Keesokan harinya Arum masih beraktifitas normal meskipun tidak dengan kondisi hatinya. Dia tahu Viki sudah resmi menikah sekarang. Membuatnya sedikit sedih karena bahkan setelah pasang surut kehidupannya bersama si brondong toxic, masih belum ada yang tahu tentang kisah cinta antara keduanya. Tidak bisa dipungkiri, kadang dia butuh teman untuk bicara atau teman untuk menyandarkan kepala. Arum terus menjadi pribadi yang begitu bersemangat dalam bekerja dan ceria dalam kesehariannya. Beberapa hari belakangan untungnya Arum dan rekannya yang lain masih sibuk dengan kompetisi futsal antar bank dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan RI yang kebetulan diselenggarakan oleh bank mereka, Bank Gemilang. "Nanti sore ada pertandingan futsal lagi loh. Siapa yang bisa nemenin aku?" Rizki mulai bertanya. Para karyawan wanita yang sudah berkeluarga dan semua sibuk dengan suami dan anaknya masing-masing memilih diam, artinya mereka tidak akan turut serta. Sedangkan Tri yang sudah beberapa hari ini menemani Rizki juga pura-pura tak dengar, bagaimanapun harusnya agenda ini seharusnya ditangani bergantian. "Ya udah aku aja," Arum mengajukan diri. "Siiip lah kalo gitu. Hehehe. Nanti jam 3 cus otw ya?" Rizki memastikan. "Iya siap. Pokoknya anterin pulang habis itu loh ya," kata Arum. "Iya iya, bereees…" jawab Rizki lagi mengacungkan jempolnya. Mereka meninggalkan kantor menggunakan mobil kantor tepat waktu sore itu. Arum dengan sepatu kets dan tas ransel kesayangannya sudah menenteng satu karton air mineral masuk ke dalam lapangan futsal yang sudah disewa itu. Hari ini ada dua pertandingan yang salah satunya adalah karyawan bank mereka yang akan melawan karyawan dari Bank Adi Kuasa. Fokus melihat ke arah lapangan, Arum tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah membungkuk membenahi tali sepatu di depannya dengan kardus air mineral yang dibawanya. "Aduh!" sebuah suara terdengar. "Ya ampun, maaf maaf enggak sengaja!" kata Arum otomatis menengok ke arah orang tersebut. "Kalo jalan hati-hati dong, Mbak!” sang pria itu mengelus kepalanya yang sakit. "Ya kan saya juga enggak sengaja, Mas. Saya juga udah minta maaf ini," Arum malah ikut marah memilih pergi meninggalkan pria itu. "Lah gimana sih kok malah langsung pergi? Dia yang nabrak kok dia yang marah? Aneh banget!" seru sang pria memandang punggung Arum yang menjauh. Arum menuju ke sebuah meja yang memang sengaja disiapkan untuk meletakkan air mineral dan beberapa makanan oleh panitia. Rizki memang sedikit terlambat karena dia harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan mengambil beberapa makanan di bagasi. "Udah mulai?" tanya Rizki tepat setelah meletakkan bawaannya di meja. "Heem." Arum memilih duduk di kursi dekat meja yang sama. Fokus saja mereka pada pertandingan antara karyawan bank mereka melawan Bank Adi Kuasa. Arum juga melihat pria yang tadi ditabraknya ikut bermain juga dalam pertandingan itu walau sepertinya tak terlalu mahir dan segera diganti pemain lainnya. Beberapa kali juga rekan-rekan mereka di kantor berlalu lalang dan menyapa. "Rizki?" panggil sebuah suara. "Ah hei," sapa Rizki juga menjabat tangan sang lawan bicara. "Kok disini? Tanding juga?" tanya suara tadi membalasnya dengan tepukan "Enggak sih, aku panitia," senyum Rizki singkat. "Owh kamu kerja di Gemilang?" "Iya. Kamu sendiri di Adi Guna?" "Iya. Aku IT di Adi Guna." "Aku itu dari tadi udah liat kamu. Pantes kok kaya familiar gitu. Cuman enggak terlalu yakin. Fokus sama pertandingan juga," Rizki yang sudah mengenali pria di hadapannya ini. "Hahaha iya nih. Udah banyak berubah lah ya dari sekolah dulu. Udah makin tua.” "Hahaha. Sama aja dong kalo itu, tapi yang penting kan makin happy." "Hahaha, iya harus itu. Ngomong-ngomong gimana kabar kamu Rizki? Anak udah berapa?" "Aku baik kok. Anak aku udah satu. Kamu sendiri gimana, Wan?" "Baik juga lah nih sehat gini. Hahaha," pria yang ternyata bernama Awan itu menjawab. "Itu temen kamu?" tanya Awan yang menyisir pandangannya dan melihat Arum seorang diri dengan posisi sedikit berjarak. "Heem, temen kantor di HRD. Kenapa?" tanya Rizki. "Enggak apa-apa sih. Tadi enggak sengaja dia nabrak aku pake sekarton air mineral. Lumayan kan kepala berasa agak pusing, eh tapi galak bener dianya. Malah dia yang marah-marah sama aku," cerita Awan lagi sedikit berbisik memastikan Arum tidak mendengarnya. "Hahaha. Arum emang gitu orangnya. Suka ceplas ceplos kalo ngomong, tapi baik kok sebenernya," jawab Rizki tak kalah pelan suaranya. Awan hanya mengangguk saja dengan tatapan yang masih lekat pada sosok teman dari temannya itu. "Kenapa? Mau dikenalin?" tanya Rizki sedikit tersenyum. "Eh? Enggak enggak, aku cuman ta-" "Arum, ini kenalin temenku. Tadi katanya kamu gak sengaja nabrak," Arum otomatis menoleh dan melihat pria di belakangnya itu. "Owh halo, saya Awan," akhirnya menawarkan jabatan tangan karena sudah kepalang tanggung. "Owh iya, Arum. Maaf yang tadi ya," jawabnya singkat mengira pria itu masih marah. "Dia temenku sekolah. Sekarang kerja di Gemilang," kenal Rizki lagi. "Owh gitu. Iya iya ok," jawab Arum singkat karena dia masih begitu menikmati pertandingan di depannya. Awan kembali menatap Rizki dan ke arah Arum bergantian. "Kenapa sih? Kan udah dikenalin? Apa kamu mau nomor teleponnya sekarang?" Rizki sebenarnya hanya bercanda saja. Dia memang tidak tahu apa Awan sudah berkeluarga atau belum, tapi yang jelas dia tahu kalau Arum sekarang janda. "Hah? Hehehehe. Ya boleh. Ya siapa tahu kan nanti ada info-info lowongan atau kegiatan apa gitu," Awan basa basi. "Halah… alasanmu basi!" Rizki mengeluarkan teleponnya dan menunjukkan nomor Arum padanya. "Catet nomorku sekalian! Minta nomer Arum doang, malah nomerku kamu enggak punya!" Rizki pura-pura tersinggung tapi dia tahu temannya itu tertarik pada Arum. "Iya pasti lah itu. Hehehe," Awan nampak kikuk. Bukan tanpa alasan Rizki dengan santai memberi nomor telepon rekannya itu. Dia tahu rekannya ini punya relasi yang luas dan selama diberikan kepada orang yang tepat, dia juga tak akan pernah keberatan. Memang seperti itulah pekerjaan mereka karena membangun komunikasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang sangat penting. Lagian Awan juga bukan orang asing bagi Rizki dan dia tahu seperti apa pria itu. Ya itulah Guntur Awan Jaelani. Seorang pria dengan perawakan tinggi kurus dangan kumis dan janggut tipis menghiasi wajahnya. Pria berpenampilan sangat sederhana yang sudah beristri dengan satu orang anak yang merantau ke Kota Malang untuk bekerja. Istri dan anak laki-lakinya tinggal di Kota Gresik di rumah 23orang tua sang istri. Istrinya juga sosok guru pekerja keras. Lagi-lagi seseorang dengan hubungan jarak jauh yang hanya bisa bertemu keluarganya satu hingga dua kali dalam sebulan. Kehidupan yang tampak sempurna, siapa sangka akan hancur hanya karena satu nama. Hari di mana dia mengikuti pertandingan bola, hari dimana dia tidak sengaja tertabrak olehnya. Walau sebenarnya akalnya tak bisa percaya, walau hatinya mencoba tak terbawa. Hanya butuh 10 menit di sore hari itu untuk Awan menyadari bahwa dia sudah jatuh saat itu juga pada pesona seorang Arum. Dia ingin sekali mencoba untuk lebih dekat dengan Arum. Bahkan bayangan tentang wanita itu terus terbawa hingga ke kamar kosnya. Arum memang sedikit kaget karena Awan, pria yang dia temui di lapangan futsal seminggu lalu mengirim pesan padanya. Pria itu jujur tentang dari mana dia mendapatkan nomornya. Dia toh juga sepertinya pria yang baik. Mengirim pesan beberapa kali untuk saling mengenal satu sama lain. Perkenalan sederhana seperti pengalaman sekolah, kampus, tempat tinggal, juga pekerjaan. Bahkan mereka cukup terkejut karena ternyata sekolah Awan berseberangan dengan rumah nenek Arum di Gresik. Tentu saja sedikit berandai-andai kalau mereka bertemu saat itu. Fakta lain yang membuatnya terkejut adalah karena Awan sudah memiliki istri dan satu orang anak yang tinggal di Gresik. Arum pikir tidak ada salahnya tetap menjalin komunikasi yang baik karena toh sejauh ini komunikasi berjalan sewajarnya saja. Hingga malam ini saat akhirnya Awan berani mengunjungi Arum di rumahnya dengan pengakuan yang membuat Arum jauh lebih terkejut. "Mohon maaf aku ganggu kamu malam-malam begini," sapa Awan yang sudah duduk di teras rumah Arum. "Iya enggak apa-apa kok. Ada apa?" tanya Arum sekenanya yang juga duduk di kursi lainnya. "Hm… jadi aku tuh sebenernya mau ngomong sesuatu sama kamu," entah kenapa suara Awan berubah serius. "Apaan tuh?" tanya Arum santai. "Ya aku tau mungkin ini semua kesannya terlalu mendadak ya. Apalagi kita juga baru kenal beberapa hari. Mungkin kamu bakal kira aku gila atau brengsek setelah ini dan aku bakalan ngertiin. Tapi sebelum itu, kamu bisa coba tanya juga sama Rizki tentang aku. Kita emang enggak terlalu deket tapi kita dua tahun itu sekelas dan dia cukup tau aku laki-laki kaya apa. Dan apapun yang bakal aku omongin setelah ini, itu bener-bener serius!” terang Awan membuat Arum bingung karena tak tahu tujuan pria itu sebenarnya. "Apaan sih?" Arum bisa melihat betapa groginya pria itu. "Ya kamu kan tahu aku punya istri dan anak di Gresik. Aku ketemu mereka sekali dalam dua bulan. Hubungan aku sama istri itu bisa dibilang enggak baik-baik saja sekarang. Aku bilang ini supaya kamu tahu kondisi hubungan aku jadi kamu enggak ngerasa dibohongin dari awal. Nah sekarang masalahnya, Arum, jujur aja… aku suka sama kamu. Pasti kamu kaget tapi aku bener-bener suka kamu sejak pertama kali kita tabrakan di lapangan futsal waktu itu," cerita Awan menatap serius. "Hah?! Hehehe. Kamu nih bercanda kan? Ya sebenernya dari tadi aku juga bingung kok tiba-tiba kamu ngomong serius kaya gini. Ya kalo cuman berteman aja kan enggak masalah status kamu kaya apa. Aku punya banyak temen cowok yang udah punya istri juga, tapi kalo suka…" kata Arum tidak tahu lagi harus menatap kemana. "Aku serius bilang suka sama kamu. Aku kesini juga cuman minta ijin aja ke kamu supaya kita bisa kenal lebih dekat, ya sebagai teman tentunya. Aku enggak bakalan maksa kamu kok untuk gimana-gimana nanti ke depannya," Awan menegaskan maksudnya lagi. "Jujur ini cara kenalan paling aneh yang pernah aku tahu. Aku masih kaget karena kamu bilang suka sama aku padahal kamu punya istri, selain itu juga kita baru kenal seminggu?" Arum mencoba membuat Awan tersadar. "Hehehe. Ya aku tahu dan aku minta maaf sekali lagi, tapi sekali lagi aku serius sama omonganku tadi. Aku ngomong kaya gini ya biar kamu ngerti aja maksud dan tujuanku dari awal," Awan berterus terang. "Hm, ya kaget sih, tapi ya udah enggak apa-apa kok. Aku kan juga enggak bisa ngatur perasaan orang lain," akhirnya itu yang bisa Arum sampaikan. Saat Awan akhirnya pergi meninggalkan rumah Arum, detak jantung pria itu masih tak bisa tenang juga. Hal ini mungkin adalah hal paling gila yang pernah dia lakukan untuk seorang wanita selain ibu dan istrinya. Dia mengakui, selama ini kehidupan rumah tangganya tidak berjalan dengan baik dan Arum berhasil membuatnya bangkit lagi. Tentu saja tak berbeda jauh dengan Arum yang tersenyum sendiri sejak tadi. Bagaimana ada seorang pria tak terduga dan secepat itu bisa mengatakan suka padanya. Sebagai wanita tentu saja dia merasa tersanjung juga spesial, tapi lalu mengingat lagi sebuah fakta lain, Hah. Gila ya. Ada dua orang di samping aku sekarang tapi keduanya suami orang? Kenapa sih Tuhan selalu ngasih pilihan yang teramat mudah kaya gini? Jangan ikutan gila deh diriku. Jangan sampe jadi pelakor. Apa kata dunia?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
19/07/2025
0sangat bagus
11/06/2025
0baguss
01/06/2025
0Lihat Semua