35 Ancaman Ada kalanya orang akan hilang kesabaran dan meluapkan semua emosinya. “Hai Ken, aku senang akhirnya kamu kembali kuliah,” sapa Marco. Kenia menatap Marco dengan tatapan menyelidik. “Kamu ya, yang memasukkan obat itu ke dalam minuman?” tembak Kenia. “Mana mungkin Ken, aku tidak sejahat itu. Lagi pula, untuk apa aku mencelakakan kamu.” “Mana ada maling yang mau ngaku,” gumam Kala, tapi masih bisa didengar dengan jelas. “Apa kamu bilang? Kamu menuduh aku?” “Aku kan tidak bilang begitu,” jawab Kala dengan santai. Marco yang memang sejak awal sudah membenci Kala, kali ini tidak bisa mengontrol dirinya. Dia langsung menonjok Kala hingga pria itu terjatuh dari duduknya. “Kamu pikir kamu siapa bisa menuduhku seperti itu? Kamu hanya sampah yang ditampung di kampus ini.” Marco kembali ingin memukul Kala, tapi pria itu bisa menghindar. Teman-teman Marco memegangi Kala, membuat Denis menatap sinis pada Marco karena bisanya main keroyokan. Bugh Bukan Kala yang kena pukul, tapi teman Marco. Pukulan-pukulan yang diberikan Marco selalu bisa dihindari oleh Kala dan justru mengenai teman Marco yang memeganginya, membuat Marco semakin kesal dan malu. Tidak ada yang berniat membantu Kala, selain karena tidak peduli dengan Kala, mereka juga takut dengan Marco. Denis juga tidak membantu karena dia tahu kemampuan Kala seperti apa. “Keluargamu juga keluarga sampah. Pasti ibumu melacurkan diri sehingga bisa melahirkan anak seperti dirimu. Oh, juga nenekmu yang peyot itu, juga pasti sama buruknya.” Mendengar kata-kata Marco yang menghina keluarganya, Kala mengepalkan tangannya. Selama ini dia diam saja mendengar penghinaan mereka. Dia tidak membalas bukan karena takut dan tidak bisa, tapi karena ingin menjadi orang yang bisa mengendalikan diri dan tidak mudah terpancing emosi, namun dia tidak terima jika keluarga yang sudah mendidiknya dengan baik ikut dihina. Bugh bugh bugh Kala memukul Marco. “Jangan coba-coba menghina keluargaku. Kamu tidak tahu apa-apa tentang mereka. Kamulah pria yang tidak berguna, yang tidak pantas ada di kampus ini. Kamu hanya mampu mengandalkan kekayaan dan kekuasaan keluarga kamu. Tanpa mereka, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya bisa berlindung di balik ketiak kedua orang tuamu.” Bugh bugh bugh Kali ini Kala memukuli teman-teman Marco yang sebelumnya berusaha menarik Kala dari Marco. “Dan kalian, kalian sangat bodoh karena mau saja diperbudak oleh pria ini. Apa kalian dibayar untuk itu? Tidak, kan? Apa kalian begitu takut dengan pria manja ini? Apa yang kalian dapatkan dari semua itu? Nama baik? Kekuasaan? Kekayaan? Atau agar terlihat keren?" Kala kembali memukul Marco, perasaan yang selama ini dia tahan, akhirnya meluap juga. Orang-orang menjadi takut melihat Kala yang seperti itu. Mereka tidak pernah menyangka dengan sisi Kala yang satu ini, karena selama ini Kala selalu diam saja saat dirinya dihina. Kenia yang melihat Kala terus-menerus memukul Marco, menjadi pucat. Tubuhnya gemetaran disertai keringat dingin. “Ber ... berhenti!” gumamnya pelan, tapi tidak ada yang mendengar. “Apa setelah ini kamu juga ingin mengadu kepada orang tuamu? Menangis di hadapan mereka untuk datang ke sini, hah?” “Berhenti!” perintah Kenia dengan suara yang lebih nyaring. Kala tidak peduli dengan perkataan Kenia, dia masih memukul Marco dengan penuh nafsu. “Apa yang mau kamu pamerkan dari hidupmu itu? Pamer kekuasaan tanpa bisa berdiri di atas kaki sendiri? Pamer kekayaan meski itu berasal keringat orang tuamu?” “Berhenti ... berhenti!” ucap Kenia lagi dengan suara bergetar. Denis melihat Kenia, dan kaget melihat keadaan gadis itu. “Kala, berhenti!” ucap Denis. “Jangan ikut campur! Selama ini aku diam saja dengan sikap kalian, tapi jangan pernah menghina keluargaku!” Denis menghampiri Kala, menarik tubuh pria itu dari Marco. “Berhenti Kal, kasihan Kenia!” Kala melihat Kenia, dan menghela nafas saat melihat gadis itu sudah seperti mayat hidup. Kala mendekati Kena, tapi sebelumnya memukul Marco sekali lagi.
“Ikut aku!” Kala menarik tangan Kenia, tapi Kenia diam saja, berusaha bertahan di tempat. “Aku bilang, ikut aku!” Dengan langkah terseok, Kenia melangkah dengan digenggam oleh Kala. Dwina yang melihat Kenia dibawa pergi oleh Kala, merasa bimbang. Di satu sisi dia ingin mengikuti Kenia, tapi takut dengan Kala, di sisi lain dia juga khawatir dengan Kenia. Tapi bukankah Kenia itu sahabatnya? Jadi sudah seharusnya dia menjaga Kenia. “Kamu mau ke mana?” “Ya ngikuti mereka, lah. Den, ayo kita susul mereka.” “Ngapain? Sudah tenang saja, Kala tidak mungkin menyakiti Kenia.” “Tahu dari mana?” “Kamu kan sahabat Kenia, sudah tahu bagaimana watak Kenia. Kalau Kala berani macam-macam, pasti sudah dihajar sama Kenia.” “Tapi kan ....” “Sudah, tenang saja!” “Tapi tadi ....” “Ck, mendingan kita makan!” Denis menekan pundak Dwina agar gadis itu kembali duduk. Marco sudah dibawa pergi oleh teman-temannya. Perbuatan Kala tadi kini menjadi pembicaraan hangat. Ada yang merasa kasihan dengan Marco karena babak belur dipukul oleh Kala. “Kenapa malah kasihan sama dia, kan dia sendiri yang memulai duluan.” Denis mendengkus kesal mendengar perkataan salah satu mahasiswi yang sudah pasti fans Marco. “Bagaimana nasib si culun, ya? Pasti Marco tidak akan diam saja.” “Iya tuh, bagaimana nasib Kala, ya?” tanya Dwina menyambung perkataan salah satu mahasiswa yang berbicara temannya. Meskipun Dwina selama ini juga suka ikut-ikutan meledek Kala, tapi dia lebih mendukung Kala daripada Marco, apalagi mereka sudah mengenal lama dan selalu satu kelas dan kelompok. Tidak bisa dipungkiri kalau ikatan mereka lebih kuat. “Sudah, tenang saja!” “Ish, kamu mah tenang-tenang terus dari tadi. Ini lagi nih, ke mana sih Kenia dan Kala?” Denis menghala nafas melihat Dwina yang tidak bisa duduk dengan tenang. Kala mengajak Kenia ke kelas kosong, dan menutup pintu itu dengan rapat. “Selama ini kamu juga selalu bersikap seenaknya denganku, kan? Mulai sekarang, kamu tidak bisa seperti itu lagi, Kenken! Kamu harus menuruti semua perkataan aku!” “Marco yang bertengkar denganmu, kenapa aku yang harus menuruti semua perkataan kamu?” “Karena aku tahu siapa kamu.” “Maksudnya?” Kala membisikkan sesuatu di telinga Kenia. Kenia yang sebelumnya berwajah pucat, kini semakin pucat. “Ma ... maksudnya apa?” “Bukankah sudah jelas apa yang aku katakan, Kenken?” Kenia diam saja mendengar perkataan Kala, meski jantungnya sudah berdetak sangat kencang. “Bagaimana kalau orang-orang tahu siapa kamu sebenarnya?” “Kamu mengancam aku?” “Tidak, tapi aku hanya mengingatkan.” “Terus, mau kamu apa?” “Mulai sekarang, layani aku dengan baik.” Mendengar perkataan Kala, Kenia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Aw!” ringis Kenia saat Kala mencubit gemas pipinya. “Jangan mesum, Ken!” “Kamu kan memang mesum. Buktinya saja kamu suka menciumku seenaknya.” Wajah Kenia memerah saat mendengar perkataannya sendiri. Kenapa di saat-saat seperti ini, malah itu yang dia bahas? “Jadi, mulai sekarang kamu harus datang ke rumahku setiap pagi dan sore.” “Enggak mau!” “Harus mau! Jangan lupa kalau aku tahu siapa kamu.” Kenia mundur saat melihat wajah Kala yang terlihat kesal. Melihat Kenia yang menjauhinya, Kala langsung menarik tubuh gadis itu dan memeluknya. “Aku tidak akan menyakiti kamu, asal kamu menurut!” Kala membelai rambut panjang Kenia yang sangat lembut dan wangi. Bisa dia rasakan juga tubuh Kenia yang masih gemetaran dan dingin. “Nanti malam kamu harus datang ke rumah aku!" Cup Kala mencium bibir Kenia yang merah alami. “Mulai sekarang keadaan akan terbalik, Ken,” batin Kala dan dia tersenyum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua