logo text

Bab 5 Duhai Senangnya Pengantin Baru

Part 5
Apa mungkin Mamah mengira aku hamil? Enggak, beliau kan tahu kalau aku enggak tidur bareng Bang Rendra. Lah, terus maksudnya apa bersikap begini?
Bang Rendra menarik ujung rambutku, meski pelan tetapi sedikit pedes. Aku menoleh ke belakang. Dia memberi isyarat agar aku mau mencegah Mamah. Tak kuhiraukan, aku justru tersenyum mengejek lalu menjulurkan lidah. Bang Rendra tampak geram, tetapi tak sedikit pun memutar haluan.
Sampai di depan rumah, Mamah menyuruh Bang Rendra mengeluarkan mobil di garasi.
"Mah, Rendra enggak ada waktu ... kalo sampe telat ke kantor gimana?"
"Enggak ada waktu gimana? Kamu kan libur? Mau ngapain ke kantor?" Mamah tanya dengan mata mendelik, lumayan serem bisa buat nakut-nakutin Bang Rendra.
"Oiya, lupa, Mah. Rendra ingetnya sekarang hari senin." Lelaki jangkung yang berdiri di depan Mamah ini garuk-garuk kepala dengan senyum canggung.
Aku masih berdiri di dekat Mamah. Ikut nyengir dengan kelakuan Bang Rendra.
"Mah, mau ke mana?" Bisikku saat Bang Rendra menuju garasi.
"Kamu masih mual? Kita ke dokter, ya?"
Kugelengkam kepala cepat. "Enggak, Mah. Ningrum enggak nyidam. Maaf ya, Mah ... tapi aku dan Bang Rendra belum melakukan apa pun. Kami tidur di tempat terpisah," terangku sedikit sungkan, takut Mamah kecewa.
Dugaanku salah beliau justru tersenyum, tak sedikit pun terlihat raut kecewa di wajahnya. "Mamah udah tebak. Sekarang Mamh mau pura-pura marah, biar Rendra mau nurutin keinginan Mamah ...." Wanita paruh baya yang berdiri bersamaku ini, tiba-tiba sesenggukan saat terdengar suara mobil.
Nah, makin bingung aku dengan rencana Mamah. Aku usap-usap punggung beliau dan memeluknya.
Bang Rendra memarkirkan mobil di halaman, dia kembali keluar dan menghampiri kami. Dari raut wajahnya terlihat penasaran.
"Mamah, kenapa?"
Mamah tambah mengeraskan suara tangis yang dibuat-buat. Bang Rendra langsung panik dan mencoba menenangkan Mamah.
"Udahlah, Ren, enggak usah peduli sama Mamah. Mungkin Mamah yang terlalu berharap sama kalian. Mamah kira bakal punya cucu ...." Mamah terus saja menangis sambil mengeluh, sesekali matanya mengedip padaku. Sepertinya beliau memintaku ikut bersandiwara.
"Mmm, maaf ya, Mah. Ningrum tadi mual bu--bukan karena nyidam. Tapi ...."
"Iya tahu! Kalian masih belum melaksanakan tugas suami istri, kan?" Mamah mengusap wajahnya kasar lalu mengambil tisu dari dalam tas dan mengeluarkan ingus. Suara itu sangat keras, kalau boleh jujur aku sedikit jijik.
Aku mengangguk-angguk, sementara Bang Rendra mengacak rambutnya frustasi. Tak habis akal Bang Rendra merayu Mamah dengan kata-kata manis dan janji ... yah, janji palsu mungkin. Soalnya dia bilang akan segera bikin cucu buat Mamah.
Mamah meminta sesuatu sebagai ganti karena pagi ini sudah dibikin kecewa. Enggak tanggung-tanggung beliau meminta kami mengantarkannya ke rumah saudara yang sedang mengadakan acara dan ingin ditemani sampai selesai. Entah acara apa, tetapi Mamah menyuruhku memakai pakaian yang rapi dan tertutup, jadi aku harus balik lagi ke dalam untuk berganti baju dengan gamis dan memakai kerudung.
Bang Rendra juga mengikuti keinginan Mamah, dia sudah siap di dekat mobil, memakai kemeja panjang dan celana kain.
Sepanjang jalan Mamah terus saja berceloteh mengajakku mengobrol dan sesekali meminta tanggapan Bang Rendra, meski jawabannya terkadang absurd.
"Ren, Ningrum cantik ya pake kerudung, bikin pangling ...."
"Iyah, Mah. Saking panglingnya Rendra jadi enggak yakin kalo itu istri Rendra."
Pluuuk!
Mamah memberi kibasan ke Bang Rendra dari kursi belakang. Lelaki itu membalasnya dengan kekehan, melihat Mamahnya kesal. Kalau aku sih biasa saja, meski emang ngeselin banget jawabannya.
***
Sampai di tempat, kami langsung disambut hangat oleh keluarga Mamah. Katanya ini rumah kakak Mamah yang paling tua, memang sering mengadakan acara rutinan untuk kumpul keluarga. Mereka semua begitu ramah, bahkan aku merasa mereka sudah sangat dekat denganku sebelumnya.
Lumayan banyak yang datang mungkin ada dua puluh orang, Mamah bilang mereka semua keluarga besar Mbah Sucipto. Kami berkumpul di ruang tamu yang lumayan luas, bergelar karpet bulu dan ada bantal kecil-kecil juga, suasananya santai. Untuk kursi dan meja sudah disisihkan ke tempat lain.
Aku dan Mamah duduk di belakang, sementara kaum lelaki di depan. Ada banyak anak-anak juga yang asyik berjalan ke sana kemari. Untuk jamuannya ada macam-macam kue, kripik, dan minuman.
"Ningrum, gimana kabarmu, Nduk, sehat?" tanya seorang Ibu yang duduk di sebelah Mamah, kalau dari wajahnya mereka sedikit mirip.
Mamah memberi tahuku kalau beliaulah kakak tertua, biasa dipanggil uak Mar.
"Alhamdulillah sehat, Uak." Aku tersenyum, senang dengan cara beliau menyapaku.
Acara belum dimulai, Uak bilang sedang menunggu kiai yang akan memberi siraman rohani siang ini.
Bang Rendra duduk di paling depan bersama dengan paman Hadi dan lainnya, aku masih belum hafal semua. Mamah juga baru memberi tahu beberapa nama-nama mereka.
***
Yang ditunggu tiba, beliau kiai Mustofa datang memberi ceramah singkat. Sudah sepuh, Uak Mar bilang beliau juga masih keluarga jauh.
Beliau memulai dengan salam dan candaan, ceramahnya ringan dan santai. Temanya tentang pengantin baru, sungguh berasa ingin mesem-mesem. Jangan-jangan ini udah di-setting sama Mamah?
"Ada di sini pengantin baru?" tanya kiai Mustofa dengan senyum ramah dan jenaka.
Suasana jadi ramai karena nama Bang Rendra di tunjuk-tunjuk. Mereka yang lebih senior terlihat begitu antusias menggoda Bang Rendra.
"Menikah adalah ibadah paling lama dimana di dalamnya harus ada kesabaran, diiringi dengan perjuangan, dan harus diimbangi dengan ikhlas dan doa. Begitu kan, Bapak, Ibu?" Beliau menasehati juga mengajak pendengar untuk ikut berinteraksi membuat suasana lebih menarik dan tak membuat ngantuk. Ya, jujur saja karena orang-orang sepertiku kalau dengerin ceramah lebih sering ngantuknya ketimbang antusiasnya.
"Seorang lelaki bisa menjadi pintu surga bagi sang istri, sebagaimana dia bisa menjadi pintu neraka bagi istrinya. Dan seorang istri pun bisa mengubah rumah tangganya menjadi surga, namun bisa pula mengubahnya menjadi neraka. Jadi, semua itu butuh kerja sama untuk mendapat surga, saling membantu dan bergotong royong membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah till jannah ...."
"Amiin," serentak yang ada di sini mengaminkan ucapan beliau.
Mendengar ceramah beliau di situasi ini memang berasa pas banget. Beliau menasehati untuk pasangan baru mau pun yang lama agar tetap berasa baru.
Sesekali aku merasa tersindir bahkan karena nasihat beliau begitu menyentil-nyentil. Eh? Mm, aku yakin Bang Rendra merasakan hal yang sama. Kalau setelah ini dia tidak bertaubat, eh maksudnya tidak sadar juga mungkin memang harus dirukiah. Kan?
***
Selesai acara, ada yang langsung pulang ada juga yang memilih duduk dan berbincang lebih dulu di depan. Kalau aku disuruh Mamah membantu bersih-bersih, kuambili satu per satu piring kotor bekas hidangan kue lalu membawanya ke dapur yang sudah diberi tahu oleh Uak Mar tadi.
Lumayan banyak piringnya, kutumpuk sampai tinggi dan membawanya sekalian, karena bukan piring beling jadi enggak takut kalau sampai pecah.
Tepat saat mau menuju pintu dapur kebetulan banget bareng Bang Rendra, dia juga membawa kardus sampai tiga tumpuk, entah apa isinya.
"Ning, aku duluan," pinta Bang Rendra.
"Enggak, Bang! Aku dulu!" Tak ingin kalah aku tetap melangkah masuk, tetapi saat di pintu justru tertahan karena kami sama-sama masuk dan pintu ini kurang lebar jadi aku dan Bang Rendra terjepit.
Bang Rendra menyikut lenganku agar mau bergeser, tetapi posisiku pun sama tertekannya.
"Bang, kenapa sih kamu enggak mau ngalah!" serukku sambil memegangi piring agar tak jatuh.
"Loh, yang harusnya ngalah itu kamu! Kan kaki aku duluan yang masuk, tuh lihat!" Bang Rendra mengangkat kaki kirinya.
"Itu sih karena kakimu panjang! Jelas-jelas aku yang duluan maju. Cepet geseeer!" Kucondongkan tubuh ke kiri agar Bang Rendra mau memberi celah.
Kami berdua saling sikut karena tak ada yang mau mengalah, sementara badan masih tertahan di pintu. Awalnya Bang Rendra hanya pelan mendorong lengannya, lama-lama dia pake tenaga juga. Dia bisa lolos dengan lebih dulu masuk, tetapi piring yang kubawa jadi tersenggol dan jatuh. Berantakan banget sih enggak, tapi suaranya itu!
Saking kerasnya suara piring jatuh, Uak Mar sampe lari tergopoh-gopoh ke dapur.
Aku jongkok untuk memunguti piring, Bang Rendra meletakkan kardus lalu ikutan membantu.
"Enggak usah!" balasku menepis tangan Bang Rendra, tetapi dia tetap membantu meski wajahku masam. Bukannya merasa bersalah dia justru mesem-mesem dan tertawa geli. Kan, seperti biasa kalau liat aku kesusahan itu berasa kebahagiaan tersendiri gitu loh buat Bang Rendra, jelas banget terlihat dari sikapnya.
"Ada apa, Ning? Ren?" Uak Mar terlihat ngos-ngosan.
"Enggak apa-apa, Uak. Tadi Ningrum kesandung. Iya kan, Ning?" Bang Rendra menjawab lebih dulu, dia mengedipkan mata padaku.
Aku hanya mengangguk dan memaksakan tersenyum agar Uak Mar tak lagi khawatir. Beliau berlalu, sementara kami melanjutkan pekerjaan. Kubawa piring kotor ketempat cucian.
Bang Rendra melenggang, usai meletakan tumpukkan piring. Buru-buru kuraih tangannya agar tak pergi.
"Mau ke mana? Bantuin!" pintaku ketus.
Bang Rendra membulatkan mata, lalu mengibaskan tanganku. Dia tersenyum mengejek dan melangkah lagi.
"Bang!" Dia tak menoleh sedikit pun.
"Baaang! Kao tak nak bantu aku? Kubilangin sama Mamah, ya? Biar kena sentil kao! Mau, Bang?" ancamku dengan bahasa campur aduk. Mataku mendelik dengan bibir monyong. Sedari tadi sudah kutahan kekesalan ini, lama-lama pengen juga kusemprot suamiku yang ganteng nan ngeselin!
Bang Rendra langsung berbalik, dia mendengkus tapi langsung mengambil spon piring dan memutar kran air. Dia diam, tangannya langsung bekerja meski sedikit brutal, beberapa kali percikan air sabun itu mengenaiku. Entah sengaja atau tidak.
"Kalau bantu itu yang ikhlas!" celetukku sembari menata piring yang sudah bersih ke rak. Tugas ini justru seperti terbalik, Bang Rendra yang mencuci sementara aku hanya menata piring dan jadi mandor.
Bang Rendra menghentikan aktifitasnya, dia menghela napas lalu menoleh padakku. Entah kenapa langsung senyum aneh begitu.
"Iya, Sayang. Ikhhhhlas, bilangin sama Mamah, ya, Abang ikhhhhlaaas!" ucapnya dengan penekanan sembari meremas spon, seakan-akan begitu gereget.
Aku masih melongo, antara tak percaya dia panggil sayang, juga berasa ngeri dengan tangannya yang meremas-remas spon.
"Iya, Sayaaaang!"
Tunggu-tunggu, suara balasan itu bukan aku.
"Cie, Om Rendra nyuci piring ajah sambil sayang-sayangan!" seru anak kecil laki-laki yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu. Dia menggoda pada kami sambil meluk boneka, berbie. Eh, kok, bonekanya berbie, sih?
"Duhai, senangnya pengantin baruuu!" Satu lagi datang, bernyanyi sambil menggoda kami. Kedengerannya ini pawangnya. Yah, itu Mamah dia datang dengan senyum semringah sambil menggandeng anak kecil nangis.
Mamah menaik turunkan alisnya. "Ayo lanjutin lagi sayang-sayangannya!" Usai menggoda beliau langsung berbalik sambil menenangkan bocah yang rebutan boneka.
Aku dan Bang Rendra masih berdiri kaku, kuyakin saat ini dia sangat malu. Kugigit bibir bawah lalu meliriknya. Sama, dia pun menoleh dengan wajah memerah tak seperti biasa.
Bersambung ....

Komentar Buku (58)

  • avatar
    Jaka89

    wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat

    27/05/2022

      0
  • avatar
    Bintang Kejora

    Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya

    09/06

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik 😍

    03/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru