari rumahnya. Ya, Viki memilih untuk langsung pulang setelah ijab diucapkan. Tanpa cium tangan ataupun foto-foto kenangan. Sakit sekali hatinya tapi Elsa berusaha kuat dan tersenyum di depan keluarganya. Tanpa bicara, Elsa memilih kembali ke kamarnya. Sang ibu memutuskan untuk menyusulnya beberapa langkah di belakangnya. "Aku istirahat dulu ya, Buk. Aku enggak mau ketemu sapa-sapa dulu. Nanti kalo ada yang tanya bilang aja aku capek," katanya cepat sebelum sang ibu bicara. "Iya sudah, Nak. Kamu istirahat dulu. Kasian bayi kamu," kata sang ibu tentu saja merasa miris. Hari ini adalah hari pertamanya bertemu dengan menantunya itu. Siapa sangka pertemuan itu sama sekali tidak memberikan kesan yang baik. Viki hanya menyalaminya sekali saat datang itupun tak tersenyum. Heran sebenarnya kenapa sang putri bisa jatuh cinta pada pria seperti itu. Kalau memang menantunya tak cinta, bagaimana bayi itu bisa hadir. Ya paling tidak begitulah pikiran kolot sang ibu. Keterlaluan banget kamu, Vik! Kamu boleh memperlakukan aku sesuka kamu, tapi kamu keterlaluan karena udah tega buat orang tua aku malu! Elsa memang sudah tak peduli pada sikap Viki padanya, tapi ini menyangkut orangtuanya. Tentu saja dia sebenarnya sangat marah dan kecewa walau dia tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya hanya bisa menangis di kamarnya bersama kandungan yang kini sudah berusia lima bulan. Mengelus sayang perut yang sudah sedikit mengembang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
19/07/2025
0sangat bagus
11/06/2025
0baguss
01/06/2025
0Lihat Semua