" Nean!" teriak Regina memanggil Nean yang sangat lama. " Iya, bentaran," ucap Nean yang sudah rapih untuk pergi ke puncak bersama yang lainnya. Regina hanya menatap Nean malas, kenapa bisa ia menyukai pria yang sangat tampan ini. Dan kenapa Nean tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Regina. Sesampainya di tempat tujuan, Nean dan Regina menghampiri Lisa dan yang lainnya yang masih menunggu Aqila, Maudi, Fathia, dan Aluna. Berselang beberapa menit, Fathia dan Aluna sudah datang bersama ojek yang mengantarnya. " Maudi mana?" tanya Lisa pada Fathia. " Masih dalam perjalanan menuju ke sini," jawabnya sambil mendekati Aksa yang berdiri di dekat motornya. " Gue ke sana sama lo, ya. Sa!" serunya sambil bergelayut manja pada tangan Aksa. Aksa hanya memutar bola matanya malas. Lisa yang melihat adegan itu hanya tersenyum kecil. Brum! Suara deruman motor yang berasal dari Kavin mengundang perhatian semua teman-temannya. Bimo yang melihat Kavin sudah datang itu segera menghampiri Lisa dan menggenggam tangan Lisa erat. Di susul Aqila yang baru keluar dari taxi. Aqila yang melihat Kavin langsung menghampirinya dengan senyum sumringahnya. " Kavin, aku di bonceng sama kamu, ya." Aqila menaiki motor Kavin tanpa izinnya. Brum. Satu suara motor yang lagi-lagi mengundang parhatian meraka. Lisa melihat Maudi yang di bonceng sama pacarnya. Lalu ia beralih pada Aluna yang masih belum dapat tumpangan. " Na, kamu tinggal pilih mau di bonceng sama Joko atau Hendrik. Soalnya cuma mereka berdua yang masih jomblo," titah Lisa lembut pada Aluna. Aluna melihat Joko dan Hendrik bergantian. Dengan wajah polos nan imut itu ia malah membuat Joko dan Hendrik merasa gemas pada Aluna. " Dede Nana, di bonceng sama babang Joko aja, ya," ucap Joko menggoda Alana yang polos itu. " Jangan sama Joko, mending sama aku aja, di jamin aman dan terlindungi dari segala penyakit," ucap Hendrik yang membuat semua yang ada di sana menahan tawanya. Aluna mengerucutkan bibirnya merasa bingung harus memilih dibonceng sama siapa. " Aku jalan kaki aja deh, Lis. Aku takut nyakitin perasaan salah satu dari mereka," ucap Aluna polos. Lisa tersenyum kecil saat mendengar penuturan kata dari Alana sahabatnya. Ia yakin kalau sahabatnya itu ada masalah, ia juga yakin kalau sahabat polos nan imutnya itu ingin menceritakan masalahnya padanya. Joko yang melihat kesedihan dari raut wajah Alana itu pun menundukkan kepalanya. Ada rasa sakit saat melihat mata Aluna yang berkaca-kaca. " Ya udah. Kamu sama Hendrik aja, babang Joko ikhlas, kok," ucap Joko lalu menaiki motornya dengan raut wajah sedihnya. " Nah, gitu dong. Sekali-kali lo ngalah sama gue," ucap Hendrik lalu memberikan helmnya pada Aluna. Aluna menerima helm dari Hendrik, tapi langkah kakinya menuju ke arah Joko. " Aluna mau di bonceng sama babang Joko aja," ucap Aluna sambil tersenyum kecil. Joko yang mendengar penuturan kata dari Alana itu langsung bersemangat dan mengeluarkan jaketnya yang ada di dalam tasnya untuk Aluna pakai. Aluna menerima jaket Joko lalu memekainya. Hendrik yang melihat adegan itu menundukkan kepalanya pasrah. Semua orang yang melihat itu menahan tawanya saat Aluna tidak mau di bonceng sama Hendrik. " Kalau mau ketawa, ketawa aja gue tahu kok, kalau gue ini emang pentes buat hidup menjoblo," ucap Hendrik pasrah. Aluna yang sudah memakai jaket Joko itu langsung naik ke motor dan melingkarkan tangannya di perut Joko. Joko yang merasakan aliran listrik, karena ulah Aluna itu pun membulatkan matanya kaget. " Anjir! Anak gue tegang!" teriaknya dan membuat semua teman-temannya kaget lalu tertawa lepas saat mengingat kalau ini adalah kali pertama Joko dipeluk sama seorang perempuan. " Na, kamu di bonceng sama Hendrik aja!" seru Lisa merasa khawatir jika Aluna di bonceng sama Joko. " Eeh, jangan kamu di bonceng sama babang Joko aja. Enggak bakal di apa-apain kok," ucap Joko menahan Aluna agar tidak turun dari motornya. Joko tersenyum kecil saat Aluna tidak jadi turun. " Sabar, ya. Nak, kalau papah sudah halal sama mamah Nana, papah pasti akan membuat anak buat kamu." ucapnya pelan dan langsung mendapatkan timpukan rongsokan dari semua teman-temannya. *** Lusa kemudian: Di villa: Sesampainya mereka di tempat tujuan, mereka pergi ke villa milik Tio. " Huufh, akhirnya sampai juga kita," ucap Tio yang baru duduk di sofa. Vina yang melihat kelelahan Tio itu pun menghampirinya dan ikut duduk di samping Tio. Tio menoleh saat merasa ada yang ikut duduk di sampingnya. " Eh, Vin. Yang lain mana?" tanyanya pada Vina. " Masih di luar," jawabnya sambil menyenderkan kepalanya di sofa. Tio menatap Vina lekat, ia melihat kecantikan alami Vina. Lalu setelah itu tersenyum saat mengingat Vina melingkarkan tangannya saat dibonceng tadi. " Lo haus, enggak?" tanya Vina pada Tio. Tio yang ketahuan sedang memperhatikan Vina itu pun saling bertemu tatap dengan Vina. Deg... Jantung mereka saling berpacu lebih cepat dari biasanya. Entah, setan apa yang merasuki Tio yang membuatnya memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Vina. Vina tidak menolak atau manjauhkan dirinya, tapi ia malah memejamkan matanya seakan tahu apa yang ingin Tio lakukan padanya. " Iih, Bimo. Aku tuh mau seblak!" Mendengar suara rengekan Lisa pada Bimo yang tidak mengizinkan ia membeli seblak di dekat Villa tersebut. Membuat Tio dan Vina segera menjauhkam diri mereka. ' Sial! Kenapa mereka masuk ke dalam di saat gue dan Vina hampir ciuman!' kesalnya mengumpat Lisa dan Bimo dalam hatinya. " Enggak, aku enggak izinin kamu makan pedas. Kamu pikir aku lupa apa! Saat lihat kamu nangis gara-gara memakan, makanan pedas," ucap Bimo sambil menghampiri Tio dan Vina yang merasa canggung. Lisa yang tidak bisa mendapatkan izin dari suaminya itu hanya bisa menghentakkan kakinya kesal. Bimo menatap Vina dan Tio yang sedikit kaku saat kedatangannya bersama Lisa. " Kalian kenapa?" tanya Bimo pada kedua sejoli itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
25/03
0bagus
07/05/2025
0bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss
30/04/2025
0Lihat Semua