Only You #19 Setelah kepergianmu, kurasa memang hidup tak akan pernah sama lagi. Bodoh, jika diriku bisa begitu mudahnya lolos dari cengkraman masa lalumu yang begitu memilukan, Arjun. Aku harap semua yang telah terjadi hanyalah mimpi, dan ketika aku bangun, sosokmu masih ada di bumi, tersenyum sambil menunjukan buku barumu atau kura-kuramu yang berhasil hidup lebih dari tiga tahun. Perih yang dialami mataku, nyeri yang dirasakan otot-otot tubuhku, rasa sakit terasa di iris-iris di dalam ulu hatiku rasanya tak sebanding apa yang telah Arjun alami. Seluruh tubuhku meringkuk disebuah pohon di ujung taman yang sepi, dekat dengan masjid agung kota Pare. Seluruh tenagaku terkuras membuatku hampir tak berdaya. Sudah berapa lama aku disini? Aku tak bisa berada disini seterusnya. Tangan kananku menjiplak gigitan gigi-gigiku karna aku tak ingin seseorang mendengar jeritanku. Aku menjerit sekencang-kencangnya tadi, mengeluarkan semua emosi yang membanjiri perasaanku dalam bungkaman daging lengan tanganku, untungnya tidak sampai berdarah tapi lumayan sakit sampai sekarang. Brian mengirimiku wa, { hubungi aku jika kamu sudah siap. Nanti ku jemput } tak ada energi yang tersisa hanya untuk sekedar benci pada Brian. Semuanya telah habis, jadi aku terpaksa harus membalas wa-nya, { kamu pulang duluan saja. Aku baik-baik saja, aku mau sendiri dulu. Jangan menungguku, aku pulang sendiri nanti } balasku. Brian membaca pesanku, untungnya ia menghargai keputusanku. Brian tidak membalas balasanku, aku bersyukur untuk itu. Karena saat ini aku masih belum sanggup menghadapinya lagi. Perlahan namun pasti, tubuhku kuajak berdiri, bangkit kemudian berjalan keluar dari taman. Aku menuju ke stadion yang berada di seberang jalan. Aku masih belum sanggup untuk pulang. Sesampainya di stadion, aku duduk-duduk dibangku penonton sambil melihat beberapa orang yang berolahraga. Ini sudah lewat tengah hari padahal, tapi masih ada beberapa orang yang melakukan kegiatan olahraga. Ada yang berlari, naik sepeda sampai anak-anak cowok berolahraga palang di dekat pintu masuk. Apakah orang-orang ini turis yang sedang belajar di kampung inggris? Ada satu momen yang paling mengesankan saat aku ikut camp liburan belajar bahasa Inggris disini bertahun-tahun lalu. Ada seorang anak yang hanya lulusan SMP, dan dia datang kemari karna tahu betapa pentingnya ilmu dan skill. Banyak mentor yang meremehkannya, karna usianya sudah lanjut kepala dua dan hanya lulusan SMP. "Untuk apa dia kemari?" Mungkin begitulah para mentor itu bertanya-tanya. Cowok itu bukan terlahir di kalangan keluarga terpelajar, dia juga bukan anak orang kaya atau sejenisnya. Kalo tidak salah dia bernama Roni, satu kelas denganku di kelas Speaking yang sayangnya hanya dua minggu siklus semester belajar bahasa Inggris di Pare. Roni tidak akan melanjutkan pendidikan lanjut semacam SMA favorit, kuliah, atau kuliah di luar negeri atau bahkan belajar bahasa inggris untuk keperluan kerja. "Saya belajar bahasa Inggris karna saya suka, dan bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan. Itulah alasan saya datang ke Kampung Enggres ini. Untuk belajar bahasa Inggris," Roni menjelaskannya begitu berkelas, meski ia hanya lulusan SMP, dia nampak berpendidikan tinggi. "Tempat ini dipenuhi orang-orang paling berpendidikan di Indonesia! Pare adalah cermin anak bangsa Indonesia! Dan jika kita mau melihat kualitas generasi penerus bangsa! Maka datanglah ke Pare!" Begitulah pidato Roni, pada malam jum'at battle speech yang di adakan para coach setiap seminggu sekali. Anak-anak pada bertepuk tangan saat itu, padahal Roni sedang menyindir orang-orang yang mengaku berpendidikan tinggi ini. Roni menyindir jika tittle tinggi pendidikan mereka akan selalu kalah orang yang lebih terdidik. Aku merefleksikan pidato Roni pada hidup Arjun, betapa indahnya jika dunia ini lebih banyak orang terdidik seperti Arjun dibandingkan orang-orang yang membanggakan kasta pendidikannya. Roni menyadarkanku juga, jika memang kualitas generasi bangsa ini sedikit buruk. Kampung Inggris dipenuhi sampah hingga sungai yang dulunya bening itu sangatlah kotor sampai bau seperti peceran. Dan betapa idiotnya mentor-mentor yang menghina pendidikan rendah Roni, padahal mereka sendiri malah menyuruh anak-anak yang belajar di Pare mandi pagi-pagi sehabis subuh di sungai yang lebih mirip selokan air comberan yang baunya sangat menjijikan, hanya karna mereka tidak hafal kosa-kata bahasa Inggris yang di targetkan. Sungguh ironi! Mereka tidak menyuruh anak-anak itu membersihkan sungai kotor itu saja, daripada dihukum ala-ala perploncoan khas senioritas jaman bahula. Arjun bukan orang cerdas atau pintar yang kaku seperti anak pintar yang lain, yang bisa menjawab soal ujian dengan akurat seperti materi dalam buku. "Aku tak ingin pintar seperti robot," kata Arjun, saat guru menegurnya kenapa jawabannya berbeda dengan jawaban dari materi buku pelajaran, meski intinya sama. Semua ini memberiku gambaran bila tempat ini memang bukan tempat yang cocok bagi Arjun. Bukan tempat yang cocok untuk anak-anak yang terdidik. Mungkin itu sebabnya negeri ini tak maju-maju, bukan kurang orang yang berpendidikan, lebih karna orang terdidik tidak dihargai dengan semestinya. Dengan cara yang aneh, dunia sekitarku seolah bergerak secara perlahan. Tanganku merogoh kantong mengambil ponsel, menyalakannya lalu masuk ke aplikasi pemutar musik JOOX, suasana ini cocok untuk mendengarkan musik. Kutuliskan di mesin pencari Arjun's Playlist, dan kutemukan album-album koleksi kumpulan lagu yang telah Arjun kumpulkan. Aku memilih album berjudul Arjun's Playlist Night kemudian jari telunjukku menekan play. Aku bergegas keluar dari stadion sambil memesan Gojek untuk pulang. Kuambil earphone di tas mini dalam jaketku, memasangnya di telinga. Dengan ajaibnya suara musik asing itu mulai menyatu dengan irama perasaanku. Sekilas kulihat daftar judul musik dalam album Arjun ini berbahasa asing semua, namun ternyata sangat cocok dengan isi hatiku saat ini. Benar-benar teman yang bagus untuk perjalanan pulang. Abang gojek datang setelah lagu pertama selesai. Aku naik ke motor bang gojek yang bau keringat itu saat lagu kedua dimulai. Yah, aku tidak akan komplain dengan bau keringat bang gojek yang kelihatannya perlu mencuci jaket dan motornya kali ini, karna bang gojek tahu, aku ingin diam tak berbicara menikmati setiap detik playlist musik milik Arjun. Musik meredam suara-suara yang tak ingin kudengar, meredam perasaanku yang hancur, juga membantuku meringankan isi kepalaku yang kacau akibat kejujuran terakhir yang Brian katakan tadi. Akan kucari arti lirik-lirik lagu ini nanti setibanya di rumah. ***** Dua hari sejak Brian mengatakan yang sebenarnya, kedua tanganku sama sekali tidak menyentuh ponsel milikku. Aku butuh rehat dari semua ini. Dua hari ini kuhabiskan dengan menggambar meski aku sama sekali tidak punya bakat menggambar, Arjun sering membantuku menggambar tiap ada kelas menggambar di kelas. Arjun jago menggambar. Kadang aku juga sambil mewarnai buku mewarnai untuk dewasa, itu sedikit membantuku mengalihkan perhatian dari setan kotak tersebut. Kadang kuberanikan diri lebih sering muncul dihadapan orang tuaku, mengobrol dengan mereka bahkan dengan tetangga depan rumah. Puasa sosmed memberiku energi yang lebih baik bagi pikiranku demi bisa menghadapi masa lalu Arjun kembali, yang akhir-akhir ini telah banyak kubongkar. Kebanyakan bukan hal yang menyenangkan. Kelihatannya dua hari cukup, karna aku harus melakukan rencana-rencana yang sudah kususun. "Bagaimana keadaanmu, Sel?" Tanya ayah, saat kami berada dikebun belakang rumah membersihkan rumput liar. "Mendingan," jawabku sekenanya. "Psikiater itu mahal lho! Jadi ayah berharap ada hasilnya." "Ya! Itu benar-benar berhasil membantuku, yah. Tenang saja." Padahal sebenarnya itu sama sekali tidak membantuku. Psikater malas itu hanya duduk-duduk dan menanyaiku selama berjam-jam lamanya kemudian memberitahu apa yang harus kulakukan, tentu saja jawabannya hampir sama yang kutemukan di internet. Ayah benar-benar membuang waktu dan uang! "Syukurlah kalo begitu, jadi kamu sudah siap lanjut kuliah? Nanti telat lho! Kalo kamu tidak segara buru-buru mengejar teman-temanmu. Nanti sudah pada penuh Uni favoritmu!" "Yah?" "Apa!" "Kelihatannya Sheila mau menunda kuliah dulu, deh." "Apa? Hah?" "Sheila mau les bahasa Jerman dulu sebelum kuliah." "Lha! Kan kamu bisa kuliah sambil belajar bahasa Jerman! Jangan kecewain ayah." "Tahun depan masih bisa, lagian waktu setahun ini bakal Sheila gunain buat benar-benar mikirin dengan matang mata kuliah mana yang mau Sheila ambil." Ayah sibuk dengan mencaruk-caruk tumpukan rumput liar itu dengan gerakan cepat tak beraturan, tanda lain jika ayah marah, "ayah sih, oke oke saja sih, selama kamu bener-bener tidak berniat menyia-nyiakan masa mudamu." "Terima kasih ayah!" Seruku, bahagia mendengar jawaban ayah. Aku melompat mendekati ayah untuk memeluknya, "pokoknya terima kasih. Terima kasih sekali lagi karna udah mau pengertian." "Udah itu aja?" "Udah panas yah, nanti gosong kulit Sheila. Boleh ya? Sheila masuk duluan?" "Dasar! Anak jaman sekarang! Bantu ortu kalo ada mau nya doang!" Aku hampir tidak mendengar ucapak terakhir ayah, saat beranjak dari kebun masuk ke dalam rumah. Ada banyak sekali pesan masuk, entah di wa, ig dan sebagainya ketika kukembali menyentuh setan kotak ini. Meski nomor Brian sudah kublokir untuk sementara waktu, ia masih nekat menggunakan nomor lain mencoba menghubungiku. Aku masih belum siap, jadi ku abaikan saja pesan dari Brian. Adrian juga mengirim banyak pesan, tapi kusimpan untuk nanti saja. Ku scroll kebawah lagi dan menemukan nomor bernama "Farah" adik Arjun. { Apa kabar kak Sheila? } Farah menanyakan kabar keadaannya. Aku tidak sanggup memberitahu Farah apa yang telah dialami kakaknya selama ini, ia masih kecil. Meskipun dia keluarganya, yang paling berhak tahu, aku masih belum sanggup bercerita kepadanya. { aku baik-baik saja, makasih. Ini lagi sibuk ngurus kuliah } balasku, mencoba mengecoh perhatiannya supaya Farah tidak bertanya-tanya yang membuatku keceplosan berbicara tentang Arjun. { syukur kalo begitu. Rasanya senang Kak Sheila sudah melanjutkan hidup. Makasih sudah jadi teman baiknya Kak Arjun selama ini. Semoga kakak diterima di Uni terbaik, amin!" } perhatian Farah meluluhkanku, dia satu-satunya dari keluarga Arjun yang nampak peduli dengan kepergiannya. Saudara-saudara lainnya tidak mau peduli ketika mengetahui bagaimana Arjun mati. Sekarang rasa bersalah menyelimutiku, ini sebabnya lebih baik aku jauh-jauh dari ponsel untuk sementara waktu. Setiap kali dekat-dekat dengan benda canggih ini, selalu saja kesedihan datang dengan wujud yang berbeda-beda. { makasih. Semoga kamu juga } aku tidak menambahi apapun lagi, takut bila Farah melanjutkan obrolan ini lebih dalam lagi. Kutaruh benda yang suka membuatku sedih ini lalu mengambil buku-buku catatan milik Arjun. Aku kembali menjelajahi setiap goresan tinta yang telah Arjun tulis disini. Kenapa kadang kertasnya tipis kadang tebal? Ada sedikit keganjalan dengan ukuran kertas-kertas ini. Ternyata banyak isi kertas buku ini dilem dijadikan satu. Pasti Arjun mencoba menyembunyikan tulisan yang telah ia tulis. Aku berlari menuju dapur untuk mengambil minyak goreng, "buk!" Panggilku, "tahu dimana letak kuas ngga?" "Kuas apa, kak!" Jawab ibuk dari ruang keluarga. "Kuas apa aja! Kuas bekas buat ngecat rumah kemarin ditaruh mana?" "Itu! Dibawah meja dapur, tempat gudang nyimpan perabotan!" Saut ibukku. Aku segara membuka satu persatu lemari bawah dapur untuk mencari kuas. Setelah kutemukan kubawa kuas beserta minyak goreng kembali ke kamarku. Kuolesi perlahan-lahan kertas yang telah dilem oleh Arjun dengan minyak goreng menggunakan kuas cat. Sedikit demi sedikit minyak menembus kertas tersebut lalu mengungkapkan rahasia yang Arjun coba sembunyikan. Tulisan dan coret-coretan mulai bermunculan disana, salah satunya kutemukan coretan mentah catatan huruf abjad latin disertai huruf abjad buatan Arjun sendiri. Ini yang Adrian temukan tempo dulu! Ini dia! Salah satu rahasia milik Arjun yang membuat Adrian bersemangat ingin membantuku mencari semua "Kotak Pandora" yang Arjun coba sembunyikan. Kupotret hasil penemuanku dan langsung saja kukirim ke Adrian lewat telegram. Adrian parno dengan medsos selain SMS dan Tele untuk berkomunikasi, kadang alasannya terdengar konyol mengapa ia hampir tak mau menggunakan sosmed chatting selain dua aplikasi itu. "SMS lebih susah dibobol," katanya. { kau tidak akan percaya dengan apa yang kutemukan } captionku pada gambar yang kukirim. { tumben kau berguna } balasnya dengan nada sarkistik. { sialan kau! } { canda! } { hei! Adrian! Tidak ada satupun candaanmu yang lucu, tau! Lo tu garing!!! } Adrian mengabaikan balasanku, ia lebih memilih kembali fokus dengan hasil penemuanku, { excellent! Kau hebat bisa menemukan ini. Darimana kau mendapatkannya? } { ada deh! Nanti kuberitahu setelah kamu memberitahuku apa hubungan huruf abjad ini dengan rahasia lain milik Arjun? Apa ada yang bisa kau temukan? } { sabar dikit napa sih? Enak aja apa-apa serba instan. Lu kira gue abang-abang burjo! Kerjaannya bikin mi instan } { miripsih! } kehadiran Adrian kadang juga memberiku sedikit hiburan untuk lebih bersantai menghadapi ini semua. Adrian benar-benar orang yang energic namun juga easy going. Aku suka itu. Sambil menunggu Adrian, aku kembali mengolesi minyak lembaran-lembaran kertas yang telah Arjun rekatkan satu sama lain. "Aku lelah jiwa dan raga" tulis Arjun. Aku tahu kamu pasti sangat lelah Arjun, aku sendiri yang tidak mengalami apa yang kamu rasakan saja ikut kelelahan, apalagi kamu. Selanjutnya, aku menemukan catatan yang Arjun tulis dengan huruf abjad ciptaanya. Arjun benar-benar tidak ingin membuat ini menjadi mudah. Aku mengambil bolpoin dan kertas, pertama aku menyalin huruf abjad, kedua aku mulai menerjemahan catatan milik Arjun. Eugh!!!! Ini rasanya sedikit menyiksa, aku harus menulis dan menerjemahkannya huruf per huruf, bukan kata per kata. Ini akan memakan banyak sekali waktu! Tak terasa setelah setengah jam lamanya aku mencoba menerjemahkan catatan huruf abjad milik Arjun, aku berhasil merangkainya menjadi kata-kata berbahasa Indonesia. Disana, Arjun menulis: "Jika aku mati, adakah orang yang menangisiku?" "Jika aku mati, adakah orang yang mau memakamkan-ku?" "Dan jika aku mati, adakah orang yang datang kepemakamanku?" "Karena sebenarnya aku takut mati sendirian" "Meskipun aku ingin mati" Kubaca berulang kali sampai-sampai kata yang ditulis Arjun menghilang maknanya. "Kau tidak sendirian Arjun. Ada aku disini, aku menangisi kepergianmu, ada banyak orang datang ke pemakamanmu—meski aku tak tahu apakah mereka hadir karena benar-benar ingin berada disana—aku tak bisa memastikannya, mereka datang sekaligus memakamkanmu dengan layak. Dan aku tak ingin kau mati," bujukku, meski sudah terlambat. Terkadang terpintas dikepalaku sebentar jika aku bisa memaklumi keputusan ekstrem yang Arjun lakukan. Setiap pikiran belas kasihan yang salah itu datang, segera mungkin aku menyakinkan diri "jika Arjun memilih tinggal" aku rela mendedikasikan hidupku untuk Arjun. Tuing! SMS dari Adrian masuk, { temanmu menulis semua kata sandinya dengan huruf abjad buatannya, jadi kita bisa masuk ke dalam akun medsosnya dan mengecek apakah kita bisa menemukan sesuatu disana } Aku tidak berniat menceritakan penemuanku pada Adrian meski ingin. Ini masalah antara aku dan Arjun, sementara Adrian hanya membantuku. Kutahan agar kali ini jari maupun mulutku tidak ember, { itu kabar yang sangat bagus! Kau benar-benar jenius, Adrian } pujiku atas kerja keras Adrian. Jika kami masuk berhasil ke dalam akun medsos milik Arjun, maka akan semakin banyak kotak pandora milik Arjun yang bakal kami temukan. { ya! Mari kita masuk ke dalam sosmed milik Arjun } ________________ NB; 1. Playlist lagu milik Arjun bisa diputar di youtube, dengan kata kunci “Arjun’s Playlist Night” kebanyakan lagu, lirik, atau video musiknya kurang cocok didengar saat suasana hati lagi sedang galau, karna bisa menambah kegalauan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantp
19d
0sangat menyenangkan
07/08
0serruuu
16/09/2025
0Lihat Semua