logo text

#3- Arsatya&Arunika

Sudah satu minggu lebih semenjak kejadian di mana Arunika di cium oleh Fenzo, gadis itu jadi lebih suka mengurung diri di dalam kamar dan suka menyendiri.
Arunika masih tetap Arunika yang galak, bahkan kini gadis itu tak pernah bicara. Sekalinya bicara hanya sepatah, dua patah kata saja.
" Kak, kita mau ke kantin. Lo mau ikut, enggak!" ajak Arsatya sambil memegang bahu Arunika.
Arunika menoleh ke arah Arsatya sekilas, lalu kembali fokus pada bukunya.
" Enggak."
Arsatya menghembuskan nafasnya berat, kakaknya benar-benar berubah. Bahkan di rumah pun dia tidak bicara sama sekali.
Biasanya saat Arsatya dan Arkana mengganggunya atau membuat masalah, Arunika akan langsung mengomeli mereka seperti ibu-ibu cerewet. Tapi, sekarang Arunika malah menatap tajam dan memilih menghindar ketimbang mengomeli mereka.
Aah...
Arsatya tidak suka dengan Arunikanya yang lebih banyak diam.
" Tunggu!"
Semua anggota tersenyum kecil, saat Arunika menghentikan mereka.
" Tutup pintunya!"
Mereka kembali menundukkan kepalanya, aah. Rasanya sepi sekali jika Arunika tidak mengomeli mereka tentang hal sepele.
" Ka, kenapa harus kayak gini sih. Please, lupain aja masalah satu minggu kemarin! Jangan jadi cewek pendiam napa! Bosen, tau kalau lo enggak ngomelin kita lagi!" gerutu Aureen kesal.
Arunika menoleh ke arah Aureen sekilas, gadis itu juga mau kembali lagi. Tapi, kejadian minggu kemarin membuatnya trauma.
" Kak, ayo ke kantin!" seru Arsatya yang langsung menarik tangan Arunika ke arah kantin.
Semua anggota mengikuti arah Arsatya dan Arunika dari belakang.
" Berhenti!" teriakan dari seorang pria yang berasal dari arah belakang itu berhasil membuat semua anggota WolfWide menghentikkan langkahnya.
" Ada apa?" tanya Dimas.
" Gue di suruh bu Nissa, buat jemput Arunika ke kantor." ucap pria itu yang langsung menarik tangan Arunika.
Arunika yang mendapatkan perlakuan itu pun segera mendorong pria itu dan menjauh secepatnya.
" Jangan sentuh gue!" sentaknya.
Pria itu memutar bola matanya malas, lalu kembali menarik tangan Arunika dan membawa Arunika ke arah kelas XI-IPS 3.
Semua anggota hanya bisa diam, kecuali Arsatya dan Raden yang langsung mengikuti Arunika dari arah belakang.
Sesampainya di kelas XI-IPS 3, pria itu langsung membawa Arunika masuk.
" Duduk."
Arunika menurut saja, entah kenapa ia bisa menurut sama perintah pria dingin itu. Pria itu duduk di samping Arunika.
" Apa yang lo suka?" tanyanya.
" Bu Nissanya mana?" tanyanya balik.
" Apa yang lo suka?" tanya pria itu tidak menjawab pertanyaan Arunika.
" Bu Nissa mana?"
Pria itu memutar bola matany malas, " Gue bohong."
Arunika beranjak dari duduknya, namun pria tampan itu malah menarik tangan Arunika kembali agar duduk kembali.
" Apaan sih! Lo mau cari ribut sama gue!" teriak Arunika. Tanpa sadar, sosok Arunika yang dulu sudah kembali lagi.
" Siapa yang cari ribut? Gue cuma mau berduaan aja sama lo?" tanyanya sambil menggenggam tangan Arunika erat.
" Gila! Gue bukan cewek lo? Jadi, enggak usah ganggu gue!" teriaknya lalu berlenggang pergi meninggalkan ruang kelas itu.
Arunika menghentikan langkahnya saat melihat Arsatya dan Raden ada di depan kelas.
" Ayo pergi, dasar cowok aneh!" sentaknya sambil menarik tangan Arsatya dan Raden ke arah kantin.
Raden dan Arsatya tersenyum kecil sambil saling menatap.
•
•
•
•
" Emang cowok aneh! Masa tadi dia suruh gue duduk, aneh banget! Kenal aja kagak!" sentak Arunika tak suka pada pria tampan tadi.
Semua anggota hanya terkekeh kecil saat ketuanya kembali cerewet, ganas dan tak menjadi pendiam lagi.
Pengaruh pria itu memang manjur, dia berhasil mengembalikan Arunika yang suka ngomel-ngomel enggak jelas.
Baru saja Arunika ingin mengomel kembali, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menyumpal mulutnya dengan bakso.
Arunika menatap pria tadi yang sedang menatapnya lekat.
" Berhenti mengomel dan makan baksonya." ucapnya sambil tersenyum manis.
Arunika mendelik tak suka, lalu mengunyah baksonya dengan lahap. Dengan telaten pria itu menyuapi Arunika kembali.
Raden yang melihat adegan itu mencoba menahan rasa kesalnya, begitu pula dengan Dimas yang juga merasa kesal.
Arunika hendak bangun dari duduknya, namun segera ditahan saat pria tampan itu menarik tangannya agar kembali duduk.
" Kenapa lo suka banget melarikan diri, lo tahu mengejar yang tak pasti itu sangat menyakitkan." ucapnya sambil menggenggam tangan Arunika erat.
Arunika yang memang tak mengerti apa yang di maksud pria tampan itu hanya mampu mengkerutkan dahinya.
" Biarkan saja, gue hanya mau menatap lo lebih dekat. Setidaknya gue bisa ngerasain gimana rasanya duduk bersama cewek yang gue suka." ucapnya lagi. Semua siswi cewek yang mendengar itu merasa terbawa perasaan.
Berbeda dengan Arunika yang masih setia mengkerutkan dahinya tidak mengerti apa yang diucapkan pria di hadapannya itu.
" Lo ngomong apaan sih, gue kagak ngarti! Udahlah gue males makan bareng lo!" ketusnya lalu berlenggang pergi meninggalkan kantin.
Semua anggota yang melihat sang ketua sudah pergi itu pun, juga ikut pergi dari tempatnya.
•
•
•
•
Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi dari lima belas menit yang lalu, dan kini sekarang Arunika sedang berjalan melewati koridor.
Seakan tak sadar, kalau sedari ia keluar kelasnya ada seorang pria yang mengikutinya dari belakang. Pria itu tersenyum devil, lalu dengan cepat dia membakap gadis itu dengan sapu tangan dan berakhir pingsan di pelukannya.
" Hari ini kita akan bersenang-senang sayang." ucapannya sambil menggendong Arunika ala brydel style.
•
•
•
•
Sudah tiga puluh menit Arunika belum juga sadarkan diri, dan sekarang gadis itu sedang berada di dalam apartement.
Perlahan pria tampan itu menghampiri gadis yang sudah mulai membuka matanya.
" Akhirnya kamu bangun juga," ucapnya dengan senyuman terukir di bibirnya.
Arunika menatap pria tampan di hadapannya itu lekat, seketika itu Arunika langsung terduduk saat ia sadar sedang berada di sebuah apartement.
" Lo, lo udah gila bawa gue ke sini!" teriaknya sambil berniat berdiri, namun tak bisa karena pria itu menahan bahu Arunika agar tidak berdiri.
" Diam. Lo enggak tahu, sangat susah menculik lo," ucapnya kesal.
Arunika menelan salivanya susah payah, ia menatap tajam pria di hadapannya itu.
" Sebenarnya apa mau lo?" tanyanya sewot.
Bukan menjawab pertanyaan Arunika, pria tampan itu malah menarik tangan Arunika agar bisa dia peluk.
" Susah untuk gue bisa lupain lo, selama tiga tahun gue tahan perasaan gue. Arunika, sekali aja. Sekali aja, lo rasain apa yang gue rasain." ucapnya sambil mempererat pelukannya.
Arunika, dia tidak bisa menahan rasa rindunya kepada sahabat SMP-nya itu. Tapi, apa boleh buat. Ia harus menjauhi pria tampan ini, saat dengan terang-terangan ia menyatakan perasaannya padanya.
" Gue mau pulang, Sam," pintanya mencoba melepaskan pelukannya dari sahabatnya itu.
Apalah daya, ketika sahabatnya itu sudah tidak terkendalikan. Maka ia hanya bisa pasrah, kalau ia menolaknya. Sahabatnya itu pasti tidak akan membiarkannya pergi.
" Jalan-jalan, yuk."
Arunika menganggukkan kepalanya, ia benar-benar merasa risih. Apa lagi sikap posessive sahabatnya kembali hadir.
" Sam, gue laper.." ucap Arunika saat pria bernama lengkap Samudra Deonardy itu terus menggenggam tangan Arunika sambil melewati semua orang yang melihat mereka tanpa berkedip.
' Eh, itu bukannya Arunika? Laki-laki yang pegang tangannya itu siapa?'
' Ayo, kita ambil foto mereka. Pasti akan rame deh,'
' Kelihatan serasi banget kalau mereka menjalin kasih 'kan, atau mungkin memang sudah menjalin kasih?'
Semua ucapan dan pertanyaan terlontar dari semua para penghuni apartement yang memang mengenali Arunika.
Samudra membukakan pintu mobil agar Arunika masuk. Setelah selesai memasang sabuk pengamannya, Samudra mulai melajukan mobilnya.
" Sam, apa kita enggak pulang dulu. Gue takut Daddy dan Mommy cari aku!" serunya sambil terus mencoba melepaskan tangannya digenggaman Samudra.
" Aku udah bilang sama mereka, kalau kamu lagi sama aku." jawabnya sambil mempererat genggamannya.
Arunika menghembuskan nafasnya berat, bagaimana caranya ia bisa terlepas dari Samudra? Arsatya? Ah, adiknya juga akan kalah sama Samudra?
" Kita makan dulu 'kan?" tanyanya sambil menatap Samudra lekat.
Ok, Lisa akui sahabatnya itu memang pria tampan. Sangat-sangat tampan, tapi kenapa ia tidak bisa jatuh cinta padanya?
" Raden jauh lebih ganteng dari lo." ceplos Arunika tiba-tiba.
Samudra yang mendengar penuturan kata dari Arunika itu pun segera menghentikan mobilnya, menatap Arunika tajam. Berani banget gadisnya itu memikirkan pria lain saat sedang bersamanya?
Arunika bersikap biasa aja, tidak merasa takut dengan tatapan tajam Samudra. Bahkan tidak merasa sakit saat pria tampan itu menggenggam tangannya kuat.
" Apa lo lebih suka Raden dari pada gue?" tanya Samudra dengan tatapan fokus pada jalanan.
" Kalau boleh pilih? Gue lebih memilih Raden ketimbang lo." ucapnya lagi enteng.
Samudra semakin menggenggam tangan Arunika kuat dan sangat erat. Rahangnya mengeras, hatinya sakit, untuk saat ini emosinya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Arunika? Dia menahan senyumnya, memang seru sekali jika mengerjai orang yang sedang kasmaran. Apa lagi lihat orang itu tersiksa, karena patah hati.
" Sakit banget, ya?" tanya Arunika sambil menatap Samudra lekat.
Samudra diam, tak menjawab sama sekali. Oh, dia benar-benar marah.
" Tapi, kayaknya Raden juga punya perasaan sama gue." ucapnya lagi. Masih berusaha membuat sahabatnya tambah terselut emosi.
Drrrt... Ddrttt....
Mata Samudra dan Arunika teralihkan pada handphone Arunika yang berbunyi. Samudra membulatkan matanya saat melihat nama yang menelpon.
" Panjang umur? Baru juga di omongin, eh dia langsung telpon gue." ucapnya sambil menggeser warna hijau untuk mengangkat telponnya.
Secepatnya Samudra mengambil alih telpon Arunika, dan mengangkat telponnya.
" Arunika lagi sama gue, jadi jangan ganggu!" ketusnya lalu mematikan telponnya secara sepihak dan memati dayakan handphonenya.
Arunika memutar bola matanya malas, kenapa sangat berlebihan sekali?
•
•
•
•
Sesampai di tempat tujuan, Samudra langsung membawa Arunika ke dalam mansion milik orang tua Samudra.
Ah, sepertinya Arunika tahu apa yang akan Samudra lalukan padanya? Samudra menarik tangan Arunika dan membawa masuk gadisnya ke kamarnya.
Arunika membulatkan matanya saat melihat kamar Samudra yang luas, emm. Kenapa ia tidak bisa menyukai pria tampan dan kaya seperti Samudra?
" Huufh..." Samudra merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Arunika duduk di tepi ranjang Samudra, kambali berdiri dan duduk di sofa yang tersedia di sana.
" Lo enggak kesepian tidur di kamar seluas ini?" tanya Arunika sambil menarik tangan Samudra agar ikut duduk di sofa dengannya.
" Kesepian sih, sebentar lagi rasa sepi itu akan tergantikan saat lo udah resmi jadi istri sah gue." ucapnya sambil menggenggam tangan Arunika.
Arunika selalu menganggap omongan Samudar sebagai candaan, bukan hanya Samudra tapi semua pria. Sehingga ia tidak perlu merasakan cinta dan merasakan sakit.
" Sam, gue laper. Perut gue belum di isi!" serunya sambil memegang perutnya yang lapar.
Dengan cepat Samudra membawa Arunika ke meja makan, sebelum ia dan Arunika ke sini. Samudra sudah meminta pelayan untuk memasak makanan kesukaan Arunika.
Sesampainya di meja makan, Arunika menatap makanan kesukaannya dengan tak sabar. Gadis itu langsung menepis tangan Samudar dan segera duduk dan memakan makanannya.
Samudra terkekeh kecil, terkadang dia galak, dingin, cuek, dan sekarang sikapnya berubah menjadi sosok anak kecil.
Dan Samudra senang karena Arunika hanya memperlihatkan sikap kanak-kanaknya kepadanya.
' Apa boleh gue bawa lo ke KUA, sekarang juga?' tanyanya dalam hati.
_
_
_
_
_
Bersambung ....

Komentar Buku (86)

  • avatar
    Riska

    bagus banget

    25/03

      0
  • avatar
    mlniiniha

    bagus

    07/05/2025

      0
  • avatar
    nazwasiti

    bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss

    30/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru