Aku bahagia saat Mommy bahagia, aku bahagia saat Daddy bahagia pula. Jadi, tetap seperti saat ini, menyayangi kami tanpa lelah dan tanpa mengeluh.•Arsatya Putra Mahendra•©©©Mahendra Family." Kak Arsa, lihatlah ada sebuah balon!" teriaknya saat melihat balon di atas langit.Arsa yang mendengar teriakan adiknya itu pun mulai mengikuti arah pandang adiknya.Arsatya Putra Mahendra, pria tampan itu sedang menjaga adiknya yang sedang bermain dengan sepedanya. Namun, Arsatya tetaplah Arsatya. Si pria kutu buku yang dingin dan tampan itu tak pernah bosan membaca sebuah buku yang tebal dan memiliki banyak ilmu yang bisa ia catat dalam otak pintarnya.Arsatya masih menatap balon yang terbang tinggi di sana, seketika itu tatapan Arsatya tertuju pada tulisan tebal yang tertera jelas dibalon tersebut.Pria itu masih mengkerutkan keningnya mencoba membaca tulisan yang tertera dibalon itu." Tuhan, kirimkan aku sosok lelaki yang bisa mencintaiku apa adanya!"seru pria kecil yang lebih dulu membaca tulisannya.Arsatya berdecak kagum, penglihatan adiknya itu memang sangat bagus. Aneh, anak remaja jaman sekarang itu memang makhluk hidup paling aneh." Dek, ayo kita masuk. Mommy pasti sudah selesai masak," ucapnya lalu berjalan mendahului adiknya itu.Arkana Putra Mahendra, pria kecil itu memang tidak jauh bedanya dengan Arsatya, namun bedanya Arkana jauh lebih ramah ketimbang kakaknya.Oh, kalaulah Arkana seumuran dengan Arsatya, mungkin pria yang berusia 3 tahun itu sudah memiliki banyak fans.••••Arkana dan Arsatya duduk di kursi mereka, Arkana yang baru selesai cuci tangan itu pun mulai mencari kakak perempuannya." Mommy, kak Aru mana?" tanyanya sambil melihat ke sekelilingnya.Lisa tersenyum kecil sambil mengecup puncak kepala Arkana dan Arsatya bergantian. Gadis itu memang tidak pernah bosan mencium dan menyayangi putra dan putrinya." Kak Aru sedang menyiapkan peralatan dan seragam sekolahnya, besok adalah hari pertamanya masuk sekolah." ucap Lisa sambil mengalaskan makanan pada kedua putranya.Arkana menganggukan kepalanya, " Kalau kak Arsa kapan siap-siapnya?" tanyanya pada Arsatya yang sudah menyendokkan makanannya." Kakak udah siapin semuanya kemarin," ucapnya tanpa menatap Arkana." Huh, memang susah jika punya kakak galak dan dingin seperti kalian." ketusnya sambil memakan makanannya.Lisa menggelengkan kepalanya saat Arkana kecil berubah menjadi Arkana dewasa." Kalian makan dulu, Mommy akan memanggil Daddy." ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kerja suaminya.Sesampainya di ruangan Revano, Lisa mengetuk pintunya lalu melangkah masuk untuk menghampiri suaminya yang sedang membereskan berkas-berkas pentinya." Apa sudah selesai?" tanya Lisa sambil mengecup puncak kepala Revano.Revano tersenyum kecil, lalu memeluk Lisa secara posessive. Pria tampan nan gagah itu tidak pernah bosan dengan wanita cantiknya yang selalu membuatnya tersenyum karena perhatian kecilnya." Sudah, apa makan siangnya sudah siap?" tanya Revano sambil menatap wajah cantik Lisa lekat.Lisa menganggukkan kepalanya pelan, gadis itu tersenyum saat suami tampannya itu tak pernah bosan memandangi wajahnya." Aku mencintaimu," ucapnya sambil mencium pipi Lisa lembut.Lisa tersenyum kecil sambil melepaskan diri dari pelukan Revano." Ayo, kita makan." ajaknya sambil menarik tangan suaminya." Aku mencintaimu, apa kamu juga mencintai aku?" tanyanya mencoba menghentikan langkah kaki Lisa.Lisa berbalik dan menatap wajah tampan Revano lekat." Selalu, aku selalu mencintai kamu. Dan aku tak pernah bosan untuk selalu mencintai kamu." ucapnya sambil memeluk Revano erat.Revano membalas pelukan Lisa, pria itu benar-benar merasa bahagia saat perjuangan dan memilih untuk menunggu itu berbuah hasil yang sangat-sangat membuatnya bahagia setengah mati.Dan, Lisa. Baginya gadis itu akan selalu menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Dan akan selalu menjadi seperti itu.©©©Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, dan sekarang Lisa sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan juga suaminya." Morning, Mom." Arsatya duduk di tempatnya. Ia mencium kedua pipi Lisa sayang.Lisa tersenyum, lalu membalas mencium puncak kepala putranya, " Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil mengalaskan putranya." Mommy, apa setiap pagi aku harus diam termenung karena kamu lebih menyayangi Arsa ketimbang putrimu." Arunika mengerucutkam bibirnya saat melihat Lisa lebih memperhatikan Arsatya." Mommy menyayangi kalian tanpa harus kalian tahu? Dan mommy tidak pernah pilih kasih," ucap Lisa sambil menarik putrinya agar duduk di samping Arsatya.Arunika memeluk Lisa erat, lalu mencium pipinya sayang, " Daddy masih siap-siap?" tanya Arunika saat tidak melihat Revano." Ada apa? Apa kamu mau di peluk oleh daddy?" tanya Revano yang sudah rapih dengan setelan jasnya.Lisa dan kedua anak kembar itu segera menghampiri Revano dan memeluk pria tampan itu erat." Menjauhlah! Untuk saat ini daddy adalah milik mommy, jadi kalian tidak boleh merebutnya dari mommy." ucap Lisa sambil mengeratkan pelukannya.Arsatya dan Arunika berdecak tak suka saat mommynya itu sudah bertingkah lebih manja dari seorang anak kecil." Ayolah mommy, mommy itu sudah tua! Jadi, tidak usah bertindak seperti anak kecil!" ketus Arsatya tanpa dosa." Apa yang kamu bilang apa tadi?!" teriaknya tak suka.Arsatya hanya terkekeh kecil saat melihat mommynya marah. Huh, inilah yang Revano dan Arsatya suka dari mommynya, kemarahannya. Kalian tahu, itu sangat-sangat menggemaskan." Kalian makanlah, mommy mau membangunkan Arkana," ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Arkana.••••Setelah selesai acara makan, Arsatya dan Arunika langsung berangkat sekolah." Woy! Semuanya, group WolfWide sudah datang!" teriak seorang siswi sambil berlari kecil ke arah parkiran.Semua siswa dan siswi yang mendengar nama group gangster WolfWide itu pun mulai berhamburan pergi berlari kecil guna mencaritahu seperti apa perawakan gangster yang sangat-sangat ditakuti oleh semua geng motor dan gangster lainnya.Sesampainya di parkiran, semua siswa dan siswi sudah di sambut dengan suara deruman motor Arunika dan Arsatya dan disusul dengan motor anggota lainnya.Arunika memarkirkan motornya dan melepaskam helmnya. Tatapan tanpa berkedip, itulah mata jelalatan semua siswa pria saat melihat kecantikan Arunika.Dengan wajah datar plus dingin Arunika menatap sekelilingnya, lalu menatap semua siswi perempuan yang berteriak histeris saat melihat ke tampanan Arsatya dan anggota lainnya." Dasar cewek centil!" ketusnya saat melihat semua perempuan mengedipkan matanya pada Arsatya adiknya." Cemburu lo?" tanya Arsatya tenang." Iya, gue cemburu saat semua cewek kecentilan sama adek gue.." ketusnya lalu menatap tajam semua siswi perempuan itu.Arunika melangkahkan kakinya dengan ditemani adiknya yang berjalan beriringan melewati koridor sekolah.' Apa dia yang jadi ketua geng WolfWide?'' Gue masih enggak percaya, kalau ketua gengnya itu cewek. Emang bakalan aman?'' Gue lebih setuju kalau yang jadi ketua gengnya itu cowok, gue enggak yakin kalau dia bisa mimpin gengnya. Secara kan dia cewek.'Bisikan demi bisikan itu terdengar jelas di telinga Arunika, namun gadis itu tidak memperdulikannya. Toh, yang memilih untuk menjadi ketua geng bukan dirinya sendiri melainkan Neandro Sabian sang mantan ketua geng Black Wolf, yang kini telah berubah nama menjadi WalfWide." Heh! Cewek sok cantik! Lo enggak usah nunjukin diri sebagai pemimpin yang paling kuat deh, lo itu cewek sama seperti kita! Mana mungkin lo bisa jadi ketua geng." ucap seorang gadis sombong sambil mengedipkan matanya menggoda Arsatya.Arunika menatap gadis itu dari atas sampai bawah, ia merasa jijik melihat gadis yang meledeknya itu.Baju seragam yang ketat, rok abu-abu yang sengaja digunting sampai atas lutut, lalu make-up yang sangat menor." Heh! Jangan pernah lo mengedipkan mata lo sama adik kembar gue, mau gue copotin tuh bola mata," ketusnya sambil menatap tajam gadis di hadapannya itu." Halah! Enggak usah sok ngelawan deh, lo! Baru jadi ketua lembek aja udah berani ngelawan gue," ucapnya sambil bersedekap dada.Gadis yang bername-tag ' Yuni' itu mendorong Arunika sampai punggunya itu terbentur tembok. Arunika yang mendapat perlakuan itu menatap gadis itu tajam.Arunika tambah emosi saat melihat gadis itu bergelayut manja di tangan adik kembarnya.Brengsek.Bugh!Arunika memukul tembok kuat guna menghalangi gadis yang ingin mendekati adiknya." Gue paling enggak suka sama cewek murahan! Gue enggak suka lihat adik gue di pegang sama cewek murahan kayak lo!"Tatapan Arunika benar-benar tajam, menahan emosinya yang memuncak." Udah, biar ini jadi urusan gue," ucap Arsatya menarik tangan Arunika agar berdiri di belakangnya.Arsatya tersenyum kecil sambil berhadap-hadapan dengan gadis yang memegang tangannya tadi." Lo tahu? Tangan gue itu sangat bersih?" tanyanya sambil mengusap rambut gadis menor itu.Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil mengedipkan matanya lagi." Tapi, saat tangan gue ini di sentuh sama lo, tiba-tiba aja tangan gue jadi kotor dan minta di ganti dengan tangan yang baru." ucapnya sambil menoyor gadis itu pelan.Arunika tersenyum devil, memang benar-benar keturunan savage. Ucapan pedasnya itu memang menurun dari Lisa, Revano, dan Bimo. Kejam dan sangat menusuk hati.Arunika berjalan pelan saat adiknya sudah lebih dulu pergi, gadis itu menatap Arunika tajam." Jangan pernah berani bermimpi untuk menjadi pacar adik gue, karena gue enggak akan pernah mau nyerahi adik gue sama cewek menor kayak lo!" sarkasnya lalu berlenggang pergi meninggalkan gadis yang akan menangis itu." Aduh, Bu. Jangan ngelawan Arunika, dia itu jauh lebih segalanya dari lo!" ketus seorang pria yang tak lain adalah Dimas." Gue enggak takut sama dia!"" Oh 'ya, kalau gitu sebelum lawan dia coba suruh nyokap dan bokap lo, buat lawan orang tuanya," tantang Dimas sambil tersenyum devil." Ok, siapa nama orang tuanya! Gue bakal kasih tahu tentang penghinaan ini sama orang tua gue, biar tuh cewek dikasih hukuman berat!"Dimas tersenyum kecil, " Yakin lo, kalau orang tua lo berani sama orang tuanya sahabat gue?" tanyanya sambil bersedekap dada." Heh! Emang siapa sih, orang tuanya palingan mereka dari kalangan yang tidak berada, gue yakin bokap dan nyokap gue bisa tuntut mereka atas pencemaran nama baik?" tanya Yuni semakin geram." Lalisa Arvelina Putri dan Revano Mahendra, itu adalah nama orang tua dari sahabat gue!" serunya sambil berlenggang pergi meninggalkan Yuni yang terbengong saat mendengar nama Lisa dan Revano.Yuni menelan salivanya susah payah, lalu terduduk lemas." Mampus! Kok bisa gue cari masalah sama keluarga Mahendra!"_____Bersambung ....
bagus banget
25/03
0bagus
07/05/2025
0bagus bangett novel nyaaa seruuuuu gaiss
30/04/2025
0Lihat Semua