logo text

Bab 8 Perhatian Bang Rendra

Mantu Kesayangan
Part 8
"Lalu? Kamu ingin aku menutup mulut, Bang?"
Bang Rendra menarik sudut bibirnya, senyuman itu sungguh membuatku merasa semakin sebal. Apalagi saat dia mengangguk atas pertanyaanku.
Plaaak!
"Jahat!" Kudorong Bang Rendra, lalu berjalan masuk ke rumah usai memberi dia pelajaran dengan menampar pipinya.
Kayaknya cuma Bang Rendra manusia super tega dan enggak peka! Kalau begini caranya bukankah sama saja dia tak menghargaiku dan mamahnya? Memangnya apa kelebihan Mutia ketimbang aku? Sampai-sampai Bang Rendra bersikap begitu? Jaaahat! Rasanya jadi pengen gigit orang!
Dingin sekali, aku langsung ke toilet sekalian mandi lalu berganti baju. Badan sudah berasa tak enak seperti meriang, apalagi berkali-kali bersin membuat hidungku gatal dan memerah.
Kutarik selimut sampai menutupi kepala, lalu memejam. Aku butuh istirahat agar tak jatuh sakit. Masih banyak sesuatu yang harus kukerjakan salah satunya merebut hati Bang Rendra!
***
"Ning!" Suara Bang Rendra dan ketukan pintu berkali-kali mengganggu tidurku. Rasanya ingin bangun tetapi mata berasa sulit banget untuk dibuka.
"Ning, kita makan malam!" seru Bang Rendra dari luar pintu.
"Ka--mu duluan ajah, Bang ...." Entah suaraku terdengar atau tidak, bicara saja gigiku ikut gemertuk karena badan menggigil.
Tanganku meraba-raba untuk meraih ponsel di atas nakas, saat kunyalakan layarnya membuatku sedikit kaget. Perasaan baru tidur tapi udah jam delapan malam lebih. Saking capenya kayaknya, lelap banget.
"Ning, kalo enggak kamu buka, aku dobrak ya?" ancam Bang Rendra. Mau tak mau harus kubukakan pintu meski kesusahan berjalan.
Aku memakai selimut untuk menyelubungi dari kepala sampai ke bawah barulah berjalan ke arah pintu. Namun, tak disangka saat pintu terbuka Bang Rendra justru sedang mengambil ancang-ancang untuk mendobrak dengan berlari, tentu aku yang kaget tak ada waktu untuk menghindar membuat kami bertabrakan. Bang Rendra juga tak bisa mengerem mendadak.
Tubuhku terpental lalu tertindih oleh Bang Rendra, masih untung selimut tebal ini bisa menghalangi kepalaku dari benturan lantai. Kami berdua, saling pandang sebelum kesadaran membuatnya mengaduh karena kepalanya tadi sempat terantuk pintu.
Kening Bang Rendra sedikit memerah di bagian kiri atas.
"Kenapa dibuka pintunya?" tanya Bang Rendra dengan nada kesal.
"Bu--bukannya kamu yang gedor-gedor minta dibukain!" belaku sambil berusaha bangkit dan menutupi tubuh dengan selimut lagi.
Lelaki di depanku ini terus saja mengamati saat aku kembali duduk di pinggir ranjang. Badanku kembali menggigil, hidung pun mulai berasa mampet. Bang Rendra menyentuh keningku dengan telapak tangannya.
"Demam? Makanya jangan ujan-ujanan! Kayak enggak ada kerjaan ajah buntutin orang," sindirnya. Langsung kutepis tangan Bang Rendra.
"Makan, ya?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng dengan wajah cemberut, lalu merebahkan diri lagi. Bang Rendra langsung keluar, kukira dia memang tak peduli. Ternyata tidak, masih ada setitik rasa simpatik juga kekhawatirannya terbukti dengan membawakan nampan berisi makan malam dan susu hangat.
Dia memaksaku untuk duduk dan makan apa yang dia bawa.
"Kamu masak sendiri, Bang?" Kulirik sop yang ada di piring.
Bang Rendra langsung tersenyum sombong. Dia mengambil sendok dan meletakannya di mangkok. "Yaiyalah, siapa lagi, kalau kamu enggak masak? Cepet makan."
"Dingin, Bang. Tanganku gemeteran." Kurapatkan selimut ke tubuh.
"Manja," katanya. Tapi tangan itu tetap mau menyodorkan sesendok suapan untukku.
Mamah bilang, Bang Rendra itu bisa baik kalau kita sabar. Sebenernya aku pun merasa begitu, hanya saja karena kami sering bertengkar jadi sikap jutek, ketus, dan menyebalkannya lebih dominan. Bang Rendra menyuapi dengan tatapan ke arah makanan atau sesekali melempar pandangan saat mata kami bertemu. Entah dia malu atau justru sebal denganku, yang jelas aku terus mesem-mesem untuk menggodanya.
"Udah enggak marah?"
Mendengar pertanyaanya senyumku langsung meredup, mengingat siang tadi. Bagaimana Bang Rendra menyuruhku pulang dengan ojek sementara dia malah asyik-asyikkan dengan wanita lain.
"Ingin marah, tapi sadar ... aku hanya bisa mengikatmu dengan pernikahan ini. Namun, hati ... siapa yang tahu dia ingin condong ke mana," balasku dengan suara lemas. Aku jadi berasa kalau diri ini begitu menyedihkan.
"Lain kali jangan begitu, kamu enggak perlu korbanin diri hanya untuk hal begini. Aku tak suka dicurigai ...."
"Kenapa? Memang enggak boleh kalau seorang istri mencurgai suaminya?" Aku bertanya dengan senyum sinis. "Oiya, aku lupa ... pengecualian untuk suami yang tidak menerima pernikahannya," sindirku lalu terkekeh-kekeh.
Bang Rendra meletakan mangkok yang sudah kosong ke nampan yang ada di atas meja, dia merapikan semua, termasuk gelas yang masih berisi setengah dia ambil lalu menenggaknya sampai habis.
"Loh, Bang, kok dihabisin?" Aku sedikit kaget, bukan hanya karena dia meminum minumanku, tapi dia seperti sengaja meminumnya tepat di bekas bibirku.
"Dari pada enggak diminum, nanti dingin. Kamu bisa minum air putih dulu sebelum tidur." Bang Rendra menunjuk gelas berisi air bening di atas nakas, lalu dia pergi dan menutup pintu pelan.
Begini kah rasanya diperhatiin suami? Ternyata bikin mesem-mesem. Lanjut tidur lagi, semoga lekas membaik.
***
"Aku senang bisa bertemu Bapak dan Ibu, kenapa kalian tak pernah kemari? Ningrum rindu," ucapku pada Bapak dan Ibu yang datang ke rumah Bang Rendra. Mereka berdiri di ambang pintu lalu tersenyum begitu manis. Satu per satu mereka kupeluk.
Bapak memakai baju kaus warna putih seperti yang biasa dipakai saat santai di rumah. Ibu pun masih seperti dulu, selalu tampak sederhana tetapi cantik.
Aku ingin mengajak mereka untuk duduk dan bermain di sini lebih lama, tetapi Bapak justru pamit untuk pulang. Beliau menggandeng tangan Ibu lalu melangkah pergi sebelum masuk ke rumah.
"Tunggu dulu, Pak ... Ningrum, masih rindu." Kuraih tangan kiri Bapak dan menggenggamnya erat.
Tak ada sepatah kata pun yang beliau ucapkan, tetapi terus menarik tangannya dan berusaha pergi dariku.
"Ibuuu!" Aku mulai merengek seperti anak kecil, bahkan air mata sudah seperi aliran sungai. Aku tak rela mereka pergi. Meski tanganku masih mengganggam dan coba mempertahankannya, tapi entah kenapa aku seperti tak punya kekuatan, terasa begitu lemas dan tak bisa lagi menahan Bapak dan Ibu agar tak pergi.
"Ningrum, bangun ... Ning!" Kurasakan ada yang menepuk-nepuk pipi. Reflek aku membuka mata. Jantung terasa berdebar begitu kencang, aku ketakutan.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Bang Rendra yang entah sejak kapan duduk di kursi dekat dengan ranjangku.
Kuusap kening yang terasa hangat, ternyata ada handuk kecil untuk mengompres. Aku menoleh pada Bang Rendra lalu berganti melihat tanganku yang ternyata masih erat menggengam jemari Bang Renda.
"Kenapa? Kamu mimpi buruk lagi?" tanyanya berulang, dia membalas dengan menggenggam tanganku lalu membenarkan letak handuk di kening.
Aku mengangguk, mimpi tetapi terasa begitu nyata bahkan aku juga menangis sungguhan.
"Aku rindu, Bapak sama Ibu ...." Seakan-akan mengerti akan kesedihanku, Bang Rendra merundukkan badan memberiku ruang untuk memeluknya.
Erat aku melingkarkan tangan dan kembali menangis sampai sesenggukan.
"Kamu ingin ketemu Bapak dan Ibu? Besok kita ziarah ke makam mereka, mau?"
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk, entah kenapa rasanya mulai tenang saat berada dalam dekapan Bang Rendra.
Detik demi detik berlalu, atau mungkin sudah merambah ke menit-menit yang terasa begitu cepat. Bang Rendra mengusap-usap punggungku. Kuseka air mata lalu merenggangkan pelukan, kini aku ingin menatap lelaki yang suka rela memberikan dadanya untukku bersandar.
"Kenapa? Apa aku begitu menyedihkan?" tanyaku sungkan ketika melihat matanya ikut berkabut. Selalu saja begitu ketika kami sedang dalam momen serius. Seakan-akan menatapku membuatnya masuk dalam jurang kesedihan.
Dia terdiam dengan sudut mata yang mulai berair. Kedua tangannya mengusap jejak air mata di pipiku. Dia mulai mendekatkan wajahnya, lalu menutup mataku tiba-tiba, membuat semuanya menggelap. Hanya sentuhan lembut dari bibirnya yang bisa kurasakan.
Bersambung ...

Komentar Buku (58)

  • avatar
    Jaka89

    wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat

    27/05/2022

      0
  • avatar
    Bintang Kejora

    Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya

    09/06

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik 😍

    03/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru