logo text

Bab 36 Mari Bicara Serius

“Mau kemana kita hari ini?” Awan menawarkan.
“Ya bukannya kamu yang ngajakin aku tadi. Emang kamu mau kemana?” Arum balik bertanya.
Awan melihat lekat pada sosok Arum. Wanita itu hari ini tampak cantik walau hanya mengenakan celana jins dan kaos polo berkerah. Tentu saja sebenarnya itu hanya perasaannya saja karena penampilan Arum sama sekali tak pernah berubah dan masih seperti biasanya.
“Wan? Kok malah ngelamun sih?” Arum menyadari tingkah aneh pria itu.
“Eh eh iya maaf. Aku ini loh. Hm, mau beli mainan aja buat Athir. Kamu mau nemenin kan?”
Arum jadi berpikir jauh lagi. Pria disampingnya ini begitu menyayangi keluarganya dan apakah pantas dia datang begitu saja dan sangat mungkin menyebabkan kehancuran untuk keharmonisan keluarga kecil itu.
“Arum? Kok jadi kamu yang ngelamun sih?” Awan yang tak kunjung mendapat jawaban.
“Ah iya. Aku bebas aja sih anterin kemana aja kamu mau. Aku nanti cuman mau liat-liat tanaman aja buat mama di pasar bunga.” Arum tersenyum kikuk.
“Owh ok kalau gitu. Sekarang kita ke Pasar Bunga dulu, habis itu pulangnya kita pergi mall untuk beli mainan. Kamu tunjukin aja jalannya!” putus Awan mulai mantap mengendalikan setirnya.
Hingga tiba di Pasar Bunga dan walau Awan bukan seseorang yang hobi bercocok tanam tapi melihat tanaman dan bunga berwarna-warni tentu saja membuat hatinya tenang dan senang. Pertama kalinya dia pergi ke tempat semacam ini. Hanya melihat saja saat Arum saling bertanya jawab dengan sang penjual dan akhirnya memutuskan membeli dua tanaman yang dia juga tak tahu apa. Awan hanya menurut saja saat Arum meminta tolong untuk memasukkan tanaman itu ke dalam bagasi mobil.
“Itu namanya tanaman apa?” tanya Awan ingin tahu.
“Ah kalau ini Lidah Mertua namanya,” Arum melihat Awan mengangkat tanaman itu.
“Lidah mertua? Hahaha. Kok bisa namanya begitu?” tanya Awan heran sambil tertawa.
“Ya enggak tau deh kalo itu. Mungkin karena sama tajemnya kaya lidah mertua. Hehehe. Tapi mertua aku sih enggak begitu.”
“Eh iya juga sih. Mertua aku juga enggak begitu kok. Baik banget malah.”
Lanjut perjalanan mereka menuju sebuah toko untuk membeli mainan. Awalnya Awan ingin pergi ke mall, tapi Arum sudah lebih cepat tanya pada Asti di mana tempat beli mainan yang lengkap dan murah di tengah kota. Di sinilah mereka sore itu setelah mencari tokonya melalui aplikasi map.
“Mau cari mainan apa buat anak kamu?” tanya Arum melihat banyaknya pilihan.
“Aku sih pengennya ya mobil-mobilan yang ada remotenya. Dia kan udah besar ini,” ucap Awan melihat ke arah rak mobil-mobilan.
“Iya udah, aku bantu cari-cari.”
Mendapat satu buah mobil remot dan satu buah truk yang cukup besar, Awan dan Arum akhirnya beranjak ke tempat lainnya sebagai tujuan akhir mereka malam ini. Sebuah tempat makan di pinggir kota bernuansa pedesaan. Dikelilingi sawah dengan penerangan yang temaram. Pengunjungnya cukup ramai tapi pengaturan tempat ini memang cukup berjarak antara pengunjung satu dan lainnya. Mereka memilih tempat duduk di ujung restoran dan di samping mereka adalah dinding bernuansa tradisional yang sekaligus merupakan spot foto yang bagus.
“Makasih ya Arum udah nemenin aku hari ini,” Awan membuka pembicaraan.
“Aku juga makasih, kan kamu juga udah nemenin aku belanja tanaman. Mobil kamu juga jadi kotor dikit kena tanah,” Arum menyesal.
“Hahaha. Iya enggak apa-apa lah cuman sedikit ini. Dicuci nanti juga bersih.”
Makanan mereka tiba dan menikmatinya tanpa halangan. Bahkan peralatan makan yang digunakan pun sangat tradisional dan Awan menyukainya. Awan meminumi teh hangat dan menikmati pemandangan yang memanjakan mata di sekelilingnya, hingga Arum ingin bicara serius padanya.
“Aku udah pikirin ini baik-baik,” Arum membuka pembicaraan setelah meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
“Apa, Rum?” Awan mendadak bingung.
“Aku pengen negesin aja hubungan kita ini. Aku enggak tahu apa mungkin kamu pernah mikirin ini sebelumnya. Kamu itu kan… udah ada keluarga. Coba bayangin apa yang orang lain pikirin kalau mereka tahu tentang apapun yang kita jalani ini? Kamu mungkin mikir ya apa salahnya kan cuman berteman? atau emang kenapa, kan enggak ada yang salah dengan cinta? Tapi no aku enggak bisa kaya gitu,” ucap Arum tegas.
“Maksudnya gimana sih, Arum?” tanya Awan ingin mendengar lebih lanjut.
“Iya aku pengen apapun ini namanya kita udahan aja. Aku enggak mau dicap jadi pelakor. Aku udah capek sama hubungan yang pelik kaya gini.”
“Kamu kan tahu cerita kita kaya apa. Aku pasti akan belain kamu dari orang-orang yang sebut kamu pelakor!”
“Plis deh. Terus mau sampe kapan? Kamu mau terus menerus ngomong sama orang-orang yang kamu temui kalo aku ini bukan pelakor buat apa? Pembelaan diri enggak akan bisa ngerubah fakta aku emang hadir saat kamu udah ada keluarga. Apa lagi istilah yang tepat selain pelakor? Terus kalo nanti akhirnya istri kamu tahu gimana? Kamu bisa aja kehilangan mereka dengan mudah!” Arum tak mau kalah.
“Tapi… aku sayang sama kamu. Aku beneran cinta sama kamu!” Awan memohon.
“Aku tahu, tapi akhirnya buat apa sayang dan cinta aja? Enggak akan mengubah fakta kamu sudah berkeluarga dan kita enggak bisa bersatu kan? Dan mungkin dari awal perasaan kamu emang salah ke aku!”
“Enggak ada rasa cinta yang salah, Arum!” Awan menegaskan.
“Ya bener rasa cintanya emang enggak salah, tapi mungkin orang, waktu, dan kondisinya yang salah. Kaya perasaan kamu ke aku ini. Sekarang aku tanya deh sama kamu, mau kamu bawa kemana hubungan kita ini?” tanya Arum keras.
“Ehm ak-aku...” tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Awan.
“Engga bisa jawab kan? Itu karena kita ini enggak punya masa depan! Ya kamu mah enak nanti kalau misal aku deket sama orang lain kamu bisa marah bisa cemburu. Lah aku gimana? Hubungan ini tuh cuman menguntungkan satu pihak aja yaitu kamu!” Arum tegas dan lagi Awan tak bisa membela diri.
“Udah lah. Aku cuman minta tolong satu aja sama kamu. Tolong lebih ngertiin aku, pahami posisi aku. Aku pengen hidup tenang dan seneng. Aku pengen nikmatin hidup aku tanpa hubungan yang rumit sekarang!” tatapan Arum memohon.
Entah bagaimana hubungan keduanya lama-lama merenggang dengan sendirinya. Komunikasi yang sebelumnya sangat rutin kini sudah berkurang drastis. Tidak ada lagi jalan berdua atau hanya sekedar antar jemput kerja. Apa yang Arum dengar dari Rizki, kemungkinan Awan memang sudah berbaikan dengan istrinya. Hubungan keduanya terlihat membaik dilihat dari intensitas kepulangannya ke Gresik yang jadi lebih sering. Arum juga bisa melihatnya dari status WA Awan.
Setelah sekian lama, justru Viki datang lagi setelah hampir satu bulan dia berhenti menghubungi Arum. Viki memohon tiba-tiba untuk bertemu di sebuah tempat makan yang memang tidak jauh dari bank tempat mereka bekerja. Mereka sepakat untuk bertemu saja di sana demi kenyamanan Arum. Viki sadar diri wanita itu sudah enggan terlalu lama berdekatan dengannya. Beruntung dia masih mau bertemu setelah Viki berjanji bahwa ini yang terakhir kali.
“Ada apa lagi sih, Vik? Kayanya udah enggak ada yang harus kita bicaran. Sikap dan kata-kata aku juga udah jelas banget kan!” Arum membuka pembicaraan.
“Iya iya, Arum. Aku cuman mau ngobrol aja kok sama kamu. Sesuai janji aku enggak akan maksa-maksa kamu lagi untuk balikan sama aku!” ucap Viki meyakinkan.
Pelayan datang mengantarkan minuman mereka berdua dan masing-masing meminumnya.
“Ya terus apa yang mau kamu omongin?” tanya Arum setelah meletakkan kembali gelasnya.
“Hm, setelah pisah sama kamu, aku selesaiin masalah aku sama Elsa. Aku udah resmi cerai sama dia. Enggak tahu kenapa aku malah inget kamu. Terus aku coba mikirin lagi semua yang udah aku lakuin sama kamu sejak awal kita punya hubungan…. Aku inget banget aku udah ngecewain kamu berkali-kali. Aku deket sama Retta di belakang kamu. Aku masih lanjut deket sama Elsa sampe setahun dan sampe punya bayi sama dia. Aku seenaknya pinjem dan minta uang sama kamu untuk muasin keinginan aku sendiri dengan materi. Aku juga udah kasar banget sama kamu dengan kata-kata bahkan perlakuan aku ke kamu. Aku baru sadar semuanya setelah ngelakuinnya dan setiap kali itu kejadian aku bener-bener ngerasa berdosa sebenernya. Aku selalu mikir dan mencoba percaya kalo itu semua cuman ketidaksengajaan aja dan kamu pasti bisa maafin aku, tapi nyatanya enggak gitu. Makin kesini aku makin sadar kalau aku emang keterlaluan banget sama kamu dan semarah-marahnya kamu dulu kamu pasti maafin aku. Harusnya aku sadar dari dulu juga kalo pasti ada masanya kamu akan enggak mau lagi maafin aku atas semua yang aku lakuin. Harusnya aku juga udah siap kalo kamu memilih jauh, tapi emang aku aja yang masih kurang ajar. Aku yang masih punya harap kalau kamu pasti akan maafin aku lagi tapi ternyata yang kemaren udah terakhir kali,” Viki mengutarakan semua isi hatinya.
“Hmh, ya aku bersyukur kalo kamu akhirnya bisa instropeksi diri. Sekarang yang berlalu biar berlalu. Aku udah maafin kamu juga. Aku juga enggak ada dendam apapun. Aku cuman pengen kita mengakhirinya dengan baik, walau aku ngerasain dari awal juga kita itu udah memulainya dengan cara yang salah. Ya sekarang sih udah ikhlasin aja semuanya.”
“Iya apa yang kamu bilang juga mungkin bener. Aku harap kamu enggak nyesel ya kenal sama aku dan aku harap kamu bisa simpen semua kenangan kita yang baik.”
“Enggak ada yang perlu disesali. Semuanya anggap aja pengalaman hidup untuk buat kita jadi manusia lebih baik. Fada mungkin satu-satunya anugerah yang bisa kamu terima setelah semua cobaan ini. Aku lihat juga buktinya kamu sekarang lebih perhatian sama Fada. Ya sejauh yang aku lihat di media sosial kamu aja sih.”
“Hm iya bener juga. Aku bersyukur sih emang ngerasa banyak berubah karena Fada. Mungkin dia juga alasan aku bisa rela ngelepasin kamu kaya gini,” Viki mengulas senyum samar.
“Iya aku ngerti kok. Aku juga seneng kalo kamu bisa berubah jadi lebih baik. Bukannya udah seharusnya kaya gitu? Kamu punya tanggung jawab yang lebih besar sekarang sebagai ayah,” Arum tersenyum tulus.
“Aku emang bego banget sih nyia-nyiain perempuan kaya kamu, Arum. Kalau waktu bisa diputar lagi, aku pasti akan perlakukan kamu sebaik mungkin dan aku enggak akan biarkan kamu lepas dari aku apalagi karena ketololan aku sendiri!” Viki menyesali setiap perbuatannya.
“Udah lah enggak perlu bahas itu lagi. Gimana kabar Fada sekarang?” Arum mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hehehe. Fada… lucu banget dia. Udah mulai suka berdiri sendiri pegangan kursi atau meja. Habis ini dia bakal ulang tahun yang pertama,” cerita Viki antusias.
“Ah iya? Udah lama banget aku enggak ketemu sama dia. Masih tinggal sama orang tua kamu kan?”
“Iya masih lah. Mungkin nanti kalau aku ketemu perempuan tepat yang bisa terima aku dan Fada tulus, baru aku bakalan bisa sama Fada terus.”
“Iya aamiin deh kalo gitu.” ucap Arum akhirnya.
Arum memilih pulang sendiri malam itu dengan menggunakan ojek online. Viki memastikan wanita itu pergi dari sana sebelum menyandarkan punggung kembali di kursi tempat makan malam itu. Masih sempat-sempatnya Arum memberikan bingkisan padanya yang dia katakan untuk Fada, padahal dari tadi dia tidak melihat Arum membawa bingkisan. Bahkan di saat terakhir wanita itu masih begitu perhatian pada putranya. Jelas sebuah kehilangan yang besar untuknya.

Komentar Buku (39)

  • avatar
    IlhamAndi

    bagus

    19/07/2025

      0
  • avatar
    kencanaputri

    sangat bagus

    11/06/2025

      0
  • avatar
    aurayap

    baguss

    01/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru