logo text

Bab 9 Genggaman Seorang Dokter

Part 9
"Sorry!" Bang Rendra terlihat begitu gugup, dia langsung mengusap bibirnya lalu bangkit dari kursi. Aku yang tadinya terpaku dibuat bingung, sempat kuraih tangannya, tetapi Bang Rendra justru melepaskan.
"Kalo masih pusing, tidurlah lagi. Aku akan bikin sarapan." Lelaki yang sukses membuat jantungku berdebar tak karuan itu pergi dengan terburu-buru, entah kenapa. Atau karena ciuman tadi? Memang ada yang salah?
Kuusap lembut bibir yang masih terasa ... gimana ya? Aku sulit menjabarkannya yang pasti ini membuatku begitu senang. Aku kira kali ini Bang Rendra melakukan itu bukan karena terpaksa seperti saat bertemu Mutia waktu itu. Tak henti-hentinya aku mesem-mesem, ngebayangin Bang Rendra ternyata bisa membuatku seperti orang gila. Apa ini yang namanya jatuh cinta?
***
Badanku sedikit lebih segar usai mandi air hangat, apalagi jiwa yang bahagia membuat fisik juga terasa lebih bugar. Katanya sih gitu!
Harum masakkan mulai tercium saat keluar kamar. Sungguh, jadi tak sabar ingin segera ke dapur.
Bang Rendra berdiri di dekat wastafel dia sedang mencuci tangan usai membuat omlet telur, sementara aku langsung duduk di kursi tanpa menyapanya lebih dulu, mungkin itu yang membuatnya kaget saat berbalik badan dan melihat ke arahku.
"Wah, kelihatannya enak," pujiku sambil menata nasi ke piring. Bang Rendra tak menanggapi pujianku. Ekspresinya masih datar, tapi itu lebih baik ketimbang wajah jutek.
Saat makan, tak ada suara kecuali suara sendok dan piring. Bang Rendra terlihat kalem seperti biasa, bedanya sekarang dia seakan-akan menghindar saat tatapan kami bertemu. Apa dia malu? Ah, masa sih cowok malu cuma gara-gara ciuman? Toh, sama istri sendiri? Aku jadi berasa aneh dan bingung.
"Mm, Bang ... jadi ziarah ke makam Bapak?"
"Terserah, kalo kamu mau."
"Mau, Bang. Sekalian mampir ke rumah bapak, ya? Aku kangen. Mas, enggak kerja kan hari ini?"
"Oke," sahutnya singkat. Suasana jadi terasa begitu canggung, apalagi sikap Bang Rendra terkesan tak bersahabat. Apa dia berubah lagi? Ish, kenapa! Baru juga aku ngerasa diajak terbang, belum apa-apa udah turun lagi.
Kupakai dress lengan panjang juga selendang yang menutup rambut lalu keluar menemui Bang Rendra yang sudah menunggu di dalam mobil. Cuaca pagi ini sedikit mendung, bahkan sudah jam sembilan sinar mentari tak terasa hangatnya.
Aku duduk tepat di kursi sebelah Bang Rendra, meski dia terdiam dan fokus menyetir entah kenapa saat aku menoleh dan melihatnya membuatku mesem-mesem. Senang rasanya. Kalau Mamah tahu Bang Rendra menciumku pasti beliau pun akan teriak kegirangan, apalagi Mbak Anya dia pasti akan sangat heboh.
Tak ada halangan yang berarti saat menuju ke makam, jalanan pun terasa lengang, tidak ada kemacetan yang mengulur-ulur waktu. Rumah Bang Rendra dengan makam Bapak lumayan jauh mungkin ada satu jam perjalanan, kalau dari makam ke rumah bapakku itu dekat hanya lima ratus meter.
Memasuki area pemakaman kulambatkan jalan sembari melihat ke kanan dan kiri membaca nama di setiap papan nisan. Hanya iseng, tetapi membuatku berpikir, esok aku pun akan terbaring di sini. Sebelum waktu itu tiba aku ingin menghabiskan sisa waktu dengan penuh cinta dan bahagia bersama lelaki yang sekarang berjalan di depanku.
Tepat di sebuah makam bertuliskan Prasetyo dan di sebelahnya Milati kami berhenti, itu makam bapak dan ibu. Sebenarnya area pemakaman di sini cukup bersih dan terawat, tetapi aku tak ingin melewatkan kesempatan membersihkan rumput liar yang sedikit mengotori gundukan tanah di makam. Satu per satu kucabuti dan mengumpulkannya. Mungkin terlihat sepele dan kurang kerjaan, tetapi aku senang.
Bang Rendra masih terdiam menungguku untuk siap berdoa. Dia memakai kacamata hitam, sesekali melihat ke sekeliling lalu bergeleng-geleng saat tatapan itu berakhir ke arahku. Kenapa? Enggak ada yang aneh kan?
"Sudah?" tanyanya saat aku menepuk-nepuk tangan yang terasa berdebu.
Aku mengangguk dengan seulas senyum, begitu bahagia bisa ziarah ke sini setelah tadi malam mimpi bapak daj ibu datang berkunjung.
Bang Rendra memimpin doa lalu kami membaca surah Yasin bersama-sama. Suasana begitu hening, hanya lantunan ayat-ayat suci yang terdengar.
***
Kami berjalan menuju tempat parkir, tetapi kali ini aku tak ingin membuntut, jadi kusejajarkan langkah lalu meraih lengan Bang Rendra. Dia menoleh tetapi tak komentar apa pun, itu berarti tak masalah.
"Sudah sampai, masih ingin begini?" tanyanya saat kami sudah berada di depan mobil. Aku hanya bisa cengengesan lalu masuk ke mobil.
Melanjutkan lagi perjalanan ke rumah bapak. Rasanya semakin menebal rindu ini, tetapi rasa ikhlas membuatku harus tegar dan menyikapinya dengan hati lapang. Apalagi sekarang ada seseorang di sampingku. Aku berharap Bang Rendra dan keluarganya bisa terus baik dan membuatku selalu merasa memiliki keluarga baru, meski bapak dan ibu sudah meninggal, aku juga anak tunggal yang tak memiliki saudara.
Sampai di rumah bercat putih yang terlihat sedikit tak terawat kami berhenti. Saat aku berdiri dan melihat sekeliling rasanya begitu perihatin, karena tempat ini jadi begini. Tembok tak lagi cerah, ada banyak debu bahkan di beberapa bagian terdapat lumut dan tanaman paku.
"Sepertinya rumah ini butuh orang untuk menjaganya, sejak bapak meninggal dan aku menikah baru kali ini aku berkunjung ... tampak kotor sekali." Kuusap kaca yang berdebu lalu mengintip ke dalam rumah, tentu tampak sepi.
"Adakah sesuatu yang kamu ingat jika melihat rumah ini, Ning?" Bang Rendra bertanya, dia juga memandangi sekeliling. Rumah bapak jauh dari tetangga mungkin berjarak sekitar seratus meter baru menemukan rumah lagi, karena paling ujung, dekat dengan kebun dan pemakaman tadi.
Aku menoleh padanya kusunggingkan senyum antusias. "Mengingat itu sulit, tetapi beberapa cerita dari Bapak dan melihat foto-foto Ibu membuatku seperti memiliki ingatan itu."
"Kamu ingat sesuatu tentangku?" Kedua tangan Bang Rendra memegang pundakku, kami bicara saling berhadapan dia sedikit merunduk mungkin karena tinggiku yang tak seberapa dibanding dia.
Tatapan itu terasa begitu menodong, aku juga fokus menatapnya tetapi semakin mencoba menebak sesuatu semakin membuatku terasa aneh, jadi aku langsung tertawa.
"Memangnya kita kenal sebelumnya, Bang? Tiga bulan usai kecelakaan waktuku habis hanya untuk pengobatan dan terapi, selama itu tak sekali pun aku melihatmu."
Bang Rendra mengalihkan pandangannya, lalu pamit ke mobil sebentar. Entah ingin mengambil apa, kutinggalkan untuk masuk ke rumah lebih dulu.
Di dalam tak kalah kotor, untungnya beberapa furnitur ditutup dengan kain. Kuambil kemoceng dan membersihkan foto-foto yang masih terpajang di dinding, rencananya ingin kubawa pulang ke rumah Bang Rendra.
"Ning, bagaimana dengan ini?" Bang Rendra datang lagi, kali ini dia membawa lembar foto yang kemarin ada dalem paket.
"Siapa, Bang? Ini kamu sama siapa?" tunjukku pada gambar lelaki di sebelahnya.
Bang Rendra memintaku mengingat-ingat, tetapi sama sekali tak ada bayangan kalau aku pernah mengenenalnya. Meski jujur, memang ada rasa tak asing, tapi sulit kujelaskan.
"Memang siapa, Bang? Coba jelaskan, mungkin saja dengan itu aku bisa mengingatnya. Apa dia orang penting?"
Bang Rendra mengacak rambutnya, dia justru bertanya di mana letak kamarku. Saat kutunjukkan dia langsung menerobos masuk dan membuka laci-laci kecil juga lemari. Seperti sedang mencari sesuatu. Aku jadi bingung.
"Kenapa sih, Bang? Apa yang kamu cari?" Aku masih berdiri kebingungan.
Kamarku terkesan berantakan dan jadi menakutkan. Ranjang di kamar sengaja dimiringkan dan ditutup dengan kain. Jendela tertutup jadi harus menyalakan lampu agar tak begitu gelap.
"Kenapa semuanya kosong?"
"Kan, semua barangku udah pindah ke rumah Mamah, baju dan lainnya ...."
"Berkas-berkas? Foto-foto? Atau barang-barangmu yang dulu?"
Aku mengerutkan kening, tak pernah terpikir untuk mencarinya. Bang Rendra bersikap seperti detektif membuatku jadi pusing dengan tingkahnya.
"Saat aku pulang dari rumah sakit, Bapak sudah membereskan semuanya ...."
Lelaki itu masih sibuk ke sana kemari mencari sesuatu, sementara aku jadi merasa pusing. Kepalaku berasa cenat-cenut, sepertinya usai kecelekaan itu pun ada jeda ingatan yang kulewatkan. Lama-lama aku jadi berasa pikun, karena amnesia retrogade bukan hanya merenggut ingatan masa lalu saja. Yang aneh adalah masa-masa di rumah sakit pun banyak yang kulupakan.
"Gudang di mana?" Tepat ketika Bang Rendra menanyakan itu dan tanganku ingin menunjukan arah ke gudang justru tubuhku limbung, penglihatanku memburam dan kepala terasa sangat sakit.
***
Samar-samar kudengar suara Mamah dan Bang Rendra, tetapi kantung mata terasa begitu berat untuk terbuka. Mereka berdua terdengar sedang meributkan sesuatu.
Perlahan aku bisa melihat keadaan sekeliling, dan tubuhku terbaring di ranjang rumah sakit. Kok, bisa aku ada di sini? Bukanya tadi malam aku demam dan tidur di rumah? Ah, tidak-tidak ... aku sudah bangun dan merasa baikkan. Lalu di mana aku pingsan?
Bang Rendra dan Mamah duduk di sofa, mungkin mereka tak menyadari kalau aku sudah sadar, saking seriusnya mereka mengobrol dan saling tatap.
"Mah, Mamah bisa saja dengan mudah menerima Ningrum sebagai anak Mamah. Mbak Anya juga, dia bisa menganggap Ningrum seperti adeknya. Tapi bagaimana dengan aku, Mah?" Suara Bang Rendra terdengar parau. "Kalian menempatkanku di posisi yang sulit!" lanjut Bang Rendra, seakan-akan sedang menjatuhkan semua kesalahan pada Mamah.
"Kalian menutupi segalanya dari ...." Ucapan Bang Rendra tertahan saat seseorang dari arah pintu berdeham.
"Permisi!" ucap lelaki yang kutebak seorang dokter, dia memakai jas putih dan kacamata bening, di bagian dalam memakai kemeja berwarna salem. Dia langsung berjalan ke arah ranjangku.
Mamah dan Bang Rendra terlihat kaget dan gugup saat menoleh dan melihatku sudah sadar.
"Ningrum, kamu sudah bangun, Nak?" Mamah mendekat dia langsung mengusap rambutku. Dari wajahnya terlihat begitu cemas, entah cemas karena mengkhawatirkan keadaanku atau cemas karena takut aku mendengar pembicaraannya tadi.
"Hai, Ning, kamu baik? Bagaimana ... lama tak datang, masih ingatkah dengan saya?"
Aku melirik ke arah Mamah saat dokter itu bicara padaku. Lagi-lagi aku tak mengingat.
Aku bergeleng, dokter itu justru terkekeh-kekeh.
"Bu, sepertinya kalian terlalu lama tak membawa Ningrum untuk menjenguk saya," canda dokter itu dengan senyum ramah.
"Bisakah kalian memberi waktu untuk saya memeriksa Ningrum?" pinta dokter pada Mamah dan Bang Rendra. Mereka langsung keluar untuk memberikan waktu pada dokter berkacamata ini dan satu perawatnya tetap tinggal di ruangan.
"Ning, mungkin ada banyak yang tak kamu ingat. Bahkan, saya saja kamu lupakan. Tapi saya janji akan membantumu mengingat semuanya."
Bukan hanya kata-kata dari dokter itu yang membuatku bingung, tetapi genggaman tangan ini pun membuatku begitu kaget.
Bersambung ....

Komentar Buku (58)

  • avatar
    Jaka89

    wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat

    27/05/2022

      0
  • avatar
    Bintang Kejora

    Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya

    09/06

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik 😍

    03/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru