46 Liburan Bersama Pagi-pagi sekali Kala ke rumah Kenia. Dia mengetuk pintu berkali-kali, tapi gadis itu belum juga membukakan pintu. Kala melihat ke sekelilingnya, rumah ini seperti tidak pernah ada penghuninya. Jika saja Kala tidak melihat teras yang bersih, dan tahu Kenia tinggal di sini, pasti dia sudah mengira kalau rumah ini adalah rumah kosong. Tidak ada bunga-bunga yang ditanam. Tidak ada bangku di terasnya. Tidak ada sendal atau apa pun. Lingkungan di rumah ini juga sangat sepi. Kala kembali mengetuk pintu rumah Kenia, dan pintu dibuka oleh gadis yang berwajah cemberut dan rambut acak-acakan. “Jangan cemberut Ken, masih pagi buta.” “Sudah tahu masih pagi buta, malah datang. Ganggu orang tidur, enggak punya kerjaan lain apa?” Kala tersenyum, lalu mengecup sekilas bibir gadis itu, lalu keningnya. “Sudah, jangan ngambek lagi. Aku bawakan kue nih buat kamu.” Wajah Kenia langsung cerah dengan mata yang terbuka lebar. Kenia langsung merebut kue itu saat tahu itu adalah kue kesukaannya. “Bikin teh sana, Ken!” “Kamu saja, aku kan lagi makan. Tadi kamu ganggu tidur aku, sekarang aku lagi makan juga diganggu.” Kala mencubit gemas pipi Kenia. Hanya dia dan Denis saja pria yang tidak pernah takut dengan Kenia, meski gadis itu sangat galak. Apa mungkin karena mereka telah lama bersama? Kala pergi ke dapur, dan dia kini melihat peralatan makan dan minum yang kini berjumlah dua semuanya. Kala tersenyum, apa kini Kena telah menerima kehadirannya di rumah ini? Namun senyum itu berganti dengan wajah sedikit cemberut saat Kala sadar kini dia dan Kenia tidak bisa lagi makan dan minum sepiring berdua. Kala membuat dua gelas teh. Kala ke ruang tengah dan melihat kue itu sudah hampir habis. Selesai makan, Kenia kembali menguap, dan dia pergi ke kamarnya. “Kamu mau ngapain?” “Tidur.” “Terus aku?” “Ya pulang sana. Kalau kamu mau bersih-bersih juga enggak apa-apa.” “Joging yuk, Ken?” “Enggak. Ini hari Minggu, jadi aku mau malas-malasan. Melakukan perawatan kulit, karena sudah terlalu bekerja keras di rumah kamu, kulitku harus dirawat.” Kala tertawa, gadisnya itu memang lucu dan menggemaskan. “Kerja keras apaan? Menyapu saja enggak benar!” “Makanya beli penyedot debu!” Gadis itu lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut. “Awas kalau kamu berani macam-macam saat aku tidur!” ucapnya dari balik selimut. “Jangan ditutup semuanya, Ken, nanti pengap.” Kala yang bingung akan melakukan apa, ikut membaringkan tubuhnya, tapi di lantai, karena tidak ada sofa di kamar itu. Kala tertidur, karena sebenarnya dia juga masih sangat lelah karena bekerja hingga larut malam dan pergi ke sini saat hari juga masih gelap. Dia terlalu kangen dengan Kenia. Kenia terbangun saat merasa silau dengan sinar matahari yang masuk melalui celah kordeng. Dia melihat Kala yang tidur di lantai, dan tanpa sadar dia tersenyum. Dia lalu ke kamar mandi dan tidak lupa membawa baju gantinya, jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Kala terbangun karena mendengar suara gemericik air. Dia langsung ke luar dari kamar itu karena tidak kejadian dulu terulang lagi. Pikiran yang sama antara dia dan Kenia, sama-sama berusaha menjaga diri meski hanya berdua saja di rumah ini atau rumah Kala, meski mereka kadang berciuman, namun jangan sampai bertindak di luar batas. Kenia membuka sedikit pintu kamarnya, melihat apakah masih ada Kala di kamar itu atau tidak. Dia bernafas lega saat melihat Kala tidak ada lagi. Jika mengingat kejadian dulu, dia masih sangat malu. Kenia mengeringkan rambutnya dan membuka kordeng. “Aku numpang mandi, ya.” Kenia melihat Kala yang membawa baju ganti, jelas sekali pria itu berniat untuk merecoki harinya. “Ke pasar yuk, Ken?” ajak Kala setelah pria itu selesai mandi. “Kalau mau mengajak kencan tuh ke mall, pantai, kafe kek, ini malah ke pasar.” Mereka sama-sama diam. Kencan? Kala tersenyum, sedangkan Kenia pura-pura amnesia dengan kata-katanya tadi. “Ya sudah, kamu mau kita kencan ke mana?” “Dih, aku enggak mau ya kencan sama kamu.” Sekali lagi gengsi yang berkuasa, meski hati sudah sangat senang mendengar Kala mengajaknya berkencan. Tapi kenapa dia harus senang? “Jalan-jalan yuk, Ken. Kamu mau ke mana?” Kala mengganti sedikit kata-katanya, dia sangat tahu bagaimana Kenia. Gadis itu tidak seperti gadis lain yang mudah didekati. Tidak lama kemudian ponsel mereka berdua berbunyi bersamaan. Pesan masuk dari Denis. Denis membuat grup chat yang anggotanya hanya mereka berempat. [Ke pantai, yuk. Menginap di sana, kan dua hari tanggal merah.] Tanpa membalas pesan dari Denis, Kenia langsung membereskan baju gantinya. [Aku jemput Dwina dulu. Setelah itu ke rumah Kala.] [Oya, Kenia bagaimana?] tanya Dwina. [Suruh ke rumah Kala, atau tunggu di mana gitu. Ayahnya kan galak, jadi dia pasti tidak mau dijemput di rumah.] [Oh iya, ya. Ayahnya Kenia kan galak.] [Kenapa kalian berdua membicarakan ayahnya Kenken? Dosa, tahu!] [Oh iya, nanti nenek kamu marah, ya?] balas Dwina. [Jangan membicarakan nenek aku!] [Oya, jemput aku sama Kenia di perempatan lampu merah yang ada minimarketnya saja. Nanti aku kirim lokasinya.] [Kenapa kamu yang menentukan? Nanti Kenia marah, loh.] Kala tidak lagi membalas, karena nanti Dwina akan semakin banyak bertanya. “Kamu enggak mau pulang dulu bawa baju ganti?” tanya Kenia yang sudah membawa tas ranselnya. “Ini, aku sudah bawa dari rumah.” “Jangan-jangan tadi kamu mau menginap di sini, ya? Memangnya kamu kira rumah aku tempat penampungan, apa?” Kala tidak menjawab, dia meninggalkan beberapa baju di rumah Kenia, dan membawa sisanya untuk pergi ke pantai. “Sudah jangan protes. Kita beli makanan dan minuman dulu, yuk. Oya, motor aku titip di sini, ya.” Kala memasukkan motornya ke dalam rumah, dan tidak lama kemudian mereka langsung pergi. Kenia memilih berbagai macam makanan dan minuman yang dia pilih hanya air mineral saja. Sudah pasti Kala yang membayarnya. Saat Kala membuka dompetnya, tanpa sengaja Kenia melihat foto dirinya. “Itu bukannya foto aku? Tapi itu foto aku saat masih kecil,” batin Kenia. Kenia menatap Kala, melihat pria itu dari atas hingga bawah. Kenia tinggi, tapi Kala lebih tinggi lagi. Melihat Kala, membuatnya jadi teringat Kendrick dan Fernan. Meskipun hari ini Kenia tidak mengunjungi mereka, tapi setiap hari akan ada yang mengirimnya pesan tentang keadaan mereka berdua. “Kamu kenapa, Ken?” tanya Kala saat melihat wajah murung gadis itu, padahal sebelumnya terlihat senang. Kenia menggeleng, dan kembali berpikir dari mana Kala mendapatkan foto masa kecilnya. Mereka berdua menunggu kedatangan Denis dan Dwina. “Minum dulu, nih!” Kala memberikan minuman dingin untuk Kenia, juga mengelap keringat gadis itu. Hati Kenia menghangat dengan sikap Kala yang lembut. Orang-orang yang melihat itu dengan berbagai pikiran, ada yang iri, ada yang berpikir ... kenapa mau ya, padahal ceweknya cantik, tapi cowoknya culun. Ada yang berpikir dua juga mau punya pacar yang perhatian seperti itu, tidak apa culun, yang penting baik dan setia. Ada berpikir jangan-jangan sang pria memakai pelet. Hal itu juga tidak lepas dari perhatian Denis dan Dwina. Kalau Dwina yang melihatnya merasa cemas Kenia akan jatuh cinta dengan pria seperti Kala, Denis yang melihatnya menahan tawa. “Pepet terus, sampai dapat,” batin Denis.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua