42 Balas Membully? Orang-orang tertawa melihat seorang pria culun masuk ke club malam yang terkenal itu. Mata pria itu menatap sekumpulan pria yang sedang minum ditemani oleh perempuan-perempuan berpakaian seksi dan menurut Kala berwajah menor. Tanpa ragu, Kala mendekati mereka. “Waw, siapa ini yang datang?” “Si culun juga ingin bersenang-senang?” Ada yang mengejek, ada juga yang memilih diam. Sebenarnya ada perasaan cemas saat melihat Kala, karena mereka juga masih mengingat dengan jelas bagaimana Kala memukul Marco dan mereka saat ini. Tanpa basa-basi, Kala langsung melempar map coklat ke hadapan mereka. Mereka saling lirik, lalu salah satu dari mereka membukanya. Wajah yang tadinya terlihat bahagia dan puas karena mengejek Kala, kini berubah menjadi pucat. “Jangan dikira aku akan selalu diam saja menerima sikap kalian. Aku sudah lama tahu semua tentang kalian, tapi aku memilih diam, berharap kalian akan menjadi lebih baik.” “A ... apa mau kamu sebenarnya?” “Kalian bisa memilih, berhenti bersikap seenaknya dan menuruti perkataan aku, atau jangan salahkan aku jika tiba-tiba saja tanganku merasa gatal dan tidak sengaja membocorkan semuanya.” Mereka saling lirik, dan sadar kalau ancaman Kala tidak main-main. “Aku berikan kalian kesempatan untuk berpikir dan melihat keputusan kalian besok di kampus.” Tanpa berucap dan menunggu tanggapan mereka, Kala langsung pergi dari tempat itu. Kala kembali ke rumah Kenia setelah tadi mengantar gadis itu pulang. Dipandanginya rumah itu dari atas motornya, setelah merasa puas, Kala kembali ke rumahnya. “Lama amat!” “Biasa, urusan pria tampan sangat banyak.” Denis tertawa mendengar perkataan Kala. “Kenia bisa kejang-kejang mendengar perkataan kamu, Kal.” Mereka memasuki rumah Kala dan Denis tanpa tahu malu langsung merebahkan tubuhnya di kasur. “Jangan tidur di situ!” “Bau Kenia, nih!” Tidak memedulikan perkataan Denis, Kala langsung menarik Denis agar bangun dari tempat tidurnya. “Iya, iya ....” Si biang rusuh itu lalu memakan makan yang Kala siapkan untuk Kenia jika berada di rumah ini. “Mau apa sih kamu ke sini? Kalau mau merusuh, pulang saja sana!” “Si culun sudah mulai berani, ya?” ledek Denis. Kala menghela nafas, dan akhirnya membiarkan pria yang mengaku tampan itu makan apa saja yang dia mau. Tidak ada waktu untuk meladeninya. Keesokan harinya, orang-orang yang tadi malam Kala berikan ‘hadiah' berusaha menghindari Kala. Tidak hanya teman-teman Marco, tapi juga mahasiswa lain yang Kala lakukan secara acak. Kala tidak peduli, pada akhirnya mereka juga yang akan mengalah dan menghampirinya. Pagi tadi Kenia tidak datang, karena gadis itu protes karena harus datang setiap pagi dan sore. “Lihat nih, muka aku kusam karena kurang tidur.” “Lihat nih, tangan aku keriput karena terlalu banyak mencuci piring, menyapu dan mengepel.” “Nanti kalau aku jerawatan bagaimana?” “Kalau rambut aku kusam bagaimana?” Kala menghela nafas saat mendengar protes gadis itu. Ya seperti itulah Kenia, sudah diancam tetap saja jiwa arogannya tidak mudah hilang. Salah sendiri Kala yang kurang tegas, tapi setidaknya gadis itu sudah tidak memanggilnya curut, gembel, bodoh, dan umpatan kasar lainnya selain memanggilnya culun. Saat Kala lewat, beberapa orang menundukkan wajahnya, bahkan ada yang memberikannya jalan agar pria itu berjalan lebih dulu dengan nyaman. Dalam hati Kala tertawa, seperti inikah yang namanya memiliki kekuasaan? Kala melihat Kenia, dan pandangan orang-orang juga langsung tertuju pada gadis itu. Yang ada dalam pikiran mereka, apa yang akan Kala lakukan pada gadis itu. Bukankah selama ini Kenia yang paling kejam pada pria itu? Jika mereka saja seperti ini, bagaimana dengan gadis itu. “Kenken!” panggil Kala dengan suara tegasnya. Kenia memberengut saat Kala memanggilnya seperti itu. Gadis itu bertolak pinggang, bagaimana pun juga, orang-orang kan tidak boleh tahu kalau sekarang keadaan sudah terbalik. “Apa panggil-panggil?” “Enggak, aku hanya mengetes kuping kamu, masih berfungsi dengan baik atau tidak.” Kenia melirik orang-orang yang sedang memperhatikan mereka diam-diam. Ada yang aneh pada mereka, pikir Kenia. Biasanya mereka akan tersenyum mengejek pada pria itu, terutama orang-orang yang berkuasa. Tapi sekarang, mereka yang tadinya suka mengejek, sekarang diam dan terlihat segan. Kenia tidak menyahuti perkataan Kala, dia langsung menuju ke kelasnya yang diikuti oleh Kala di sebelahnya. Biasanya pria itu akan berjalan di belakang Kenia, tapi sekarang tidak lagi. Biasanya Kenia yang akan ditarik oleh Kala ke kelas kosong, tapi sekarang Kalalah yang ditarik oleh Kenia. “Jaga sikap kamu, ya! Jangan sampai orang-orang berpikir kalau aku takut sama kamu. Aku juga tidak mau mereka tahu kalau aku dijadikan pembantu sama kamu.” Kala tertawa, dia tahu harga diri gadis itu sangat tinggi. “Makanya aku bilang, kamu harus menurut sama aku!” “Aku bukan pelayan kamu!” “Aku juga bukan pelayan kamu, tapi kamu sering membentakku, menyuruhku mengerjakan tugas kamu, membawa buku-buku kamu, dan kamu sering marah-marah sama akan meski bukan aku yang berbuat salah, tapi kamu melampiaskan kekesalan kamu sama aku.” Kenia terdiam mendengar perkataan Kala. “Apa kamu pernah meminta maaf? Apa yang kamu rasakan, belum ada setengahnya dari yang aku rasakan, Ken. Apa yang aku lakukan ke kamu, belum ada apa-apanya dengan yang kamu lakukan. Kamu selalu bersikap seenaknya kepadaku di hadapan orang-orang, membuat harga diriku sebagai laki-laki diinjak-injak. Sedangkan kamu, baru segini saja kamu sudah ketakutan. Kamu malu kalau orang-orang tahu? Belum apa-apa harga diri kamu sudah terluka.” Kenia semakin diam mendengar perkataan Kala, pria itu lalu pergi begitu saja. Kenia melihat kepergian Kala dengan pandangan yang sulit diartikan. Ponsel Kala berbunyi, beberapa pesan dari orang-orang yang berbeda membuatnya tersenyum. Diam-diam Kenia memperhatikan Kala. Dwina melihat apa yang Kenia lihat, dia yakin ada sesuatu antara Kenia dan Kala yang dia tidak tahu. “Jangan-jangan mereka sudah pacaran?” tanya Dwina dalam hatinya. “Bisa-bisa mereka nanti menjadi si cantik dan si buruk rupa.” Tidak lama kemudian Jesi datang dengan membawa sesuatu yang akan diberikan oleh Kala.
“Ini buat kamu, aku buat sendiri sebagai tanda terima kasihku, karena berkat kamu, nilai tugasku bagus.” “Enggak repot kok, aku senang membuatnya, semoga saja enak dan kamu suka, ya.” “Dasar penjilat!” ucap Kenia nyaring. “Apa maksud kamu?” “Apa, memangnya aku bicara sama kamu?” tanya Kenia pada Jesi. Kala menghela nafas, Kenia tetaplah Kenia. “Sudah Jes, kamu ke kelas kamu sana, sebentar lagi juga dosennya datang.” Jesi menghela nafas, lalu pergi sambil melirik kesal pada Kenia, yang dibalas dengan senyuman mengejek dari Kenia. “Kamu cemburu ya Ken, sama Jesi?” tanya Dwina pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Kala. “Dih amit-amit, buat apa aku cemburu sama cewek munafik seperti dia. Lagian dia bukan levelku.” “Habis sepertinya kamu enggak suka banget sama dia, apa karena dia dekat dengan Kala? Kamu cemburu, kan?" “Bukan Dwinaaa ... tapi memang aku enggak suka sama dia.” Dwina tidak lagi bertanya, bisa-bisa dia kena semprot kalau nanti Kenia kesal. “Ken, kapan-kapan aku ke rumah kamu, dong. Masa selama kita berteman, aku enggak pernah ke rumah kamu, sih!” “Jangan, ayah aku kan galak banget, nanti kamu takut." “Kamu mah gitu, alasannya ayah kamu terus. Kamu dengan Kala sama saja.” “Apanya yang sama?" “Kan kalau Kala selalu bilang nenek aku, nah kalau kamu bilangnya ayah aku.” Mendengar itu, Denis yang tadinya fokus bermain game langsung tertawa. “Main ya main saja, enggak usah menguping terus. Cowok kok hobi menguping!” cibir Dwina yang diangguki oleh Kenia. “Suka-suka aku, dong.” Pria itu tidak peduli dengan Kenia dan Dwina yang kesal. Baginya membuat ketiga orang itu kesal adalah hiburan, terutama mengganggu Kenia dan Kala.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
21d
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua