Beranda/Mantu Kesayangan/
Bab 10 Ketika Aku, Bang Rendra, Mutia, dan Dokter Zen Bertemu
Part 10
Langsung kutepis tangan dokter yang menurutku begitu lancang. Aku jadi tak nyaman.
"Maaf," ucapnya masih dengan seulas senyum, lalu meminta perawat membantunya memeriksaku.
Siapa dokter ini? Kenapa semakin dilihat aku berasa tak asing, bahkan senyuman itu aku yakin sangat mengenalnya. Saat dokter fokus memeriksa bagian pergelangan tangan, entah apa yang dia cek, yang pasti aku justru fokus memandangi wajahnya.
"Kenapa terus melihat saya begitu? Penasaran? Nama saya Zen, kamu boleh mamanggil begitu," terangnya dengan melirik padaku lalu kembali menuruskan aktifitasnya.
Tentu aku gelagapan, langsung kubuang pandangan pada perawat wanita yang sekarang justru mesem-mesem. Aih, tertangkap basah ternyata bikin malu!
"Sus, keadaanya baik. Dia hanya butuh banyak istirahat." Dokter Zen dan perawat beralih berdiri sedikit menjauh dariku mereka tampak berbincang serius, tak lama si perawat pergi, sementara dokter Zen justru kembali menemuiku.
Lagi-lagi dia tersenyum, kedua tangannya masuk ke saku jas dan kini dia duduk di tepi ranjang pasien. Terkesan begitu santai, tatapannya mengelilingi setiap sudut di ruangan ini, lalu berakhir padaku.
"Apa?" tanyaku ketus. Takutnya disangka sedang mencuri pandang lagi.
"Mau jalan-jalan ke taman?"
Aku langsung menggeleng. Namun, dia justru memegangi pundakku.
"Mari saya bantu," katanya membuatku melongo. Apa tadi dia tak dengar?
"Maaf, Dok. Aku enggak mau!"
"Sebentar saja, akan kuceritakan sedikit tentang kita."
"Baiklah. Sebentar saja?" Kuulangi pertanyaan seperti ucapannya.
Dia mengangguk dan membantuku duduk di kursi roda. Saat keluar dari ruangan ini, Mamah dan Bang Rendra tak terlihat di luar. Mereka ke mana ya?
Tepat di taman rumah sakit, Dokter Zen membawaku ke dekat bunga-bunga bugenvil, sangat indah karena sedang musim berbunga. Warna-warni meski tak memiliki harum yang menyengat.
Dokter Zen memetik satu bunga yang berwarna merah lalu menyelipkannya ke telingaku. Aku hanya menoleh lalu kembali fokus menatap bunga di hadapanku.
"Dulu, kamu sangat suka bunga, meski bukan bunga kertas, tapi bunga bank," celoteh Dokter Zen, reflek aku melotot tak suka.
"Bercanda," lanjutnya lagi sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Tapi memang bener sih, kayaknya lebih menarik bunga yang bisa diuangkan." Kuikuti candaanya agar suasana tak terlalu kaku.
"Dok, apa sakitku parah?"
Dokter zen merunduk, dia mensejajarkan kepala dengan wajahku. "Tidak, kamu sudah sembuh, hanya saja sekarang saya yang merasakan sakit."
Aku menoleh dan sedikit memundurkan wajah agar tak terlalu dekat dengan dokter Zen. Keningku mengernyit, mencoba mencari arti ucapannya, mungkin dia sedang bercanda lagi. "Kenapa begitu?"
Dia tersenyum lagi, lalu merubah posisinya menjadi jongkok, dan menumpu tangan ke kursi rodaku.
"Pasien yang sembuh akan keluar dan pergi dari rumah sakit, otomatis dokter yang memeriksanya pun harus rela kehilangan, kan? Jadi sakit, di sini." Dokter Zen meremas dadanya.
"Dih, apaan si, Dok. Itu terjadi hanya jika pasien dan dokter ada perasaan lebih dari sekedar ingin membantu mengobati ...."
"Memang ...." Kini Dokter Zen tertawa sedikit keras lalu menepuk-nepuk punggung tanganku dan berdiri lagi.
Kulihat Mbak Anya, Mamah, dan Bang Rendra dari arah koridor rumah sakit, mereka berjalan ke arah sini dengan tergesa.
Dokter Zen beralih posisi di belakang kursi roda saat Mbak Anya sampai. Dia langsung memeluk dan cipika-cipiki denganku.
"Mbak Anya, kok, sudah pulang? Katanya liburan kan?" tanyaku sedikit ragu, seingatku begitu.
Mbak Anya mengangguk sembari menyugar rambut sebahunya. "Udah pulang, ganti jadwal, Ning. Pokoknya enggak jadi liburan panjang, tapi mau ngadain pesta kecil-kecilan di rumah," terang Mbak Anya.
"Dokter Zen, gimana keadaan Ningrum?" Mbak Anya beralih pandang ke Dokter Zen.
Tentu saja seperti tadi, Dokter Zen langsung tersenyum ramah. Sepertinya mereka sudah kenal akrab.
"Dia sudah membaik, bahkan kalau ingin pulang sekarang juga boleh. Dengan catatan seminggu lagi check up, ya."
"Wah, syukurlah." Mamah dan Mbak Anya terlihat begitu antusias.
Mamah langsung mengambil alih kursi roda dan ingin mengantarku ke ruang rawat untuk berkemas. Sebenarnya aku udah enggak pusing dan lemas, juga tak memakai selang infus, tapi Dokter Zen saja yang menyuruh memakai kursi roda. Padahal aku bisa jalan sendiri.
Bang Rendra membuntut di belakang Mamah, sementara Mbak Anya masih berbincang dengan Dokter Zen.
***
Saat di mobil, aku hanya berdua dengan Bang Rendra karena Mamah memutuskan pulang dengan Mbak Anya. Mereka bilang, buru-buru pulang untuk mempersiapkan acara nanti malam.
"Bang, kenal Dokter Zen?" tanyaku memecah keheningan.
Bang Rendra yang sedari tadi di rumah sakit tampak diam, terkesan lebih diam dari diamnya sebelumnya pokoknya langsung menoleh sejenak lalu fokus lagi menyetir.
"Enggak. Kenapa? Abis ngapain ajah tadi? Kalian kelihatan akrab."
"Oh, kukira kamu juga kenal, Mas. Kalau Mbak Anya kelihatan udah akrab dengan dia ya?"
"Mungkin," balas Bang Rendra cuek. Dia seakan-akan tak ingin membahas ini. Jadi, aku memilih diam lagi.
Sampai rumah, Bang Rendra langsung menyuruhku istirahat. Namun, aku tolak dengan alasan tak ingin sendiri. Sepertinya dia paham, Bang Rendra mau menemaniku yang lebih memilih tiduran di sofa.
Awalnya Bang Rendra duduk di ujung kanan, tak ingin begitu jauh akhirnya aku yang pindah. Kurebahkan kepala di pangkuannya.
"Bang, aku pengen begini," pintaku sebelum Bang Rendra menolak dan ingin beranjak.
"Manja. Kan bisa tidur sendiri."
Aku langsung menggeleng dan memeluk kaki Bang Rendra. "Manja sama suami kan boleh? Keberatan?" Kuulas senyum untuk menggodanya.
Lelakiku ini menarik sudut bibirnya, bukan senyum mungkin seperti cibiran. Namun, tak kuhiraukan, bagiku saat ini dialah suami--orang terdekat yang kumiliki.
***
Malamnya, kulihat Bang Rendra sudah rapi dengan memakai kemeja panjang dan celana kain. Seperti ingin keluar, rambutnya juga terlihat berkilatan dengan minyak rambut. Harumnya bukan main. Aku yang sedang bersantai di ruang tamu dibuat penasaran.
"Mau ke mana, Bang?"
"Ke rumah Mbak Anya, ada acara malam ini."
Ah iya, aku ingat. Tadi sore juga Mbak Anya mengirim pesan tentang acara anniversary pernikahan. Tapi kukira Bang Rendra tak akan berangkat karena di luar hujan, tadi dia juga masih terlihat malas-malasan.
"Enggak ngajak aku?" Kumanyunkan bibir dan menekuk wajah.
Bang Rendra menghela napas, dia menatapku dengan ekspresi sebal tetapi tak langsung menolak. Dia justru tanya tentang keadaanku, tentu saja kujawab baik agar bisa ikut.
Bergegas aku mempersiapkan diri. Aku tak punya baju pesta, tetapi dress yang Mbak Anya belikan kemarin patut enggak ya kupakai? Ah enggak ada pilihan lain, jadi kupilih dres pendek bermotif bunga-bunga. Untuk riasan pun sekedarnya saja karen terlalu terburu. Bang Rendra terlihat tak sabar menunggu.
***
Di jalan tadi, Bang Rendra asyik bermain ponsel mulu sambil nyetir lagi. Entah siapa yang sedang berkomunikasi dengannya, yang jelas aku jadi kesal.
Di rumah Mbak Anya sudah terlihat ramai. Ada beberapa mobil yang terparkir di halaman. Kukira ini hanya makan malam biasa, tetapi tidak, Mbak Anya mengundang beberapa orang. Aku juga terkejut ketika di dalam sudah ada Dokter Zen. Namun, aku tak menyapanya. Sengaja, orang pertama yang kutemui ya Mbak Anya dan Mamah.
"Ningrum, udah sehat? Gimana gimana ...." Mbak Anya begitu antusias menanyaiku. Dia lalu melihat penampilanku dari atas sampai bawah, lalu bergeleng-geleng.
"Sini-sini, ikut Mbak!" Mbak Anya menarikku ke dalam kamarnya. Lalu menyuruhku duduk, sementara dia membuka lemari gantung. Terlihat banyak sekali koleksi gaun di dalamnya. Dia terlihat memilah-milah, dan pilihan terakhirnya jatuh pada gaun pendek berwarna hitam.
Mbak Anya memintaku berganti baju. Kuturuti tetapi saat tubuhku sudah berbalut gaun pilihan Mbak Anya aku jadi merasa gimana gitu.
"Mbak, apa ini tidak terlalu terbuka? Aku, kok, malu ya ...." Kuamati lagi gaun warna hitam yang pendeknya sedikit di atas lutut dan ada belahannya di bagain paha sebelah kanan. Lengannya pun hanya di sebelah kiri. Memang tampak simple dan elegan tetapi kalau aku yang pake apa pantas? Mana pres badan gini.
"Ish, kamu ini. Kamu tuh cantik tahu. Siniii!" Mbak Anya menarikku agara bercermin di kaca besar.
"Bentar-bentar ada yang kurang." Mbak Anya langsung mengambil make up dan memberiku riasan yang sedikit mencolok, tetapi tak menor. Untuk warna bibirnya aku juga suka, marun kehitaman dengan bedak natural. Jadi terkesan gimana ya ... pokoknya beda banget deh dari wajahku yang biasa, sekarang terkesan lebih menampakan penampilan berani.
Mbak Anya juga menggelung rambutku ke atas dan yang terakhir dia meminjami heels. Untung tak terlalu tinggi, sekitaran tujuh sentilah. Aku yang tak biasa memakai sepatu berhak tinggi lumayan takut untuk melangkah tetapi Mbak Anya selalu memberiku semangat.
"Lihat, Ningrum, kamu cantik banget malam ini. Terlihat mangilingin kan?" Mbak Anya terkekeh-kekeh tak henti-hentinya dia memutariku dan mengecek penampilan.
Kuacungkan dua jempol untuknya. "Enggak nyangka, Mbak Anya punya bakat buat merubah wanita biasa jadi cinderella!"
"Oh iya, dong! Itu salah satu yang membuat suamiku tak bisa berpaling kalau aku udah dandan!" bangga Mbak Anya. Dia juga terlihat cantik malam ini.
Kami saling lempar senyum dan setelahnya bergegas untuk kembali ke depan.
Mamah menyongsong kami dengan tatapan terpukau, bahkan beliau langsung memegang kedua tanganku dan menatap lebih intens.
"Ningrum? Duh, kamu cantik banget, Nduk. Mamah pangling, loh!"
Aku hanya bisa tersenyum malu, lalu kupandangi sekitar. Tak tampak Bang Rendra ada di sini. Ke mana dia?
Aku meminta izin untuk mencari Bang Rendra, Mamah bilang tadi dia ada di luar. Aku berjalan dengan pelan dan hati-hati, takut saja tersandung lalu jatuh, kan enggak lucu.
Kutengok ke kiri kanan, di luar sedikit sepi karena tamu undangan sudah berada di dalam. Sambil berjalan kupindai semua tempat, sampai di dekat mobil berwarna merah tatapanku terhenti. Kulihat sosok yang kucari berada di sana, dia berdiri dengan seorang wanita. Tentu saja tak lain itu Mutia. Sepertinya Mbak Anya juga mengundangnya. Menyebalkan.
"Ningrum?" tepukkan di pundak membuatku sedikit terkejut.
"Dokter Zen?" Aku langsung merundukkan kepala lalu menyapanya.
"Kamu cari siapa?" tanyanya dia mengekori tatapanku yang tadi tertuju ke Bang Rendra. Dokter Zen langsung tersenyum mengerti, dia mengalihkan perhatianku dengan bertanya sesuatu.
Dokter Zen juga tak canggung memujiku, ah yang ada aku jadi malu. Asyik mengobrol aku sampai lupa tujuanku kemari untuk mencari Bang Rendra dan sekarang orangnya sudah berdiri di dekatku. Dia bersama mutia menatapku begitu heran.
Bang Rendra menatapku bergantian ke Dokter Zen, lalu menatapku lagi dengan sorot tajam. "Ayo masuk!" ajakknya dengan meraih tanganku.
Mutia sudah jalan di depan, Dokter Zen juga memilih mendahuli kami. Sementara aku di belakang mereka, siapa sangka Bang Rendra menggandeng tanganku.
"Kenapa pake baju seperti itu?" tanyanya tiba-tiba membuatku bingung dan gugup.
"Kenapa, Bang? Apa tak pantas untukku?"
"Bukan begitu, cuma ... aku kurang suka," jawabnya. "Sebentar ya," lanjutnya lagi. Dia berbalik ke arah mobil lalu berlari ke kemari lagi. Dibawanya jas yang sedari tadi tak dipakai dan tersimpan di mobil.
Bang Rendra memakaikannya untuk menutupi punggungku. Ah, sosweet! Berasa kayak di film-film kan? Kami berjalan masuk.
Mbak Anya sudah mendekor rumahnya sedemikian rupa. Jadi terkesan cantik dan enak dipandang dengan hiasan bunga-bunga.
Aku duduk lebih dulu di meja yang sengaja di sediakan untuk makan bersama, hidangan sudah tertata rapi. Kuhitung ada delapan meja berbentuk panjang dan kursi-kursi yang mengelilinginya. Bang Rendra masih berbincang dengan kawannya, tak lama dia menempatkan diri di depanku. Kami duduk saling berhadapan, lalu siapa sangka jika tiba-tiba Mutia ikut nimbrung dan duduk di sebelah Bang Rendra? Menyebalkan.
Setiap meja ada enam kursi. Awalnya kami hanya duduk bertiga, tetapi saat acara makan malam dimulai Mbak Anya menghampiri bersama suaminya dan sisa satu kursi itu Mbak Anya meminta Dokter Zen untuk duduk. Kalau Mamah kata Mbak Anya beliau ada di kamar menemani anak Mbak Anya tidur.
Jadi, posisinya Bang Rendra ada di sisi kanan berjejer dengan Mutia dan Dokter Zen, sementara di sebelahku ada Mbak Anya lalu suaminya.
Kutengok yang lain semua tampak asyik menghabiskan hidangan yang memang terlihat menggiurkan, hanya di meja yang kutempati saja sedikit membuatku tak berselera. Apalagi beberapa kali Mutia menawari Bang Rendra lauk. Ish! Gemas, tak terasa saking geregetannya sampai sendok yang kupegang jatuh. Reflek aku merunduk ke samping untuk mengambilnya, siapa sangka jika Mbak Anya pun berniat menolongku untuk menggapai sendok di bawah, alhasil kepala kami terbentur.
Aku dan Mbak Anya mengaduh bersama, lalu terkekeh-kekeh mentertawakan kekonyolan kami. Aku langsung memberi isyarat untuk mengambilnya, karena posisi yang lumayan jauh, jadi aku merunduk. Aku terkejut ketika tak sengaja justru melihat tangan Mutia bertumpu di paha Bang Rendra. Apa-apaan ini! Sedari tadi kubiarkan dia berulah, tetapi kali ini dia begitu keterlaluan.
Kutegapkan duduk lalu menatap benci pada Mutia. Kuarasa gadis itu sadar, tetapi hanya melirikku sekilas lalu pura-pura tak acuh. Sementara Bang Rendra hanya diam, sesekali menggeser duduknya ke kiri.
"Ayo, makan," ucap Bang Rendra saat mendongak dan melihatku berhenti mengunyah.
Kumanyunkan bibir saat perhatian Bang Rendra lagi-lagi dialihkan oleh Mutia.
"Ren, bisa bantu aku potong steak-nya? Kok, agak alot ya," pinta Mutia.
Bang Rendra terlihat sungkan tetapi dia tetap melakukannya. Berasa aku tuh kayak kebakaran jenggot, padahal mulus enggak ada jenggot! Kuletakkan sendok dengan sedikit menghentak membuat suaranya nyaring, lalu pamit ke kamar mandi.
Aku berdiri lalu melangkah, sengaja saat di dekat Bang Rendra kakiku pura-pura tersandung dan jatuh, Bang Rendra yang sigap langsung menangkapku, tentu ini bagian dari rencanaku jatuh tepat di pangkuan Bang Rendra. Kami berdua saling tatap. Bisa dibayangkan betapa mesranya? Oiya, jelas mesra banget! Tanganku melingkar di leher Bang Rendra, sementara Bang Rendra menahan pinggangku. Coba kalau tak ada banyak orang pasti langsung kucium dia.
"Bang, aku tahu apa yang sedari tadi Mutia lakukan. Kalian ingin mencuri dengan bermain di belakangku?" bisikku sembari merunduk ke dekat telinganya. Bang Rendra terlihat kaget.
"Aku akan katakan pada Mamah ...," ancamku dengan senyum licik dan belaian lembut di leher Bang Rendra. Kurasa lelaki ini sedikit menegang sekarang. Apa takut karena tertangkap basah? Atau hanya sekedar takut dengan ancamanku?
Bersambung .... Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
wau sangat menarik untuk dibaca mrnemani kala istirahat
27/05/2022
0Semoga ceritanya asyk seperti judulnya ya, kubaca dlu ya
09/06
0menarik 😍
03/03
0Lihat Semua