Only You #21 "Perkenalkan, dirimu anak manis?" Pinta guru taman kanak-kanak yang membimbingku memasuki kelas. Semua anak menatapku, aku tidak tahu apa arti tatapan mereka kepadaku. Apakah mereka pikir aku ini aneh? Apakah mereka pikir jika aku ini jelek? Bajuku? Kucir rambut ekor kudaku? Ibu suka sekali mengucir rambutku, padahal ibu tahu jika aku tidak suka rambutku dikucir. Kenapa anak-anak kecil ini masih melototiku? "Namamu siapa?" Wanita cantik yang suaranya lembut ini jongkok di sebelah kananku, ia mencoba meyakinkanku semuanya baik-baik saja. "Nama saya Sheila," kataku. "Nama lengkapnya?" Tanya ibu guru wanita ini lagi, kali ini dengan senyuman lebar. "Nama lengkap saya Sheila Marcia, kakek saya dulu suka dengan aktris Sheila Marcia, jadi namaku sama dengannya. Kata kakek, aku sama cantiknya dengan dia," terangku, masih keadaan malu-malu. Ada seorang anak yang sangat antusias dengan kehadiranku, sepertinya aku pernah melihatnya. Anak itu tersenyum, tangannya bersedakep dengan penuh khidmat dan matanya hanya tertuju padaku. Aku merasakan dia menerimaku, itu membuatku merasa lebih baik. Ibu guru melanjutkan menanyakan dimana aku tinggal, apakah aku punya hobi? Punya hewan peliharaan atau tidak, hingga apa cita-citaku? Setelah wawancara perkenalan murid baru—yaitu diriku, ibu guru menyuruhku duduk dengan gadis berkulit agak gelap yang sama malunya denganku. Ibu guru menyuruhnya untuk menjabat tangan denganku, agar saling berkenalan. "Mega," katanya, menyebut namanya. "Aku Sheila, tapi kamu bisa panggil aku Sela biar gampang." Kamipun tertawa kecil malu-malu. Di jam istirahat, bocah lelaki yang memperhatikanku datang menghampiriku, "kamu kan, yang punya anjing? Dulu kakekmu juga pernah bawa monyet ke rumahmu," timbrungnya tiba-tiba ketika aku dan Mega sedang makan bekal kami di taman bermain. Anak ini sedikit kumal, ia memakai dasi yang salah, seharusnya dasinya berbentuk kerucut bukannya malah dasi yang ujungnya terpotong menjadikan dasinya jadi bentuk kotak mirip dengan dasi untuk para siswi. Sepatu bocah lelaki ini juga kebesaran, kulitnya juga gosong terkena sinar matahari. Anak ini pasti tidak pernah mendekam di rumah setelah pulang sekolah. Ayah dan ibuk tak pernah mengijinkanku keluar rumah waktu siang, hanya boleh bermain di luar rumah waktu pagi dan sore saja. Tapi tetap saja kulitku tidak jadi seindah milik Brian, kakakku. Kata ibuk, rahasia kulit putih bersihnya Brian adalah tidur siang. Ternyata ibuk bohong, karna aku sampai sekarang tidak putih-putih. Aku hanya diam ketika ia mengoceh tentang diriku, bocah ini sangat aktif dan periang. Ia pun pergi ketika aku tidak membalas ucapannya tentangku dan keluargaku. Aku senang dia tidak menyebut-nyebut diriku anak haram, hanya gara-gara kakekku penjual minuman haram. "Tidak ada anak yang haram, mereka cuma belum tahu saja. Makanya kita pergi ke sekolah supaya kita belajar dan menjadi pintar, makanya Sheila harus pergi ke sekolah biar pintar!" bela ibuk sambil memberiku wejangan, tiap kali aku mengadu padanya jika aku dibully “anak haram.” "Hei, Mega, nanti aku pulang numpang mama kamu ya?" Bocah laki-laki lain datang menghampiri kami. Kali ini ia datang bukan kepadaku, tapi pada Mega. "Iya, Ziz, nanti aku bilang sama mamaku," balas Mega. Setelah itu, bocah yang dipanggil "Ziz" ini pergi. Dia sedikit melirik ke arahku sebelum berlari menjauh. "Siapa mereka?" Tanyaku penasaran. "Ouh, yang pertama tadi namanya Arjun, dia jago gambar. Yang satunya tadi Aziz, para gadis tergila-gila sama Aziz," jawab Mega. Menurutku memang Aziz itu tampan, dia terlihat paling bersinar secara fisik dibanding anak-anak cowok yang lain. ***** "Aku pulang!!!" Teriakku sambil berlari mencari ibuk di dalam rumah. Hari pertamaku sekolah, ayahlah yang mengantarku. Ayah hanya menungguku sampai ibu guru menggandeng tanganku, "Sheila sudah gede, jadi Sheila harus berani," pesan ayah kepadaku sebelum pergi meninggalkan diriku sendirian di sekolah asing itu. Kupeluk tubuh ibuk ketika aku berhasil menemukannya, "aduh. Gimana sayang? Gimana hari pertama sekolahnya?" Ibuk bertanya. "Menyenangkan! Sheila langsung dapat temen, namanya Mega! Dia anak yang sangat baik dan manis sepertiku." "Oh, ya? Ibu ikutan seneng kalo Sheila seneng." Ibuk memelukku sekali lagi. Sorenya, aku mencoba memberanikan ikut Kak Brian pergi ke lapangan untuk bermain. Lingkungan baru ini belum terlalu kukenal. Kak Brian sering datang ke rumah kakek-nenek, jadi dia sudah menemukan teman-temannya. Aku datang kesini hanya sesekali saja. "Kamu nanti maen sama cewek-cewek aja, jangan ikutin aku terus,..." Cerocos Brian, saat kami melewati gang antara permukiman dan lapangan bola. Brian langsung berlari ketika melihat gerombolan anak-anak yang ia kenal, meninggalkanku sendirian disini. Saat aku ingin berbalik badan dan memutuskan pulang saja, bocah bernama Arjun yang kutemui di sekolah tadi melihatku dan berlari ke arahku. Ya ampun! Kakinya dekil sekali, kenapa dia tidak memakai sandal? "Woi, mau kemana?" Dia bertanya begitu seolah kami sudah akrab. "Mau pulang," jawabku jujur. "Maen yuk?" Arjun dengan beraninya menarik lenganku sambil berlari, mengajakku entah kemana. Arjun membawaku ke sebuah halaman yang masih luas milik salah satu tetangga. "Kamu mau maen apa?" "Aku mau pulang saja. Dan tolong lepaskan tanganmu dariku. Jangan pegang-pegang aku," suruhku. "Oke, oke. Kalo gitu kita maen dobrek saja!" Usulnya. Arjun langsung mengambil pecahan genteng kemudian menjadikannya alat tulis untuk menggambar sesuatu. "Dobrek itu apa?" "Klik klik brok! Nanti aku ajarin." Setelah berhasil menggambar sebuah pola kotak-kotak, Arjun mengambilkan pecahan genteng yang lain lalu menyerahkannya padaku, "ini 'gacuk'mu." Aku pun mengambil pecahan genteng dari tangannya, "yuk, main!" Ajaknya. "Ini buat apa?" Masih bingung fungsi pecahan genteng ini. "Itu gacukmu! Gunanya buat kamu mengambil bintang! Kalo kamu berhasil sampai di gunung. Lempar gacukmu terus jalan deh, begini. Klik klik brok! Klik klik brok! Gampang kan?" Arjun mencoba menjelaskan cara bermain permainan ini. Setelah dua kali Arjun menang dan hampir memberi tanda bintang disetiap balok karna berhasil sampai di gunung, akhirnya aku berhasil mengetahui cara bermainnya dengan lebih baik. "Asik, kan?" Arjun ikutan senang dengan pencapaianku. Aku mengangguk tanda setuju. Selesai bermain, kami duduk-duduk di teras depan rumah tetangga yang kosong, depan rumahnya ada kolam ikannya. Kami sedang menonton ikan-ikan koi itu berenang. "Kenapa kamu pindah kesini? Memangnya tidak enak tinggal di Jakarta?" Celetuk Arjun membuyarkan fantasiku—membayangkan bila diriku jadi putri duyung, akibat terlalu banyak nonton film barbie. "Aku tidak tinggal di Jakarta! Dulu aku tinggal di Semarang. Kan aku juga tinggal disini, meski jarang. Kami harus bolak-balik, dan ibuk aku bilang dia capek kalo harus bolak-balik terus. Soalnya nenek sering sakit! Jadi ayah dan ibuk memilih tinggal disini pada akhirnya." Tanganku masih sibuk mengobok-obok air yang sudah kotor itu. "Sheila!" suara Brian terdengar menggelegar saat menyebut namaku. "Ayo pulang!" Kulap tanganku yang basah lalu berpamitan kepada Arjun, "aku pulang dulu ya! Dah!" Kulirik Arjun untuk terakhir kalinya sebelum Brian menggandeng tanganku. Arjun sedang melambaikan tangannya kepadaku. ***** Di sekolah hari berikutnya, Aziz dan Arjun menghampiri kami kembali yang kali ini mereka datang untuk makan bekal bersama kami. Aziz tetangga Mega dan Arjun tetanggaku. Kami makan di ayunan raksasa yang ada mejanya ditengah-tengah, sambil mendengar ocehan Arjun yang kelihatannya Arjun punya banyak sekali cerita petualangan yang membuatku sangat iri dengan hidupnya. Mandi di sungai, mencari ikan dan belut, menjebak burung hingga bermain seharian penuh. Itu kedengarannya sangat mengasikan dibanding hanya membaca buku atau menonton teve di rumah. Sementara Aziz tidak seimajinatif seperti Arjun. Hidupnya Aziz mirip-miriplah dengan hidupku. Arjun banyak bicara tapi tidak cuma omong doang, ada banyak hal yang bisa Arjun lakukan. Arjun jago memggambar. Aziz dan Mega memiliki orang tua yang lumayan keras, anak masih kecil seperti mereka sudah disuruh les tiap sore. Aku merasa dirikulah orang paling bodoh diantara mereka semua, meski begitu aku senang berteman dengan mereka semua. Kehadiran Aziz, Mega dan Arjun selalu mewarnai hati dan hidupku setiap hari. Meski, aku tidak bertemu dengan Mega atau Aziz di hari minggu. Arjun selalu datang kerumahku mengajakku bermain. "Wah! Kamu punya teve ya? Pasti seru bisa nonton power rangers," ucap Arjun pertama kali datang ke rumahku. "Memangnya kamu tidak punya televisi di rumahmu, Nak Arjun?" Tanya ibuk. "Tidak punya tante, cuma punya radio." "Buk? Bolehkan? Tiap hari minggu Arjun datang ke rumah buat nonton power rangers?" Pintaku. "Tentu saja boleh. Tapi ngga boleh seharian. Cuma boleh sampai jam sepuluh." "Ngga tiap hari minggu kok, tante. Kadang Arjun harus ikut pengajian, jadi tante ga usah khawatir kalo Arjun bakalan numpang nonton tivi disini tiap minggu," potong Arjun. Ibuk tersenyum mendengar jawaban Arjun, meski aku kurang memahami ucapan Arjun tadi. Sehabis nonton power rangers, kuajak Arjun melihat ke dalam kamarku. Kamarku masih jelek belum dihias, hanya ada buku dan sama sekali tidak ada boneka. Brian memaksaku menonton film "Jail" boneka jahat dan jelek yang suka membunuh, dan itu membuatku takut setengah mati dengan semua jenis boneka, bahkan Barbie!!! Tapi aku masih berani nonton kartun barbie karna tidak seram dan sejahat Jail. "Kamu punya banyak sekali buku!" Komentar Arjun saat kami masuk ke dalam kamarku. "Ayah yang belikan." "Aku tak pernah baca buku selain buku pelajaran. Di sekolah kita juga tidak ada perpustakaan." "Kalo gitu kamu boleh kok, pinjem buku-bukuku." Aku duduk dikasur mengamati Arjun yang sangat tergila-gila dengan buku. Arjun memegang buku-buku itu seolah buku itu dedek bayi. Pelan-pelan dan sangat berhati-hati. "Beneran? Aku boleh pinjem?" "Ya, tentu boleh dong!" "Ngga usah ah, takut rusak." "Itu buku-bukunya juga sudah pada jelek, sampulnya juga banyak yang pada robek. Udah pada rusak itu. Ga papa, pinjem aja." "Makasih." Selama lima belas menit penuh, Arjun diam terhanyut dalam dunia buku yang ia baca. Bukunya berjudul "Mari Menjaga Laut," buku yang Arjun baca. ****** Aku bersama teman-temanku; Arjun, Mega dan Aziz semakin akrab di sekolah. Setiap kali istirahat kami selalu memghabiskan waktu bersama. Kadang Arjun ikut Aziz bermain dengan kumpulan anak-anak cowok lainnya hingga lupa bermain bersama kami. Esok harinya, Aziz membawa satu teman baru pada kami. Namanya Hidayat, bocah lelaki yang duduknya paling depan, dekat meja guru. Ternyata dia juga masih tetanggaan dengan Arjun dan aku, meski lumayan jauh jarak rumah kami. Sejak itu Hidayat ikutan sering nongkrong bersama kami, meski tak sesering Aziz dan Arjun. Tring! Tring! Tring! Bel bunyi tanda pelajaran sekolah usai berbunyi, pelajaran hari ini telah berakhir. Setelah menyanyikan lagu "desaku yang kucinta" ditutup dengan berdoa, akhirnya kami pun pulang. Aku baru tahu jika selama ini, Arjun berangkat-pulang sekolah jalan kaki bersama Hidayat dan teman-temannya. Padahal jarak sekolah dan kampung tempat tinggal kami lumayan jauh. "Ini pasti papanya Aziz, ya?" Tanya ayah pada bapak-bapak disampingnya. Hari ini hari jum'at jadi jatah ayah menjemputku. "Ough, papanya Sheila?" Ternyata dia ayahnya Aziz. Ayahku dan ayah Aziz saling bersalaman. Mereka sudah duduk diatas motor mereka masing-masing dari tadi menunggu kami keluar kelas. "Waduh! Ternyata, padahal kita sering ngobrol lho!" Kelekar ayah. "Iya, ya, pak. Ternyata papanya Sheila, tho. Anak saya sering bercerita tentang anak bapak." "Iya kan? Sama dong!" Tebak ayahku, "Tiap hari sehabis pulang sekolah, anak perempuan saya ini selalu membicarakan temannya Aziz dan Mega," imbuh ayah. ( padahal, aku paling sering menyebut nama Arjun. Tapi kenapa Arjun tidak disebut ayah? ) batinku. Ayah jadi sering mengantarku pagi-pagi supaya bisa bertemu dengan papanya Aziz, mereka jadi semakin akrab karna sering bertemu. Aziz juga menaruh perhatian banyak padaku. Kadang itu membuat Mega tampak kesal. Pernah suatu hari Mega tak mau bicara padaku hanya karna Aziz memaksaku meminjam pensilnya karna pensilku patah. ***** "Sheila! Sheila! Main yuk!" Panggil Arjun, di hari minggu sore yang cerah. Aku berlari menuju pintu untuk menemui Arjun, "Emangnya kamu ngga ngaji, Jun?" Seperti biasa, tubuh Arjun penuh bekas lumpur sawah. "Tadi udah ngaji, pagi tadi. Udah pulang dari dhuhur tadi. Jadi hari minggu ini aku tidak bisa nonton power rangers deh. Aku pengen kayak kamu Sel, bisa nonton power rangers tiap minggu." "Tapi aku ngga suka power rangers Arjun," tampikku. "Mau maen ngga?” Ajak Arjun. "Maen apa?" "Betengan? Lompat tali? Gobak sodor?" Usulnya. Aku hanya bisa menggeleng karna kurang suka melakukannya untuk hari ini. "Kalo gitu, ayok! Ke bendungan? Mau?" Ide Arjun. "Nanti ayah sama ibuk bakal marah-marah jika aku ke bendungan, bahaya kata mereka." "Ya, udah kita pergi keselokan aja, airnya dikit disana. Kamu pengen ngerasain cari ikan, kan?" Bujuk Arjun tidak menyerah. Aku mengangguk tanda setuju. Aku senang sekali akhirnya aku bisa merasakan mencari ikan liar disungai. Ini pengalaman pertamaku menginjakan kaki di alam liar. Hatiku berbunga-bunga sangat bahagia. "Aaaa.... Si Arjun pacaran sama anak haram!" Ejek bocah-bocah kampung ketika melihat aku dan Arjun berjalan bersama. "A a Arjun pacaran sama anak haram! Hu... Arjun nanti perutnya dibakar di neraka," ejek anak-anak yang lain. "Anak haram! Anak haram! Anak haram!" Sorak mereka beramai-ramai membulliku. Aku nangis ditempat tidak kuat mendengar bullian mereka kepadaku. Kenapa hanya aku? Brian tak pernah diperlakukan seperti ini. Saat aku terpuruk menangis, Arjun mengambil batu-batuan yang mampu ia genggam. Arjun berlari mengejar anak-anak itu, melemparinya dengan batu-batu itu, sebagian berhasil kena sebagian berhasil kabur. Dari kejauhan, terdengar samar-samar anak-anak jahat itu menangis kena lemparan batu milik Arjun. "Ayo cepat berdiri!" Paksa Arjun padaku yang duduk-dudukan sambil menangis. Arjun menarik tangannku, menyeret tubuhku mengikuti kaki-kaki kuatnya berlari menjauh. "Mereka jahat, Sel. Mereka pantas dilempar batu," pungkas Arjun. ***** Terbukti keyakinanku soal mereka pintar-pintar. Selesai semester pertama kami, Aziz, Mega dan Arjun——meski di taman kanak-kanak tidak ada ranking, mereka diberi hadiah spesial oleh guru. Hidayat juga mendapatkan hadiah. Ini bukti, jika aku satu-satunya orang paling bodoh diantara mereka semua. Arjun mendapat tas, dia senang sekali. Tas bergambar teletubiesnya memang perlu diganti, sudah jelek dan compang-camping. Aku ikut senang melihat Arjun senang. Kami melanjutkan semester kedua seperti biasa, kami masih sering makan bersama dibawah ayunan raksasa dan bercerita tentang hari-hari kami. Kami berlima semakin dekat, aku merasa bahwa merekalah sahabatku. Teman-teman yang benar-benar menerimaku apa adanya. "Besok kamu mau bawa apa, Sel? Tanya Arjun soal snack yang harus dibawa murid untuk acara esok hari. Ibu Ita, guru TK kami menyuruh murid-murid membawa satu snack untuk hari tukar kado besok. "Aku ngga tahu, Jun. Kalo kamu? Kamu mau bawa apa?" "Aku mau bawa Oops, tapi bukan yang Oop Fugu, aku kurang suka. Oops yang biru sama yang oren yang paling aku suka,” ungkap Arjun. "Boleh aku juga bawa Oops?" "Jangan Sel! Kan kamu punya duit, kamu bisa beli yang lebih enak dan lebih mahal." Arjun tidak setuju jika aku membeli snack yang sama dengannya. Aku sedikit kecewa mendengar jawaban Arjun seperti itu. Hari yang ditunggu pun tiba. Kami semua gembira dan saling memamerkan snack apa yang dibawa. Ibuk membawakan aku ekstra snack, yang sebenarnya aku kurang suka. Entah kenapa aku sangat ingin makan snack Oops. "Waktunya berkumpul anak-anak!" Panggil Bu Ita. Bu Ita menyuruh kami duduk di kursi yang sudah ditata berbentuk lingkaran, aku duduk di dekat Mega sementara Arjun jauh disebarang sana duduk dengan bocah lelaki yang kutak tahu namanya. "Sekarang! Taruh snacknya di meja anak-anak. Kita akan menyanyikan sebuah lagu, sambil memutar snacknya ya! Setelah berhenti, maka snack yang berhenti itulah yang jadi milik kalian. Snack yang baru!" Bu Ita mengajak kami bertepuk tangan sebelum menyanyi. Kami menyanyikan lagu "Pagiku cerahku matahari bersinar, Guruku Tersayang" kami semua bernyanyi dengan semangat dan riang gembira. Setelah lagu selesai, snack yang diputar berhenti. Aku mendapatkan snack Leo Keripik Kentang yang lumayan kusuka. "Bu, ibu guru," panggil Arjun, "Arjun ngga mau dapat ini! Arjun nabung dulu lho, buat beli snack Oopsnya, kok Arjun malah cuma dapat snack bintang-bintang ini. Ini kan gak adil," protes Arjun. "Arjun sayang, memang tujuan kita berbagi kado bukanlah kita memamerkan snack kesayangan kita. Tapi agar teman-temanmu yang lain bisa merasakan snack favoritmu, begitu nak. Jadi jangan bersedih." "Tapi kan, bu. Snack ini kan paling murah." Arjun masih belum terima. Bu Ita membisikan kata-kata yang kurang bisa kudengar hingga pada Akhirnya Arjun menerimanya. Rori yang mendapat snack Arjun sangatlah senang, dia sangat gembira sekali mendapat snack Oops milik Arjun. Kekecewaan Arjun terus berlanjut sampai sekolah usai. Arjun murung tak mau kuajak bicara sama sekali. ***** "Uang jajanku hilang!" Teriakku. Kuobrak-abrik tasku, uang jajan pemberian ayah tidak ada disana. "Ada apa Sel?" Mega menghampiriku. "Uang jajanku hilang!" Aku mulai panik. Mataku mulai basah dibasahi air mata. "Memangnya kamu taruh dimana?" Aziz juga datang padaku. "Aku ingat, yakin sekali jika uang jajanku kutaruh dalam ranselku. Di bagian sini," tunjukku. "Sekarang hilang!" Aziz dan Mega ikut membantuku mencari uang jajanku yang hilang. Hidayat masuk ke kelas sambil membawa jajan snack dan minuman pop ice di wadah plastik bersedotan, "kamu nyari apa, Sel?" Hidayat bertanya sambil menyedot minuman pop ice-nya. "Uangku hilang, Yat!" "Paling diambil Arjun," tuduh Hidayat dengan muka polos. "Arjun mengambil uangku?" "Tadi Arjun bilang dia tidak bawa uang saku karena lupa, tapi nyatanya dia tadi di kantin jajan snack banyak," aku Hidayat. Hidayat mulai berjalan menghindariku, lalu duduk di bangkunya, menikmati jajanan dan pop ice-nya. Saat ini aku marah, sebal dan benci dengan Arjun. Dia kan memang miskin! Arjun juga harus berbagi uang saku dengan kakak-kakaknya. Arjun hanya bisa membeli snack satu saja tiap istirahat tiba. Kenapa Arjun tiba-tiba bisa beli snack banyak? Dia pasti mencuri uang sakuku. Dialah orang yang terakhir bersamaku. "Dasar pencuri!" Bentakku pada Arjun, saat ia kembali dari kantin sekolah, "mana uangku!" Arjun tampak kebingungan sekaligus ketakutan, "uang apa?" "Ya uangku, dong!" Desakku. "Aku tidak mengambil uangmu!" Arjun balas membentak. "Jangan bohong! Kamu mencuri uangku! Dasar pencuri!" Hardikku kepadanya. "Aku beneran tidak mencuri uangmu!" Arjun mulai ikut menangis. Bu Ita yang mendengar teriak-teriakan datang menghampiri kami, "ada apa ini?" "Arjun bu! Dia mengambil uang saya! Dia pencuri bu!" Lontarku. "Apakah benar kamu mencuri, Arjun?" Tanya Bu Ita. "Ngga bu, ngga, saya ngga ngambil uang Sheila." Arjun mencoba menyangkal. Tangis Arjun lebih keras dibandingkan tangisanku. "Kalo begitu, kalian berdua, ikut ibuk ke kantor," pinta Bu Ita. Selang beberapa waktu, ibuk datang ke sekolah. Ayah Arjun yang tak pernah kulihat sebelumnya juga datang ke sekolah. Bu Ita mengobrol panjang lebar menjelaskan kronologinya pada orang tua kami. "Kamu beneran nyolong, Arjun, ha?" Bentak ayahnya, nampak murka sekali. Saking ngerinya wajah marah ayah Arjun, aku tak berani meliriknya lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantp
09/09
0sangat menyenangkan
07/08
0serruuu
16/09/2025
0Lihat Semua