29 Teror

29 Teror
 
Lakukan dulu hal-hal kecil, jangan langsung berharap sesuatu yang besar.
 
Kenia sudah kembali kuliah, dengan gaya angkuhnya, dia berjalan menuju gedung fakultasnya.
“Kenia! “ panggil Marco.
“Kamu ke mana saja beberapa hari ini?” tanya pria itu dengan wajah cemas. Memang tidak ada yang memberi tahu Marco kalau Kenia sakit, karena Denis sudah lebih dulu melarangnya.
“Enggak ke mana-mana, aku hanya di rumah saja.”
“Kenapa enggak kuliah?”
“Malas!”
Malam harinya, Kala bertemu dengan seseorang di kafe Anggrek. Pria yang duduk di hadapan Kala belum mengatakan apa pun. Kala bisa melohat keraguan di wajah pria itu. Pria yang bernama Renaldy itu membuka map yang Kala berikan, membacanya dengan teliti.
“Kamu serius? Kamu tidak sedang mengerjai aku, kan?”
“Mana mungkin aku berbohong. Jadi, bagaimana?”
Renaldy nampak berpikir, dilihatnya lekat-lekat wajah Kala.
“Berikan aku waktu untuk berpikir!”
“Mau berapa lama? Kesempatan tidak datang dua kali. Kalau kamu tidak mau, aku tidak masalah. Aku akan mencari orang lain yang memang menginginkannya. Menuritmu, bagaimana dengan Sandy?” Renaldy langsung melebarkan matanya. Bagaimana tidak, Sandy adalah musuh Renal. Mereka selalu bersaing memperebutkan perempuan.
“Baiklah, aku setuju,” jawab Renaldy cepat. Dalam hati, Kala tertawa. Dia sangat tahu bagaimana cara menggertak Renaldy. Tentu saja dia sangat tahu bagaimana tabiat orang-orang yang ada di sekitarnya. Selama ini dia diam bukan berarti tidak memperhatikan.
“Deal!” Mereka berdua berjabat tangan. Dalam hati Renal dia masih waswas, bagaimana kalau Kala berbohong? Bagaimana kala Kala hanya ingin menipunya saja?
Setelah sampai di rumahnya, Kala menceklist satu nama. Masih banyak yang harus Kala kerjakan, dia mulai menggerakan jari-jarinya di atas keyboard.
“Tunggu sebentar lagi, bersabarlah Kala!” ucapnya pada diri sendiri.
 
Keesokan paginya
“Hai cantik, kamu hari ini cerah sekali. Secerah matahari pagi yang menghangat hatiku,” ucap Denis sambil menaik turunkan alisnya. Pria itu merangkul pundak Kenia, yang langsung ditepis okeh gadis itu. Dirangkul lagi, ditepis lagi.
Plak!
“Aw!” Denis mengusap lengannya yang dipukul oleh Kenia. Bukannya marah, pria itu malah tertawa.
“Imut deh, jadi gemes!” Marco yang melihat itu, merasa tidak suka. Dia tidak pernah suka jika ada pria lain yang dekat dengan Kenia.
“Denis! Awas kamu, ya!” Denis langsung berlari saat Kenia ingin memukulnya lagi. Kenia mengejar Denis, lalu melepaskan sepatunya. Dengan mengambil ancang-ancang, Kenia melemlar sepatunya itu.
Plak!
“Aww!” Denis tertawa, karena bukannya mengenai dia, sepatu Kenia justru mengenai Kala.
“Sepatu saja tahu, mana yang ganteng mana yang enggak!”
Kala mengusap keningnya yang terasa berdenyut dan sedikit benjol.
“Curut, ambilkan sini sepatu aku!” Kala melihat sepatu Kenia yang berwarna merah. Ini adalah seoatu limited edition yang Kenia dapatkan dari seseorang yang tidak dikenal, yang membuat satu kampus heboh saat mengetahuinya.
“Untung sepatu mahal, jadi tidak lecet!”
“Sepatumu memang tidak lecet, tapi keningku gang lecet, “ ucap Kala. Bukannya.merasa kasihan, Denis dan Dwina justru tertawa.
“Deritamu!” ucap Denis dan Dwina kompak.
“Jangan-jangan kita berempat jodoh. Abang Denis sama dede Kenia. Kala dengan Dwina?” ucap Denis. Kenia langsung mendelik tajam pada Denis.
“Eh, dede Kenia ngambek. Apa mau sama Bangka? Abang Kala ... Kala Kenia, Denis Dwina ... tuh kan, cocok! KK dan DD!”
Bugh
“Aw!” Denis memegang lututnya yang ditendang oleh Kenia.
“Amit-amit aku jodoh sama si curut!”
“Hah, apa? Aamiin aamiin?”
“Curut, ini semua gara-gara kamu!” Kenia langsung menjadikan Kala sasaran kekesalannya.
“Denis yang salah, kenapa aku yang jadi pelampiasan?” batin Kala.
Marco semakin mengepalkan tangannya melihat semua itu. Hatinya terbakar amarah, dia benar-benar tidak suka Kenia berinteraksi dengan pria lain, tidak peduli apa pun alasannya. Entah cinta atau obsesi, Marco tidak akan pernah membiarkan Kenia bersama pria lain.
 
Denis sedang membeli nasi goreng seafood. Malam ini dia seperti orang ngidam yang sangat ingin memakan makanan itu. Tidak tanggung-tanggung, dia membelinya dua bungkus sekaligus.
“Berapa, Bang?”
“Tiga puluh ribu.”
Setelah membeli nasi goreng, Denis lalu membeli martabak telur dan makanan lainnya ingin menemani dia begadang. Denis mengendarai motornya dengan pelan, hingga di jalan yang sepi, pria itu dicegat oleh empat orang pria berpakaian hitam.
“Olah raga malam, nih!” ucap Denis pelan. Tanpa basa-basi, mereka langsung menyerang Denis. Kala yang saat itu pulang dari suatu tempat, melihat Denis yang sedang berkelahi. Tanpa pijir panjang pria itu langsung membantu Denis.
Denis meligat motornya dan motor Kala yang masih berada di tempat.
“Mau apa kalian sebenarnya? Kalian bukan perampok, kan?” Tidak ada yang menjawab.
Kretak
“Ahh!” Denis memelintir tangan pria yang bertato naga. Sedangkan Kala juga menendang perut salah satu dari pria lainnya.
“Urusan kita belum selesai!” ucap si pria berkepala botak.
“Move on sana, jangan ngarepin aku terus!” teriak Denis. Entah Kala harus tertawa atau geli mendengarnya. Yang jelas dia ingin menjitak pria di sebelahnya itu.
“Tidak perlu bilang makasih!” ucap Kala.
“Dih, percaya diri banget kamu.” Denis lalu melihat makanan yang tadi dia beli.
“Selamat, untung saja masih utuh!” ucapnya sambil mengelus dada. Dalam hati Kala mencibir, kenapa ada pria yang aneh seperti Denis. Padahal bagi Kenia mereka berdua sama-sama aneh.
“Kira-kira mereka siapa dan mau apa, ya?” tanya Denis.
“Kamu punya musuh?”
“Banyak! Aku kan ganteng, kaya, terkenal, pintar ....”
“Denden, kamu ketularan Kenken.”
“Amit-amit, jangan panggil aku Denden!”
 
Keesokan harinya, kampus dihebohkan dengan keadaan tiga pria yang terlihat babak belur.
Kala, Denis, dan Marco
“Kalian bertiga gabis adu jotos?” tanya Kenia.
“Enggak,” jawab mereka bertiga kompak.
“Kalian lagi berebutan aku?” tanya Kenia lagi dengan penuh percaya diri.
“Kamu jangan GR, Kenken!” Kenia mendelik pada Kala.
“Ya ampun Kala, kamu kenapa?” tanya Jesi, yang membuat Kenia langsung ingin muntah. Jesi mengusap-ngusap wajah Kala. Kenia melihat wajah Marco dan Denis, kedua pria itu pikir, Kenia akan merasa kasihanndan mengusap wajah mereka, tapi gadis itu malah pergi yang disusul dengan tawa mengejek dari Dwina.
“Memang enak, dicuekin?”
Kampus mereka akan mengadakan acara di pulau, yang akan dibagi beberapa kelompok secara acak. Angkatan Kenia akan satu kelompok dengan angkatan tiga dan sebagian angkatan empat. Marco yang satu kelompok dengan Kenia, memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan gadis itu.
Kenia terlihat memukau dengan celana pendek selutut dan flat shoes. Sedangkan Kala? Melihat Kala, Kenia selalu dibuat kesal.
“Ck, kamu mau ke pantai atau mau ke kondangan, sih?” Kenia lalu menarik tangan Kala dan membawanya ke tempat sepi.
“Jangan macam-macam, Kenken!”
“Najis!”
Kenia langsung melepas kaca mata Kala.
“Kenken, jangan ih!”
“Diam!”
Kemudian gadis itu menyugar rambut Kala dengan Kasar.
“Aw, Kenken ... sakit”
“Berisik!”
“Mereka lagi apa? Jangan-jangan mesum?” tanya Denis pelan. Tadi dia melihat Kenia dan Kala yang berjalan ke tempat sepi.
“Awas saja kalau Kala berani macam-macam pada Keniaku!” Dengan memasang ancang-ancang, Denis langsung menangkap basah mereka.
“Hayo, mesum enggak ngajak-ngajak!”
“Denis ih, ngomongnya!”
“Anjir, jangan bikin kaget, setan!”
Denis melihat Kenia yang ingin membuka kemeja Kala.
“Kenia, Kala jangan diapa-apakan, nanti kamu bisa menyesal seumur hidup!”
“Aku akan lebih menyesal lagi kalau selalu melihat dia berpenampilan culun, bisa-bisa mataku katarak!” Kenia yang fokus dengan kaca mata Kala yang dipegangnya, tidak melihat bagaimana penampilan Kala saat ini.
Kenia lalu berusaha melepaskan kemeja Kala.
“Lepas, enggak!”
“Jangan!”
 “Lepas!”
“Jangan!” Denis bergidik melihat apa yang dilakukan oleh ke dua orang itu.
“Kalian bisa bikin orang salah paham, tahu!” Kenia berhasil melepas kemeja Kala dengan paksa, dan melemparnya ke Denis.
“Kenia ke mana, sih?”
Mereka bertiga mendengar suara Marco dan teman-temannya yang mendekat. Lalu mereka langsung mengambil langkah untuk kabur dari tempat itu.
“Kita ngapain kabur, sih?”
“Yang lari duluan siapa?”
“Kenken!”
“Kenia, kenapa kamu kabur?”
“Gara-gara kamu, Den. Bisa hancur reputasi aku kalau orang-orang berpikir aku dimesumin dua pria jelek model kalian!” Kala dan Denis saling pandang, sama-sama ingin protes dengan perkataan Kenia yang seenak jidat itu. Sebelum Kenia memperhatikan, Kala langsung memasang lagi kemeja dan kacamatanya.
“Heh gembel, kebapa dipakai lagi?”
“Sudah biarkan saja, badannya banyak panu dan bisul,” ucap Denis. Kenia langsung melihat jijik pada Kala, dan laagsung berlari untuk mencuci tangan dengan sabun antiseptik. Denis yang melihat itu langsung tertawa meledek Kala.

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Visitor

    Mantapp

    21d

      0
  • avatar
    rafazhaamanda

    good novel

    22/02

      0
  • avatar
    RafliMuhammad

    sangt bguss

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru