logo text

76 : Aksi menegangkan

" Assalamu'alaikum, Bunda, Abima, Ameera! Ayah pulang!" teriak Bimo sambil membawa paperbag yang berisi oleh-oleh.
BRAK!
PRANK!
Bimo terlonjak kaget saat mendengar gebrakan keras dan piring pecah yang terarah padanya.
" Cowok BRENGS*K, lo! Ngapain lo ke sini! Masih berani nunjukin wajah lo!" teriak Nean sambil menarik kerah baju Bimo.
Bimo yang tidak tahu apa-apa itu pun langsung menepis tangan Nean dari kerah bajunya.
" Lo kenapa? Ada apa? Emang apa yang gue lakuin?" tanyanya beruntun.
" Lo nanya apa yang lo lakuin! Dasar bermuka dua, lo pikir gue enggak tahu rencana jahat lo sama Lisa selama ini, heh!" teriak Nean lagi sambil meninju Bimo tanpa ampun.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tiga tinjuan keras dengan amarah yang sudah memuncak itu tidak memberi sang mangsa kesempatan untuk melawannya.
" Berhenti!"
Nean menatap Lisa tak percaya, ia tidak habis pikir pada adiknya itu. Kenapa ia malah menyuruhnya untuk berhenti?
Nean bangun dari tempatnya meninju Bimo yang sudah terkulai lemas di lantai.
" Sayang, sebenarnya ada apa?" tanya Bimo dengan suara lemahnya.
" Enggak ada apa-apa? Cuma aku baru tau, kalau sebenarnya suami aku ini cuma pura-pura mencintai aku, dan dia berniat menjauhkan aku dari Ameera dan Abima," ucap Lisa sangat to the poin.
Bimo yang mendengar penuturan kata Lisa itu pun membulatkan matanya sempurna, ia berpikir dari mana Lisa mengetahui semua rencana jahatnya?
Dengan sigap Lisa menarik kerah baju Bimo agar bangun dari tidurnya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Nean kaget dengan yang dilihatnya sekarang, Lisa memukul Bimo sampai terdorong sampai tembok, setelahnya ia menendang perut Bimo sampai pria itu mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.
" Gue paling enggak suka bertele-tele. Apa lagi saat gue tahu, kalau cowok yang selama ini gue cintai dan gue percaya adalah cowok pengecut dan brengsek yang pernah gue kenal," ujarnya sambil memegang dagu Bimo dan menghempaskan wajahnya ke arah samping kiri.
" Heh... Gue senang kalau lo udah tahu semua rencana gue, itu artinya gue bisa dengan mudah membuat lo menderita," ucapnya sambil menjentikkan jari, dan saat itu pula ada tujuh pria berotot yang keluar dari persembunyiannya.
" Lisa!" teriak Nean saat beberapa pria berotot itu mengelilingi Lisa.
Lisa memutar tubuhnya guna melihat pria yang memengelilinginya, gadis itu melihat ke arah Nean yang merasa khawatir padanya.
" Nean gue enggak apa-apa, lebih baik lo pergi dan cari bantuan!" seru Lisa sambil menyiapkan diri untuk melawan tujuh pria berotot itu.
Nean yang mengerti dari kode Lisa itu pun langsung keluar, untuk menyembunyikan Abima dan Ameera di tempat yang aman.
' Maafin gue, Lis.' batin Nean yang harus meninggalkan Lisa dalam keadaan bahaya.
" Sayang, gimana kalau kamu ikut aku. Kita akan berpesta untuk melakukan syukuran sebelum kamu meninggalkan dunia ini," ujarnya sambil mengelus dagu Lisa sampai ke lehernya.
Lisa hanya menatap Bimo tajam, ia tak bisa berbuat apa-apa setelah ketujuh pria itu berhasil menahannya.
" Bawa dia! Kita akan menyiksanya secara perlahan!" titah Bimo tegas pada bawahannya.
" Lepas! Lepasin gue dasar cowok gila!" teriak Lisa sambil memberontak dari tahanan kedua pria berotot yang memegang tangannya.
Prank!
Bruk!!
Bimo memukul kepala Lisa dengan vas bunga, pria itu tersenyum devil saat darah kental mengalir deras dari kepala Lisa.
Plak!
" Jangan melawan kalau kamu tidak mau mati.." sarkasnya sambil menatap Lisa tajam.
Lisa masih bisa membuka matanya, meski rasa pening ia rasakan di kepalanya. Namun, semua itu ia tahan. Ia harus bisa mengenali setiap jalan yang Bimo lewati nantinya.
***
" Pan! Revano?!" teriak Gio sambil berlari kecil mencari keberadaan sahabatnya itu.
Setelah kebaradaan sang sahabat sudah ditemukan, Gio segera menghampiri Revano dengan berlari kecil.
" Pan, Lisa.. Dia ... dia sedang dalam bahaya sekarang!" serunya sambil memperlihatkan sebuah video yang ia ambil beberapa menit lalu saat melewati rumah Lisa.
Revano yang merasa penasaran itu pun segera melihat handphone Gio, seketika itu tatapannya menjadi tajam saat melihat sosok gadis yang dipukul oleh vas bunga dan ditampar di sana.
Prank!
Brak!
Revano membating handphone Gio dan menendang mejanya sampai terjungkir balik.
" Sialan! Cowok brengsek!"
Rahang Revano mengeras dengan tangan yang terkepal kuat.
" Gue harap Lisa masih menyimpan cincin yang gue kasih beberapa tahun lalu..." ucapnya sambil berlari kecil menuju ke luar rumah.
Gio tidak tinggal diam ia segera memanggil beberapa anak buah Revano untuk bersiap melawan musuh, setelah selesai meminta bantuan Gio segera mengikuti Revano yang sudah jalan mendahuluinya.
•
•
•
•
" Bimo sialan! Beraninya dia mengkhianati dan mengelabui gue! Kalau gini caranya gue nyesel udah nurut dengan keinginan Lisa yang mau kembali sama si sialan Bimo!"
Gentala terus saja mengumpat saat tahu rencana jahat Bimo dari Gilang dan Nean, ia yang sedang berada di Brazil untuk mengurus bisnisnya itu pun segera memesan tiket guna melindungi Lisa.
" Sial! Kenapa ada banyak orang yang ngikutin gue!" umpatnya saat ada beberapa orang yang menghadang jalannya.
Ting... Ting...
Gentala mengambil handphonenya saat mendapatkan pesan dari seseorang.
Mau menyelamatkan Lisa, kalau gitu selamatkan dulu nyawa lo.
" Sialan! Dia udah ngerencanain semuanya dari awal, gue yakin Nean, Gilang, dan yang lainnya juga sedang di hadang sama suruhannya Bimo," ucap Gentala sambil terus melajukan mobilnya tanpa berniat untuk berhenti.
•
•
•
•
Di sisi lain, Abima dan Ameera sudah berada di tempat yang aman, Nean menyembunyikan Abima dan Ameera di tempat masa kecil Lisa bersama Revano.
Lisa menyuruh Nean untuk menyembunyikan Abima dan Ameera di sana, karena yang tahu tempat itu hanya dirinya, Revano, dan yang terakhir adalah Nean.
" Bunda, aku khawatir sama bunda," ucap Ameera sambil terus memeluk bingkai foto Lisa.
" Kita enggak bisa diam! Kita harus cari jalan keluar untuk ketemu sama bunda," ucap Abima yang masih terus berusa mencari jalan keluar dari tempatnya.
" Enggak bisa gitu, kita udah janji enggak bakalan keluar dari sini!" seru Dimas menahan Abima agar berhenti mencari jalan keluar.
" Aku enggak bisa diam kayak gini, disaat bunda sedang dalam bahaya seperti ini." Abima masih terus berjalan mengelilingi tempat itu guna mencari jalan keluar.
Dimas menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak habis pikir kenapa ia bisa memiliki sepupu yang keras kepala seperti Abima.
" Abima, kita masih kecil. Seharusnya kita enggak ikut campur masalah orang tua!" seru Dimas lagi sambil memegang tangan Abima.
Abima menepis tangan Dimas, ia menatap Dimas dengan tajam.
" Aku ABIMA. Putra dari LALISA RAVELINA PUTRI, cucu dari KUSUMA WIJAYA. Aku tidak akan pernah bisa diam jika ibuku dalam keadaan bahaya, aku harus menyelamatkannya meski nyawakulah yang menjadi taruhannya!" tegasnya sambil menunjuk-nunjuk Dimas dengan tatapan mautnya.
Dimas menelan salivanya susah payah, ia benar-benar ciut saat melihat keberanian kuat dari sepupunya itu.
Prank!
Abima dan Dimas melihat ke arah belakangnya, mereka menatap Ameera yang sedang berdiri di dekat jendela.
" Kelamaan cari jalan, lebih baik pecahin kaca jendela aja biar cepet!" ketusnya sambil meloncat ke arah keluar.
Dimas mengerjapkan matanya tak percaya, ini benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata. Keberanian dan kepintaran dari sepupunya itu telah membuatnya ciut.
Abima segera berlari dan meloncat dari jendela yang sudah di pecahkan oleh Ameera.
Ameera berbalik dan menatap Abima yang sedang sudah siap memegang kayu.
" Aku mau menjadi kakek, mau jadi detektif buat menghukum semua penjahat. Aku mau melindungi bunda, aku enggak mau keluarga aku mengalami kejadian buruk ini lagi, tidak lagi, dan lagi!" serunya sambil memegang tombak kayu yang tajam.
Ameera tersenyum devil, " Aku benci laki-laki, aku enggak akan pernah mau dekat atau pun merasakan cinta. Aku hanya akan mencintai bunda, kakek, Om Gilang, dan Abima, dan tidak untuk laki-laki lain." Ameera berbalik dan melihat anak panahnya yang ia buat tadi malam.
Dimas menatap kedua sepupu kembarnya itu dengan menelan salivanya susah payah.
" Ka--kalian dapat itu dari ma--mana?" tanyanya gelagapan plus takut.
Abima tersenyum kecil saat melihat sepupunya ketakutan.
" Tentu saja kita membuat ini untuk melindungi Bunda," ucap Abima enteng.
" Ta--tapi, itu bahaya. Nanti kalian terluka," ucap Dimas was-was.
" Kita adalah calon detektif, jadi kita harus berani! Senjata seperti ini tidak ada apa-apanya bagi kita," ucap Ameera sambil memeriksa pemanahnya yang ia buat dengan sangat bagus.
Anak panah pun sudah Ameera simpan di belakang punggungnya.
" Demi bunda, kita rela mengorbankan nyawa. Demi bunda, kita rela maju satu langkah untuk melawan para penjahat itu. Demi bunda, kita rela keluar dari persembunyian kita. Itu semua kita lakukan demi keselamatan bunda," ucap Ameera dengan mata yang berkaca-kaca.
Abima menatap saudarinya, lalu setelah itu melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Syifa.
" Ini tidak benar, kita masih kecil untuk bisa melawan seorang penjahat besar!" seru Dimas pelan.
***
" Lepas! Lepasin gue!" teriak Lisa sambil terus berusaha melepaskan ikatan talinya.
Plak!
Plak!
" Berani lo, teriak lagi! Maka gue akan bunuh lo sekarang juga!" sentaknya setelah selesai menampar Lisa lagi.
Lisa menatap Bimo tajam, ia benar-benar kecewa, benci, dan merasa sakit saat Bimo bertindak kasar padanya seperti ini.
" Dasar cowok brengsek! Berani lo lawan gue, hah!" teriak Lisa sambil mencengkram kuat tali yang mengikat pergelangan tangannya.
Setelah tali itu sudah mulai melonggar, Lisa segera melepaskan tangannya dari ikatan talinya dan menggenggam kuat kursiya.
" Ya, gue emang berani ngelawan lo! Lagi pula buat apa gue takut sama cewek bodoh dan lemah seperti lo," ucapnya sambil meludah tepat di depan wajah Lisa.
Lisa memalingkan wajahnya ke arah samping, ia menatap Bimo tajam dan ....
Brak!
Brak!
Brak!
Kursi yang ia gunakan untuk memukul Bimo itu pun sudah hancur karena terbentur kuat dengan kepala, tangan, dan punggung Bimo.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Lisa melayangkan tijuannya ke beberapa orang yang juga ada di sana, Lisa melihat sekitarnya lalu mulai membantingkan vas besar tepat pada sasarannya Bimo.
Bimo merasakan pusing bukan main, darah kental di wajahnya pun sudah mengalir deras. Namun, semua itu tidak berhasil membuat Bimo tumbang. Ia kembali bangun dan menatap Lisa tajam, pria itu segara berjalan tertatih lalu berlari kecil dan ...
JLEB!
•
•
•
•
" Om, lepasin! Kita mau ketemu sama bunda, kita mau selamatin bunda!" teriak Abima yang berusaha keras untuk terlepas dari gendongan Gio dan Joko.
Beruntung Gio dan Joko datang tepat waktu, jadi mereka bisa menahan Abima dan Ameera yang berbuat nekat untuk menyusul Lisa.
" Kamu enggak apa-apa, Dim?" tanya Hendrik sambil menatap Dimas khawatir.
Dimas menggelengkan kepalanya pelan, sesekali Hendrik menatap Ameera dan Abima yang sedang di pegang sama Gio dan Joko.
" Mereka mirip banget sama Lisa, enggak peduli sama bahaya yang mengamcam. Yang penting nyawa orang terselamatkan, baru setelahnya nyawanya," ucap Gio memulai pembicaraannya.
Pria itu jadi teringat perbuatan nekat Lisa yang nekat menyelamatkan seseorang dari seorang psycopat di hutan saat liburan ke Bali bersama Lisa dan dirinya dulu.
" Lepasin! Aku mau selamatin, Bunda!" teriak Abima masih setia memberontak meminta untuk di lepaskan.
" Ini bukan waktunya main-main, ini itu menyangkut nyawa," ucap Joko sambil memeluk Abima erat.
" Hahaha...."
Hendrik, Joko, dan Gio menatap ke arah Dimas yang tertawa tanpa sebab.
" Lo kenapa bocil? Kenapa lo ketawa tiba-tiba?" tanya Joko heran.
" Enggak om, aku mau ketawa aja. Padahal tadi Abima dan Ameera udah kayak orang keren udah siapin tombak dan anak panah buat bantu tante Lisa, eh malah gagal!" serunya masih setia tertawa.
Gio, Hendrik, dan Joko yang sudah mengerti itu pun juga ikutan tertawa. Sedangkan si kembar mereka menundukkan kepalanya merasa malu karena misinya untuk menjadi pahlawan bundanya gagal.
" Dasar bocil, hahaha....!"
_
_
_
_
_
Bersambung ....

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru