logo text

Kisah Milik Arjun

Only You #40 Part 1
Kutata buku-bukuku Serapi mungkin. Kumasukan buku catatan khusus ku dalam box kardus bersama buku sketsa, novel kesukaanku dan tentunya iPad-ku, tempat dimana rahasia tergelapku terkubur. Kurapikan kamarku Serapi mungkin, jadi Ibu nanti ga perlu lagi beres-beres kamarku. Rasanya berat sekali meninggalkan tempat ini, sepetak kamar berukuran 2x3 yang membuatku sangat nyaman dan betah berlama-lama disini. Tak kusangka tempat ini sebentar lagi kutinggalkan selamanya. "Good bye, my best friend." Kamarku adalah satu-satunya hal di dunia ini yang selalu memberikan tempat singgah ternyaman saat aku kalah melawan dunia.
.
Pesta milik Armin akan diadakan malam ini di apartemen miliknya. Persiapan sudah diatur Armin dengan matang. Teman dan keluarganya Armin datang kesini, ikut membantu menyiapkan persiapan ulang tahun. Semua bahan persiapan ulang tahun sudah datang, mulai balon-balon, kue ulang tahun, dekorasi dinding, juga kostum-kostum berupa topi dan topeng-topeng hewan. Ini semua mengingatkanku tentang Arjun lagi, bagaimana ia tak pernah merayakan ulang tahunnya, dan ketika aku mengucapkan ulang tahun kepadanya dengan membawa sebuah kado, Arjun menangis sesenggukan karna sangat bahagia. Kini, aku tak akan bisa merayakan ulang tahun bersamanya lagi.
.
Kepergian ku tak akan ada yang mencari. Aku bakal jadi salah satu dari sejuta orang yang kematiannya malah diinginkan orang-orang. Sampai sekarang, aku tak tahu. Kenapa orang-orang memandangku seolah-olah aku ini alien? Mereka menghindari ku, melarang anaknya bergaul denganku, dan ketika aku beranjak dewasa, dulunya anak-anak yang bermain denganku pergi meninggalkanku dan menyebut-nyebut namaku dibelakang ku. Apa salahku? Kenapa mereka tak mau menerima jika ada orang yang berbeda pendapat? Kenapa mereka tak terima bila ada orang yang menyukai hal yang berbeda dari mereka? Kenapa orang-orang tak sedikit pun mau mencoba hal yang berbeda? Kenapa mereka lebih suka menjadi domba? Mengikuti kemana domba paling depan pergi, padahal domba tak memiliki pemimpin kawanannya.
.
"Kau baik-baik saja?" Suara Armin mengagetkanku.
"Ya, aku baik-baik saja. Tenanglah. Aku tak akan mengacaukan hari ulang tahunmu. Ini adalah harimu. Hari tentangmu, jadi jangan kau pikirkan aku, aku baik-baik saja. Sana, sapa teman-temanmu," usirku kepada Armin agar ia menemui teman-teman jauhnya.
Aku menata kue-kue kering di meja besar yang telah Armin dan temannya angkat dari taman apartemen dibawah. Semoga saja pengelola apartemen tidak mencari kursinya.
.
Kutatap kamarku untuk terakhir kalinya. Kunyalakan lampu meski hari sudah padang benderang, aku hanya ingin merasakan sensasinya saja. Setelah kumatikan lampu untuk terakhir kalinya, aku memasukan ponsel Popo ku ikut ke dalam box kardus barang-barang berhargaku. Aku tak memerlukannya. Lagipula, di ponselku hanya ada memori. Memori orang-orang yang pernah singgah di hidupku tanpa benar-benar mencintaiku. Buat apa kau melanjutkan hidup bila tak ada yang mau mencintaimu. Ya, kan?
.
Ulang tahun Armin di mulai jam delapan malam, yang kalo di Indonesia itu sudah terlalu malam dan orang-orang bakal komplain dengan jadwalnya. Disini orang-orangnya memang suka berpesta, berbagai macam pesta tersedia disini, jam delapan malam masih terlalu awal bagi mereka.
.
Aku segera keluar dari rumah, menatapnya untuk terakhir kali. Sebelumnya aku pergi ke dapur lebih dahulu. Di dapur, aku memeluk Ibuku, meski ia tak menyukainya karna memeluk bukanlah kebiasaan orang-orang disini. Aku pamit ke sekolah untuk mengambil surat pengumuman kelulusan. Ibuku nampak lebih baik setelah bapak pergi. Aku benar-benar berharap bapak tak pernah kembali kesini menggangu keluargaku lagi. Hanya Farah dan Ibu yang kupunya saat ini. Meski mereka juga mengecewakan ku, mereka satu-satunya yang tidak meninggalkanku.
.
Tamu-tamu yang di undang Armin mulai berdatangan. Mereka nampak sangat bahagia ikut merayakan ulang tahun ke dua puluh empat Armin. "alles Gute zum Geburtstag! Armin!" Ucap mereka, mengucapkan selamat ulang tahun pada Armin.
Pesta pun dimulai! Musik diputar. Berbagai permainan mereka mainkan. Potong-potongan kertas bertebaran dimana-mana berbarengan dengan bunyi terompet yang disebul. Armin ditaruh di tengah-tengah kursi, dan orang-orang mulai mengerjainya. Salah satu temannya memakai baju latex, hanya memakai celana dalam mendekati Armin untuk menggodanya. Bergoyang-goyang ala striper. Semua orang tertawa terbahak-bahak. Hanya diriku yang sama sekali tidak tertawa sibuk menggoyang-goyangkan gelas wine yang Kupegang di pojokan.
Aku merasa asing disini. Seolah-olah mereka menyindirku, "this is not where you belong, stranger." Meski mereka sama sekali tidak mengatakannya. Tetap, aku menyadarinya juga, tempatku memang bukan disini.
.
Rencana yang akan kujalankan adalah rencana yang sudah kupikirkan lama sekali. Sejak aku kecil, akupun sudah pernah memikirkannya. Dan hari inilah, dimana aku akan mewujudkannya.
Aku harus menghindari pasar dan jalur stasiun dan rel kereta api. Sebisa mungkin aku lewat jalan yang sepi. Sepanjang perjalanan, meski aku berjalan dalam bayang-bayang, agar tak seorang pun menyadari kehadiranku, tetap saja mataku menatap kehidupan manusia disepanjang jalan yang kulewati. Seorang ibu rumah tangga yang saling merumpi sambil mendulang sarapan anaknya. Bapak-bapak tukang becak merokok sambil berceloteh satu sama lain. Para pekerja pabrik asik ngobrol sambil makan di warung makan. Mereka semua nampak terkoneksi satu sama lain.
Aku cemburu, aku tidak bisa memahami hubungan mereka. Seperti apa rasanya? Bisa diterima dalam sebuah circle hubungan manusia? Aku tak yakin aku pernah merasakannya. Waktu study tour sekolah aku saja ketinggalan dan tak ada yang mencari. Justru aku yang harus menyusul mereka. Di pengajian, meski temanku banyak, tak ada satupun dari mereka ada yang mau mengajakku dalam rencana mereka. Seperti main PS sepulang ngaji, main futsal, ataupun mancing. Tak ada satupun dari mereka yang mengajakku.
Apalagi disekolah, semua orang membenciku hanya gara-gara usulanku diterima Pak Har, guru olahraga. Pak Har bertanya mau warna apa? Untuk baju olahraganya, dan aku mengusulkan warna kuning dan biru. Sementara yang lain minta warna merah. Meski setelah baju olahraganya jadi, dan hasilnya ternyata sangat bagus antara motif dan paduan warna yang kubuat. Tak ada satupun dari mereka mau mengakuinya.
Setiap jadwal pelajaran olahraga, aku sangat membencinya. Karna aku selalu tersisih, tak ada satupun dari mereka tertarik merekrut ku masuk ke dalam tim mereka. "'Kau sana! Ikut cewek-cewek saja maen bekel!" Ledek mereka tiap kali jam pelajaran penjaskes datang.
Aku hanya bisa duduk di pojokan pohon beringin sampai jam pelajaran penjaskes selesai. Pak Har satu-satunya guru yang paling baik yang pernah kujumpai selama aku sekolah. Ia tak pernah sedikitpun menghakimiku, meski aku dicap tulang lunak oleh para siswa, dan tak pantas main olahraga bersama anak mereka. Pak Har tak pernah menyebutku begitu, ia melihat apa adanya diriku. Sesak rasanya, kenapa malah orang asing yang mau menerimaku?
Aku sangat menyesali hidupku. Kenapa aku tak bisa terlibat dalam kehidupan seperti mereka?
.
Tamu-tamu Armin mulai minum-minum, bahkan sudah ada satu-dua yang teler karna mabuk. Aku tak betah, jadi aku putuskan keluar diam-diam dari apartemen Armin. Kuambil jaket, syal dan tutup kepala untuk melindungi dari dinginnya malam di Eropa. Aku keluar tepat ketika kue super enak itu didublakkan ke wajah Armin. Orang-orang ini sama sekali tidak menghargai makanan. Arjun pasti sangat sedih melihatnya. Arjun pertama kali makan kue tart, saat ulang tahun ketujuh ku. Katanya, itu adalah hari paling bahagia baginya akhirnya ia bisa makan kue tart yang mirip di tipi-tipi. Kuajak seluruh tubuhku mengikuti perintahku, aku keluar menuju lift apartemen. Aku ingin turun, keluar mencari udara segar.
.
Buku-buku dan film-film lah penyelamat ku selama ini. Mereka satu-satunya yang memberiku harapan untuk hidup lebih lama lagi.
Setiap memikirkan mereka, aku tak ingin mengakhiri hidupku seperti ini. Aku masih ingin membaca buku terbitan baru, menonton film-film baru. Aku ingin tinggal, tapi hidupku sebagian besar tak berjalan sesuai harapanku. Bahkan buku-buku dan film-film itu sudah tak mampu jadi alasan bagiku untuk bertahan.
Terlalu banyak hal di dunia yang tak bisa kuterima. Dan setiap kali aku mengungkapkannya, orang-orang akan bilang padaku jika aku ini makhluk aneh yang tak bisa bersyukur, manusia yang tak bisa menerima kenyataan, manusia yang terlahir ditempat salah. Mereka memintaku pergi, mereka memaksa ku menyerah, dan ingin aku diam tak lagi berbicara hal-hal yang tak akan bisa mereka pahami lagi.
Mereka menolakku, karna aku masih mencoba menjadi diriku sendiri. Aku tidak bisa mengikuti selera mereka, aku tak mampu mengalir dalam obrolan yang mereka bicarakan. Aku tak pernah merasa puas dengan pemikiran dan selera mereka yang dangkal. Jadi, mereka menyisihkanku, dan semua itu salah ku sendiri. Aku tahu itu.
Sebentar lagi aku sampai di sekolah. Aku berhenti disalah satu rumah kosong. Mengambil spidol dan jaket dari dalam tas sekolah ku. Aku melepas seragamku, mulai menuliskan beberapa kata di seragamku. Lalu aku memakainya kembali. Aku akan menutupinya dengan jaketku nanti, agar tidak ada yang melihat tulisan yang aku tulis.
.
Aku melewati pedestrian yang dipenuhi orang-orang nongkrong disekitaran kafe dan restauran. Orang-orang mulai mengantri masuk ke dalam club. Aku berjalan mencari area yang tenang, mungkin sekitar sini ada taman. Aku bisa pergi kesana.
Otakku memikirkan Arjun kembali. Ia pasti sangat iri denganku, bila ia mengetahui aku berada di Eropa saat ini. Ingin rasanya mengajaknya kesini. Apalagi salju, Arjun ingin merasakan menyentuh salju meski sekali dalam seumur hidupnya. Aku datang di waktu yang kurang tepat disini, ini belum waktu winter. Aku tak akan menemui salju turun. Ketika salju-salju itu datang, aku sudah pergi.
.
Aku berusaha lewat jalan yang sesepi mungkin. Ketika aku memasuk kawasan jalan raya sebelum masuk area wilayah sekolah, kakiku terasa kaku terjebak tak bisa bergerak tepat ketika aku berdiri di gedung kosong sebelum masuk area sekolahku.
Tempat yang seharusnya paling kutakuti, tempat yang seharusnya membuatku trauma setengah mati. Tempat dimana harga diriku dihancurkan selebur-leburnya. Ini adalah tempat dimana Brian menghancurkan jiwa dan ragaku.
Mataku menerawang, menatap gedung kosong ini lama sekali. Ketika aku mulai menggerakkan kaki-kaki ku lagi, kupingku menangkap sesuatu. Aku mendengar sebuah suara.
.
Setelah puas berjalan-jalan malam di kota Munchen, aku kembali ke apartemen Armin. Dinginnya minta ampun! Tubuhku serasa mau membeku.
Sesampainya di apartemen Armin. Orang-orang sudah pada pergi. Aku mengecek ponselku dan mendapati Armin mengirim pesan untukku.
{ Dimana kau? Kami mencarimu kemana-mana. Temui aku di Bar Colosseum. Kami semua menuju kesana. Hubungi aku secepatnya ok? } Tulis Armin.
Aku segera membalas pesan milik Armin. { Have fun! Bersenang-senanglah bersama teman-temanmu } balasku.
Kakiku melangkah menuju dapur. Kedua tanganku sibuk, yang kiri mengambil cangkir dan yang kanan mengambil kopi. Aku ingin kopi susu panas malam ini.
Pukul sebelas malam waktu CET, aku memandangi jendela balkon di balik sofa hangat sambil meminum kopi susuku. Rasa hangat dan lezatnya membanjiri seluruh tubuhku. Ketika sesapan kedua, aku menengok lagi ke arah jendela, dan betapa terkejutnya aku. "Salju? Di musim gugur?" Aku keheranan melihat bintik-bintik putih berjatuhan dari langit.
Tubuhku kupaksa berdiri, untuk ku ajak menengok keajaiban malam ini. "Ini beneran salju?" Aku membuka pintu balkon, keluar dan segera menangkap bintik-bintik putih itu. Rasanya seperti bunga es di dalam freezer.
Aku menikmati setiap butiran salju yang jatuh, bermain-main dengan mereka meski rasanya dingin sekali. Arjun pasti sangat senang. Arjun pasti sesenang diriku saat pertama kali melihat salju, seperti saat ini. Aku memegang dan menggenggamnya dengan tanganku. Aku melihat salju-salju itu turun secara langsung dengan kedua mataku. Kupersembahkan momen indah ini untukmu, Arjun.
.
Suara itu seperti rintihan sekaligus rauman ketakutan. Empatiku bekerja untuk mengecek apa yang sedang terjadi? Segera kubuka pintu gerbang yang gembok dan rantainya sudah rusak. Aku masuk ke dalam sana tanpa memikirkan apa yang telah terjadi padaku sebelumnya.
Aku memeriksa genteng dan melihat seekor anak kucing yang terjebak diatas sana. Segera, aku menaruh tas, melepas sepatuku agar aku bisa leluasa untuk memanjat. Tak ada pemikiran kedua kalinya, meski aku tak bisa memanjat, kupaksa diriku agar bisa melakukannya. "Semua orang bisa melakukan apapun bila keadaan terdesak," kataku, mencoba menyakinkan diri sendiri.
Kupanjat tembok pembatas yang telah kuberi pijakan kayu agar aku bisa sampai di ujung pagar yang banyak runcingan besi di ujungnya. Aku berhati-hati sekali karna runcingan besi itu ada tiap Lila centil meter di atas pagar pembatas.
.
Setelah puas bermain dengan salju-salju, aku segera mandi dengan air panas. Setelah mandi, aku beres-beres untuk besok. Aku memutuskan untuk pergi besok. Akan ku lanjutkan perjalanan ku menuju India.
Aku membuka ponselku, masuk ke situs Travelwithme, memboking tiket pesawat dari Munchen ke India. Lima menit selesai, aku langsung masuk ke laman Facebook. Salah satu obrolan yang kuingat saat mengobrol dengan Arjun, dia memberitahu ku jika orang India sangat gemar bermain Facebook. Aku langsung masuk ke dalam Facebook, selama setengah jam lamanya aku menyelam di mesin pencariannya, akhirnya aku menemukan apa yang aku cari.
Akun Facebook bernama Armani Durjov. Segera saja aku add sebagai teman, aku klik tombol pesan dan menuliskan pesan untuknya. Sekalian aku mengecek pesan dari Bella Bundanya Risma. Bella Bundanya Risma ternyata sudah membalas pesanku, akupun langsung membukanya.
{ Halo, Sheila sayang. Maafin ibu, ya. Baru bisa bales, soalnya ibu sibuk sekali akhir-akhir ini. Kami sekeluarga sangat sibuk mengurus sidang pembunuhan anak kami. Akhirnya kami berhasil menyeret tiga kakak seniornya yang dulu di duga telah menganiaya anak kami. Kami saat ini sudah memasuki sidang keputusan hakim, hukuman apa yang pantas untuk mereka bertiga. Terima kasih atas doamu. Dan aku sangat senang mendengar semua cerita darimu. Kau harus kuat nak, kita berdua telah berhasil mengupas kebenarannya
Semoga, kedepannya kita berdua bisa melanjutkan hidup dengan damai setelah semua ini selesai. Amin.... } Begitulah isi balasan Bella Bundanya Risma.
Aku terharu membacanya. Aku ikut senang. Akhirnya mereka bisa menuntut keadilan yang sudah bertahun-tahun disembunyikan. Mereka, para senior kampus itu pantas mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka. Kegigihan Bu Bella mencari kebenaran patut diacungi jempol. Seorang ibu, tak akan mungkin merelakan begitu saja kematian anaknya tanpa alasan. Bu Bella adalah sosok perempuan yang harus ditiru atas kegigihannya melawan ketidakadilan.
{ Aku turut senang mendengarnya Bu. Aku sangat bangga pada Bu Bella, atas semua kerja keras ibu selama ini mencari keadilan. Semoga mereka dihukum seberat-beratnya. Dan aku juga ikut senang, nantinya kita berdua bisa melanjutkan hidup dengan tenang setelah semua ini selesai. Salam untuk keluarga ibu disana. Sukses untuk sidangnya, Bu. } Balasku.
.
Kuangkat kaki kananku terlebih dahulu untuk naik ke atas atap. Lalu disusul kaki kiriku. Aku mencoba setenang mungkin agar bayi kucing itu tidak ketakutan. "Pus, pus, sini, aku mau menolongmu," ucapku selembut mungkin.
Butuh beberapa menit untuk menyakinkan si kucing bahwa aku mencoba untuk menyelamatkannya. Aku langsung menangkap si kucing ketika aku yakin ia sudah masuk dalam jangkauan tanganku. Langsung ketika aku berhasil merangkulnya dalam pelukanku, aku turun dari atap. Ketika aku sudah yakin jika kaki kananku menapak ujung dinding pagar, aku tergelincir dan tubuhku terpanting jatuh di antara dinding pagar. Anak kucingnya terlontar sampai ia meraung kaget dan kesakitan.
Aku mencoba segera bangkit, tapi rasanya sakit sekali. Sangat sakit di bagian perutku. Aku kaget setengah mati ternyata tubuhku berdarah. Kenapa bisa berdarah?
Ku pegang pelan-pelan perut yang berdarah dan aku merasakan sesuatu yang keras. Itu pasti besi. Perutku menancap di salah satu runcingan besi pagar.
Sakitnya minta ampun ketika aku mencoba menarik tubuhku. Sial! Aku tak boleh berteriak, akan banyak orang yang datang dan rencananya bakal gagal. Jadi aku memaksa diriku tak peduli sakitnya yang hampir membuatku pingsan, aku menarik tubuhku dari runcingan pagar besi itu.
Tubuhku terjatuh saat aku jatuh. Kaki, bokong dan punggungku kesakitan saat tubuhku mendarat di tanah. Aku mencoba mengabaikan rasa sakit ku, mataku berputar-putar mencari si kucing. Aku melihatnya di ujung pagar, masih mennagis meraung-raung. Setidaknya ia tidak apa-apa. Kucingnya selamat.
Darah yang mulai mengucur dari dalam perutku membuatku khawatir setengah mati. Aku segera bangkit. Memakai sepatuku cepat-cepat. Mengambil jaket dari dalam ransel dan ku kenakan agar darah yang keluar tidak kentara, karna waran jaketnya hitam. Aku segera berjalan secepat mungkin sambil menahan sakit yang begitu menyiksa.
Tubuhku tiba-tiba panas, demam mendadak. menyerangku. Mataku mulai kabur, tubuhku pun melemas.
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, hanya anak tiga yang akan masuk sekolah. Aku melewati pagar samping sekolahan yang telah dilubangi anak-anak untuk membolos, karna aku tak bisa lewat gerbang sekolah yang dijaga oleh satpam sekolah.
Aku segera berlari menuju lapangan upacara yang pastinya kosong dan anak-anak tak mau nongkrong disana karna panas tidak ada pohon untuk berteduh. Aku sangat bersyukur anak-anak kelas tiga masih berada di dalam gimnasium menunggu pengumuman kelulusan.
Aku segera menjalankan rencanaku.
.
Keesokan harinya, aku berangkat menuju bandara. Tapi sebelumnya aku menunggu Armin bangun dan sadar. Armin sudah sangat baik denganku selama aku disini, jadi aku tak bisa mengkhianati kebaikannya dengan pergi tanpa pamit.
"Kau benar-benar mau pergi?" Raut muka Armin nampak sedih.
"Ya, lagian saljunya juga cuma sebentar. Sudah hilang sekarang." Aku mencoba membuat lelucon agar situasi canggung kami mencair. Tapi gagal. Armin masih nampak bersedih.
"Kunjungi kapan-kapan." Armin memelukku.
"Tentu saja, aku pasti akan mengunjungimu secepatnya. Lagian, kan. Kau bosku sekarang," kataku.
Aku menerima tawaran Armin soal bekerja untuknya. Aku sebagai penasehat dan konsultan untuk aplikasi belanja onlinenya. Ia memintaku untuk meriset, aplikasi belanja online yang sedang digandrungi di Indonesia. Seperti Orenshop dan Greenpedia. Setidaknya, aku tak berniat menerima uang Armin cuma-cuma. Biaya studi di India-ku, sepenuhnya Armin yang membiayai. Aku lebih suka jadi partner kerjanya dibandingkan mendapatkan beasiswa darinya. Jadi aku tak perlu merasa punya hutang padanya.
.
Aku berlari ke tengah-tengah lapangan, menuju tempat tiang bendera berada. Aku segera melepas tali untuk menarik sang saka merah putih. Lalu dengan tergesa-gesa aku membentuk simpul Collar* lalu aku naik ke atas tiang bendera.
Darah mengucur semakin deras di perutku karna aku banyak bergerak. Mataku mulai merem melek dan pandanganku mulai kabur. Tepat ketika aku akan memasukan simpul tali collar itu di leherku. Aku terjatuh dan mataku terpejam, tak kuat lagi menahannya. Rasanya seperti rasa kantuk yang amat sangat berat dan tak bisa di tunda lagi.
.
"Segera hubungi aku sesampainya kau disana," pesan Armin.
"Siap!" Aku mengambil tasku, bergegas masuk ke dalam bandara pemberangkatan. "Terima kasih sekali lagi." Aku balas memeluk Armin, karna aku sudah terbiasa dengan budaya saling memeluk itu. "Aku pergi dulu, bye!" Tanganku melambaikan dada tanda perpisahan.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    AnwarSyamsul

    mantp

    09/09

      0
  • avatar
    MR.pasukan KeCe

    sangat menyenangkan

    07/08

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru