Arum sudah protes ke Rizki karena memberikan nomornya tanpa ijin ke Awan. Pria yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu justru tertawa terbahak saat dia mengatakan bahwa Awan menyatakan cinta padanya. Rizki justru berpesan agar dirinya harus menjaga perasaan Awan dengan baik karena menurutnya pria itu baik dan juga terlalu polos. Arum kesal juga, padahal posisinya saat ini Awan lah yang sudah memiliki istri dan anak, kenapa dia yang harus menjaga hati? Setelah perkenalan mereka, Awan akhirnya mengajak Arum bertemu untuk kedua kalinya. Awan sebenarnya ingin menjemput di kantor, tapi dengan 1001 alasan Arum berhasil meyakinkannya untuk langsung bertemu di sebuah kafe di dekat kantor Arum. Jadi disinilah mereka sore itu duduk berhadapan di lantai dua sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Jujur saja kalau urusan penampilan, dibandingkan dengan Viki, Awan bisa terbilang sangat ketinggalan jaman. Jaketnya terlihat sudah lama bahkan warnanya memudar sedangkan sepatunya hampir tidak bisa digunakan karena kerusakan di sana sini. "Kenapa?" Awan mengamati cepat penampilannya sendiri. “Ah, enggak apa-apa kok.” senyum singkat Arum. "Aku paham kok kayanya. Ya sorry ya. Aku emang kerja di bank, tapi kan cuman teknisi IT. Penampilanku ya emang kaya gini karena kan enggak harus ketemu nasabah juga kan? Hehehe." jelasnya tiba-tiba. "Ya ya… aku ngerti kok!" Arum memang melihat bukan karena penampilannya terlihat jadul tapi lebih kepada kurang layak. "Jaket ini aku punya sejak kuliah loh. Jadi mungkin umurnya udah 10 tahunan? Enggak tau deh aku sendiri udah lupa. Makanya maklum kalo buluk gini," Awan mengusap lengan jaketnya sendiri. "10 tahun? Lama banget udah seumuran anak SD aja!" respon Arum sekenanya. "Ya jaket ini juga udah terlalu banyak kenangannya. Dia yang nemenin aku kemana-mana mulai dari masih mahasiswa, terus lulus kuliah dan cari kerjaan, sampe sekarang ya ini. Lagipula juga jaket ini masih bisa dipake kok." Awan jadi setengah bernostalgia. Makanan pun tiba dan mereka sibuk dengan piring masing-masing walau sesekali Arum masih mencuri pandang pada Awan dan penampilan lusuhnya. Serius Arum benar-benar ingin bertanya. "Tapi kalo sepatu kenapa enggak ganti juga? Bukannya enggak nyaman kerja pake sepatu kaya gitu?" sedikit melirik ke arah sepatu yang Awan gunakan. "Hehe. Iya gimana lagi. Enggak ada yg beliin," jawab Awan enteng. "Ya beli dong ah! Kan kamu juga kerja ada duit!" Arum terus saja mencercanya. "Ya gimana ya, kalo gajian tuh aku langsung kirim untuk istri sama orang tua aku. Aku ya pegang hanya untuk hidup di kos aja. Gimana bisa ada uang buat belanja kaya gitu," jawab Awan terlalu jujur lagi-lagi membuat Arum hampir emosi. "Ya kan kamu bisa minta tolong istri kamu buat bantu belanjain! Buat bantu pilihin baju atau sepatu. Ato kalo mager kamu bisa beli online gitu kek pilihan juga banyak. Ya masa gitu aja enggak bisa sih?" Arum lama-lama kesal juga. "Ya buat aku enggak bisa Arum. Aku kan udah pernah cerita sama kamu ngobrol sama istri aja enggak pernah apalagi minta ditemenin belanja. Nih ya, pas aku lagi ke pulang ke Gresik terus misal aku ajak mereka jalan gitu ya, istri aku pasti nolak. Dia bilang sibuk sama kerjaan kantor dan akhirnya pasti nyuruh aku jalan berdua sama Athir aja. Belanja sendiri juga aku enggak terlalu ngerti. Hehehe," Awan menjelaskan semuanya seperti tanpa beban. “Terus kenapa cuman makan mi instan doang? Enggak bisa juga beli makanan yang lebih layak? Enggak bisa beli atau titip ke temen? Sorry bukannya aku mau nyinyir, tapi kaya enggak masuk akal aja gitu!” Arum iba tapi juga kesal. "Ya mi instan kan irit, enggak ribet juga bikinnya, aku juga enggak repot harus keluar kos. Nih kalo kamu enggak percaya, ini aku lima tahun lalu waktu rekreasi kantor," Awan menunjukkan fotonya yang memang sedikit tambun. Ala bapak-bapak pada umumnya walau juga tidak terlalu gemuk. Nampak tertawa senang dan sehat di foto itu. "Kamu emang keterlaluan deh! Sebenernya kamu nih hidup di mana sih? Kamu nih di Malang loh… semua serba ada dan lengkap, tapi modelannya udah kaya manusia gua aja enggak pernah ini, enggak bisa gitu! Bahkan kamu enggak bisa jaga diri kamu sendiri untuk makan makanan yang layak. Mi instan kalo kebanyakan juga enggak akan sehat!" Arum melihat tampilan Awan yang kini jauh lebih kurus dan mukanya sangat tirus. Dia sungguh tak percaya mereka nampak seperti dua orang yang berbeda. Awan hanya tertawa saja. "Terakhir kali aku pulang ke rumah orangtuaku, ibu aku sampe nangis liat aku berubah sampe kaya gini. Aku bilangnya sih sama mereka ya aku kurus karena emang aku males makan aja di kos. Cuman kayanya namanya ibu pasti bisa ngerasain kalo anaknya ini enggak baik-baik aja," Air muka Awan seketika berubah membuat Arum jadi ikut prihatin. "Tapi… hubungan istri sama orang tua kamu baik-baik aja kan?" Arum menyesali pertanyaannya sendiri yang terlalu kepo dengan kehidupan pribadi Awan. "Ya baik sih. Gimana enggak baik lah istri aku aja jarang banget pulang ke rumah orang tua aku. Tiga bulan sekali aja belum tentu. Mau aja syukur deh seringnya dia ya nolak. Kalopun pulang itu juga dia uring-uringan karena rumahku itu di desa dan dia pasti enggak dapet sinyal." "Haduuh. Pelik banget sih hidupmu itu ya. Udah kaya sinetron banget. Cuman kalo di TV tuh judulnya Istri yang Tersakiti. Lah kalo ini kebalik jadi Suami yang Tersakiti," Arum berusaha mencairkan suasana. “Ya aku minta maaf deh. Aku tahu pasti sulit kan buat percaya semua cerita aku? Kamu juga pasti heran kok bisa ada laki-laki kaya aku? Tapi ya ini buktinya ada di depan kamu,” ucap Awan. "Aku enggak paham banget sama kamu dan kehidupan rumah tangga model begitu!" makanan mereka perlahan tak bersisa bertepatan dengan sebuah pesan yang masuk di ponselnya, Viki. Menanyakan apa yang sedang Arum lakukan dan ya dia jawab sekenanya daripada brondong ini marah-marah padanya. "Hahaha. Ada-ada aja sih kamu, Arum. Ngomong-ngomong makasih ya kamu mau jalan sama aku. Ternyata emang aku bisa terhibur banget ngobrol sama kamu," ucap Awan tulus. "Iya sama-sama. Ya nanti-nanti kalo mau makan lagi dan enggak ada temen, ya aku bisa nemenin kok. Ato kalo kamu butuh temen buat belanja baju sama sepatu ato apapun aku juga bisa," Arum berusaha menghibur dengan senyuman manisnya. Arum masih sesekali membalas pesan Viki walau dia berusaha sebaik mungkin menanggapi cerita Awan. Tentu saja lama-lama hal itu menarik perhatian Awan, tapi dia diam saja karena ya bisa saja itu urusan kantor atau temannya yang lain, toh dia juga bukan siapa-siapa Arum. Malam berakhir saat Awan memaksa mengantar Arum pulang apalagi wanita itu tidak membawa kendaraan. Arum yang sudah berada di kamarnya malam ini entah kenapa sedikit merasa bahagia. Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, tubuhnya terasa segar dan dia segera berbaring. Jelly yang memang sudah berada di kamarnya dari tadi tampak santai berbaring di sampingnya sambil membersihkan tubuhnya sendiri. Arum tersenyum lagi mengingat sedikit pertemuannya tadi dengan Awan. Pria yang jelas memberi angin segar padanya dari sikap buruk yang dia terima dari Viki. Cukup terkejut juga tadi karena saat Awan menawarinya pulang, bukan motor butut sesuai ekspektasi Arum yang akan membawa mereka pulang, tapi sebuah mobil SUV sebuah brand mobil ternama dari Jepang berwarna putih yang terparkir di sana. Terlihat masih baru karena mobilnya masih bersih dan kinclong juga dari apa yang tertulis di plat mobilnya. Sangat jomplang dengan penampilannya membuat Arum bertanya-tanya. "Jadi kamu tuh penampilan kaya gitu supaya bisa punya tunggangan kaya gini?" Arum bercanda. "Hahahaha. Enggak lah, Arum. Ini bapak aku yang kasih. Katanya pengen kasih sesuatu buat aku supaya bisa dipake sama keluarga. Makanya aku sayang banget sama mobil ini dan aku janji enggak bakal jual mobil ini sampe kapanpun! Dan lagi-lagi kamu cewek pertama yang naik mobil aku selain keluarga aku,” Awan tersenyum manis. Arum hanya mengangguk saja sedikit tersipu. Dia sebenarnya juga bukan tipe wanita yang mempermasalahkan kendaraan apalagi kondisi ekonomi orang lain. Toh baginya selama seseorang itu baik, dia tidak akan ragu untuk berteman. Awan juga sejauh ini tampaknya baik dan jelas jujur. Mungkin terlalu jujur karena dia sama sekali tidak pernah berusaha menyembunyikan apapun darinya. Masa sih istrinya memperlakukan dia seburuk itu? Arum jujur tidak percaya pada satu sisi. Apakah sikap Awan seburuk itu pada istrinya hingga sang istri memilih untuk acuh? Tentu sikap buruk yang dia maksud bukan ringan tangan atau berkata kasar macam Viki, tapi sikap buruk karena tampaknya Awan sosok yang cukup kaku dan kurang tahu cara memperlakukan wanita dengan baik. Mungkin saja dia kurang menunjukkan perhatian atau apresiasi pada sang istri. Kenapa aku jadi sibuk ngurusin rumah tangga orang lain sih? Orang kehidupan percintaan aku aja buruk kaya gini! Arum masih sibuk dengan ponselnya. Berselancar di e-commerce langganannya. Melihat-lihat sepatu kets yang cocok untuk dipakai bekerja. Kali ini untuk Awan dan bukan dirinya. Ya, dia bertekad ingin membeli sepasang sepatu untuknya. Tadi saat di kafe, Awan meminta ijin untuk sholat. Saat Awan pergi, Arum yang tak tahan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi sebentar dan tidak sengaja melihat sepatu Awan tergeletak di depan musholla. Arum iseng mengecek ukurannya setelah memastikan Awan tidak melihat. Serius aku mau beliin sepatu buat suami orang? Udah mulai gla juga kayanya aku! Kata 'suami orang' entah sudah berapa kali dia ucapkan. Arum ingin dengan jelas memberi batasan pada hubungannya dan Awan meskipun terang-terangan pria itu sudah mengaku suka padanya. Tidak mungkin dia akan membiarkan Awan menceraikan istri dan mengorbankan anaknya demi dirinya. Dan semakin tidak mungkin juga kalau misal Awan ingin menjadikannya yang kedua. Arum tidak mau. Anggap aja ini ungkapan terima kasih karena tadi dia udah ngajak makan. Akhirnya Arum tetap memilih sepasang sepatu kets dengan dominan warna hitam untuk Awan dan membelinya. Lalu Arum masih sibuk berselancar di ponselnya dan kali ini membuka Whatsapp dan melihat story orang lain di sana. Salah satu yang menangkap matanya adalah Elsa. Dia sudah hamil enam bulan sekarang tanpa suami yang menemaninya. "Pegel, pengen banget ada yang mijetin." "Nendang-nendang terus si adek. Pengen di elus ya?" "Kok tiba-tiba pengen makan pencit ya?" Dan masih banyak status lainnya yang serupa. Arum memang belum pernah mengandung apalagi melahirkan, tapi Arum tahu bagaimana butuhnya seorang istri pada suami di saat-saat seperti ini. Anak pertama dari pria yang sangat dicintai tapi tidak mencintainya kembali. Hanya bisa berharap suatu saat dia akan berubah dan menerima dia juga bayinya. Walau Elsa tentu saja masih sangat membencinya dan tidak pernah berhenti mengiriminya pesan lagi-lagi untuk menjauhi Viki. Kalau dia bisa toh dia akan melakukannya, tapi sepertinya Viki yang tidak ingin melepaskannya. Kasihan banget sih Elsa. Walopun dia ngeselin, tapi dia pantas untuk dapet yang lebih baik.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
19/07/2025
0sangat bagus
11/06/2025
0baguss
01/06/2025
0Lihat Semua